Bening pulang dengan hati berbunga-bunga. Ia bahagia sekali bisa mendapatkan pekerjaan walau hanya sebagai pembantu di rumah nyonya Rahma. Saat ini, Bening sedang berjalan menyusuri trotoar. Ia sengaja belum mau pulang ke kontrakan. Debu dan asap polusi jalanan kota Jakarta saat ini berterbangan tetapi bening tidak mempedulikannya.
Hingga saat ia berjalan tak tentu arah, ternyata Bening sampai di depan sebuah universitas. Ia mendongak melihat tempat itu dengan mata berkaca-kaca, universitas inilah yang menjadi tujuannya saat ia lulus sekolah kemarin tapi karena keadaan akhirnya Bening menerima bahwa dirinya tidak akan pernah bisa untuk berkuliah.
Bening mengatupkan bibirnya rapat dan meneruskan perjalanan menyusuri trotoar. Saat ia masih menunggu dan menendang kerikil-kerikil kecil, ia seperti mendengar namanya dipanggil oleh seorang. Suara itu tidak asing membuat Bening menoleh dan menemukan seorang pemuda sedang berdiri di belakangnya.
"Bang Dani?"
Bening seakan tak percaya dengan penglihatannya. Ingatannya terhenti saat mengenang Dani di hati terakhir mereka bersama saat di air terjun dulu. Tentu saja Dani juga di Jakarta sekarang, ia kembali untuk melanjutkan kuliah.
Lelaki Itu tampak bersemangat, dia sudah mendekati Bening. Bening kini pun mendekat, hingga kini mereka sudah berhadapan.
"Bening, akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Aku sudah lama mencari-cari alamatmu di Jakarta tapi tidak menemukannya."
"Bening mengontrak bersama Nilam, Bang. Bening lupa kalau Abang juga kuliah di Jakarta," balas Bening sambil tersenyum tersipu.
"Di mana kontrakanmu?" tanya Dani antusias.
Bening lantas menyebutkan alamat kontrakannya kepada Dani tapi kemudian dia kehilangan senyumnya perlahan saat teringat besok dia tidak akan lagi tinggal di kontrakan itu, karena akan segera bekerja dan tinggal di rumah mewah milik nyonya Rahma bersama para pembantu lainnya.
"Apa aku boleh berkunjung ke kontrakanmu? Kita sudah lama sekali tidak bertemu, Ning. Jujur, aku kangen."
Bening terdiam sesaat, ia baru pertama kali berjalan dengan laki-laki pada waktu di desa dan itu adalah bersama Dani dan jelas saja laki-laki itu sudah memberikan kesan yang begitu membekas untuknya.
"Besok Bening sudah tidak tinggal di situ lagi, Bang, karena Bening sudah mulai bekerja."
"Oh ya, kamu bekerja sebagai apa? Perusahaan mana?" tanya Dani antusias.
"Bening menjadi pembantu, Bang, baru saja diterima hari ini."
Dani tiba-tiba terdiam, senyumnya yang tadi terbit perlahan memudar. Bening sendiri menyadari perubahan wajah Dani. Dani lahir dari keluarga yang cukup terhormat dan kaya juga tentu saja berada di kampung itu, ia tidak akan mau dekat dengan perempuan sederhana sepertinya, apalagi sekarang dengan statusnya sebagai seorang pembantu.
"Oh." Hanya satu kata itu yang kemudian keluar dari mulut Dani.
Tak lama setelah mereka sama-sama terdiam dengan situasi mulai canggung, seorang gadis berpakaian modis mendekat ke arah Dani lalu memeluk pria itu dari belakang. Bening terkesiap. Apakah itu adalah kekasih lelaki yang sempat ia puja?
"Kamu ke mana sih? Aku cariin tau nggak dari tadi. Terus itu siapa?" tanya gadis itu menunjuk Bening.
"Orang satu desa denganku. Ya sudah, aku pergi dulu, Ning, nanti ada satu mata kuliah lagi setelah ini." Dani pamit dengan tak lagi begitu mempedulikan Bening.
Bening tidak menyahut dengan suara, ia hanya memberikan anggukan sebagai jawaban dan membiarkan Dani berbalik lalu bersama perempuan itu pergi kembali masuk ke dalam universitas. Bening hanya tersenyum simpul, setelah ini ia yakin, Dani tidak akan pernah mau lagi dekat dengannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Nur fadillah
Ndak apa-apa Bening masih vanyak.laki-lako yang baik.pokoknya semangat .nggolek cuaaan demi Bapak Ibu...😄🤣🤣🤣
2024-05-31
2
Ririn Satkwantono
untung cuma tanganmu ning... yg prnh dipegang dani
2024-05-13
1
Bu ning Bengkel
tidak apa apa memang semua aki laki muda memang begitu jangan takut ning sama laki laki nanti dapat ngantinya.......lanjut.....
2024-05-02
1