Hujan di luar turun bersamaan dengan langkah kaki Bening juga Asih menuju sebuah ruangan luas dengan banyak lukisan. Bening tak tahu jika ada ruangan ini. Sebuah tempat yang cukup jauh dari rumah utama, melewati lorong panjang dan gelap. Lukisan yang sudah jadi dan belum selesai terpampang begitu saja. Entah siapa pelukisnya, yang jelas lukisan-lukisan itu sangat indah.
Lelaki tampan putra bungsu nyonya Rahma dan tuan Wibowo itu memandang tajam Asih lalu sejurus kemudian ia menatap Bening cukup lama. Seperti sedang mengingat, tapi kemudian wajahnya kembali garang.
"Kalian berdua tidak ada kerjaan selain berkelahi?" tanyanya tanpa senyum sama sekali.
"Dia yang mulai duluan, Tuan Gara." Asih berkata dengan cepat sambil menunjuk Bening yang hanya diam tak membela diri.
"Benarkah? Yang terlihat mencari ulah justru kau." Tuan muda berkata santai sambil menilik Asih tajam membuat nyali gadis itu menciut seketika.
"Benar, Tuan. Dia yang menjambak rambut saya pertama kali. Saya hanya membela diri." Ia masih berusaha membela diri dengan memberi keterangan palsu.
Bening menoleh, jelas itu fitnah. Namun, Bening tetap diam, hanya menggeleng kecil melihat Asih. Ia kembali melihat ke depan. Ternyata pandangannya dan tuan muda itu malah bertemu. Bening segera menundukkan wajahnya.
"Kau, kenapa tidak membela dirimu?" tanya tuan muda itu menatap Bening.
Bening Kembali mengangkat wajahnya. "Tidak ada yang perlu saya bela, Tuan. Tidak ada saksi yang melihat pertengkaran itu."
Tuan muda itu tersenyum kecil mendengar jawaban Bening. Sebenarnya, dia sudah bisa menilai bahwa di sini, yang bersalah jelas adalah Asih. Dia memang ingin melihat sejauh mana kedua pembantu ibunya itu membela diri mereka. Namun, ia justru melihat sesuatu yang lain dari sosok pembantu baru itu, sikapnya yang tenang mengisyaratkan kepasrahan sekaligus pembelaan diri tanpa harus bertegang urat dengan Asih di depannya. Sungguh cara yang elegan.
"Kau, Asih, keluar dari sini. Sekali lagi aku melihatmu mencari ulah lagi dengan para pembantu baru di rumah ini, aku pastikan kau tidak akan bekerja lagi di sini."
Asih terkesiap. Ia mengepalkan tangan tetapi tidak bisa melampiaskan kekesalannya saat ini.
"Baik, Tuan. Saya kembali." Ia melangkah keluar setelah sempat berbalik menatap Bening yang tidak menghiraukan tatapan mengancamnya.
Kini, tinggal Bening dan tuan muda itu. Bening masih menunduk, tidak berani melihat tuan muda yang sedang berusaha ia ingat di mana pernah ia melihatnya dulu.
"Siapa namamu?" tanya tuan muda.
"Bening, Tuan."
"Bening? Nama yang bagus. Aku seperti tak asing, seperti pernah melihatmu sekilas."
Bening mengangkat wajahnya, ternyata ia satu pikiran dengan tuan muda itu. Tuan muda menatap Bening intens. Wajah cantik tanpa sapuan make up tebal, tatapan mata yang teduh dan menenangkan. Gadis itu sedang mekar di usianya yang baru tujuh belas tahun. Darah muda Anggara Dewa berdesir melihat Bening saat ini. Meski ia masih bersikap dan berwajah garang, tapi melihat Bening yang tak banyak bicara dan tenang itu seperti menghipnotis dirinya sendiri saat ini.
"Darimana asalmu?" tanya Gara lagi. Ia sendiri tak paham, mengapa harus bertanya ini itu kepada pembantu baru. Hal yang pernah dilakukannya selama ini.
"Banjar, Tuan."
Gara tampak mengingat kemudian dia baru terkenang kejadian saat istrinya tak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis di koridor rumah sakit saat mereka pergi ke Banjar untuk kepentingan proyek. Namun, Gara tak mau mengatakan itu kepada Bening. Ia hanya cukup untuk mengingatnya saja.
"Kembalilah bekerja, jangan lagi ada masalah."
Bening mengangkat wajahnya, ada senyum lega tanpa sengaja terukir di bibirnya yang ranum. Gara tanpa sadar jadi menggigit bibirnya sendiri melihat bibir yang memikat itu.
"Apa saya tidak jadi dipecat, Tuan?"
"Kau mau dipecat?" tanya Gara balik.
Bening segera menggeleng. "Terima kasih, Tuan. Saya kembali."
Tanpa senyum, Gara mengangguk, membiarkan Bening keluar dari ruangan pribadinya. Gara kemudian ikut keluar, dia melihat Bening yang berjalan setengah berlari dengan langkah riang. Hati Gara berdesir lagi. Ia segera mengenyahkan pikiran nakal yang seketika datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Nur fadillah
Hadeeeh...Tuaan muda istigfar wis nduwe bojooo....🤣🤣🤣
2024-05-31
0
Ririn Satkwantono
senang nya dlm hati... klo bristri bening.... 17th woooyyyyyy
2024-05-13
2
Bu ning Bengkel
bening ingat saat mau keluaar dari rumah sakit bening ditanbrak wanita saat itu bening tidak tahu ko sekarang ketemu lagi sama orangmya tapi laki laki nya ko dunia ini sempit nya ........lanjut........
2024-05-02
0