Setelah seminggu lamanya hari berlalu terakhir kita melakukan perlindungan itu membasmi monster Slime, duduk di singgasana hanya membuatku bosan tidak ada kekacauan apapun atau tanda-tanda monster itu muncul lagi.
"Ah.. Aku ada ide, Xylona apa kau ingin berlatih bertarung" Ucap Hakai yang sedang memangkunya di singgasana.
"Bertarung? Apa aku bisa melakukan itu?" Tanya Xylona menenggakkan kepala ke atas.
"Belum di coba tidak akan tahu!! Ayo.. "
Hakai dan Xylona pergi ke lahan kosong di mana para pemuda dan anak-anak berlatih di sana.
"Belati yang aku berikan itu.. Apa masih ada?"
Xylona menarik bajunya dan mengambil pisau kecil dari pinggir celana.
"Ini.. "
"Baiklah kalau begitu serang aku pake itu!"
"Ehh...!! Aku tidak mau.. Itu bahaya!"
"Aku kuat tidak perlu takut" Acapnya Hakai berlagak sombong.
"Aku tidak ingin tuanku terluka.. "
Ah.. Ya walaupun umurnya sudah panjang tetapi dia tetap saja gadis kecil, aku bermaksud untuk meningkatkan kemampuan miliknya di lihat dari levelnya yang tak karuan karena kunci di leher itu dia berlevel 10...atau...100? Angkanya selalu berubah-ubah systemku tidak bisa memindai dengan jelas, hidup dalam hutan seribu tahun dan hanya memangsa hewan liar untuk di makan itu bisa meningkatkan EXP juga kan?
"Ambilah senjata di gudang sana, ada pedang yang terbuat dari kayu"
"Ummu... "
Xylona langsung berlari dan mengambil pedang kayu itu, dia mulai berpose aneh saat memegang senjata tentu itu kesalahan terbesar.
"Apa yang kau lakukan? Itu konyol sekali Ha. Ha. Ha. Ha"
".. Jangan menertawakanku! Humphh dasar.. "
"Ha.ha.. Maaf, jika pedang itu terlalu besar bagimu peganglah dengan kedua tangan lalu regangkan kakimu"
"Seperti ini?"
Xylona tidak mengerti dengan ucapan Hakai jadi dia melirik pada anak-anak di sekitarnya dan berbohong bahwa dia paham betul.
Pada akhirnya dia hanya mengikuti gerakan-gerakan calon Ksatria yang sedang berlatih dia sama sekali tak mendengarkanku, ya aku senang melihat dia bahagia itu lebih baik banding harus berdiam diri di dalam istana.
Dalam lamunan yang tenang dan angin sepoi-sepoi menyentuh kulitku Hakai yang sedang duduk di bawah lapangan hijau melihat Xylona bertingkah meniru gerakan orang lain, langit begitu biru seperti di bumi tetapi ada sebuah planet lain besar di atas sana yang menampak cukup membuat hatiku terkagum.
Tiba-tiba seorang prajurit datang tergesa-gesa dan ngos-ngosan hendak menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
"Y.. Yang Mu-Mulia.. Telah terjadi ke-kebarakan di pemukiman luar benteng Kerajaan tepatnya di tempat para warga yang menolak tinggal di dalam, ada yang bilang portal itu muncul di sana... "
"Mana mungkin!! Kehadirannya tidak bisa aku rasakan.. Cepat antarkan aku kesana segera!!"
Hakai pergi meninggalkan Xylona begitu saja setelah mendengar informasi dari prajurit tersebut, yang membuat Hakai heran bahaya atau ancaman tidak terdeteksi oleh system miliknya.
Di antar keluar menggunakan kereta tarik atau yang biasa di sebut delman hewan Kamila yang sangat cepat berlari, dari atas langit yang biru sudah terlihat asap hitam berkobar-kobar.
Pemukiman itu ada di sebelah benteng tidak terlalu ramai kurang lebih sekitar 40 rumah ludes terbakar, para warga berlarian tak mengenal arah di lahap api.
"Sial.. Kenapa ini bisa terjadi.. Aku telah gagal menjadi seorang Raja- elemenku! Apa yang harus aku lakukan! Aku tidak mempunyai ability air... "
Seolah memberikan sebuah ide cemerlang Wyvern mengatakan sesuatu. " Hakai!! Keluarkan ability Twister di atas pemukiman itu cepat bodoh!!"
TWISTER!! TWISTER!! TWISTER!!
Ability Twister berupa pusaran air di lempar ke langit namun api begitu besar tidak sanggup untuk memadamkannya.
"Gunakan ability lain!! Gunakan otakmu!!" Teriak Wyvern.
Entah kenapa Wyvern begitu sangat ingin membantuku aku pikir dia tidak seperti itu.
Mungkin aku bisa menggunakan es dan api secara bersamaan.
FREEZE!! FIRE BLAST!!
Kepanikan menyelimuti hati Hakai ledakan hebat yang di hasilkan dari kedua elemen tersebut sedikit membuahkan hasil Freeze air yang beku lalu di lelehkan dengan api Fire Blast menciptakan air hujan buatan dan embun dingin.
Penduduk kota Livediya keluar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, ketika aku melakukan gabungan elemen tersebut seseorang melihat dan dia salah paham.
"Lihat!! Dia mencoba memusnahkan desa!!"
Ha? Suara itu.. Yelena kah? Apa yang dia coba katakan.
"Bukan!! Aku mencoba untuk memadam-"
Sebelum sempat aku akhiri ucapan ini semuanya telah salah paham, teriakan itu Yelena 'kan? Aku yakin sekali dia di antara kerumunan itu dia masuk kembali?!
"Sialan kau raja iblis!!"
Ucap salah satu warga, tidak berhenti sampai situ satu tumbuh menumbuhkan yang lain, orang-orang yang tak melihat kejadian sebenarnya hanya ikut-ikutan menyorakiku dengan semangat.
"Raja pendahulu maupun penerus sama biadabnya!! Apa kau ingin mengulangi kejadian 400 tahun lalu?!"
Lagi dan lagi.
"Dia tidak layak menjadi seorang Raja apalagi Pahlawan"
Hakai mencoba masuk ke dalam pemukiman yang masih terbakar itu mencari apa ada seseorang yang masih selamat atau tidak.
Apa yang aku lakukan? Apa yang sebenarnya Raja pendahulu lakukan hingga aku kena imbasnya?
"Syukurlah... "
Hakai menemukan seorang wanita selamat dari kebakaran tersebut, segera di angkat gendong menuju keluar, sepertinya dia kehabisan oksigen.
"Tolong dia!! Tolong!" Hakai memohon pertolongan pada rakyat yang melihatnya.
"Kau yang melakukan, kau juga mencoba menyelamatkan seseorang? Kau pikir bisa mengelabuiku?"
Cih.. Sialan apa-apa manusia ini?! Aku hanya mencoba membantu sebisaku aku bahkan tak tahu apapun soal kebakaran ini.
"Kalian apa tak punya hati!! Aku menolong seseorang dan kalian menyalahiku?!!! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku disuruh untuk datang kemari oleh prajurit itu-"
Ketika melihat sekeliling warga di dekat gerbang tidak aku saksikan lagi prajurit yang membawaku kemari bahkan dia tidak membantu.
Hakai langsung menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah rencana yang di buat untuk menjatuhkan namanya.
"Mana?! Kau sendiri yang keluar pertama kali! Kau sendiri yang tidak punya hati dasar terkutuk!! Enyahlah!!"
Hati Hakai panas padahal api sedikit mereda, Hakai menggigit gigi grahamnya sendiri, tangannya mengepal dan siap menghajar.
Xylona yang muncul dalam keramaian langsung mencoba menenangkan hati yang terbakar dia juga membantu memberikan nafas buatan kepada wanita korban kebakaran itu.
"Dan juga dirimu gadis sampah, mau-maunya kau bersama dia? Kau begitu lengket"
"Gadis itu pasti merasa puas dengan batang miliknya HAHA.. "
Tak bisa di biarkan!! Mereka semua sama saja tidak ada bedanya dengan makhluk bumi!
Hakai menodong tangan kirinya ke arah warga tersebut, namun Xylona menghalanginya dan berkata. " Tidak apa, tidak apa, aku baik-baik saja.. Aku percaya padamu tuan sangatlah berhati baik"
Mata itu.. Aku tidak ingin seperti ini, sedikit saja aku ingin membalaskan dendam orang-orang yang telah menghinamu Gracia...
SYSTEM LEVEL: 610%
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments