Rasanya Diana sangat mengenali suara tawa itu, dia menoleh ke arah suara tawa itu berasal. Diana melempar tatapan malas ke udara kala menyadari siapa sosok pengacara yang datang.
Melihat pengacaranya sudah datang, Santhy semakin mendalami dramanya. "Pak Nizam, Anda harus jebloskan gadis bar-bar itu ke penjara, ini hari pertama dia masuk kampus, sudah bikin Lussy terluka parah. Hiksss!" Santhy semakin terisak.
"Lussy anak saya tidak pernah mengganggu orang, entah apa yang ada di otak gadis itu, menyerang Lussy dengan brutal, kini wajah Lussy rusak karena perbuatan dia."
"Saya tidak terima, buat dia menerima hukuman seberat-beratnya," pinta Santhy.
Pengacara Nizam terlihat berpikir. "Pemukulan terjadi di wilayah sekolah. Itu adalah kampus ternama dan paling top di kota ini, pastinya yang bisa mengenyam pendidikan di sana bukan orang biasa. Diana hanya seorang gadis biasa, sedang Lussy anak orang yang punya kuasa di kota ini. Saya yakin, Saudari Diana hanya membela diri, penyerangan terjadi karena dia diserang lebih dulu oleh saudari Lussy, jika Diana balik menyerang, itu adalah bertahan untuk membela diri."
"Saya menerima suatu tawaran, tidak asal terima, sebelum menerima suatu kasus, saya mempelajari semuanya lebih dulu. Karena saya tidak ingin membela penjahat." Ucapan Nizam begitu menekan.
Santhy sangat bingung, pengacara Nizam bukan menekan tersangka, malah menekan posisinya dan menyalahkan Lussy atas penyerangan yang terjadi. "Pak Nizam, sepertinya Anda melakukan kesalahan."
Dengan gaya dingin dan kakunya, Nizam memandang Santhy begitu tajam. "Kesalahan??
"Klien Anda adalah putri kami, Lussy, bukan Diana. Diana lah yang melukai Lussy," terang Santhy.
"Klien saya adalah dia." Nizam menunjuk kearah Diana, dengan gerakkan wajahnya.
"Apa!?" Santhy sangat syok, dia bersusah payah menghubungi pengacara hebat, malah pengacara itu akan membela wanita yang melukai anaknya.
Santhy mengingat, Diana adalah bagian keluarga Agung Jaya. Tidak semua orang kaya bisa memasukkan anak mereka ke Fakultas ternama tempat Lussy kuliah, walau anak-anak mereka pintar, namun Diana yang berasal dari desa malah sangat mudah masuk ke fakultas tersebut. Santhy yakin, keluarga Agung pasti telah mendahuluinya. Bagaimana pun, Santhy tidak rela orang yang melukai putrinya bisa bebas.
"Keluarga Agung membayar Anda berapa?"
Nizam membalas tatapan mata Santhy dengan tatapan yang sangat malas.
"Bela anak saya, saya akan bayar Anda dua kali lipat dari keluarga Agung," tawar Santhy.
Nizam semakin malas meladeni wanita yang ada di dekatnya. "Maaf, saya tidak diutus keluarga Agung." Nizam pun berjalan mendekati Diana, meraih kursi yang ada di dekat Diana, dan duduk di sana.
"Ya ampun Diana, aku mengira kejadian beberapa menit yang lalu adalah mimpi." Nizam terlihat begitu bahagia melihat sosok Diana, wajahnya yang selalu kaku seketika dihiasi oleh senyuman, semakin menambah nilai ketampanan yang selalu tertutup oleh aura dingin dan cueknya.
"Kamu tau, saat aku berdiri di pintu itu, dan melihatmu dari samping, aku sangat kaget. Makanya ku pikir ini mimpi."
"Ternyata ini beneran kamu, Diana."
Diana hanya tersenyum kaku, menanggapi segala ucapan pengacara Nizam.
"Tapi bagus, karena ini suatu keberuntungan bagiku, bisa bertemu sosok hebat sepertimu."
"Tau sendiri, bertemu denganmu sangat sulit."
Diana tetap diam, dan membiarkan Nizam terus berbicara.
"Berapa lama kita tidak pernah bertemu, Diana?" Tanya Nizam.
Polisi dan kedua orang tua Lussy saling pandang, keduanya sangat kaget melihat perubahan pengacara Nizam, apalgi perlakuan Nizam, dan bagaimana cara bicara pengacara Nizam sangat berbeda dengan yang mereka lihat selama ini. Nizam type orang yang sedikit bicara, namun jika dia membuka mulutnya, lawan bicaranya bungkam seketika. Saat ini, pengacara Nizam berbicara dan bertanya banyak hal pada gadis yang bernama Diana.
Saat ini, rasanya mereka melihat sosok Nizam yang berbeda, sangat hangat, ceria, selalu tersenyum, dan sangat santai kala berbicara dengan seorang gadis yang bernama Diana.
"Setiap kita bertemu, entah kenapa kecantikan kamu itu selalu bertambah," puji Nizam pada Diana.
Sontak hal itu membuat polisi yang ada di ruangan itu terkejut. Dia sering bertemu pengacara Nizam, secantik apapun wanita yang bertemu dengan Nizam, laki-laki itu tidak pernah menoleh, apalagi memuji seperti barusan.
"Sepertinya kita harus minum teh bareng, Diana. Sangat banyak hal yang ingin ku bahas bersamamu."
"Apa kalian saling kenal?" Polisi yang sedari tadi membisu tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.
Nizam menoleh ke arah polisi. "Aku sangat kenal dengan Diana."
"Diana adalah adik tingkatku, kami dulu kuliah di fakultas yang sama."
Seketika mereka kembali bungkam. Mereka yang punya jabatan tinggi saja, tidak pernah mendapat perlakuan yang hangat dari Nizam, seperti Nizam memperlakukan Diana, bahkan nada bicara Nizam sangat lembut.
Nizam menoleh kearah kedua orang tua Lussy. "Aku sangat mengenal siapa Diana, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang kalian tuduhkan!"
"Segala hinaan Anda pada klien saya, akan saya pidanakan!"
"Satu lagi! Kalau kalian lagi-lagi mengganggu Diana, saya yang akan pastikan kalian akan membusuk di penjara!" Nizam sangat emosi mengingat segala tuduhan dan hinaan kedua orang tua Lussy pada Diana.
Diana dengan santai menusukkan ujung jarinya pada lengan Nizam, Diana memberi isyarat pada Nizam, kalau dia ingin kasusnya segera diselesaikan.
Nizam sangat mengerti isyarat Diana. "Oke, saya akan selesaikan kasus kamu."
"Kamu ingin kembali ke sekolah?" Tanya Nizam.
Diana menganggukkan kepalanya.
Diana pun boleh meninggalkan kantor polisi atas jaminan Nizam. Sedang Nizam melanjutkan untuk menyelesaikan kasus yang menyeret Diana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 288 Episodes
Comments
Ahmad R Laros
maaf thor aku dah like terus tpi g mau
2022-12-07
0
Dava Eviermono
kl buat crta yg msk akal dong thour, mana ada dokter bisu. cb lah ditelaah lg.
2022-11-30
0
Alfia Takaendengan
kenapa sihh Diana harus pura" bego
2022-11-16
0