"Lea stop!" Bara menahan lengan wanitanya, menatap wajah yang terlihat sangat marah dengan sisa air mata di kedua pipinya. "Kalau kau seperti ini, aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuhmu." Ditatapnya sesuatu yang terlihat indah itu yang ada di depan matanya.
"A-pa maksudmu?" Lea menutup dadanya dengan kedua tangannya, saat menyadari mata Bara terus menatap di kedua miliknya.
"Lea Richard kau itu bodoh!" Bara mendorong perlahan tubuh Lea, dan segera menjauh dari tubuh wanitanya yang polos tanpa sehelai benangpun. Ia begitu tersiksa melihat dan berada didekat wanita itu, tanpa bisa merasakan dan memiliki tubuh yang sejak semalam sudah membangkitkan gairahnya. "Kau tidak bisa membedakan sudah di masuki atau belum?" ujar Bara dengan sarkas, menutup tubuh Lea dengan selimut yang tadi diambilnya lalu memeluk wanita itu dengan erat.
"Brengsek, katakan apa maksudmu?" Lea masih tidak mengerti dengan perkataan Bara.
"Aku hanya memberikan hukuman kecil padamu tidak lebih." Bara mengusap wajah yang sangat dirindukannya itu.
"Bara berarti aku belum..?" Lea menatap pria itu dengan penuh harap.
"Aku memang brengsek, tapi tidak akan pernah melakukan hal hina seperti itu." Bara menekan pinggang Lea. "Kau merasakannya? Itu sudah aku tahan dari semalam." Bisik Bara dengan seringai tipis dibibirnya.
Membuat Lea bergidik ngeri saat merasakan sesuatu yang keras menekan dibawah sana, dengan gerakan cepat ia mendorong Bara lalu duduk di atas tempat tidur.
"Kau kenapa bisa ada di apartemenku? Dan berani sekali masuk ke dalam kamarku!" sentak Lea tanpa berani menatap kearah Bara, ia merasa malu sudah menyerang pria itu dengan keadaannya yang polos. Dan bisa dipastikan pria itu sudah menatap tubuh polosnya entah yang keberapa kalinya.
"Kamarmu? Coba kau lihat sekelilingmu!" Bara menyeringai tipis.
"Ini... " Lea baru tersadar bukan berada di dalam kamarnya. "Di mana aku?" tanya Lea dengan bingung.
"Di kamarku."
"Kamarmu?" Lea mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung, bagaimana bisa ia berada di dalam kamar Bara? Dan pria itu kenapa bisa ada bersamanya? Dan sejak kapan Bara ada di Jakarta? Banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya dan yang terakhir dan membuatnya panik adalah keberadaan Alana. "Bara sepupuku?"
"Dia aman dan sudah kembali ke apartemennya." Bara berjalan meninggalkan Lea.
"Hei kau mau kemana?"
"Aku harus menenangkan ini dulu." Bara menunjuk miliknya yang dari tadi sudah menegang. "Apa kau mau ikut dan membantu menidurkannya?" Ia mengerlingkan matanya menggoda Lea.
"Dasar the jerk!" Umpat Lea dengan kasar.
Bara hanya tertawa sembari berjalan menuju bathroom, sementara Lea mengecek keadaannya untuk memastikan bahwa dirinya masih tersegel. Dan setelah memastikan tidak ada yang aneh selain bekas merah di tubuhnya Lea pun bisa bernapas dengan lega, dan sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari pakaiannya dulu sebelum ia bertanya kenapa banyak bekas ciuman ditubuhnya, walaupun Lea sendiri yakin itu merupakan hukuman kecil yang dikatakan oleh Bara.
Setelah mencari pakaiannya di seluruh ruang kamar, Lea menatap dengan nanar saat melihat sesuatu di dalam tempat sampah yang ada di sudut ruangan.
"Kenapa jadi begini?" Lea mengangkat pakaiannya yang sudah tidak berbentuk. "Bara Klopper...!" teriak Lea dengan penuh amarah saat pakaian mahalnya kini bagaikan lap yang robek tak berbentuk.
"Kau itu berisik sekali." Bara keluar dari dalam bathroom.
Lea yang tadinya ingin marah karena pakaiannya sudah tak berbentuk, kini harus menelan salivanya dengan susah payah saat melihat Bara yang hanya mengenakan handuk di bawah pinggang. Sungguh pemandangan yang sangat mendebarkan hatinya, saat melihat bagaimana tubuh kekar dan six pack diperut itu mengalir sisa-sisa air yang jatuh dari rambut pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Yanti Yanti
cie cie ngiler 😄
2024-09-29
0
✨️ɛ.
jilat, Le.. *eh
2024-08-19
0
Samsia Chia Bahir
lg2 poin G cukup 😫😫😫
2024-05-11
0