Renjun berlari menuju toilet terdekat yang ada dilantai tiga, ia tidak lagi memperdulikan tatapan aneh dari beberapa senior yang berpapasan dengannya.
Rasanya ia terlalu malu untuk menatap mata mereka, bagaimana tidak malu coba melihat sekujur tubuh yang telah dibanjiri darah mimisan.
Tetapi belum sempat langkahnya menuju Toilet, tubuhnya langsung roboh saat itu juga sampai membuat teriakan histeris dari senior wanita yang ada di dekatnya sampai mengundang perhatian banyak orang saat itu.
Tak ada satupun senior yang berniat mengangkat Renjun, mungkin karena takut disalahkan kali.Untungnya ada Doyoung dan Johnny yang saat itu berada disana dan langsung membopong tubuh Renjun ke UKS.
"Pinggir!" ucap Johnny kepada beberapa siswa yang menghalangi jalan mereka, sementara itu Winwin masih terpuruk di dalam kelas dan membiarkan Ten menutupi kepalanya dengan Jaket.
Winwin sama sekali tidak mempedulikan suara kehebohan di luar kelas, ia benar-benar berlarut dalam lamunannya seperti orang yang ingin sekali menangis tapi tidak mampu lagi untuk meneteskan air mata.
Entah rasa sakit apa yang dahulu pernah di deritanya, hingga membuat sosok tenangnya mulai runtuh bersamaan pula dengan rasa takut terhadap sesuatu yang masih menjerat setiap langkahnya untuk terperosok jatuh kembali kepada masa lalu.
"Kenapa? Harusnya ini gak terjadi lagi, kenapa kau ingin mengambilnya lagi?" gumam Winwin pelan, tapi masih bisa terdengar jelas oleh Lukas dan Ten yang berada disebelah Winwin sambil menyaksikan kelas mereka yang mulai kosong karena kehebohan di luar.
Semuanya pada sibuk melihat ke luar, terkecuali teman-teman Winwin yang tetap berada di dekat Winwin. Terkecuali Doyoung yang tengah menolong Renjun saat ini dan Jaehyun yang masih belum datang karena ada sesi pemotretan di salah satu majalah.
Lukas menepuk bahu kiri Winwin, "Sebentar lagi bel masuk berbunyi, mau sampe kapan? Apa perlu kita bolos sekolah untuk memperbaiki suasana hatimu?"
Winwin tidak menjawab sama sekali, ia memang sedang tidak niat untuk mengatakan apapun. Dengan penuh ketegaran, ia bangkit kembali dan berdiri saat itu juga.
"Gak perlu." Winwin melepaskan Jaket yang menutupi kepalanya untuk dialihfungsikan buat membersihkan tangannya dan lantai yang terkena darah, Lalu ia lemparkan kembali jaket itu kepada Ten yang sudah ada di sebelahnya.
"Kau baik-baik aja , bro?" tanya Ten.
"Gak usah khawatir," Winwin menepuk bahu Ten, bersamaan pula dengan suara mikrofon sekolah dari ruang osis yang memanggil namanya.
"Kalian urus kelas ini ya, jangan sampai nama baik kelas kita hancur di mata guru soalnya 3 menit lagi bel sekolah bunyi."
"Tenang aja win, ada Taeyong kok jadi bakal aman. Urus aja tuh panggilan osis, biar kita yang beresin kehebohan dilantai tiga ini,"
"Kehebohan karena apa?" tanya Winwin yang sejak awal tidak menyadarinya.
"Anak kelas 11 itu pingsan sih tadi kalau gak salah, padahal belum kita pukulin tapi udah tumbang." ledek Yangyang yang asal bicara saja.
Tapi dibalas tatapan sinis oleh Winwin, tetapi bukannya takut malahan Yangyang malah membalas balik tatapan Winwin seraya memainkan alisnya.
"Gak masalahkan aku meledeknya? Atau dia beneran adikmu, win?" tanya Yangyang.
"Dia bukan adikku lagi. Tapi dia pernah jadi adikku dulu, jadi jangan pernah sekalipun mengganggunya ataupun menjadikan dia sebagai target bullying kita, Ngerti?"
"Oke, santai aja Win." Yangyang menyeringai waspada pada perkataan Winwin barusan, kali ini ia bisa melihat kalau Winwin sedang tidak bisa diajak bercanda jadi ia juga tidak mau ambil resiko membuat Winwin semakin marah.
Sementara itu Winwin langsung pergi dari sana, ia tidak pergi duluan ke ruang osis malahan dirinya sengaja menyempatkan diri ke UKS karena pastinya UKS adalah satu-satunya ruangan yang digunakan oleh Renjun saat ini.
