Karya pertama ku. jangan ada plagiat di antara kita❌❌❌
Apa jadinya, jika sang putri mafia, bertransmigrasi ke dalam sebuah novel cinta remaja. Menjadi tokoh figuran sebagai sahabat sang Antagonis wanita.
Yang akan mati di bunuh oleh sang Antagonis pria.
Sang antagonis pria, yang di gambar kan sangat terobsesi dengan sang protagonis wanita.
Dia yang akan membunuh sang antagonis wanita beserta kedua sahabat nya.
Namun sang Antagonis pria pun mendapat kan akhir yang buruk.
Mampu kah sang penjelajah waktu ini, merubah alur novel asli?
Atau, dia akan mati sama seperti di novel yang pernah ia baca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembali ke sekolah.
Setelah lebih dari dua minggu diminta beristirahat di rumah, akhirnya Amelia kembali ke sekolah. Tempat di mana kisah percintaan dalam novel ini dimulai.
Amelia berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri. Awalnya, keluarganya tidak mengizinkan. Namun, Amelia beralasan bahwa dirinya masih trauma dengan kecelakaan yang terjadi waktu itu dan tidak ingin orang lain menjadi korban lagi.
Sesampainya di parkiran sekolah, Amelia langsung disambut oleh suara cempreng Aurora, sahabatnya.
"Oh my God! My sweetie! Kamu akhirnya kembali juga!"
"Gue benar-benar takut kehilangan elo, tau nggak!"
"Beberapa kali gue sama Jenny pengen nengokin elo di rumah sakit, tapi keluarga elo nggak ngizinin orang luar buat menjenguk."
"Kenapa sih nggak dirawat di rumah sakit gue aja?"
Aurora berteriak dramatis sambil menghambur memeluk Amelia erat. Air matanya bahkan sudah berurai.
Meski terkesan berlebihan, Aurora benar-benar tulus mengkhawatirkan keadaan Amelia. Baginya, hidup terasa kurang lengkap tanpa Amelia dan Jenifer di sisinya.
"Gue baik-baik aja sekarang, Rora. Elo bisa lihat sendiri, kan? Gue berdiri di sini dalam keadaan sehat."
"Makasih ya, udah khawatir sama gue."
"Udah, yuk kita ke kelas, Bestie."
Amelia menarik tangan Aurora menuju kelas.
Saat mereka masuk, Jenifer sudah duduk sambil bergelayut manja di lengan Alexio, sang protagonis pria. Sementara Alexio yang sedang digelayuti hanya bersikap dingin dan acuh tak acuh.
"Bisa lepas nggak?" kata Alexio sambil berusaha melepaskan tangan Jenifer dari lengannya.
"Bangku elo di sana, bukan di sini."
Jenny langsung murung mendengar bentakan itu.
"Kok kamu gitu sih, Alex? Aku cuma pengen dekat sama kamu."
Alexio memandangnya dengan jijik.
"Nggak perlu nempel-nempel juga, kan?"
"Jijik, tau nggak!"
Ia benar-benar muak dengan tingkah Jenifer yang selalu mengejarnya.
"Oh, kalau ditempeli si j*l*ng Shofi kamu nggak kelihatan jijik, ya?" balas Jenifer sakit hati.
"Malah kelihatan senang."
Padahal, dia adalah tunangan Alexio. Namun, laki-laki itu selalu bersikap dingin padanya.
"Jeni! Jaga mulut lo!"
"Maksud lo ngomong kayak gitu apa?"
Alexio membentak dengan wajah geram.
"Alah, Lex, Lex!"
"Sok lupa ingatan, ya?"
"Padahal tiap hari hal itu elo lakuin sama pelakor itu."
Aurora ikut menyela. Ia sudah tidak tahan melihat perlakuan Alexio terhadap sahabatnya.
Aurora lalu berjalan bersama Amelia menuju tempat Jenny berada.
"Gila! Para dayang-dayangnya datang, Bro!"
"J*l*ng kok teriak jalang!"
teriak Leo sambil tertawa mengejek.
"Yo, Man! Yang satu udah balik lagi."
"Kayaknya siap bikin ulah nih."
"Personel Ratu Bully udah lengkap!"
Rian ikut tertawa bersama Leo. Sementara Alexio hanya melemparkan senyum sinis ke arah tiga sekawan itu.
Amelia hanya melirik mereka dari sudut matanya tanpa berkomentar. Semua itu tidak ada hubungannya dengannya. Ia memilih diam dan mengamati.
Tak lama kemudian, datanglah sang bintang utama dalam novel ini.
Siapa lagi kalau bukan Shofia Arcadia Mahesa.
Shofia duduk di bangku sebelah Alexio dan tersenyum lembut.
"Pagi, semua."
Suaranya terdengar ramah dan menenangkan.
"Pagi juga, Sofi!"
Sebagian besar siswa membalas sapaan itu, termasuk Alexio dan kedua sahabatnya.
"Cuih... sok lembut!"
"Medusa emang pintar ngedrama!"
Aurora mendecak kesal.
Menurutnya, jika Shofia memang baik, seharusnya gadis itu tidak terus-menerus menempel pada tunangan orang lain. Kalau bukan pelakor, lalu apa sebutan yang pantas untuk perempuan seperti itu?
"Rora, kok kamu gitu?"
"Emang aku ada salah?"
"Aku cuma mau nyapa kalian semua, kok."
Shofia bertanya dengan suara lirih. Matanya mulai berkaca-kaca seolah akan menangis.
"Abaikan aja, Sofi."
"Mereka itu kumpulan demit."
"Selalu punya cara buat ganggu kamu."
Leo kembali membela Shofia dari bangkunya di belakang Alexio.
"Sapaan kamu nggak salah sih."
"Cuma senyuman kamu ke arah tunangan orang."
"Itu yang salah."
Jenny menatap Shofia tajam.
Ia melihat jelas bagaimana Shofia tersenyum manis kepada Alexio saat baru masuk kelas tadi. Yang lebih menyakitkan, Alexio membalas senyuman itu.
Hal itu membuat Jenny dipenuhi rasa cemburu dan amarah.
"Jenny, kamu salah paham."
"Aku... aku tadi senyum ke semua orang kok."
"Bukan cuma ke Kak Alex saja."
Shofia berusaha membela diri dengan suara lembut. Suaranya terdengar bergetar, seolah-olah benar-benar terluka oleh tuduhan Jenifer.
"Halah! Alasan klasik!" Aurora mendengus. "Kalau senyum ke semua orang, kenapa pas lihat Alex senyumnya paling manis?"
Beberapa siswa langsung menahan tawa.
Wajah Shofia semakin memerah. Ia menundukkan kepala, membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan.
"Sudah, Rora."
Amelia akhirnya angkat bicara.
Suasana kelas yang tadinya panas langsung sedikit mereda. Semua orang menoleh ke arahnya.
"Kita baru masuk sekolah. Nggak perlu ribut dari pagi."
Aurora mendengus kesal, tetapi memilih diam.
Jenifer juga memalingkan wajahnya dengan bibir yang masih mengerucut.
Sementara itu, Alexio justru menatap Amelia beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Biasanya Amelia akan menjadi orang pertama yang membela Jenifer habis-habisan. Bahkan tak jarang ikut menyindir Shofia.
Namun hari ini tidak.
Gadis itu terlihat jauh lebih tenang.
"Bagus kalau lo sadar," ujar Alexio sinis. "Sekali-kali jangan cari masalah."
Aurora langsung naik pitam.
"Eh, siapa juga yang cari masalah? Teman lo tuh yang—"
"Rora."
Amelia menepuk pelan lengan sahabatnya.
Aurora langsung terdiam.
Melihat pemandangan itu, Leo sampai mengangkat sebelah alisnya.
Aneh.
Sangat aneh.
Biasanya Amelia tidak pernah menghentikan Aurora.
Bahkan sering kali justru memperkeruh keadaan.
Bel tanda masuk pun akhirnya berbunyi.
Guru pertama memasuki kelas dan seluruh siswa kembali ke tempat duduk masing-masing.
Amelia duduk di bangkunya yang berada dekat jendela.
Pandangannya perlahan beralih ke depan.
Ke arah Alexio.
Ke arah Shofia.
Ke arah Jenifer.
Lalu ke arah Aurora.
Perasaannya terasa rumit.
Karena semua yang sedang terjadi di hadapannya sama persis dengan isi novel yang pernah ia baca.
Alexio sang pemeran utama pria.
Shofia sang pemeran utama wanita.
Jenifer sang tunangan yang ditakdirkan tersingkir.
Aurora sang sahabat setia yang selalu membantu Jenifer.
Dan dirinya...
Amelia Marta Sudibyo.
Antagonis nomor dua. Yang selalu membantu Jeniffer lantaran kebencian nya pada Sofia.
Amelia menghela napas panjang.
Jika bukan karena ingatan kehidupan sebelumnya, mungkin ia tidak akan pernah percaya bahwa dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah novel.
Yang membuatnya semakin merinding adalah kenyataan bahwa sebagian besar alurnya memang benar-benar terjadi. Meski banyak yang berubah.
Tanpa disadari siapa pun, Alexio kembali melirik ke arah Amelia.
Gadis itu sedang tertawa bersama Aurora dan Jenifer. Entah mengapa, Amelia hari ini terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada tatapan angkuh, tidak ada sindiran tajam, dan tidak ada usaha untuk mencari perhatian.
Senyum tipis tanpa sadar tersungging di bibir Alexio.
Setidaknya, Amelia yang sekarang jauh lebih enak dipandang dibandingkan Amelia yang dulu.
Namun sebelum pikirannya melantur lebih jauh, Alexio segera mengalihkan pandangan dan kembali fokus pada buku di hadapannya.
Sementara Amelia, sama sekali tidak menyadari tatapan tersebut.