Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja
Selesai menghabiskan kopi hitamnya, Raiden pria yang baru saja memberikan kalimat bernada ancaman mati itu berdiri dari kursi kebesarannya. Tanpa melirik sedikit pun ke arah Alexa yang masih melongo lemas, pria itu mengancingkan jas hitamnya dengan tenang lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan ruang makan, diiringi oleh derap langkah para pengawal pribadinya.
Alexa menyandarkan punggungnya yang gemetar ke sandaran kursi, mengelus dadanya yang berdebar kencang. "Gila... dia bener-bener gila. Satu-satunya cara cerai cuma lewat kematian? Artinya aku terjebak selamanya sama psikopat itu?!"
Namun, penderitaan Alexa pagi itu ternyata baru saja dimulai.
Belum sempat Alexa memulihkan kesadarannya, suara langkah kaki tegap kembali mendekati meja makan. Dua orang pengawal bertubuh tinggi besar, mengenakan setelan jas hitam dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi, berdiri tepat di sebelah kursinya.
"Nyonya Alexa," panggil salah satu pengawal dengan suara berat dan datar. "Waktu sarapan Anda sudah selesai. Sekarang saatnya Anda bekerja."
Dahi Alexa berkerut rapat. Ia menatap kedua pria berotot itu dengan bingung. "Bekerja? Kerja apa maksud kalian? Aku kan Nyonya di rumah ini!"
Tanpa memberikan penjelasan, kedua pengawal itu langsung mencekal kedua lengan Alexa. Cengkeraman jemari mereka sangat kuat bagaikan jepitan besi, memaksa Alexa berdiri dari kursinya secara kasar.
"E-eh! Apa-apaan ini?! Lepasin! Kalian berani kasar sama aku?!" teriak Alexa histeris sembari berontak.
Namun, tenaganya tidak ada artinya dibanding dua pengawal mafia tersebut. Alexa diseret secara paksa menyusuri koridor-koridor panjang mansion, menuju ke arah bagian belakang rumah hingga tiba di balik sebuah pintu besi tebal yang tersembunyi di sudut lorong paling gelap. Pintu itu didorong terbuka, memperlihatkan anak tangga batu yang menunju ke kedalaman bawah tanah yang guram.
Aroma hanyir yang sangat menyengat dan pekat langsung menyeruak menghantam indra penciuman Alexa.
"HUEEK!"
Alexa seketika mual hebat, menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangan. Bau besi yang berkarat bercampur busuk yang begitu pekat membuat perutnya teraduk-aduk.
Kedua pengawal itu mendorong Alexa turun menyusuri tangga hingga sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang luas, remang-remang, dan berdinding beton dingin. Dan begitu mata Alexa menyesuaikan dengan kegelapan ruangan, seluruh darah di tubuhnya rasanya tersedot habis.
Lantai beton ruangan itu tergenang oleh cairan merah pekat—darah manusia yang masih segar. Di tengah-tengah ruangan, terdapat beberapa meja besi dan sudut-sudut gelap yang dipenuhi oleh ceceran potongan tubuh manusia yang mengerikan. Ada potongan jari tangan yang terputus kasar, serat daging yang koyak, hingga sebuah kepala manusia dengan mata mendelik mati yang tergeletak tak jauh dari ujung kakinya!
"HUEEEKK!"
Alexa kembali mual, tubuhnya gemetaran hebat hingga ambruk berlutut di undakan tangga terakhir. Matanya membelalak lebar, memancarkan ketakutan yang teramat sangat. Pemandangan mengerikan dan sadis di hadapannya bukan lagi sekadar susunan kalimat di dalam draf novel—ini adalah kenyataan yang berdarah-darah!
Ia tahu pasti... ini adalah ulah Raiden. Pria psikopat itu baru saja selesai mengeksekusi dan menghancurkan musuh-musuhnya di ruangan ini sebelum ia naik ke atas untuk sarapan dengan tenang tadi pagi!
"T-Tugas Anda pagi ini adalah membersihkan seluruh ruangan ini, Nyonya," ucap pengawal di belakangnya tanpa sedikit pun belas kasihan, sembari melempar sebuah sarung tangan karet dan ember hitam ke dekat kaki Alexa. "Memungut semua potongan tubuh itu, memasukkannya ke dalam kantong, dan menyikat bersih genangan darah di lantai."
"NGGAK MAU! AKU NGGAK MAU!" jerit Alexa histeris. Air mata ketakutan mendadak menetes deras membasahi pipinya. Ia memutar tubuhnya, merengek dan memohon sembari memegang ujung celana pengawal tersebut.
"Tolong... tolong jangan suruh aku lakukan ini! Aku takut! Aku nggak sanggup! Tolong bawa aku keluar dari sini, aku mohon!" rengek Alexa dengan suara serak menahan tangis dan mual yang luar biasa.
Namun, kedua pengawal itu tetap berdiri kokoh bagaikan patung batu, menatap Alexa dengan pandangan dingin.