Dan benar saja, disana ia bisa melihat Renjun yang belum sadarkan diri ditemani oleh Pak Heechul yang sedang memeriksa keadaan Renjun dan salah serta guru Suho yang tengah menelepon orang tuanya Renjun.
Winwin langsung menghampiri Ranjang Renjun, baginya tak ada salahnya memastikan kalau sang adik baik-baik saja sehingga dia gak perlu lagi mengkhawatirkan apapun tentang Renjun.
"Gimana keadaan adik kelas ini, dok?" tanya Winwin.
"Kamu memang ketua osis baik ya, sampai bela-belain mampir kesini." Dokter Heechul tersenyum saja sambil memuji Winwin.
Winwin hanya mengangguk saja sambil tersenyum palsu, "Lalu gimana keadaannya, Pak?"
"Kalau sekarang sih dia baik-baik saja, nanti juga bentar lagi sudah siuman. Tapi bapak agak curiga dengan ruam merah di punggungnya, makanya bapak nyuruh Pak Suho mengabari orang tuanya." Penjelasan Pak Heechul sangatlah dimengerti oleh Winwin, ia seolah-olah sedang reunian kembali dengan sang penyakit tersebut. Bahkan ia seperti telah mengetahui penyebab ruam dan mimisan yang terjadi pada adiknya, bukannya sok menduga-duga tetapi gejala ini sangatlah mirip dengan gejala yang dulu di derita oleh Renjun saat masih kecil.
"Pak, kalau boleh saran sih nanti bapak bilang ke ibunya kalau Renjun dibawa saja ke rumah sakit khusus kanker ya. Mungkin saja itu Leukimia," beritahu Winwin yang langsung mengagetkan Pak Heechul selaku Pembina Organisasi PMR disana.
"Apa kamu yakin?"
"Saya yakin Pak soalnya adik saya dulu pernah mengalami leukimia juga dengan gejala yang sama, tapi bilang aja ini menurut pendapat bapak supaya orang tuanya percaya soalnya bahaya kalau terlambat ditolong."
"Baiklah kalau ini maunya kamu, saya akan coba menyarankan ke orang tuanya tanpa menyebut nama kamu."
"Makasih ya pak, yaudah kalau gitu saya pergi dulu ya soalnya ada rapat osis juga." Winwin langsung menyalami Pak Heechul dan melewati Pak Suho begitu saja karena beliau juga sedang sibuk berbincang dengan orang tua Renjun.
Dan selang tak beberapa lama, akhirnya Renjun sadar juga dari pingsannya di mana ia dikelilingi oleh kedua orangtuanya yang tampak khawatir. Mimisannya memang sudah berhenti tetapi kepalanya terasa pusing dan cukup lemas, ia sampai tidak terlalu merespon perkataan Mami Wendy.
Namun ada sebuah perkataan yang sangat jelas terdengar olehnya dari bibir Pak Heechul, bahkan mata Mami Wendy mulai berkaca-kaca saat Pak Heechul menyarankan agar Renjun segera diperiksa ke rumah sakit khusus kanker.
"Saya paham Pak, kalau gitu kami izin bawa Renjun pulang duluan ya." Chanyeol mengambil keputusan saat itu juga, ia sudah tidak sanggup melihat Renjun yang masih pucat dan terus-menerus memegang kepalanya yang pusing.
Untungnya Pak Suho dan Pak Heechul mau mengizinkan Renjun untuk tidak mengikuti pembelajaran hari ini, tetapi tidak dengan Renjun yang langsung menolak.
"Semua orang akan curiga kalau aku pulang sekarang, tolong jangan buat aku jadi pusat perhatian lagi." Renjun menatap ibunya, lalu ia mengambil ranselnya dan berusaha turun dari ranjang UKS.
"Tapi baju kamu juga agak robek dan ada bekas darah, nak." Mami Wendy berusaha membujuk anaknya sendiri.
"Aku mohon, kalau memang mau periksa ke dokter kan bisa pulang sekolah. Tolong jangan sekarang," ucap Renjun mencoba memelas dan berusaha tetap kuat, tentu saja membuat Chanyeol dan Wendy saling beradu pandang.
"Pak, boleh gak beri kami waktu sebentar!" Chanyeol memohon kepada kedua guru tersebut.
"Baiklah Pak, nanti kalau memang mau izin bisa temui saya di kelas 10-3 IPS ya," ucap Pak Suho tersenyum ramah.
"Baik Pak, makasih ya." pak suho berjalan pergi meninggalkan UKS.
"Yaudah kalau gitu, saya tunggu di meja saya saja supaya kalian tidak terganggu ya." Pak Heechul juga untungnya sangat pengertian, ia langsung berjalan ke mejanya yang ada di dekat pintu masuk dan sedikit terhalangi oleh Tirai yang ada di sekitaran Ranjang , sehingga memberikan ruang bagi keluarga kecil ini untuk berbincang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments