"Ya aku percaya kau pasti bisa mengatasi si brengsek itu." Alana menepuk bahu sepupunya. "Sekarang lebih baik cepat buatkan aku sarapan! Karena aku sangat lapar." Perintah Alana dengan senyum lebar dibibirnya.
"Ck, kalau kau lapar buat saja sendiri kenapa menyuruhku?" Lea membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu memejamkan kedua matanya, ia ingin beristirahat untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Dan Untung saja hari ini adalah hari libur, jadi Lea bisa menghabiskan waktunya untuk tidur sepanjang hari.
"Lea kau lupa perjanjian kita?" Alana menaik turunkan kedua alisnya.
"Perjanjian? Perjanjian apa?" Lea membuka kedua matanya dengan kening yang berkerut.
...Aku akan menjadi pelayanmu selama satu bulan, jika apa yang kau ucapkan itu benar....
Alana mengulangi perkataan Lea tempo hari tentang Bara yang ada di Jakarta.
"Sial! Kenapa aku lupa dengan perjanjian itu?" umpat Lea dalam hati.
"Jadi sekarang kau sudah ingat bukan?" Alana yang sejak tadi menahan rasa bahagianya karena sudah memenangkan pertaruhan, kini bisa tertawa dengan sangat puas.
"Em.. Al lebih baik kita lupakan taruhannya, karena saat itu aku—"
"No Lea! Bukankah janji itu harus ditepati?" ucap Alana masih dengan tawa dibibirnya.
"Tapi aku—"
"Tidak ada tapi-tapian sekarang cepat buat sarapan untukku." Alana menarik Lea bangun dari tempat tidurnya.
Dan mau tidak mau Lea pun membuatkan sarapan untuk Alana, dengan segala umpatan yang ia tujukan pada Bara. Karena secara tidak langsung kedatangan pria itu membuat Lea menjadi pelayan pribadi sepupunya yang tak berahlak itu.
Karena Alana tidak hanya memerintahkan dirinya membuatkan sarapan, tapi ia juga harus menyiapkan semua keperluan wanita itu. Dan yang lebih parah lagi Lea harus mengikuti sepupunya ke tempat kerja, dan membantu wanita itu untuk memeriksa data-data pasien Alana.
"Ya Tuhan ini belum ada dua puluh empat jam, tapi rasanya tubuhku ini sangat remuk." Keluh Lea dengan suara yang keras, agar sepupunya itu mendengar dan mengijinkan dirinya untuk pulang.
"Lea kau mengatakan sesuatu?" tanya Alana berpura-pura tidak mendengar ocehan sepupunya.
"Aku bilang tubuhku ini rasanya remuk, dan aku butuh tempat tidur untuk beristirahat." Jawab Lea tepat di telinga sepupunya.
"Oh kau butuh tempat tidur, kenapa tidak mengatakan dari tadi?" Alana mengusap telinganya yang terasa berdengung karena teriakan sepupunya. "Kau boleh gunakan itu." Alana menunjuk tempat tidur untuk pasiennya.
Membuat Lea membelalakkan kedua matanya dengan wajah tak percaya, karena bisa-bisanya Alana menyuruh dirinya tidur di tempat khusus untuk pasien.
"Al kau itu ternyata wanita yang sangat kejam." Sindir Lea dengan ketus.
"Haha.. kau baru tahu aku ini kejam."
Lea menghela napasnya dengan kasar, karena bukanya tersinggung di katakan kejam sepupunya itu justru merasa bangga.
"Aku ingin keluar sebentar." Putus Lea yang tidak ingin meneruskan perdebatan mereka.
"Kau mau kemana?" Alana bangkit dari tempat duduknya.
"Aku ingin beli minuman." Baru saja Lea ingin keluar, namun sepupunya itu menahan langkahnya.
"Kau bawa uang tidak?"
"Uang?" Lea menepuk keningnya sendiri saat tersadar ia tidak membawa apapun ketempat kerja Alana, karena tas miliknya tertinggal di tempat Bara.
"Ini." Alana memberikan sejumlah uang untuk sepupunya.
"Terima kasih." Ujar Lea dengan tersenyum.
"Eh tunggu dulu!"
"Apalagi Alana Ricardo."
"Serahkan jaket mu!"
"Jaketku? Untuk apa?" tanya Lea bingung.
"Sebagai jaminan." Alana melepas paksa jaket kesayangan milik Lea. "Jika kau melarikan diri dan pulang ke apartemen, maka jaket ini menjadi milikku." Ancam Alana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
💫R𝓮𝓪lme🦋💞
wkwkwk asyikk nih Al 🤣🤣
2024-02-19
0
nobita
hadehhh hadehhh sepupu laknat kau Alana... gedekk
2024-02-05
1
Putri Sera
itu sih bukan jadi pelayanan tapi asprib (asisten pribadi) klo sampai ke kantor mah
2024-01-27
0