Sudah 15 menit Diana berdiri di depan kantor polisi, menunggu taksi. Tapi sampai detik ini belum juga dia mendapatkan taksi.
Sedang pengacara Nizam sudah selesai dengan kasus yang menyeret Diana. Mulut Santhy yang sedari tadi selalu meluncurkan kata-kata pedas, seketika kehilangan kekuatan kala Nizam balik mengancam dan menekannya, bagai api yang disiram air, seketika padam.
Nizam dengan santai meninggalkan kantor polisi, saat mobilnya keluar dari halaman kantor polisi, dia melihat Diana masih berdiri di tepi jalan. Nizam pun memberhentikan mobilnya di depan Diana. Perlahan Nizam membuka kaca samping mobilnya. "Ingin kembali ke kampus?"
Diana menjawab perntanyaan Nizam dengan anggukkan kepalanya.
"Masuklah, aku akan mengantarmu. Sepertinya sudah lebih 15 menit kamu berjemur dibawah terik matahari.
Diana segera masuk kedalam mobil Nizam.
"Sejak kapan kamu pindah ke Fakultas ternama itu?"
"Baru kemaren."
Nizam menanyakan banyak hal tentang masa kuliah mereka dulu, seperti biasa, Diana hanya menjawab sekenanya.
"Dunia medis adalah impianku, tapi apa daya, keluargaku ingin aku menjadi seorang pengacara. Aku rindu memegang segala perlengkapan medis. Apalagi saat kita koas bersama, aku rindu masa-masa itu, dinas di Rumah Sakit bersamamu dan Mahasiswa yang lain."
"Tapi kamu juga hebat, memotong mimpimu demi membahagiakan papamu, sekarang pasti beliau sangat bangga, seorang Nizam, pengacara paling kondang, dan menjadi pengacara impian untuk membela mereka," puji Diana.
"Hebat apanya? Mereka mendatangiku saat bermasalah, dan pergi begitu saja saat masalah selesai," gerutu Nizam.
"Apa bedanya dengan profesi dokter? Yang datang pada dokter juga mereka yang sakit, dan pergi saat sehat."
Seketika Nizam terdiam.
"Apapun profesi kita, hal bahagianya adalah ketika kita bisa menolong orang lain."
"Bagaimana kabar profesor Hadju?" Nizam berusaha merubah arah bicara mereka.
Diana langsung meraih handphonenya, dan menekan panggil pada nomer yang bertuliskan profesor Hadju Dana. Diana menyalakan speakernya, agar Nizam mendengar langsung jawaban profesor Hadju.
Diana mahasiswi yang sangat disayangi oleh profesor Hadju, kecerdasan Diana, serta pemahamannya tentang segala materi yang profesor berikan, membuat Diana menjadi mahasiswi kesayangan profesor Hadju.
Tutttt ….
"Akhirnya, kamu ingat juga padaku. Ku pikir dalam kepalamu hanya nenek, nenek, dan nenekmu saja, tidak ada tempat untukku di hatimu, atau dipikiranmu untukku."
"Maaf prof," ucap Diana lembut.
"Aku terima nasib saja, aku memang tidak penting bagimu."
"Bukan begitu prof …." ucap Diana lembut.
"Ada masalah? Tumben kamu meneleponku saat masih jam pelajaran."
"Tidak ada masalah prof, tapi ada yang kangen sama profesor."
"Siapa? Semoga bukan nenekmu yang rindu padaku, kalau kamu sudah jelas tidak pernah merindukanku. Karena nenekmu seperti semesta kamu."
"Nizam. Dia ingin berbicara dengan profesor."
Nizam seketika kehilangan kata-kata, dia tidak tahu harus berbicara apa dengan profesor Hadju. Begitu pula profesor Hadju, dia juga ikut diam.
Hening, tidak ada siapapun yang bicara.
"Diana."
Panggilan profesor dari loudspeaker handphonenya memecah kebisuan
"Iya prof."
"Ada seseorang yang mencarimu, dia mengundangmu untuk melakukan operasi. Apa kamu bersedia?"
"Maaf prof, untuk saat ini saya tidak bisa melakukan tugas saya."
"Kan, kan!" Profesor terdengar kesal.
"Semua ini pasti karena permintaan nenekmu. Apa nenekmu tidak bisa merasakan, bahwa saat kau memegang peralatan bedah, kamu sangat bahagia, seperti seorang penyanyi dengan mic-nya, seperti seorang gitaris dengan gitar kesayangannya. Kamu mulai melepas semua ini demi nenekmu."
Diana bingung harus membalas apa.
"Semua ini salah nenekmu, kamu terpaksa rehat dari dunia medis hanya demi memenuhi impian nenekmu. Semoga saja tunangan kamu nanti tidak menyebalkan seperti nenekmu."
"Tapi, mengingat dia pilihan nenekmu, tidak menutup kemungkinan dia juga menyebalkan seperti nenekmu," omel profesor Hadju
Sontak kedua bola mata Nizam seakan melompat, kala mengetahui Diana sudah bertunangan.
