Sementara Yogi dan Mara sedang asik berduaan dan bermesraan di Australia, saat ini Citra sedang bengong dikelasnya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu yang tidak diketahui apa itu.
Citra sebelumnya memasuki universitas setempat sehingga dekat dari rumah, sebenarnya dia menerima banyak undangan dari berbagai universitas bergengsi dan akan memilih disana, namun setelah mengetahui kakaknya memiliki peradaban di Mars dan perkembangan yang super cepat dia memilih universitas setempat agar bisa mengamati perkembangan peradaban yang dibangun kakaknya setiap saat.
Didepan kelas Pak Ridwan selaku dosen pengajar yang mengajarkan astrofisika tiba tiba tatapannya tertuju kepada salah satu mahasiswi yang sedang bengong diantara kerumuman.
"Citra! kenapa kau bengong dikelas? apakah kelas ini membosankan bagi mu?" tanya pak Ridwan kepada Citra.
Teriakan dari pak Ridwan membuat Citra kembali tersadar dan hanya bisa tersenyum kecut dan menunduk mengetahui kesalahannya.
"Maaf pak, saya tadi kepikiran sesuatu, lain kali tidak akan saya ulangi" Citra meminta maaf atas kesalahannya tapi dapat dilihat dari wajahnya bahwa dirinya masih memikirkan sesuatu.
Pak Ridwan yang melihat bahwa Citra sudah meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi akhirnya melepaskan tatapan galaknya kepada Citra dan melanjutkan kembali pembelajarannya.
Sebenarnya Citra sudah menguasai semua mata kuliah wajibnya di bidang astronomi dan juga sudah berada di tahap profesional serta ahli dengan berbagai instrumen penelitian astronomi karena berlatih dari Ares.
Citra terlihat sedang memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh pak Ridwan namun sebenarnya dia sedang memikirkan hal lain.
Kelas akhirnya berakhir, para mahasiswa mulai pergi berhamburan keluar dari kelas, ada yang ke kelas selanjutnya bagi yang mempunyai kelas, ada juga yang ke kantin atau pulang.
Citra juga bersiap siap untuk pulang karena saat ini sudah tidak ada kelas lagi jadi dia bersiap untuk pulang dan ingin pergi berbelanja beberapa cemilan dengan Mara di Ares, Mara sudah membereskan semua barangnya dan berjalan menyusuri koridor kampus dan tiba di gerbang universitas setelah beberapa belokan.
"Citra" seseorang memanggil dari belakang.
Citra melihat kearah orang yang memanggilnya dan melihat dua orang yang dikenalnya, mereka adalah Laras dan Nina yang merupakan teman masa kecilnya dan juga tetangga nya.
"Udah pulang?" tanya Laras.
"Iya nih, gak ada lagi kelas buat hari ini jadi mending pulang, kalian mau pulang juga?" jawab Citra disertai pertanyaan kepada keduanya.
"Iya, dosen kita tadi lagi sakit makanya kelasnya ditiadakan, bebas deh" jawab Nina sekaligus mewakili Laras.
"Omong omong ada kafe baru loh yang buka deket sini, kita mampir kesana yok" ajak Laras kepada mereka.
"Boleh tuh, lagian dirumah juga gak ada kerjaan, Kamu ikut kan Citra?" Nina langsung menyetujui ajakan dari Laras dan menanyakan kepada Citra.
"Aku sih ayo ayo aja" jawab citra kepada mereka berdua, lagipula Citra sudah lama tidak jalan jalan di daerah sekitarnya dan lebih menghabiskan waktunya di Ares.
Citra dan teman temannya pergi menggunakan mobil Laras, berbeda dari kedua temannya Laras berasal dari keluarga kaya di daerah ini dan hampir semua keinginannya dapat dikabulkan oleh keluarganya.
Meskipun sekarang Citra bisa dibilang keluarga kerajaan sekarang tapi itu berbeda, lagipula Citra tidak bisa menggunakan mata uang dari Ares disini.
Tidak butuh waktu lama untuk Citra bersama teman temannya untuk sampai di kafe yang dimaksud oleh Laras, dapat dilihat bahwa banyak orang yang datang untuk mencoba hal di kafe ini.
Mereka bertiga kemudian duduk di tempat yang kosong dan memanggil pelayan untuk memesan sesuatu, setelah selesai memesan mereka bertiga hanya mengobrol dengan santai sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Citra dari tadi kayak banyak pikiran gitu, ada masalah kah?" Laras sudah memperhatikan Citra dari tadi dan sedikit khawatir dengan citra.
"Kalo ada masalah cerita aja, siapa tau kita bisa bantu" Nina juga khawatir dengan Citra karena sangat jarang Citra bertingkah seperti ini.
