...****************...
Matahari sudah hampir terbenam. Aku dan Olivia masih dalam perjalanan kembali menuju kastil setelah sedikit menjelajahi kedalaman hutan.
"Bagaimanapun, tempat itu sangat bagus! ayo kita kembali ke sana besok! "
Aku hanya bisa tersenyum hangat atas ajakan Olivia yang bersemangat itu. Kami sedang mengobrol ringan tentang tempat yang kami temukan. Tempat itu adalah ladang bunga yang sangat luas yang dikelilingi pepohonan hutan.
Selain ladang bunga, ada juga mata air yang dijadikan tempat beristitahat oleh beberapa hewan. Jadi itu seperti sebuah surga di tengah neraka.
Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari kastil. Kami tidak menemukannya kemarin karena tempat itu sedikit tersembunyi di antara bebatuan pegunungan.
Jadi aku dan Olivia memutuskan untuk kembali besok dan mengambil beberapa bunga untuk ditaruh di makam warga desa...
Berpikir singkat, kami akhirnya sampai di kastil tempat kami tinggal. Kastil itu masih menyeramkan seperti sebelumnya, tapi aku dan Olivia anehnya merasa terbiasa dengan itu … Mungkin karena evolusi raja vampir? ntahlah, yang jelas itu nyaman karena kami tidak merasa takut pada rumah sendiri.
Aku dan Olivia langsung memasuki pintu kastil yang besar dan menuju ruang makan untuk menikmati daging hasil buruan kami.
Sepertinya aku harus mengambil semua sayur yang ada di desa besok, bukan hal yang baik untuk makan daging setiap hari.
Meskipun aku adalah vampir yang tidak butuh makan … Tapi aku masih tidak mau kehilangan kemanusiaanku, jadi aku akan mencoba untuk meneruskan pola makan yang sehat saat ini.
Olivia sudah berganti menjadi pakaian santai yang dia temukan di lemari sebuah kamar dan menggunakan celemek untuk memasak. Rambut peraknya yang panjang juga sudah diikat menjadi kuncir kuda agar tidak mengganggunya memasak.
Dan sekali lagi … Meskipun masih berusia 7 tahun, Olivia adalah wanita dewasa di dalam, jadi dia memiliki banyak pengalaman memasak sendiri.
Dan karena dia masih memiliki tubuh anak-anak, Olivia memasak sambil menggunakan sihir gravitasi dan menerbangkan dirinya sendiri untuk memasak dengan nyaman … Untungnya ada celemek dengan ukurannya.
Sepertinya dulu ada anak-anak yang menjadi pelayan di tempat ini. Permisi, Pak vampir! apa kau tipe orang yang akan meletakkan tangannya pada gadis kecil?! Mesum! Biadab! Sampah manusia, tidak tunggu, maksudku sampah vampir!
… Sepertinya Olivia juga sudah semakin baik dalam kemampuan sihirnya yang lain. Aku tanpa sadar mulai tersenyum hangat saat melihat Olivia yang putus asa memasak dengan tubuh kecilnya.
Sepertinya dia menyadari tatapanku karena Olivia memalingkan wajahnya ke arah lain sementara aku melihat telinganya memerah karena malu … Dia imut.
...****************...
" " Terimakasih atas makanannya." "
"Baiklah, aku akan membereskan ini, Noelle sebaiknya istirahat saja dulu."
"…Tidak, aku akan membantu, tidak ada yang bisa dilakukan disini."
Aku langsung membantu Olivia untuk membawa piring untuk dicuci. Meskipun aku mengatakan 'dicuci', itu sebenarnya hanya akan disiram menggunakan sihir air dan sabun.
Aku dan Olivia sudah menyelesaikan makan malam kami yang sunyi, meskipun kastil ini besar, hanya ada kami berdua disini … Dan kesunyian ini, sejujurnya membuatku sedikit … Takut.
Kami sudah selesai mencuci piring, dan sekarang seharusnya sudah pukul 8 malam menurut perhitungan mentalku. Walaupun masih terlalu dini untuk tidur, aku dan Olivia langsung menuju kamar untuk berganti menjadi piama dan langsung tidur.
Karena tidak ada apapun yang bisa dilakukan disini. Dan aku akan memeriksa perpustakaan besok, jadi aku ingin tidur lebih cepat.
Sesampainya di kamar, Olivia langsung berganti menggunakan piama berwarna pink yang menonjolkan keimutannya dan langsung menuju meja rias untuk merapihkan rambutnya.
"…Kenapa Noelle memandangiku? ini memalukan ... "
Olivia berkata saat menundukkan kepalanya karena malu. Yahh…
" … Bisakah aku merapikan rambutmu? "
"K-kenapa tiba-tiba?! "
"Tidak, aku hanya ingin menyentuhnya."