"Maafkan saya profesor. Jangankan pertunangan. Hidup saya pun akan berikan untuk nenek."
Obrolan Diana dan profesor Hadju terus berlanjut, setelah Diana menutup menyudahi panggilan telepon mereka, Nizam pun segera melajukan mobilnya menuju kampus Diana. Banyak hal yang ingin dia katakan, namun dia tidak tau harus memulai berbicara mengenai apa.
Perlahan mobil Nizam berhenti di depan gedung fakultas tempat Diana kuliah.
"Terima kasih, Nizam." ucap Diana.
Nizam hanya menganggukkan kepalanya, mendengar Diana sudah bertunangan dia masih syok.
****
Sampai di lingkup kampus, Diana memilih menuju Asrama, dia ingin istirahat sebelum memasuki mata kuliah selanjutnya.
Tidak terasa, menit demi menit berlalu, Diana pun segera menuju tempat mata kuliah selanjutnya.
Sesampai di kelas, semua orang sudah dengan Manekin phantom mereka masing-masing. Sedang Diana tidak mendapatkan benda tersebut, karena dia mahasiswi baru, yang tidak terhitung saat profesor mempersiapkan semua.
"Mahasiswi pindahan baru?" Tanya profesor.
Diana menganganggukkan kepalanya.
"Karena ini kesalahan saya, saya persilakan kamu berbagi 1 Manekin phantom dengan mahasiswi lain."
Diana bingung, ikut yang mana. Dia hanya berdiri menunggu mahasiswa atau mahasiswi lain yang mau berbagi dengannya.
"Anak-anak, adakah yang bersedia berbagi dengan teman baru kalian?" Tanya profesor.
Terlihat salah satu mahasiswi mengangkat tangannya ke udara.
"Diana, silakan ke sana, Saras mau berbagi bersamamu."
Diana pun segera bergabung dengan Saras, pelajaran mereka pun berlanjut.
Tidak terasa, materi dari profesor selesai, Diana dan Saras pun berjalan bersama menuju kantin kampus. Keduanya terlihat puas, karena mendapat nilai dan komentar yang bagus dari profesor mereka.
Diana dan Saras terlihat akrab, keduanya terus berbicara mengenai materi barusan.
"Aku senang mengenalmu Diana, bersamamu ... aku bisa melatih kesabaranku, menanti jawaban yang kamu tulis."
Diana hanya tersenyum, dia menuliskan kata maaf untuk Saras.
"Santai saja Diana, aku suka kok."
"Kalau dilihat tadi, rasanya aku melihat seorang profesional saja," puji Saras.
Diana hanya bisa tersenyum.
"Kalau nilaiku nanti bagus, sepertinya itu berkat kamu."
Diana menulis di kertas yang ada di sakunya.
...Mana ada, itu usaha kamu sendiri....
Mata Saras tertuju pada seorang laki-laki dengan setelan jas lengkap, tubuh tegapnya, serta garisan wajahnya nyaris sempurna, Saras tidak bisa berhenti menatap kearah laki-laki itu.
"Kampus ini kedatangan Tom Cruise."
Diana pun menoleh kearah Saras memandang. Ternyata itu adalah Ivan.
Saras segera mengumpulkan kesadarannya, kala ciptaan Tuhan yang begitu menawan itu berhenti di dekatnya.
Laki-laki itu menatap Diana dengan tatapan mata yang penuh kekecewaan.
"Kamu memukuli orang lagi?" Tanya Ivan pada Diana.
Diana hanya diam, rasanya sangat malas menanggapi Ivan.
"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?" ucap Ivan penuh penekanan, dia mengingatkan Diana tentang 3 perjanjian mereka.
Diana balas menatap Ivan dengan tatapan sinis dan penuh penekanan, seakan sorot mata Diana mengingatkan perjanjian darinya yang lain, juga seakan mengatakan 'Bukan Urusanmu!'
"Dia siapa, Diana?"
Pertanyaan Saras seketika membuyarkan kebisuan yang terjalin.
Diana ingin menjawab, kalau Ivan adalah saudaranya, mengingat kejadian di kantor polisi kalau dirinya tak diakui, Diana pun batal menuliskan siapa Ivan. Diana memilih bungkam.
"Apakah dia Ayahmu?" tanya Saras.
"What?!" Ivan sangat kesal, karena dikira Ayah Diana. Wajah Ivan pun sangat muram, setua itukah dirinya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 288 Episodes
Comments
Dewie Biyati
cerita bagus gini kok,ada yg nyumpahin ketabrak mobil,ingat y mulutmu harimaumu,ucap itu doa...sumpahmu untukmu..
lanjutttt thorrr
2024-06-19
0
yuce
hahahaha ivan dikira ayah diana luci juga masa ya ayahnya terlalu muda
2023-02-17
1
Rose Mustika Rini
aga bingung. diana itu sebenarnya ga bisa ngomong apa pura2 aja. tadi ko ngobrol di telp sama prof.hadju bisa aja. ga pake nulis2, kan langsung ngomong ditelp. klw video call bisa aja lah nanti nulis dikertas trus ksh unjuk ke prof.hadju..
2022-11-16
0