"Ba-Bara kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau ada di Jakarta?" Lea masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, pria yang dua hari lalu ia temui di Jakarta kini berdiri dihadapannya.
Bara hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Lea, karena ia sedang merasa bahagia saat mengetahui wanita itu datang ke kantornya, karena itu berarti Lea masih mengingat dan mencintai dirinya.
"Kau tahu Bara? Kau itu sudah seperti hantu yang tiba-tiba datang dan selalu berada di sekitarku, menggelikan." Lea menaruh bingkai fotonya lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut. Namun seperti yang sudah-sudah Bara akan menarik tangannya dan mengurung tubuhnya ke dalam pelukannya.
"Kau mau kemana? Bukankah kita belum membahas sesuatu yang ingin kau lakukan?" ucap Bara tepat di depan wajah Lea.
"Memangnya apa yang ingin aku lakukan?" tantang Lea.
"Tentu saja mengulangi apa yang pernah kita lakukan di ruangan ini." Bisik Bara dengan suara yang begitu menggoda.
"Ck, jangan harap aku mau mengulanginya." Dengan cepat Lea melayangkan tinju tepat di ulu hati pria itu, namun Bara sama sekali bergeming dan tak mengeluh sakit sedikitpun. Padahal ia sudah mengeluarkan seluruh tenaganya.
"No Lea!" Bara menangkap tangan Lea saat ingin memukulnya lagi, lalu dengan cepat Bara mendorong tubuh wanitanya hingga terjatuh di atas meja. "Tangan ini hanya untuk menyentuhku bukan memukul."
"Lepaskan Bara!" Lea ingin menarik tangannya yang dipaksa menyentuh wajah si brengsek itu, dan tanpa ia duga tangannya justru menampar wajah tampan itu.
"Kau..." Bara menatap tajam Lea yang sudah berani menamparnya.
"Bara aku tidak sengaja, habis kau yang—"
"Diamlah Lea! Dan aku rasa sudah cukup main-mainnya!" Bara mengangkat Lea untuk duduk di atas meja kerjanya.
"Bara jangan!" Lea menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dada saat Bara mendekat ke tubuhnya, ia takut pria itu berbuat nekad mengingat dirinya sudah menamparnya.
Bara tidak mempedulikan perkataan Lea dan semakin mendekat pada tubuh wanitanya.
"Bara..." pekik Lea seraya memejamkan kedua matanya saat tubuh mereka saling menempel, bahkan ia merasakan dadanya menyentuh dada bidang pria itu.
"Hei, kau itu kenapa?" Bara menatap wajah Lea yang terlihat ketakutan.
"Jangan memperkosaku." Pinta Lea seraya memberanikan diri membuka ke-dua matanya.
"What! Memperkosamu?" Bara menggelengkan kepalanya lalu mengambil berkas yang ada di belakang tubuh wanitanya. "Aku hanya ingin mengambil ini." Bara menjauh dari tubuh Lea seraya memperlihatkan berkas tersebut.
"Oh my God syukurlah," Lea mengusap dadanya yang sempat berdebar dengan kencang karena ketakutan.
"Ck, otakmu itu ternyata mesum juga." Bara menarik satu sudut bibirnya. "Kalau pun aku ingin, aku akan melakukannya di tempat yang istimewa bukan di atas meja." Ia mengecup bibir Lea dengan cepat yang hendak mengumpat kata-kata kasar terhadapnya.
Umph.
Lea mendorong tubuh Bara hingga ciuman mereka terlepas. "Kau itu—" belum sempat Lea mengumpat ia sudah di sodorkan berkas terlebih dahulu.
"Bacalah!" Bara menatap intens wajah cantik Lea dengan tangan yang berada di pinggang ramping itu, mengusapnya dengan gerakan perlahan naik turun.
"Bara kondisikan tanganmu!" Lea memukul Bara menggunakan berkas yang ada ditangannya.
"Oke..." Bara mengangkat kedua tangannya. "Bacalah berkas itu! Jika kau setuju kita akan menikah secepatnya." Ucap Bara setelah melihat Lea mulai membaca berkas yang diberikannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
nobita
pemaksaan itu namanya Bara... menggunakan kesempatan dlm kesempitan...
2024-02-05
0
Fhebrie
lea ini sok jual mahal padahal mau
2024-01-16
1
Eha Andien
ya ka.lea dl kerja jd sekertaris bara .novelnya berjudul kau milikku
2023-12-01
0