Sinar matahari mulai mengalah menyinari Bumi ini, perlahan-lahan teriknya mulai terkikis seiring waktu diiringi oleh tarian menawan dari angin yang berhembus secara abstrak.
Renjun masih melangkahkan kakinya menuju perempatan jalan raya, agar lebih mudah mencari taksi kosong disana.
Dan kebetulan saja, ia juga tidak punya Alda untuk pulang terlalu cepat jadi tidak masalah juga bila ia sedikit berjalan santai sambil menikmati suasana sore hari ini.
Akan tetapi, saat diperjalanan melewati beberapa bangunan besar yang menjulang tinggi di sepanjang tepi jalan. Renjun tidak sengaja mendengarkan suara keributan dari salah satu gang kecil yang berada di antara dua gedung besar.
Renjun yang sedikit penasaran akan suara itu , ia langsung mendekati sumber suara karena takut terjadi sesuatu disana. Apalagi gang-gang kecil seperti itu sering digunakan untuk merundung orang lain , jadi tak heran Renjun sempat berpikiran langsung menelepon pihak berwajib bila ada perundungan disana.
Dan begitu melihat kesana, ia tidak menemukan apapun terkait perundungan selain Jaemin yang sedang berteriak kesetanan sambil menendang bak sampah yang ada disana.
Wajah Jaemin dipenuhi oleh amarah yang sangat membara, seperti baru saja mengalami kekecewaan yang teramat berat.
Renjun yang melihat suasana suram itu, tadinya berniat untuk bergegas pergi dari sana karena ia tidak mau terlibat urusan orang lain apalagi jadi korban pelampiasan amarah orang lain.
Namun sepertinya , sebelum Renjun sempat pergi mendadak Jaemin melirik kearahnya dan menyadari kehadiran Renjun disana.
Dan dalam sekejap, amarah Jaemin mulai berguguran satu-persatu seperti gugurnya bunga sakura dimusim gugur. Bahkan, Jaemin malah memberikan senyuman bahagia dihadapan Renjun selama beberapa saat.
Setelah ia memastikan kalau Renjun bisa melihat ekspresi bahagianya, ia langsung berjalan mundur sampai tubuhnya bisa bersandar di dinding bangunan sambil terduduk lemas dan menundukkan kepalanya, walaupun tangannya masih terus menggenggam kertas Ujian dengan nilai 98 yang membuat Renjun terheran-heran.
Renjun bersandar disebelah Jaemin, lalu menyodorkan air botol yang masih terisi penuh dari tasnya kepada Jaemin.
"Minum dulu!" paksa Renjun yang hanya dituruti oleh Jaemin.
Ia langsung meneguk air di botol itu sampai habis, sebelum akhirnya ia mengucapkan terimakasih kepada Renjun seraya tersenyum .
"Makasih ya, bro."
Renjun hanya mengangguk saja.
"Jadi, apa yang kau lakukan disini?" tanya Jaemin sambil mendongakkan kepalanya keatas, wajahnya yang kesal mulai mereda saat melihat wajah Renjun.
"Mau pulang," jawab Renjun yang memang gak suka basa-basi.
"Emang kau habis darimana, bro?"
"Kerja kelompok." Jaemin hanya mengangguk saja sebagai tanda mengerti.
"Kalau kau sendiri, ngapain ngamuk-ngamuk disini?" tanya Renjun.
Senyuman ramah di wajah Jaemin memudar, ia menyerahkan kertas ujian yang dipegangnya pada Renjun.
"Kesal banget aku, soalnya tadi di sekolah dapat nilai segini." Jaemin mengepal tangannya, ia terlihat sangat kesal sampai ingin mengutuk dirinya sendiri.
"Nilai 98? Kurang memuaskan?" tanya Renjun yang merasa geli sendiri.
"Iya, coba aja aku gak salah satu." Jaemin menunduk, ekspresi wajahnya semakin murung sampai membuat Renjun jadi merasa bersalah.
"Nilaimu udah bagus loh, kenapa juga harus kesal?" tanya Renjun.
"Didunia ini, hanya juara satu saja yang akan terlihat di mata orang lain dan hanya satu orang saja yang bisa mendapatkan gelar juara yang diakui oleh semua orang. Apalagi nilai ujian, pasi cuman nilai 100 aja yang di Anggap sebagai orang cerdas," tukas Jaemin sambil berdiri.
"Lagian, orang tuaku bakal marah kalau aku gak dapat nilai 100." Jaemin tersenyum , ia mentertawakan dirinya sendiri.
Renjun melirik kertas ujian tersebut, "Tapi ini cuman ujian try out persiapan kuliah aja sih?"
"Aku tahu, tapi apapun jenis ujiannya tetap aja aku harus jadi siswa sempurna dimata semua orang." Jaemin tertawa, ia menepuk pelan bahu Renjun.
