Pukul setengah sepuluh pagi, Bening sudah sampai di rumah Nilam. Gadis yang baru saja selesai mandi itu terburu-buru membuka pintu. Ia tersenyum lebar menemukan Bening di depan.
"Gimana, Ning?" tanya Nilam sambil mengajak Bening duduk di Bangku teras.
"Bapak sama ibu udah kasih izin. Aku bisa berangka bareng kamu."
"Akhirnya ..." Nilam berseru senang. Bening juga ikut tersenyum. Bayangan Bening akan mendapat pekerjaan di Jakarta semakin membuatnya bersemangat.
Ia dan Nilam mulai merancang apa saja yang akan mereka lakukan setibanya di Jakarta kelak. Mereka akan membawa berkas-berkas penting seperti ijazah dan berkas pendukung lain untuk melamar pekerjaan kelak.
"Jadi selama di Jakarta kelak, kita cari kos yang murah aja, Ning. Aku tahu alamat kos-kosan murah. Kebetulan aku sempat kenalan sama cowok Jakarta lewat Facebook."
Nilam nampak berbinar. Sepertinya, tujuan Nilam ke Jakarta tak serta-merta untuk mencari pekerjaan saja. Bening tidak mempersoalkan itu, niatnya sendiri murni karena ingin mengadu nasib ke kota metropolitan itu.
"Ya sudah, Lam. Aku pulang ya. "
"Loh kok cepat sekali, Ning?"
Bening hanya tertawa kecil, ia tidak mau menceritakan kepada Nilam tentang Dani yang mungkin sudah menunggunya di jalan kemarin. Memikirkan itu Bening jadi tersenyum sendiri.
"Eh, kok malah senyum-senyum sendiri sih? Oh, aku tahu, kayaknya kamu lagi jatuh cinta deh." Nilam menggoda Bening sembari menatap jahil sahabatnya itu.
"Eh, enggak. Enggak loh, Lam," kilah Bening dengan wajah sudah memerah.
"Ayo, bilang sama aku, siapa laki-laki yang udah bikin sahabat aku jadi kesemsem gini." Nilam menatap Bening dengan pandangan menyelidik. Bening hanya menggeleng sambil tertawa.
"Sudah ya, Lam. Aku balik dulu."
Nilam akhirnya mengangguk juga meski ia masih penasaran dengan lelaki yang sudah membuat Bening jadi salah tingkah itu.
Bening berjalan pelan menuju jalan kemarin. Sebuah tanah merah dengan kerikil yang menjadi tempat Dani menunggu hari ini. Dari kejauhan, Bening bisa melihat Dani sedang duduk di pinggir selokan. Ia melambai kepada Bening.
"Maaf, Bang, lama nunggu ya?" Bening jadi tak enak, sepertinya dia lewat dari jam sepuluh karena tadi keasyikan bercerita dengan Nilam.
"Iya, kamu telat lima menit. Tapi gak papa kok, aku rela nunggu biarpun lima puluh tahun lamanya."
Bening hanya tersenyum mendengar kalimat gurauan lelaki itu. Dani sendiri nampak tampan, ia memakai celana jeans khas anak muda, kaus oblong berwarna putih dan juga topi hitam.
Mereka berjalan sebentar lalu berhenti di sebuah pohon. Ternyata, Dani membawa sepeda motor.
"Tempatnya lumayan jauh, kalau jalan kaki, kamu bisa capek satu minggu." Pemuda itu kembali berkelakar.
Bening menurut saja, ia naik ke atas boncengan. Awalnya ia memegang besi belakang dudukan motor itu, tetapi karena jalannya cukup berbatu akhirnya Bening memegang pinggang Dani.
Keduanya masih nampak kaku, tetapi sepanjang jalan menuju lokasi, Dani selalu berusaha menghibur Bening dengan kata-katanya yang lucu. Bening jadi nyaman dengan lelaki itu. Ia mulai tertawa lepas.
Mereka sampai, tetapi setelah memarkir motor, Bening dan Dani harus berjalan lagi untuk bisa mencapai lokasi. Jalan berbatu dan sedikit naik membuat Bening hampir kehilangan keseimbangan. Dani sigap menarik tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat. Bening jadi berdebar-debar, baru kali ini ia dan lelaki bergandengan tangan.
Mereka sampai, mungkin karena bukan hari libur, tempat itu jadi sepi. Dani segera mengajak Bening turun. Bening menolaknya, ia duduk di batu besar, membiarkan Dani membuka baju lalu masuk ke dalam air.
Lelaki itu memercikkan air ke arah Bening, membuat Bening jadi membalas. Baju Bening juga jadinya basah. Tak urung akhirnya gadis itu ikut masuk ke dalam air.
"Kamu gak pernah ke sini?" tanya Dani sambil bersandar pada batu dengan tubuh setengah terendam air, begitu pun Bening yang kini berada di sampingnya.
"Tidak, Bang. Bening selalu di rumah. Sekolah, bantu ibu di rumah. Hanya seperti itu."
"Pantas aku baru melihatmu."
Bening menoleh lalu tertawa kecil.
"Kamu udah lulus sekolah kan?" tanya Dani lagi.
Bening mengangguk. "Senin depan, aku bakal ke Jakarta. Mau cari kerja di sana."
Dani tersenyum senang, ia merasa dewi fortuna berada di pihaknya. Ia bisa semakin dekat dengan Bening karena tujuan mereka senin nanti sama. Dia untuk kembali berkuliah sedang Bening untuk mencari pekerjaan.
Jam bergerak maju, keduanya naik. Kebetulan, Dani membawa baju salinan. Namun, ia tahu Bening tidak membawa salinan sama sekali.
"Kamu aja yang pakai bajuku, aku gak masalah kok pulang basah begini." Dani menyerahkan bajunya kepada Bening tapi Bening menggeleng.
"Jangan, Abang saja. Nanti Bening bingung harus jelasin apa ke Ibu."
Akhirnya, Dani mengangguk. Ia segera mengganti baju di balik pepohonan besar yang ada di sana. Bening menunggu. Tak lama kemudian, pemuda itu kembali.
"Ya sudah, kamu pakai jaket ini ya. Nanti kalau sudah sampai baru lepaskan."
Bening akhirnya mengangguk. Sepanjang jalan menuju motor terparkir, Dani terus menggandengnya. Bening tersenyum, hatinya mekar dan berbunga. Pun ketika sudah berada di atas motor, ia tak lagi sungkan meletakkan tangannya di sepanjang perut dan pinggang Dani. Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Bening sendiri tidak tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Nur fadillah
Bahagianya.....😄😍😍
2024-05-31
1
Ririn Satkwantono
cinta instan ini mah
2024-05-13
0
Bu ning Bengkel
merasakan jatuh cinta begitulah indahnya....../Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/...lankut.......
2024-05-02
0