Hari yang panjang mulai terasa melelahkan bagi Bening yang masih berada di desa tapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Sudah dua minggu semenjak adiknya dioperasi. Sekarang, Dewi sedang dalam masa pemulihan. Syukurlah, setidaknya operasi itu berhasil sehingga bapak dan ibu tidak begitu kecewa telah kehilangan rumah juga sepetak sawahnya.
Bening menatap rumah kontrakan yang sekarang mereka diami. Bapak sekarang masih tetap bertani, tapi menggarap sawah orang. Bukan lagi sawah sendiri. Secara finansial, mereka memang sedang kembali ke titik nol.
"Ning, tolong antarkan makanan ini buat makan siang bapak." Ibu keluar dari dapur kecil kontrakan itu dengan rantang makanan di tangan.
"Baik, Bu. Bening juga sekalian mau ke tempat Nilam," sahut Bening yang baru saja selesai menyapu teras.
"Hati-hati ya, lewat jalanan yang ramai. Ibu suka risih sama anak-anak muda yang suka gitaran di ujung desa itu."
Bening mengangguk. Ia meraih sweater lalu mulai melangkah keluar. Dilihatnya suasana desa yang cukup sepi. Beredar kabar jika para pemuda desa yang kebanyakan pengangguran itu suka mengganggu dan menggoda gadis-gadis cantik desa.
Bening menyusuri jalan yang memang cukup sepi siang ini. Sampai di ujung desa menuju sawah, ia melihat para pemuda itu sedang bermain gitar. Bening dengan tenang melewati mereka.
Namun, seorang pemuda menghentikan langkahnya. Ia menatap Bening dari atas sampai bawah.
"Cantik, mau kemana?" tanyanya sambil menatap Bening lekat.
"Mau ke sawah, Bang. Antar makanan buat bapak." Bening menunduk.
"Dani." Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Bawa sini, Dan." Teman yang lain berseru tetapi pemuda itu mengabaikan.
Bening mengangkat wajahnya perlahan. Para pemuda itu bersiul menggoda. Namun, Dani hanya tersenyum kecil.
"Bening." Bening menyambut uluran tangan Dani.
"Ya udah, jalan sana. Hati-hati ya, Ning." Dani mempersilahkan Bening lewat membuat Bening refleks menghembuskan nafas lega.
Bening berjalan lagi dengan tenang tapi ia tergerak untuk menoleh. Pemuda bernama Dani itu adalah anak kepala desa dan saat ini ternyata ia masih memandang Bening dari kejauhan. Bening segera mengalihkan lagi pandangannya ke depan. Dani tampan, dia banyak disukai gadis-gadis desa. Bening memang jarang melihatnya, karena Bening lebih banyak di rumah selama ini. Barulah sekarang Bening bisa melihatnya begitu dekat.
"Anak siapa sih dia?" tanya Dani setelah dirasa Bening tak bisa lagi mendengar suaranya.
"Anak pak Sakir. Dengar-dengar mereka sekarang sudah pindah tempat tinggal semenjak sawah sama rumahnya dijual."
Dani nampak mengangguk.
"Bening. Sebening namanya." Ia bergumam sembari menyimpan satu wajah itu di dalam hatinya sendiri.
Sementara itu, Bening sudah sampai di sawah. Ia segera memanggil bapaknya untuk istirahat makan siang. Ada saung di dekat sawah dan ia menemani sang ayah makan dengan lahap. Bening tersenyum melihatnya. Bapak adalah sosok yang sangat bertanggungjawab dan selalu tersenyum.
"Alhamdulillah." Bapak menyelesaikan makannya dengan tuntas. Bening segera membereskan kembali rantang makanan itu.
"Bapak balik sore?" tanya Bening.
"Iya, Nak. Ada yang mau dibicarakan juga sama juragan Budi. Mungkin sudah petang sekali Bapak baru sampai rumah."
Bening mengangguk-angguk saja. Ia akhirnya pamit untuk pulang, sekalian mampir sebentar ke rumah Nilam sahabatnya.
Saat Bening pulang melewati jalan yang sama, ia masih melihat pemuda-pemuda tadi. Namun, tidak ada lagi sosok Dani.
Seorang pemuda sempat terlihat ingin menggodanya tetapi yang lain segera menahan.
"Jangan, Dani bilang kita tidak boleh ganggu dia."
Bening mendengarnya, diam-diam dia tersenyum, merasa terlindungi karena sosok pemuda tampan anak kepala desa itu. Bening melanjutkan perjalanan menuju rumah Nilam dan di sana ternyata gadis itu telah menunggunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Fitria Rezeki
a.o9 9
2024-09-07
1
Ririn Satkwantono
tp dani dan bening nggk brjodoh🥺🥺
2024-05-13
1
Bu ning Bengkel
alhamdulilah lumaya ada yg mengawasinya aman ......lanjut.....
2024-05-01
0