"Siapa yang menculik kak Nicko?"
"Saya kurang tahu nona."
"Kenapa paman Dori tidak tahu?"pak Dori diam.
Sania dan nyonya Karina menangis terisak.Kenapa keluarganya ada yang mengancamnya bahkan percobaan pembunuhan terhadap ayahnya dan penculikkan kakaknya.
"Sania,cepat kamu hubungi kakakmu Edward.Suruh dia pulang malam ini juga."ucap nyonya Karina lada Sania.
Lalu Sania menghubungi Edward yang berada di benua lain.
Lama belum tersambung,Sania masih mencoba menghubungi lagi.Dan telepon tersambung.
"Halo Sania,ada apa?"tanya Edward di seberang sana.
"Kak Edward di suruh pulang sama mama."
"Memang ada apa mama menyuruh kakak pulang.Urusan kakak si sini masih banyak,belum bisa pulang cepat."
"Mm..papa masuk rumah sakit,keadaannya kritis."ucap Sania ragu.
"Apa?!Kenapa bisa kritis?"Edward terkejut.
"Sebaiknya kakak cepat pulang,nanti ceritanya kalau kakak sudah sampai di sini."
"Ya sudah,siang ini kakak langsung pulang."karena di Indonesia malam,maka di sana siang hari.
Lalu Sania memutuskan teleponnya.
Nyonya Karina masih menangis,Sania merangkul ibunya.
"Bagaimana,apa kakakmu mau pulang?"tanya nyonya Karina di sela-sela tangisnya.
"Iya,kak Edward secepatnya pulang."
Lalu dari ruang operasi keluar dokter dan beberapa perawat yang menangani Pak Robert.Nyonya Karina menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan suami saya dokter?"tanya nyonya Karina,dia tidak sabar mengetahui keadaan suaminya.
"Untung segera di bawa ke sini,jika terlambat beberapa menit mungkin nyawa suami anda tidak tertolong.Saat ini sudah kami tangani dengan baik.Kita tunggu jika subuh nanti belum sadar,terpaksa kita melakukan operasi ulang."ucap dokter,nyonya Karina menutup mulutnya tak percaya,dia semakin sedih dengan keadaan suaminya itu.
"Terima kasih dokter."kata nyonya Karina.
Lalu dokter meninggalkan ibu dan anak tersebut untuk melanjutkan tugasnya yang lain.
"Mama selalu khawatir sama papamu,beliau banyak sekali di kelilingi oleh orang-orang yang tidak suka padanya.Hik..hik..hik."
"Udah ma,papa itu orangnya kuat.Mama yang sabar aja."kata Sania menenagkan sang mama.
"Mama khawatir juga sama kakakmu Nicko,akan terjadi apa-apa.Di mana dia sekarang."
"Nyonya,semua anak buah tuan besar sudah di kerahkan untuk mencari tuan muda Nicko.Nyonya jangan khawatir,bila perlu menyewa detektif untuk mengetahui keberadaan tuan muda."ucap pak Dori.
Sebagai supir juga kepercayaan pak Robert,dia bergerak cepat untuk mencari di mana Nicko berada.
"Apa kita lapor polisi aja paman?"tanya Sania.
"Jika lapor polisi nanti makin sulit untuk melacak tuan muda,nona.Karena sepertinya pelakunya sangat pintar.Terbukti dengan sangat rapi aksi penyerangan itu.Kami tidak sempat melihat orang yang mengendarai mobil lainnya."
Lalu pembicaraan itu terputus dengan satu laporan dari sambungan telepon pak Dori dari anak buahnya.
_
☆☆☆
Sementara itu,Edward yang sudah naik kapal terbang hatinya gelisah.Bagaimana bisa papanya masuk rumah sakit dalam keadaan kritis.Pak Robert tidak mempunyai riwayat penyakit kronis sehingga harus kritis di rumah sakit jika kumat.
Lagi pula,kemarin malam dia video call dengan papanya itu,berbicara mengenai perusahaan yang di kembangkan di Inggris yang sekarang di tangani olehnya.
Edward masih tidak mengerti,tapi dia harus sabar untuk mengetahui keadaan yang terjadi di Indonesia,terutama papanya.
Emil sang asisten Edward selalu mendampingi kemana Edward pergi.Dia setia mendampingi bosnya itu.
"Tuan,apa kita langsung ke rumah sakit setelah kapal ini landing?"tanya Emil oada Edward.
Edward langsung mengangguk yakin.Dia tidak akan membuang waktu hanya untuk istirahat.
"Berapa jam lagi kita sampai di Indonesia?"tanya Edward.
"Sekitar tiga jam lagi tuan."jawab Emil.