"Kami hanya menjalankan perintah Tuan Raiden, Nyonya," pangkas pengawal itu tegas. Ia membungkuk sedikit, membisikkan pesan mematikan dari sang majikan. "Dan Tuan Raiden juga berpesan... jika Nyonya menolak atau tidak mau membersihkannya sekarang, maka Tuan Raiden sendiri yang akan turun tangan untuk mengunci Nyonya di dalam ruangan ini bersama tubuh-tubuh itu... semalaman penuh tanpa cahaya."
Kata-kata itu menghantam kesadaran Alexa bagaikan palu godam.
Terkunci di dalam ruangan gelap, hanyir, dan penuh potongan tubuh manusia bersama aura membunuh Raiden semalaman? Itu sama saja dengan disiksa secara mental hingga gila!
Tubuh Alexa bergetar makin hebat. Di antara penderitaan, rasa mual yang terus membakar tenggorokannya, dan ketakutan yang luar biasa, ia meraba sarung tangan karet di lantai dengan tangan yang gemetaran hebat. Dengan bibir yang pucat pasi dan air mata yang terus mengalir, Alexa terpaksa mulai menjalankan hukuman mengerikan dari sang penguasa mafia.
"T-tunggu! Jangan pergi dulu!" panggil Alexa terbata-bata di antara terisak dan mualnya. Ia mengangkat wajahnya yang pucat pasi, menatap dua pengawal berotot itu dengan mata berair. "Bawain aku masker! Dua... tiga lapis kalau bisa! Sama kaca mata hitam yang paling gelap! Cepat!"
Kedua pengawal itu saling berpandangan dengan dahi berkerut heran. Di dalam pikiran mereka, permintaan Nyonya Muda ini benar-benar aneh dan tidak masuk akal. Namun, karena tidak ingin memperpanjang drama dan berisiko memancing kemarahan Raiden yang bisa saja tiba-tiba kembali, salah satu pengawal akhirnya berbalik dan kembali beberapa menit kemudian membawa beberapa lembar masker medis serta kacamata hitam berbingkai tebal.
Alexa menyambar barang-barang itu dengan tangan gemetaran. Ia segera memakai tiga lapis masker sekaligus ke wajahnya untuk menutupi hidung dan mulut, lalu mengenakan kacamata hitam yang sangat pekat itu.
Seketika, pandangannya berubah menjadi sangat samar dan gelap. Warna merah menyala dari genangan darah manusia yang tadinya mengerikan, kini hanya terlihat bagaikan cairan hitam keruh yang tidak jelas. Bau hanyir pekat yang membakar tenggorokannya pun sedikit berkurang—meski masih tercium samar.
"Hikss... dasar psikopat edan! Penulisnya gila, suaminya lebih gila lagi!" pangkas Alexa sambil menangis meraung-raung.
Dengan tangan terbungkus sarung tangan karet tebal, Alexa mulai merangkak pelan di lantai beton yang dingin. Ia memungut potongan-potongan tubuh manusia itu satu per satu dengan mata yang terpejam setengah rapat di balik kacamata hitamnya, lalu membuangnya kasar ke dalam kantong plastik hitam besar.
"Huwaaa! Kenapa aku harus ngalamin hal segila ini, sih?! Hikss... skripsi belum kelar, malah disuruh memungut jari orang putus!" jeritnya meluapkan kekesalan, suaranya teredam tebalnya masker. Tangisannya terdengar heboh dan kekanak-kanakan di dalam ruangan bawah tanah yang biasanya selalu diwarnai oleh jeritan kesakitan para tahanan.
Di atas undakan tangga, kedua pengawal berjas hitam yang bertugas mengawasi dari jauh melipat tangan mereka di dada. Mereka memperhatikan tingkah laku Alexa dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Pemandangan ini sungguh sangat tidak biasa. Biasanya, para tahanan atau bawahan yang dihukum di ruangan ini akan pingsan ketakutan, muntah-muntah tanpa henti, atau memohon ampun hingga berdarah-darah. Namun Nyonya Muda mereka justru memakai kacamata hitam dan masker tebal, merangkak sembari menangis meraung-raung seperti anak kecil yang dipaksa membersihkan mainan.
"Lihat Nyonya..." bisik salah satu pengawal pelan pada rekannya. "...kenapa beliau bertingkah seperti anak kecil begitu?"
Pengawal yang satunya lagi hanya bisa menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis yang tertahan. "Entahlah. Tapi jujur saja, melihat beliau menangis meraung-raung sambil pakai kacamata hitam di tempat sekelam ini... agak menggelikan."
"Kalau Tuan Raiden melihat ini, kira-kira bagaimana reaksinya, ya?" gumam pengawal pertama.
Mereka terus mengawasi Alexa yang masih sibuk menggerutu, menangis, dan memungut sisa-sisa eksekusi Raiden dengan gaya konyolnya yang sama sekali tidak mencerminkan sosok Nyonya mafia yang angkuh.
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