Atas jawabanku yang terus terang dengan wajah serius itu, Olivia kewalahan dan akhirnya berjalan sambil membawa sisir ke arahku yang sedang duduk dikasur.
Yahh, aku juga punya sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya, dan aku menggunakan kesempatan ini sebagai alibi.
Aku segera melebarkan kakiku agar Olivia bisa duduk diantaranya. Olivia duduk di tempat yang kusediakan dan dengan lembut memberikan sisir yang dia pegang.
" … Whoa, ini lebih halus dari yang kubayangkan. Kamu sepertinya merawat rambutmu dengan baik ya? Olivia."
"Nn … Aku menggunakan shampo yang kubuat sendiri dengan mencampurkan beberapa tanaman dan buah-buahan untuk menambah baunya. "
" … Kamu hebat."
Aku tahu kalau Olivia memiliki berbagai keterampilan jika itu terkait dengan perawatan tubuhnya, tapi aku tak menyangka kalau ia melakukannya sampai seperti itu.
Dan juga … Buatan sendiri, ya … Apa itu shampo yang sama dengan yang sering kugunakan?
"…Itu sama untukmu, Noelle."
Keheningan canggung terus berlanjut diantara kami saat aku dengan lembut menyisir benang perak yang menjuntai panjang sampai pinggangnya.
Rambutnya benar-benar lembut dan mengeluarkan aroma mawar yang harum, membuatku ketagihan.
"Hei, Olivia."
" … Nn? Apa? "
Sambil menyisir rambutnya perlahan, aku langsung memanggil Olivia dan mengatakan sesuatu yang sudah menganggu pikiranku sejak kemarin. Olivia menjawab dengan suara yang halus dan lembut.
Ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Olivia.
" … Kamu tahu, kamu tidak perlu menahan diri."
Hanya dengan kata-kata ku barusan, aku bisa melihat Olivia sedikit tersentak dan gemetar seolah aku mengatakan sesuatu yang benar-benar mengenainya.
"Apa maksudmu? "
"…Tidak perlu berpura-pura, aku tau kalau kamu sedang sok kuat di sini."
Mungkin karena aku sudah mengenalnya lebih jauh dari yang kubayangkan, aku bisa dengan jelas melihat setiap perubahan kecil pada Olivia.
Syukurlah, aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas budi padanya.
" … Aku tidak mengerti apa yang Noelle bicarakan."
Olivia terus mengelak, tapi aku terus berbicara sambil menyisir rambutnya dengan lembut.
"Jangan menahan diri."
"……"
"Aku akan menerimamu, kamu tahu itu, 'kan? "
"……"
"Rasanya sakit bukan? "
Ketika aku mengatakan itu, aku bisa melihat Olivia menjadi semakin gemetar di seluruh tubuhnya. Dia juga mengepalkan tangan kecilnya sekuat tenaga dan terlihat akan berdarah kapan saja.
Aku terus berbicara sambil membelai rambut halusnya.
"……"
"Aku tau kamu berusaha menjadi wanita yang kuat dan mandiri, tapi saat ini, dan mulai sekarang, kamu bisa bebas menjadi seorang gadis biasa, kamu tahu? kamu bisa membagi bebanmu itu pikiranmu itu padaku."
Aku sangat ingin mengatakan ini, aku ingin mengatakan pada Olivia kalau dia tidak sendirian. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku masih bersamanya.
Kali ini aku tidak akan melepaskannya, Olivia sudah banyak menyelamatkanku di masa lalu, dan sekarang, adalah waktunya bagiku untuk bertukar posisi dengannya.
"………"
"Tidak perlu ditahan, kamu bebas menangis. Rasanya sakit bukan? Jika iya, maka menangislah untuk meredakan rasa sakit di hati kecilmu itu."
Bisikanku adalah satu-satunya suara yang mengisi kamar besar itu. Semua benar-benar hening, seolah alam memberiku kesempatan untuk mengatakan apa yang selalu ingin kukatakan padanya.
" ………b"
"Kamu tidak perlu menahan diri, Olivia."
Aku tidak begitu bagus dalam merangkai kata-kata, jadi aku hanya bisa mengucapkan apa yang kupikirkan. Itu sangat sederhana, tapi aku benar-benar berharap Olivia mau menerimanya.
" … Kalau begitu, bisakah kamu pinjamkan tubuhmu padaku? "
Olivia mulai berbicara. Suaranya serak, dan sedikit gemetar. Hanya dari itu, aku tahu kalau dia sudah siap melepaskan semuanya.
"Kamu bebas menggunakannya kapan saja," ucapku sambil memasang senyum lembut pada Olivia.
Dengan itu, Olivia yang memiliki mata berkaca-kaca mulai berbalik dan menyandarkan wajahnya pada dadaku. Saat aku membelai kepalanya dengan lembut, aku mendengar suara Olivia yang bergetar memanggilku masih dengan kepala tertunduk.
" … Hei, Noelle"
"Nn? "
"Bisakah Noelle berjanji, untuk tetap di sisiku? "
Pertanyaan yang konyol, aku sudah memiliki jawaban untuk itu. Sudah sangat lama aku menyimpannya.
"Te-"
Namun, sebelum aku bisa menjawab, Olivia langsung menyelaku dengan teriakan bergetar dan air mata mengalir di wajahnya.
"Bukan, bukan itu! Bukan itu yang kuinginkan! "
"Itu bukanlah jawaban yang ingin kudengar darimu! "
"Bukan! bukan seperti itu! aku tidak butuh janji kosong seperti itu! … Kumohon … Bisakah kamu memberiku kepastian? "
"… Karena hanya Noelle yang masih tersisa untukku! kumohon … Aku tidak ingin Noelle pergi dariku … Kumohon, aku tidak ingin kehilangan orang yang kusayangi lagi … Sudah cukup aku kehilangan Mama dan Papa saat kita bereinkarnasi! Aku tidak ingin kehilangan Noelle! Satu-satunya yang tersisa untuk kumiliki! "
"Karena hanya Noelle yang kumiliki … Aku tidak mau kehilanganmu … Aku ingin Noelle tetap bersamaku … Kumohon, bisakah Noelle memberiku kepastian untuk itu? Aku ingin berada di sisi Noelle selamanya … Karena aku mencintaimu! kumohon ... Jangan tinggalkan aku... Karena Noelle adalah alasan kenapa aku masih bisa menjalani kehidupan! Karena itu … "
Suara Olivia yang bergetar berteriak padaku dengan air mata membasahi wajahnya, Olivia tidak bisa menyelesaikan kalimat terakhirnya karena ia tidak bisa menghentikan aliran air mata yang terus keluar.
Matanya menyipit, membuat air mata keluar lebih banyak dari sebelumnya. Olivia kemudian tertunduk dan meremas kerah bajuku dengan tangan kecilnya.
Olivia terus berteriak padaku dengan suara bergetar dan air mata mengalir di wajahnya. Melihat itu, aku secara tidak sadar menggerakkan tanganku pada Olivia yang bersandar dan menangis untuk menyeka air mata yang seperti kristal itu.
"… Maaf …"
Ahh sial, aku tidak bisa menahannya lagi …
Pelukanku pada tubuh Olivia semakin kuat seiring dengan tangisan Olivia yang semakin deras di dadaku.
Melihatnya seperti ini, aku tiba-tiba menyadari kalau Olivia adalah keberadaan yang sangat penting bagiku. Aku tidak ingin kehilangannya, aku ingin berada di sisinya, aku ingin menjalani kehidupan abadi kami bersama. Hanya itu yang kupikirkan.
Olivia benar, hanya ada kami berdua sekarang. Kami adalah satu-satunya keberadaan yang tersisa dari desa itu. Kami sudah kehilangan mereka yang menganggap kami berdua sebagai keluarga.
Aku mungkin tidak memahami perasaannya, karena sejak awal, aku tumbuh tanpa sosok orangtua kandung. Satu-satunya yang menemaniku sejak kecil adalah kakek dan nenek buyutku, bersama semua pelayan yang tinggal di mansion. Itu adalah saat sebelum aku mengenal sosok Olivia di masa lalu.
Berkebalikan dariku, Olivia tumbuh di tengah keluarga kecil yang sangat mencintainya. Ayah dan ibu yang sangat menyayanginya, dan selalu melindunginya dari kejamnya kenyataan tentang masyarakat dan keluarga besar kami saat itu.
Mungkin karena inilah, dia paham dengan cara berpikirku, dan ingin membuatku memahami perasaannya. Dengan begitu, ia tidak perlu ragu lagi.
Olivia masih belum berhenti menangis, justru tangisannya menjadi semakin deras saat aku memeluk dan membelai kepalanya.
Saat ini, Olivia akhirnya melepaskan semua emosi yang dia simpan. Aku hanya bisa menatapnya dan membelai rambut perak miliknya, tanpa bisa memberikan jawaban apa-apa. Sangat menyesakkan, tapi inilah jalannya. Aku baru mengerti sosoknya setelah tangisan itu pecah. Aku benar-benar yang terburuk, 'kan?
Setelah beberapa menit, Olivia akhirnya menjadi sedikit tenang. Melihatnya seperti ini, aku menyarankan sesuatu untuknya.
Untuk menebus hal itu, setidaknya aku bisa melakukan satu hal.
Jika aju belum bisa meyakinkan dirinya dengan ucapan semata, maka aku akan menggunakannya. Sumpah yang akan mengikat kami berdua, hidup dan mati.
"Hey Olivia, bagaimana kalau kita menggunakan《Oath of Blood》pada diri kita masing-masing? aku akan menggunakannya padamu, dan kamu akan menggunakannya padaku."
"…Nn."
Setelah berpikir sejenak, Olivia menjawab dengan menganggukan kepalanya sambil menatapku.
Mata hitamnya yang gelap terlihat basah karena air mata, ada banyak campuran emosi di dalamnya.
"Kalau begitu kamu bisa duluan."
Mengatakan itu, aku menunjukkan leherku dan membiarkannya mengigitku menggunakan taringnya yang tajam.
Gigi taringnya menembus kulitku dengan mudah. Aku bisa melihat cairan merah mulai mengalir dari leherku. Saat dia dengan putus asa menghisap darahku, bukannya sakit, aku malah merasakan rangsangan yang hebat.
Aku membaca di suatu buku kalau bagi vampir, menggigit dan menghisap darah memiliki sensasi yang mirip seperti saat manusia berhubungan badan.
Memikirkan itu, aku bisa merasakan mana mulai keluar dari tubuhku serta Olivia, dan mulai bersatu. Sepertinya sumpah darah sudah selesai.
《Oath of Blood》, adalah sihir khas yang hanya dimiliki vampir. Itu memiliki efek untuk mengikat mana dua orang dan menguatkan hubungan mereka. Saat orang yang melakukan sumpah darah mulai menghisap darah rekan sumpah mereka, efeknya akan menjadi beberapa kali lebih kuat daripada menghisap darah orang lain.
Meskipun kontrak kami sudah dibuat, Olivia baru melepaskan bibirnya dari leherku dan mulai menjilati sisa darah yang menetes … Apa benar-benar seenak itu?
Setelah menjilati semua darah yang menetes, Olivia mengangkat wajahnya dan menatapku dengan mata basah dan. Matanya saat ini tidak memiliki warna hitamnya yang biasa, tapi warna merah cerah yang terlihat sedikit bersinar. Sepertinya warna mata kami akan menjadi merah saat menghisap darah.
Dia tersenyum kecil, dan di sudut matanya terdapat genangan air mata yang mulai mengering.
Seolah terhipnotis oleh matanya, aku tanpa sadar mulai menusukkan taringku ke leher Olivia yang terlihat rapuh itu.
Saat menghisap darahnya, aku merasakan sensasi yang luar biasa pada tubuhku. Ini adalah euforia yang sangat mengerikan. Aku bisa lepas kendali jika aku tidak mengendalikan diri.
Masih menghisapnya, aku bisa melihat tetesan darah mengalir di kulit porselen miliknya. Dan setelah beberapa saat, aku akhirnya selesai menghisap darah Olivia, dan mulai menjilati sisa darah yang menetes di tubuhnya.
Rasanya manis, dan memberikan efek kesenangan yang luar biasa pada tubuhku. Tidak heran Olivia menjilatinya tadi.
Saat aku mengangkat kepalaku, mata kami saling bertatapan. Mata merah Olivia masih memiliki cahaya yang jelas, begitu juga denganku yang secara alami mulai mendekatkan wajahku padanya dan mencuri bibirnya.
Itu ciuman pertama kami. Setidaknya, pertama kali dengan tubuh ini.
Setelah itu, aku menusukkan taring ku pada bibir Olivia yang lembut dan masih berciuman denganku, menghisap darahnya langsung dari bibirnya sendiri memberikan sensasi kesenangan yang sangat besar untuk kami dan membuat kami hampir lepas kendali.
"Su-sudah Noelle, belum waktunya untuk melakukan ini! "
"Ahh, maaf … Aku lepas kendali"
"Fufu~ aku mengerti."
Olivia berbisik dengan menggoda di telingaku.
Iblis kecil ini...
"Baik, ayo tidur! "
Aku langsung menarik Olivia ke kasur dan memeluknya sampai kami ketiduran.
Saat itu, aku tak bisa melihat ekspresinya, tapi aku bisa merasakan kalau Olivia tersenyum dengan lembut sambil menempelkan wajahnya di dadaku.
Bagaimanapun, aku sudah memutuskannya. Yang kuinginkan, hanyalah hidup abadi bersamanya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 373 Episodes
Comments
𝙍𝙮𝙪𝙪 𝘼𝙯𝙖𝙩𝙝𝙤𝙩𝙝
... Tapi, Bukankah kalau begitu, mereka akan tetap dengan tubuh anak 7 tahun selamanya?
2023-01-15
1
𝙍𝙮𝙪𝙪 𝘼𝙯𝙖𝙩𝙝𝙤𝙩𝙝
... Pfftt, Sampah Vampir gak tuh
2023-01-15
1
Truk-kun
lena siapa ya?
2022-05-09
1