Edward mendesah,dia benar-benar tak sabar ingin sampai di rumah sakit di mana papanya di rawat.
"Sebaiknya tuan tidur saja,nanti setelah sampai saya akan bangunkan tuan."ucap Emil memberi saran.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau memikirkan papa sedang berjuang melawan maut di rumah sakit!"ucap Edward kesal.
Saran Emil tidak membantu meredam kegelisahan majikannya itu.Emil hanya diam,memang dia juga khawatir dengan majikan pamannya itu.
Sempat dia berkirim pesan dengan pak Dori,pamannya.Bahwa ada sebuah insiden di jalan ketika majikannya akan memenuhi undangan makan malam bersama klien di vila.
Hanya garis besarnya saja pak Dori memberitahu,selebihnya pak Dori hanya berpesan pada Emil untuk selalu waspada terhadap orang yang mencurigakan ketika sampai di bandara nanti.
Emil mulai khawatir dengan pesan yang di samapaikan pamannya.Itu artinya,sesuatu telah terjadi lagi dan ini tidak bisa di tangani.
"Emil,kenapa kamu jadi ikut gelisah?"tanya Edward.
"Saya hanya khawatir sama tuan besar,tuan muda."kata Emil pelan,menutupi kekhawatirannya.
"Apa kamu mengetahui sesuatu?"tanya Edward curiga.
"Saya belum tahu apa-apa,tuan."masih belum bicara jujur.
"Apa paman Dori tidak mengatakan apapun padamu?"
Edward ikut memanggil pak Dori dengan sebutan paman karena mengikuti Emil.Emil seumuran dengan Edward,hanya beda satu tahun lebih tua Emil dari Edward.
Emil di angkat jadi asisten Edward ketika Edward butuh seseorang yang mendampinginya bekerja.Dan pak Dori mengajukan Emil sebagai asistennya,menurut supir papanya itu Emil dapat di percaya dan sangat setia dalam bekerja dengan majikannya.
Dan terbukti,sampai enam tahun bersama Edward,Emil dapat di andalkan dan selalu menurut apa kata Edward.Edward sangat senang dengan Emil,dia selalu mengandalkan asistennya itu.Dalam segala urusan,termasuk urusan wanita yang selalu membuat risih dirinya.
"Tidak banyak,hanya paman bilang kita harus hati-hati dan tuan besar kritis.Itu saja."
Edwar menghela napas pelan,sesungguhnya dia juga merasa khawatir dengan kondisi ayahnya.
"Semoga saja tuan besar baik-baik saja."ucap Emil berusaha menenangkan.
"Semoga."ucap Edward.
_
☆☆☆
Sampai di bandara,Edward langsung naik taksi dan menuju rumah sakit di mana pak Robert di rawat.
Satu jam perjalanan,mobil yang membawa Edward dan asistennya sampai di rumah sakit.Mereka menanyakan pasien yang di operasi tadi malam kepada resepsionis.
Setelah mengetahui di mana ruangannya,Edward langsung menuju kesana.Ternyata pak Robert sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VIP,karena pagi tadi tangannya bergerak dan matanya terbuka sehingga nyonya Karina senang lalu memanggil dokter.
Dan di sinilah Edward,memandang ayahnya yang terbaring lemah.Dia mendekat,mencium tangan papanya.Kebetulan mamanya sedang berada di ruang dokter,sehingga Edward sendiri tidak di sambut oleh mamanya.Hanya di jaga oleh dua orang bodiguard di depan pintu.
Itu di lakukan untuk berjaga-jaga kalau ada yang memaksa masuk dan kembali mencelakai pak Robert.
Pak Robert terbangun dengan sentuhan Edward.Dia menatap anaknya,lalu tersenyum.Tak ada raut wajah kesakitan,hanya wajah tenang yang dia tampilkan di hadapan anak keduanya itu.
"Papa baik-baik saja?"tanya Edward.
pak Robert hanya mengangguk.Dia menggenggam tangan Edward.Tiba-tiba tangannya menyentuh selang oksigen di hidung untuk membenarkan letak selang.Edward membantunya membenarkan selang tersebut.
"Apa yang terjadi pa?"tanya Edward penasaran.
Dengan membuka penutup hidung dan mulutnya,pak Robert berusaha untuk mengatakan sesuatu.Tapi malah napasnya mengap-mengap.
"Papa ngga usah banyak bicara dulu.Biar nanti kalau sudah baik papa boleh cerita."ucap Edward kembali membetulkan letak oksigen tersebut.
Tapi pak Robert memaksa untuk membuka penutup mulutnya itu.
"Papa bbbaik-bbaik sa ja.Papa ingin bicara penting sama kamu Edward."ucap pak Robert pelan dan terbata.
