Minggu telah tiba, besok waktunya Bening dan Nilam berangkat ke Jakarta. Mereka sepakat akan menggunakan jalur kereta api yang akan memakan waktu kurang lebih delapan jam perjalanan. Mereka akan berangkat jam sembilan pagi agar sampai ke Jakarta tak sampai malam karena mereka juga akan langsung mencari kontrakan.
Segala hal sudah Bening persiapkan, bajunya sudah di dalam koper berukuran sedang. Semua berkas penting juga sudah dimasukkan. Kini, saatnya Bening membuka celengan. Hampir tiga tahun dia menabung, menyisihkan uang saku yang tak seberapa. Beruntung dia termasuk anak yang hemat, bisa menyisihkan uang setiap hari walau hanya recehan.
"Sudah mau dibuka celengannya, Nak?" Ibu masuk perlahan ke kamar Bening yang tertutup tirai tanpa pintu. Bening tersenyum kecil lantas mengangguk.
"Maafkan Ibu dan bapak ya," ujar ibunya lagi. Bening menoleh, menatap ibunya penuh kasih.
"Kenapa minta maaf, Bu? Semua sudah digariskan. Bening tidak pernah protes pada keadaan."
Ibu membalas genggangam tangan Bening di tangannya sendiri saat ini. Ia mengusap kepala puterinya lembut. Bening yang sudah tumbuh dewasa dan cantik. Ibu hanya berharap, semoga di kota besar yang penuh bahaya itu, Bening akan selalu dilindungi oleh yang maha agung.
"Ibu dan bapak merasa gagal, tidak bisa membahagiakan kamu," lirih ibunya berkata lagi. Bening segera menguatkan genggaman tangannya lantas menghapus airmata permata hatinya itu.
"Ibu dan bapak, adalah orang tua terbaik bagi Bening. Beninglah, yang harusnya membahagiakan bapak dan Ibu. Bening hanya ingin Ibu senantiasa mendoakan Bening dimanapun Bening berada, Bu. Bening juga berjanji akan jaga diri."
Ibunya tak sanggup lagi berkata-kata, hanya mengangguk kecil sebagai ungkapan rasa. Bening kembali meraih celengannya. Ia tersenyum lagi lalu mulai memecahkan benda itu.
"Ibu bantu Bening menghitungnya ya."
Bu Sukma mengangguk, mereka mulai tenggelam dalam kegiatan itu. Jumlahnya lumayan, bisa untuk Bening simpan sebagai bekal selama mencari pekerjaan. Bening meletakkannya di dalam plastik kresek. Ia akan segera menukarnya dengan seorang pedagang sayur tak jauh dari rumahnya.
"Bening tukarkan dulu ya, Bu. Siang tadi sudah ketemu orangnya katanya bersedia menukarkan."
"Mau Ibu temani, Ning?"
"Boleh, Bu."
Keduanya beranjak, pergi ke luar setelah pamit kepada bapak. Jalan di desa memang cukup sepi di jam malam seperti ini. Padahal waktu belum lagi menunjukkan pukul delapan malam. Meski rumah pedagang sayur itu tak begitu jauh dari kontrakan mereka, tapi Bening lebih nyaman jika ditemani.
"Itu orangnya sudah menunggu, Bu." Bening tersenyum sumringah melihat seorang perempuan paruh baya yang melambai dengan senyumnya yang ramah.
"Maaf ya Bu, lama." Bening berkata dengan sopan setelah dipersilahkan duduk.
"Tidak apa, Ning. Oh iya, mana yang mau ditukarkan? Lumayan buat kembalian."
Bening segera menyerahkan kresek hitam berisi uang recehan. Selama tiga tahun menabung, uang itu memang bisa dikatakan lumayan.
Bening menerima lembar demi lembar uang yang sudah ditukarkan. Ia kemudian tersenyum dan segera pamit. Sesampainya di rumah Bening menarik beberapa lembar.
"Ini buat bayar kontrakan bulan ini, Bu."
"Tak usah, Ning. Simpan saja buat kamu, nanti di Jakarta, biayaa hidup sangat mahal."
Bening menggeleng sambil tersenyum dan tetap menyerahkan uang itu kepada ibunya.
"Ambil ya, Bu. Nanti di Jakarta, akan ada gantinya."
Ibu menatap Bening dengan pandangan berkaca-kaca. Ia memeluk puterinya yang penurut itu. Bening membalas pelukan ibunya karena setelah hari ini, mereka pasti akan lama bisa bertemu kembali. Tak apa, Bening akan berusaha sekeras mungkin membahagiakan kedua orangtuanya meski hanya dengan sepetak sawah yang pasti akan diusahakannya kelak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
tulisanblueskyy
berapa kali ya aku baca cerita ini. soalnya bahasanya sopan kalau aku yang baca hihihi. suka banget
2024-08-02
0
Ririn Satkwantono
aq nebak.yg ditubruk ma bening tuh.. bakal jd madu bening.. hehehe.. iya kah
2024-05-13
0
Bu ning Bengkel
mudah mudahan ning dapat pekerjaan dan mendapst bos ya baik kasihan ning pergi kerja merantau....lanjut.....
2024-05-02
0