"Aku tahu kau terluka, berhenti berpura-pura tersenyum." Renjun memperlihatkan wajah kesalnya, ia sedikit tidak senang melihat eskpresi wajah Jaemin yang berbanding terbalik dengan semua perkataannya.
Jaemin yang mendengarkan ucapan Renjun barusan, langsung tertegun dan mengerutkan wajahnya.
"Kau benar, aku merasa terlalu lelah. Bagiku, hidup ini terlalu berat dan aku muak! Aku lelah harus selalu berusaha jadi anak sempurna di mata mereka, hanya karena kakak perempuanku gagal dan sekarang aku harus menanggung semua harapan mereka. Aku pengen banget deh pokoknya jadi orang bodoh kayak yang lain, " Jaemin membuang tatapan matanya dari Renjun, ia terlalu takut emosinya semakin terlihat makanya ia buru-buru berpaling kearah lain.
Tetapi bukannya dukungan dan keprihatinan yang diberikan Renjun, malahan ia memukul kepalanya Jaemin dengan wajah santainya.
"Kau gak berhak mengeluh kayak gitu, kau itu harusnya bersyukur bisa punya kecerdasan dan jadi siswa unggulan." Renjun mengerutkan dahinya, matanya seolah-olah ingin keluar saja dengan intonasi suara jengkelnya.
"Dasar bodoh! Malahan kau harusnya senang bisa jadi anak membanggakan orang tuamu," tukas Renjun, yang membuat Jaemin tersenyum senang.
"Kau ternyata menyeramkan juga ya, aku pikir kau itu pendiam." Jaemin mengelus kepalanya yang dipukul oleh Renjun.
"Aku gak pendiam kok, cuman males aja ngomong!" Renjun berusaha mencari pembelaan.
"Tapi aku Senang , apa memang ini rasanya diperhatikan sama teman? Apa berteman itu memang menyenangkan?" tanya Jaemin , Renjun terdiam sejenak untuk mencerna semu pertanyaan Jaemin.
"Gak tahu, aku juga gak pernah punya teman selama ini." Renjun mengembalikan kertas ujian Jaemin kembali.
"Ah, sini balikin botol minumku!" perintah Renjun sambil melotot, tetapi apapun ekspresi yang dipancarkannya selalu membuat Jaemin merasa terhibur.
Jaemin menyambar tangan Renjun untuk berjabat tangan, "Mari berteman!"
"Gak," tolak mentah-mentah Renjun yang langsung menarik tangannya dengan nada kesal.
"Kenapa? Kau malahan bakal beruntung bisa berteman denganku, kurasa ini adalah penolakan keduamu hari ini."
Renjun menghela nafas, " Bagiku berteman dan tidak berteman denganmu sama sekali gak ada untung dan ruginya. Jadi, aku juga gak punya alasan sama sekali buat jadi temanmu!"
Renjun berbicara blak-blakan, ia sama sekali tidak perduli apa yang dipikirkan oleh Jaemin karena Menurutnya juga Jaemin tidaklah merepotkan untuk dimusuhi seperti Heechan.
"Tolong pertimbangkan kembali, aku mohon!" lirih Jaemin.
"Kau bisa berteman dengan yang lain, berteman gak harus denganku juga kali."
"Aku cuman ingin kau jadi teman pertamaku, lagian selama ini aku gak pernah punya waktu untuk berteman selain belajar dan belajar. Aku benar-benar lupa caranya berteman, jadi aku mohon jadilah teman pertamaku!" pinta Jaemin dengan antusias tanpa ragu , Renjun yang mendengarkannya saja jadi bergidik merinding seolah-olah ia teringat bagaimana rasanya hidup kesepian tanpa satupun teman disisinya.
Renjun cuman menggelengkan kepalanya saja, "Kau bisa anggap aku sebagai temanmu, tapi untuk sekarang aku butuh waktu untuk menganggapmu sebagai temanku."
Jaemin tersenyum mendengarkan ucapan Renjun barusan, sementara itu Jaemin langsung menarik botol minumnya kembali dan bersiap-siap pergi dari sana.
Renjun sebenarnya tidak benar-benar niat untuk mengatakan itu, ia hanya berusaha pasrah saja dan berusaha mengalahkan egonya.Walaupun sebenarnya, ia masih trauma untuk berteman sejak kejadian SMP yang lalu.
Tetapi sepertinya, Jaemin tampak senang mendengarnya dan langsung menjabat tangan Renjun.
"Makasih ya, teman." Renjun cuman terdiam dan canggung saja.
Sebenarnya Jaemin ingin sekali menghabiskan banyak waktu bersama Renjun yang baru saja menjadi temannya tetapi saat melihat jam tangannya mendadak saja ia teringat kalau dirinya ada bimbel beberapa jam lagi .
"Lain kali kita nongkrong bareng ya!Kalau gitu, aku pergi les dulu ya teman!" pekik Jaemin yang langsung pergi dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments