Perubahan tubuh Hakai kembali normal seperti manusia biasa tanduk, sayap beserta jubahnya menghilang bagai debu.
"..Kakak.. Kakak.. Kenapa kamu tidur di situ? Sudah waktunya kita pulang kakak.."
"Gracia? Tunggu aku.. Gracia.. "
Setelah serangan extrim yang Hakai lakukan padahal itu bisa saja membuat nyawa dirinya terancam. Hakai yang pingsan mengigau terus mengatakan "Gracia.. Gracia" Di hadapan Xylona yang sedang memberikan pangkuan pahanya di jadikan bantal tidur untuk kepala Hakai.
"Tuan Hakai.. Tuan Hakai? Apa kamu sudah sadar? Bangunlah aku membawakan minum"
".. Ahh.. Terima.. Kasih banyak.. "
Bambu? Kelapa? Apapun itu aku minum, ada-ada saja kau ini membawakan aku mangkuk yang aneh.
"Gracia, di mana kita sekarang?" Hakai berbicara setengah sadar.
".. Ehmm.. Anu.. " Xylona bingung harus menjawab apa.
Suara itu dan juga tempat ini.... Aku mengerti sangat mengerti ini bukanlah dunia yang aku kenal aku sudah mati, penyesalan selalu datang di akhir itu fakta buktinya aku sekarang sedang mengalaminya aku sangat egois tapi aku berharap setelah semua yang aku libatkan ini hanyalah mimpi.
Pakaian yang sudah robek di mana-mana hanya menyisakan celananya saja Hakai sedang duduk bersila dan menunduk merenungkan seperti sedang bertarung dalam pikiran.
Lalu dia bangkit dan menoleh pada Xylona. "Aku sudah bangun, ikutlah denganku"
"Apa? Kemana? Setelah aku pikir-pikir, aku tidak bisa pergi keluar dari sini" Ragu dan cemas kedua tangannya terus memegangi kunci tersebut.
"Kenapa? Lihatlah.. Aku tidak bisa berjalan sendirian apa kau senang aku menderita seperti ini? bantulah aku" Hakai sengaja membuat Xylona ikut.
"Hmm.. Tapi... Ya baiklah" Walau terpaksa Xylona tetap membantu.
Hakai yang kesakitan tidak terlalu parah hanya goresan saja system berhasil memperkecil rasio luka setelah ledakan dahsyat tadi, Xylona menarik tangan kanan Hakai dan di gantungkan ke leher membantunya berjalan dengan stabil.
Setelah 20 menit berjalan, Hakai tidak bisa menahan berat badannya sendiri dan panas di seluruh tubuhnya. Lagi-lagi dia harus pingsan di tengah, Xylona yang melihatnya kembali panik dan cara satu-satunya yang terpikir adalah menyeret keluar dari hutan ini.
Berusaha keras Xylona menarik Hakai sampai di tepi jalan lewatlah seorang penarik delman yang Hakai sempat menaikinya saat berangkat, paman itu berbaik hati mengangkatnya dan menidurkan di belakang bersama barang-barang pesanan, Xylona niat dalam hatinya untuk pergi meninggalkan Hakai dan masuk ke dalam hutan, tetapi dia berpikir "akan sangat jahat orang yang sudah menolongku aku tinggalkan begitu saja sebelum sempat berucap terima kasih".
Akhirnya Xylona tetap bersama Hakai menemaninya yang sedang pingsan itu di dalam delman.
"Ini di mana Xy.. Lona.. " Tanya Hakai pusing berat bangun dari pingsannya.
"Ini kereta pengangkut barang" Ucapnya yang berseri-seri.
"Oh.. Jadi kamu naik delman Istimewa ku duduk di muka.. Hmmm.. Pluk.. plik.. plak.. plik.. pluk.. plik.. plak..suara sepatu... DINOSAURUS!!! Oy.. Oy pak tua apa itu?" Kaget Hakai melihat paman kusir sedang mengendalikan hewan aneh.
"Sudah sadar booyah? Apa yang kau kagetkan?" Pak kusir menoleh karena di belakang begitu ribut.
"Makanya aku tanya.. Itu apa yang kau kendarai itu!! Hewan apa itu dinosaurus? Naga? Bukan kuda?"
"Kuda? Apa itu? Lagi-lagi kau masih mengigau ya tuan Hakai?" Balas Xylona yang berusaha menenangkan Hakai.
"Ohh ini.. Ya kami memesan hewan dari bangsa Ryuu karena di sana ada berbagai macam hewan yang bisa di jadikan kendaraan, naga ini tak bersayap jadi cocok sekali untuk menarik penumpang atau barang-barang" Jelas pak kusir yang tenang mengendarainya.
Hee... Begitu ya hee.... Aneh perasaan waktu berangkat aku liat tadi seekor kuda hee... Ini begitu membuatku pusing, di bumi naga ini sudah punah berjuta-juta tahun sedangkan di sini di jadikan kendaraan, planet ini dua kali lipat lebih mengerikan di banding bumi.
Ketika sampai di depan benteng Hakai mengajak masuk Xylona ke dalam tetapi dengan respon cepat menolak.
"Ayo.. Xylona kita masuk"
"Aku tidak mau!"
"Sudah sejauh ini.. Kamu mau menolaknya? Lihatlah tidak ada hutan lebat di sekitaran sini mau bersembunyi di mana lagi? percayalah padaku.. "
"Hm.. Aku hanya takut dengan penjaga itu.. "
Ternyata cuman takut dengan penjaga? Padahal di dalam lembah itu lebih mengerikan gadis aneh, ya mungkin wajar dia sudah tidak berkomunikasi dengan manusia beberapa ribu tahun dan juga dia terikat oleh janji seseorang yang memberi kunci itu ya.
Hakai yang berjalan sempoyongan melewati gerbang yang di jaga oleh seorang penjaga, mereka berdua hanya diam seperti berkata "Aku tidak ingin berurusan dengan dia lagi" Di lihat dari luka, pakaian lusuh Hakai dan level yang naik drastis membuatnya menggertak.
"Woaahhh... Indah sekali, baunya wangi makanan? Bunga-bunga? Bau besi?"
Xylona dia begitu terpana matanya membelalak, awasnya mulai turun tangannya tak lagi memegang kunci itu, seperti dalam mimpi itu sudah pasti.
"Bagaimana menurutmu? Cantik sekali bukan? Di bandingkan tinggal di hutan"
"Hmphhhh... " Xylona menggembungkan pipinya cemberut.
"Heee.... Apa? Heee... Aku tak bermaksud meledek padahal" Bisik Hakai.
Tuan Hakai datang kembali ke Guild dengan gagahnya bersama Xylona, setelah sekitar satu bulan lamanya Hakai berada di lembah kematian langsung menagih.
"Jadi?! Dimana uangku?" Tanya keras Hakai pada resepsionis.
"Ka-ka-kau yang waktu itu, si kulit pucat bagaimana- mana mungkin!! Tidak mungkin!!! Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka semua!!" Kembali kaget tambah shock kedatangan tuan Hakai.
"Hooeekkkksss... " Hakai muntah darah lagi di depan para Ksatria yang sedang makan.
Sontak semuanya merasa jijik dan mual, namun ada seseorang yang datang menghampiriku lagi seperti awal aku masuk ke Guild.
"Kau... Bocah yang kemarin tingkatan levelmu naik begitu cepat apa yang sudah kau lakukan.. Lalu tangan apa itu?" Guornio si kampak bertanya dan memegang pipiku.
"Nah loh... Jangan meremehkan siapapun mungkin kita bisa kalah melawannya.. Anu mungkinkah kau adalah orang itu?!!" Sambung maya dan bertanya.
Pemuda yang mabuk itu bernama Crish dia juga berujar. "Tangan itu tidak di miliki oleh siapapun.. Kau benar-benar orang yang di ceritakan oleh para leluhur kami? Hahaaa aku pikir itu cuma mitos apa benar kau orangnya!!?"
Aku tak bisa mengikuti arah pembicaraan mereka bertiga, orang itu? Siapa yang dia maksud apa itu aku? Leluhur mereka bilang?
"Siapa orang itu-"
Aku akan bertanya soal yang di bicarakan itu, namun dari arah pintu luar datang pemuda mengetuk pintu dan berkata.
"Apa benar seseorang bernama tuan Hakai ada di sini?"
Seorang pria dengan pakaian bangsawan memanggil namaku bagaimana dia bisa tahu? Dia pelayan atau ksatria? Ya.. Bukan itu maksudku ada apa repot-repot dia menghampiriku.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Reza
...gatau mau komen apa
2021-10-18
4