"Iya nanti papa bicaranya kalau sudah sehat lagi."ucap Edward berusaha menenangkan papanya.
Namun pak Robert memaksa untuk bicara,tapi sebelum mulutnya bicara dokter masuk bersama dengan nyonya Karina.
"Sayang kamu sudah sampai?"tanya nyonya Karina menghampiri Edward.
Edward bangun dari duduknya menyalami ibunya dan memeluknya.Suara tangisan nyonya Karina pecah di pelukan anak keduanya itu.
"Udah ma,mama yang sabar.Nanti Edward yang ngurus semuanya."Edward menenangkan mamanya sambil mengelus punggungnya.
"Mama masih belum tenang,kakak kamu belum ketemu.Hik..hik.."
Raut wajah Edward berubah tegang,apa yang dia dengar dari ibunya.Nicko hilang?
"Apa ma?Kak Nicko hilang?"tanya Edward tidak percaya.Wajahnya kaku dan khawatir.
Nyonya Karina mengangguk pelan.Di bangsal terdengar batuk dari pak Robert.Edward dan nyonya Karina menghampiri suaminya.
Dokter yang memeriksa keadaan pak Robert dengan intens.
"Bagaimana dokter dengan suami saya?"tanya nyonya Karina sangat khawatir.
"Tidak apa-apa.Menunggu pemulihan saja dan pemeriksaan selanjutnya."
"Syukurlah dok,saya khawatir dengan kondisinya."ucap nyonya Karina.
"Yang penting bapak tidak boleh berpikir keras,karena nanti akan mengganggu kesehatannya."ucap dokter lagi.
"Baik dokter."
Lalu dokter meninggalkan ruangan VIP tersebut.Edward dan nyonya Karina menghampiri pak Robert,mereka duduk di samping bangsal tersebut di kedua sisinya.
Yang ada di pikiran Edward adalah,kenapa kakaknya bisa hilang?Ataukah di culik?
Saat tiba di rumah sakit Edward belum mendengarkan cerita lengkapnya dari ibunya maupun pak Dori.Dia belum ketemu pak Dori sejak tadi.
Lalu Edward menghubungi pak Dori,dia melirik ayahnya yang sudah tenang.Kemudian dia keluar dari ruangan tersebut.Hanya memberi kode pada ibunya bahwa dia keluar.
Setelah dia sudah di luar,masih dalam sambungan telepon ke nomor pak Dori yang belum juga di angkat.
Satu kali lagi Edward menghubungi pak Dori,tetap belum di angkat.Dia masih penasaran dengan cerita lengkapnya.Sedangkan Emil belum kembali sejak dia pergi ke rumah majikannya untuk mengambil baju ganti.
Edward mendesah,dia duduk di bangku tunggu di depan kamar inap tersebut.
Satu panggilan masuk dari pak Dori,Edward langsung menyambar tombol hijau.
"Halo paman,ada di mana?"tanya Edward tak sabar.
Di kantor tuan muda."jawab pak Dori.
"Saya ingin menanyakan perihal papa dan kak Nicko."kata Edward lagi.
"Satu jam lagi saya ke rumah sakit tuan muda.Saya juga ingin bicara dengan tuan muda."kata pak Dori.
"Baik,saya tunggu paman."lalu sambungan telepon terputus.
Edward menghubungi adiknya,dia sudah lama tidak berhubungan dengan adik manjanya itu,selain kemarin Sania menghubunginya untuk pulang.Dia kangen sama adiknya.
Sambungan terjawab.
Kak Edwaaaard!!"Edward menjauhkan ponselnya dari telinganya karena teriakan Sania adiknya.
"Kamu jangan teriak-teriak,di sini rumah sakit."
"Kak Edward langsung ke rumah sakit?"
"Kamu pikir kakak akan santai saja ketika kamu bilang papa kritis di rumah sakit.Kamu di mana?"
"Di rumah.Kata mama aku harus di rumah aja."
"Baguslah,kamu tetap di rumah aja."
"Kapan kakak pulang,aku kangen sama kakak."
"Kakak ngga pulang ke rumah untuk saat ini.Nanti kamu ke rumah sakit aja."
"Iya,sekalian gantian sama mama jagain papa."
"Ya udah dulu,kakak ada perlu sama paman Dori."lalu Edward memutus sambungan telepon dengan adiknya.
_
_
_
☆☆☆☆☆☆☆☆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Eni Trisnawati Mmhe Winvan
Edward semangaat 💪💪💪💪
2021-10-22
0
sandi
edward ga emosian ya☺☺
2021-10-03
2
Nurak Manies
💪💪💞💞💞
2021-08-07
1