"Gapapa kok, cuman agak kepikiran masalah kecil aja gak usah khawatir" Citra menjawab sambil bersikap santai seolah tidak ada apa apa.
Melihat Citra masih bisa bersikap seperti biasa membuat Laras dan Nina akhirnya sedikit tenang dan mulai beralih ke topik lain yang lebih menyenangkan, tidak lama kemudian pesanan mereka akhirnya sudah siap dan dihidangkan dihadapan mereka.
Setelah menyelesaikan pembayaran Citra dan kedua orang temannya akhirnya pulang kerumah mereka dengan menggunakan mobil Laras.
Citra memasuki rumahnya dan melihat rumah sedang kosong, orang tuanya berada di rumah mereka yang ada di Ares dan rumah ini sering kosong sekarang.
Citra juga ingin langsung ke kamar kakaknya untuk ke Ares tapi tiba tiba ponselnya bergetar, Citra melihat nama orang yang meneleponnya dan seketika ekspresinya berubah menjadi cemberut.
Orang yang menelponnya adalah kakak tingkatnya Alvin yang selalu mengganggunya, untungnya Citra selalu sabar menanggapi gangguannya atau jika tidak kakak tingkat ini akan memiliki beberapa pisau di sekujur tubuhnya.
"Ada apa kak?" Citra mengangkat telepon dan berbicara dengan nada malas.
"Hey apa apaan dengan nada itu, berbicaralah dengan baik saat kau berbicara dengan kakak tingkat" suara dengan nada senioritas keluar dari telepon.
Citra sudah ingin meminjam nuklir dari Ares saat ini untuk meledakan orang yang menelponnya tapi dia tetap menahan dan mengubah nada bicaranya.
"Iya kak Alvin ada apa" kali ini suara Citra menjadi lebih cerah meskipun agak dipaksakan.
"Dimana kau? aku menunggumu di gerbang dari tadi" suara Alvin kembali terdengar dari teleponnya.
"Aku sudah dirumah, tadi temanku ngajak pulang bareng jadi aku ikut dia" Citra menjawab dengan nada normal kali ini, dia juga sambil mengambil cemilan dan menghidupkan tv.
"Teman? laki laki atau perempuan?" Alvin bertanya dengan sinis kali ini.
Citra hampir tertawa dengan pertanyaan ini, Dia tau kalau Alvin menyukainya tapi dia bingung kenapa dia lebih suka menjahilinya daripada gombal atau apapun sejenisnya yang membuat Citra sedikit tertarik dengan kakak tingkat yang satu ini.
"laki laki, tadi dia ngajak ke kafe juga trus traktir aku, baik banget deh beda sama kak Alvin yang suka gangguin orang" Citra sangat senang kali ini, setelah selalu jadi korban kejahilan dari Alvin akhirnya dia bisa membalas kejahilannya.
"Halo kak? malah diam dia" mendengar tidak ada jawaban dari Alvin dia tidak bisa lagi menahan tawa dan tertawa sepuasnya.
"Kenapa malah ketawa oy" terdengar suara kesal dari Alvin dari telpon.
"Gapapa, bukan laki laki kok teman yang ngajak pulang tadi, Laras sama Nina tuh tadi sekalian ke kafe baru deket kampus kita" Citra akhirnya menjelaskan kepada Alvin atas kemauan dirinya sendiri.
"Berani ya jahil sama kakak tingkat, sebagai hukuman temenin aku belanja hari ini" suara Alvin terdengar semakin sinis.
Mendengar keputusan sepihak dari Alvin membuat Citra kembali cemberut, dia baru saja pulang dan ingin beristirahat sambil menikmati suasana di Ares, jika saja sinyal jaringan ponsel ini bisa sampai ke Ares mungkin saat ini dia akan berguling guling di kasurnya yang luas disana.
"Kok gitu sih, aku kan cuman bales kak alvin yang sering jahil sama aku, lagian aku lagi pengen rebahan aja" protes Citra yang merasa dirinya tidak diperlakukan dengan adil.
"Nanti ku traktir boba" Alvin mengeluarkan bujukan yang sangat ampuh untuk membujuk Citra
"Aku siap siap dulu" benar saja sekarang Citra sudah termakan bujukan Alvin dan ke kamar kakaknya untuk memasuki portal menuju Ares.
"Oke, aku kerumah kamu sekarang, jangan lama lama tuh" suara Alvin terdengar bahagia kali ini tapi Citra tidak memperhatikannya dan hanya memikirkan boba.
"Bawel!" Citra mematikan panggilan dan masuk ke portal menuju kamarnya untuk bersiap siap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
Alf
gudd
2021-10-08
0
zen chomsu
gass
2021-09-05
1