Melihat mobil sport yang menghalangi jalannya, Diana mengambil jalan lain berusaha menghindar dari mobil itu.
"Hei masuk!"
Diana pun menengok siapa pengemudi mobil sport yang memintanya masuk kedalam mobil. Terlihat seorang laki-laki yang tidak dia kenal, Diana tidak peduli, dan kembali meneruskan langkahnya.
"Diana! Mamaku ingin bertemu denganmu!"
Diana seakan tidak mendengar panggilan orang itu, dia tetap meneruskan langkahnya.
Laki-laki itu kesal, dan keluar dari mobilnya, dia berjalan menyusul Diana dengan kemarahannya. "Dasar anak haram!
"Kamu anak haramnya Alinka Yolanda, 'kan?!"
Diana tetap tidak peduli dan terus melangkah.
"Hei anak pelakor!" Pemuda itu meneriaki Diana.
"Aku Nazif Bramantyo!"
Tetap saja Diana meneruskan langkahnya tanpa menoleh. Seakan di jalanan itu hanya dia seorang diri.
Nazif kesal, dia mempercepat langkahnya dan ingin meraih tangan Diana, ingin menarik paksa wanita itu.
Namun ….
Bukan Diana yang terseret oleh tarikannya, malah dirinya yang ditarik Diana, bahkan pergerakannya dikunci oleh Diana. Diana begitu kencang memelintir tangan Nazif, membuat pemuda itu meringis.
"Dasar anak haram! Anak Pelakor!" Makinya.
"Awhh!"
Nazif semakin meringis karena Diana semakin keras memelintir lengannya.
Merasa cukup memberi pelajaran pada pemuda itu, Diana pun melepaskan pemuda itu dengan mendorongnya keras, hingga tubuh pemuda itu terjerembab ke badan jalan.
Merasa kalah dengan Diana, pemuda itu pun pergi meninggalkan Diana. Sedang Diana kembali melanjutkan langkahnya, seolah tidak terjadi apapun padanya.
Sesaat hampir sampai di depan kelas, Diana melihat profesor Russel, dia tersenyum saat melihat Diana berjalan semakin dekat kearahnya.
"Kau tahu, aku masih tidak percaya kamu ada pelajar di kelas ini." Wajah profesor Russel begitu ceria kala berbicara pada Diana. "Biasanya aku jadi Asistenmu saat menjalankan operasi, jadi aku adalah muridmu, kenapa sekarang kamu jadi muridku?" tawa profesor Russel sangat menawan.
Jemari Diana mulai menari mengetikan beberapa kata.
...Terus, aku harus di mana?...
Profesor Russel tersenyum sambil menggaruk pelan bagian alisnya. "Yaaa, di ruangan profesor, atau rektor." Melihat beberapa mahasiswa mulai berjalan kearahnya, profesor Russel pun melepas wajah santai nan ceria, dia kembali memasang wajah kaku, dingin, dengan sorot mata yang penuh intimidasi. Dengan santai profesor Russel masuk lebih dulu ke dalam kelas.
Beberapa mahasiswa yang sempat melihat kejadian sebelumnya mulai berbisik, kalau Diana dan profesor Russel memiliki hubungan khusus.
Mendengar desas-desus suara mahasiswanya profesor Russel pun menegakkan wajahnya. "Kalian ini Admin Tumbe, apa mahasiswaku?" Ucapnya tegas.
"Kalau mahasiswaku, bersiap! Kita akan memulai mata kuliah saya."
"Kalau kalian admin Tumbe, silakan keluar kelas ini untuk berburu gosip."
Seketika keadaan menjadi hening.
Merasa semua sudah tenang, profesor pun segera memulai mata kuliahnya.
Waktu terus berputar, tidak terasa semua kelas sudah berlalu begitu saja. Diana memilih menghabiskan waktu istirahat di kamar asramanya.
Di sela-sela waktu istirahatnya, Diana menerima pesan, dari salah satu nomer yang ada dalam group yang dia buat tadi malam.
Diana pun membuka semua laporan yang berisi riwayat penyakit calon pasiennya. Dia sangat fokus memeriksa semua detail laporan yang dia baca.
Drrtttt!
Pesan baru masuk lagi.
...Apa kita bisa bicara langsung membahas semua ini via telepon?...
Diana pun segera menghubungi nomor telepon tersebut. Panggilan Diana langsung terhubung.
"Selamat siang Pak."
"Iya, selamat siang dok."
"Oke, sebentar saya buka laporan yang Anda kirim tadi malam dan yang Anda kirim barusan." Diana mulai membuka laptopnya, dan mulai menerangkan istilah media yang mudah dimengerti orang yang berada di ujung telepon sana.
Setelah berbicara cukup lama, teman bicara Diana pun mengerti, mereka menyudahi pembicaraan mereka.
Sedang di belahan lain.
Melihat Ivan sudah menyudahi panggilannya. Yudha segera mendekati Ivan. "Apakah kamu tadi berbicara dengan dokter hebat itu?"
Ivan mengangguk menjawab pertanyaan Yudha.
"Berapa usianya?"
"Dia laki-laki apa perempuan?"
"Dari suaranya dia perempuan, berapa usianya dan bagaimana dia, aku tidak tahu!"
Ivan pun kembali melanjutkan pekerjaanya.
***
Hari semakin sore, matahari semakin tergelincir ke arah barat. Mengingat ada materi baru, Diana pun segera menuju toko buku untuk mata kuliahnya akan datang.
Saat dia menunggu taksi, tiba-tiba di depannya sudah ada Nazif dan dua pengawalnya. Nazif menatap Diana dengan tatapan kemarahan, seakan dari sorot matanya akan menyemburkan api.
Dengan semangat Nazif mendekati Diana dan mulai melayangkan tinju kearah Diana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 288 Episodes
Comments
Bangkit Wibowo
episode 66
2024-08-30
0
yuce
jangan2 yg membunih mama diana mamanya nazif kelihatan banger benncnya.
2023-02-17
1
Fitriyani Puji
itu bagemana ceritanya diana di kata ank pelakor thor
2022-11-16
0