Kakek Agung sangat lega, akhirnya semua tuduhan yang tertuju pada Diana terbantahkan. Hari semakin gelap, kakak Agung meminta tamunya untuk bertahan hingga waktu makan malam.
Saat waktu makan malam tiba, mereka semua berkumpul di meja makan, kecuali Rani. Entah di mana wanita itu saat ini. Selesai menikmati makan malam, semuanya berkumpul di ruang tamu.
Kakek bertanya banyak hal pada Abimayu tentang keadaan Kampus Bina Jaya dan keadaan Rumah Sakit Healthy And Spirit, Abimayu pun menceritakan semuanya.
"Diana, bagaimana caranya, kamu sangat mudah kampus Bina Jaya?" Tanya Yudha.
Bukan rahasia lagi, jika ingin menempuh pendidikan di Fakultas Bina Jaya sangat susah. Kekayaan dan pangkat tidak menjamin anak mereka bisa lolos dan kuliah di sana.
Thaby menyipitkan kedua matanya mendengar pertanyaan Yudha. Dia sangat tahu kemampuan Diana. "Itu bukan hal sulit bagi Diana," sela Thaby.
"Justru Fakultas merasa hal itu suatu kebanggaan, karena memiliki Mahasiswi sehebat Diana." Tambah Thaby.
Semua tatapan mata tertuju pada Thaby, mereka sangat tidak percaya dengan yang Thaby ucapkan barusan.
Sedang Abimayu, tanpa kesadaran dia tidak bisa merubah arah pandangannya, matanya terus memandangi sosok Diana, sosok yang sangat dia kagumi, namun sangat susah dia temui. Seakan Abimayu tidak ingin melewatkan sedetik jua pun tanpa memandangi Diana.
Ivan menangkap basah Abimayu yang terus memandangi Diana, namun dia hanya membiarkannya, dan melanjutkan obrolan lain.
Drrtttt!
Diana merasa handphonenya bergetar, saat dia memeriksanya ada beberapa pesan yang masuk. Dengan bahasa isyaratnya, Diana pun izin undur diri pada semua orang yang berada di ruang tamu.
Setelah mendapat izin dari kakek, Diana pun segera keluar, dia memilih halaman belakang rumah yang sepi untuk menerima telepon di sana.
"Iya Prof …."
"Yang kemaren, mereka tetap kukuh ingin memintamu melakukan operasi."
"Mereka rela membayar berapapun, asal kamu yang melakukan operasi itu, bahkan walau harus membayar 10 kali lipat sekalipun."
Diana teringat obrolan Ivan saat di mobil sebelumnya, kalau laki-laki itu rela membayar walau 1000 kali lipat sekalipun.
"Baiklah prof, aku akan melakukannya, asal dia bersedia membayarku 100 kali lipat."
"Baiklah, akan aku sampaikan."
Selesai berbicara dengan profesor Hadju, Diana pun kembali ke dalam rumah berkumpul bersama yang lain.
Waktu semakin malam, Abimayu dan putranya pun sudah pamit.
"Ivan, kamu anter aku pulang ya, kan tadi aku nebeng sama kamu," pinta Yudha.
Ivan hanya menganggukkan kepalanya, dia pun berpamitan pada kakek dan kedua orang tuanya.
Diana masuk lebih dulu ke dalam mobil Ivan, karena Ivan dan Yudha masih sibuk berbincang dengan kakek Agung. Daripada bosan menunggu, Diana memasang earphone ke telinganya, dan menikmati musik sambil menunggu dua orang itu. Walau Ivan dan Yudha sudah masuk kedalam mobil, Diana tetap asyik dengan musik yang dia dengarkan.
Sekilas Yudha melirik kearah Diana. "Ivan, kamu masih ingat dengan nenek Zelina?"
"Tentu saja."
"Apa kamu tidak menyadari? Kalau sifat dan sikap nenek Zelina sangat mirip dengan Diana."
Ivan malah tertawa mendengar ucapan Yudha. "Dia mirip dengan nenek Zelina?" Rasanya Ivan tidak bisa berhenti menertawakan penilaian Yudha barusan
"Mana bisa dia dibandingkan dengan nenek Zelina, nenek Zelina adalah legenda dalam dunia kedokteran." Tambah Ivan.
"Aku sangat merindukan nenek Zelina, dia sangat irit bicara, tapi tindakannya luar biasa." Ivan terbayang sosok nenek Zelina.
"Iya, menurutku dia superhero yang nyata." Yudha juga merindukan sosok nenek Zelina.
"Iya, nenek Zelina menghilang bagai ditelan bumi, setelah anak perempuannya dibunuh." Ivan terbayang, di mana titik saat nenek Zeline menghilang. Walau dirinya masih kecil, tapi membaca riwayat seorang nenek Zelina membuat Ivan sangat menyukai sosok itu.
"Iya, sedihnya bahkan sampai sekarang, pembunuh anak perempuan nenek Zelina belum terungkap.
Titik kesedihan nenek Zelina saat putrinya dibunuh, namun seisi kota juga berduka, karena kehilangan dokter hebat di kota itu. Bahkan sudah puluhan tahun, tidak ada yang memiliki kemampuan seperti nenek Zelina.
Tlink!
Handphone Yudha berbunyi, dentingan handphone itu seakan menarik mereka yang tenggelam di dasar kolam kesedihan kala teringat sosok nenek Zelina.
Yudha segera memeriksa handphonenya. Terlihat pesan dari profesor Hadju. Senyuman seketika menghiasi wajah Yudha, kala dia membaca pesan yang masuk.
...Dokter hebat bersedia melakukan operasi, asal kalian bersedia membayar dengan 100 kali lipat....
Yudha memberi tahu pesan itu pada Ivan, Ivan pun sangat bahagia, dengan semangat yang berkibar, Ivan segera melajukan mobilnya, tujuannya saat ini mengantar Yudha lebih dulu, sebelum kembali ke Apartemennya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 288 Episodes
Comments
Wiek Noer
Sebetlnya gak bisu dia
2024-09-21
0
Rose Mustika Rini
lah ga bisa ngomong tp terima telp
2022-11-16
1
Fitriyani Puji
nenk diana seorang dokter
2022-11-16
0