"Revi sudah hamil?" tanya nyonya Rahma sambil menatap puteranya. Saat ini mereka sedang berada di kursi santai dekat kolam renang.
Gara melengos, di rumah dia pusing merayu Revi yang masih tak mau juga mengandung, di rumah ibunya dia semakin pusing karena tidak bisa memberi jawaban "sudah" yang jelas ingin didengar oleh orangtuanya.
"Belum, Ma." Gara menjawab setenang mungkin. Mamanya tampak kecewa.
"Mau sampai kapan, Gara? Sampai Mama dan papa udah gak bisa lihat kamu lagi? Umur manusia itu gak ada yang tahu, bisa aja besok Mama sama papa kamu ini meninggal!"
Gara mengusak rambutnya, ia juga gusar. "Mama kenapa ngomong gitu sih? Sabar dong, Ma. Gak semudah itu untuk menghadirkan anak."
"Bukan gak bisa, tapi memang istri kamu yang terkenal itu yang gak mau! Kamu itu gak kekurangan uang. Coba kamu minta Revi itu berhenti kerja jadi model biar dia bisa fokus ngurus kamu dan bisa ngasih kamu anak. Udah lima tahun kalian menikah, dia masih aja sengaja menunda untuk hamil. Kamu tahu gak, pepatah orang lama, kalau sengaja menunda kehamilan bisa jadi kenyataan, selamanya bakal gak bisa hamil karena Tuhan udah marah!"
Gara terkesiap mendengar kata-kata dari ibunya itu. Ia segera meraih jemari ibunya lalu menggenggamnya erat.
"Ma, jangan gitu dong. Gimanapun aku cinta banget sama Revi. Mama bersabar ya, Revi cuma perlu menyelesaikan kontrak dengan salah satu agensi lagi. Setelah itu, dia janji mau hamil."
Nyonya Rahma melengos. Dia sudah malas dan bosan mendengar alasan anak dan menantunya yang itu-itu saja. Ia sangat menginginkan cucu dari putera bungsunya. Kedua anaknya yang lain tinggal di luar negeri, mereka sudah punya anak masing-masing satu. Namun, karena tinggal di luar negeri, tentu saja ia tidak bisa leluasa melihat cucunya. Hanya kepada Gara dia berharap. Apalagi suaminya, sudah malas betul mendengar alasan putera serta menantunya itu.
"Tugas seorang istri itu melahirkan keturunan dan berbakti kepada suaminya, Gara. Bukan wara wiri pakai baju seksi ke sana kemari. Kalau dia gak serius jadi istri kamu, lebih baik ceraikan saja."
Mungkin karena sudah begitu kesalnya kepada menantu dan anaknya, nyonya Rahma berkata to the point, membuat Gara tersentak kaget. Selama ini, mama selalu mencoba memahami mereka. Selama ini pula, nyonya Rahma selalu mencoba mengerti menantunya yang sepertinya gila mengejar popularitas di mata orang banyak. Sekarang, kesabarannya sudah hampir habis.
"Mama gak salah minta aku ceraikan Revi? Aku gak bisa, Ma. Aku cinta sama dia. Lagipula, aku akan membujuknya agar secepatnya bisa memberi anak."
"Karir dia sedang melejit, Gara. Mama berani bertaruh, setelah kontrak dengan agensinya selesai, dia akan mencari alasan dan mencari cara untuk merayu kamu agar mengizinkannya lagi masuk ke agensi lainnya. Sudahlah, Mama sudah malas membicarakan ini!"
Nyonya Rahma pergi dengan langkah cepat meninggalkan Gara, ia bahkan tidak menoleh sedikit pun saat menantunya yang baru saja jadi topik utama baru datang. Ia memilih naik ke atas dan pergi ke ruangannya. Nyonya Rahma memiliki kegiatan rutin, membaca buku dari karya-karya sastrawan dala negeri atau mancanegara.
Kecintaannya kepada dunia literasi memang membuatnya betah berada di dalam ruangan itu berjam-jam lamanya.
"Tuti!" panggilnya kepada kepala pelayan di rumah itu saat tak sengaja ia melihatnya lewat.
"Iya, Nyonya."
"Suruh pelayan baru itu ke ruanganku, siapa namanya, aku lupa."
"Bening, Nyonya."
"Ah, itu Bening apa siapalah namanya. Suruh dia ke ruanganku sekarang."
"Baik, Nyonya."
Tuti segera mencari Bening, lalu mengatakan perintah itu. Bening hanya mengangguk, ia membawa peralatan untuk membersihkan ruangan nyonya besar dan untuk itu ia harus melewati kolam renang dimana saat ini, tuan muda dan istrinya sedang terlihat berdebat hebat. Bening menunduk, tapi ia tak sengaja melihat perempuan itu.
Barulah Bening ingat, bahwa perempuan itulah yang tak sengaja bertabrakan dengannya di rumah sakit saat di Banjar waktu itu. Pantas dia seperti tak asing melihat Gara.
"Mama memintaku menceraikanmu kalau kau masih gak mau hamil."
Selintas, Bening jadi mendengar kata-kata Gara kepada istrinya yang cantik itu.
"Mamamu memang sudah gila!"
"Kau memang membuatnya gila karena selalu mengelak setiap ditanya tentang kehamilan. Ini memang udah keterlaluan, Sayang. Lima tahun aku bersabar untuk tidak mendapatkan anak padahal kau mampu memberikannya untukku."
"Aku harus fokus pada karirku, Gara! Gak mudah aku sampai di titik ini!"
Gara terdiam, dia tahu meminta anak kepada istrinya adalah hal yang mustahil walau dia berhak atas itu semua.
"Izinkan aku poligami kalau begitu!"
Dan Revi tercengang. Ia sampai menjatuhkan ponsel mahalnya ke lantai. Bening yang masih bisa mendengar itu pun hanya berusaha mengabaikannya. Itu bukan urusannya. Dan dia juga baru beranjak dewasa, tidak mengerti masalah serumit yang tengah dialami oleh anak majikannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Ririn Satkwantono
wiiih.. bening penurut pula
2024-05-13
0
Bu ning Bengkel
gara mau poligami gara mekihat bening jadi sher saja mau istri lagi biar dapat anak.....lanjut.....
2024-05-02
0
Bu ning Bengkel
....
lanjut ...
2024-05-02
0