kisah tentang seorang gadis berjilbab yang diangkat anak.hidup dengan penuh penderitaan,membiayai kuliah dengan bekerja part time sampai akhirnya selesai kuliah dan menjadi seoran guru di salah satu SMP begitu banyak cobaan hidup yang dialaminya
sehingga pada suatu hari bertemu dengan seorang pria yang akan mengubah hidupnya.
pria tersebut seorang duda mempunyai anak perempuan berusia 11 tahun.akankah Dinda bisa menerima duda tersebut dan menerima masa lalu Dinda yang tidak tau latar belakang keluarganya.
ini novel pertama ku jadi mohon maaf mungkin ada bahasa yang kurang bagus masih tahap belajar😁🙂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang receh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"7"
kemudian Dinda membawa Luna menuju ruang kelas 7 a tempat Dinda menjadi wali kelas untuk memperkenalkan Luna dengan teman-teman baru nya.
setelah sampai di depan pintu kelas tiba-tiba Luna menghentikan langkah kakinya."lho...kenapa berhenti disini Luna?..ayo kita masuk kelas"jawab Dinda penuh keheranan.
" Luna malu buk " kata Luna sambil tertunduk agak malu.
"gak usah malu Luna kan ada ibuk"kata Luna sambil tersenyum lembut."ayo masuk" Dinda sambil menarik tangan Luna lembut kedalam kelas.
setelah masuk kedalam kelas,kemudian Bu Dinda memberi salam"assalamualaikum anak-anak semua" kata Dinda dengan senyuman yang lembut.
"waalaikumsalam buk" jawab seluruh siswa serentak.kebetulan sekolah nya memang yayasan Islam jadi otomatis siswa beragama Islam.
"hari ini ibuk akan memperkenalkan teman baru ananda semua kebetulan selama dua Minggu ini tidak bisa masuk karena ada urusan keluarga,namanya Luna Anastasia,mohon ananda semua membantu Luna karena mungkin ada catatan pelajaran nya yang tertinggal dan berteman dengan Luna karena Luna mungkin belum punya teman disini,mohon kerjasama nya" pinta Dinda dengan senyum hangatnya.
kemudian Dinda pun melanjutkan sesi perkenalan dengan tak lupa memberi pengarahan kepada seluruh siswanya karena Luna sebagai wali kelasnya.setelah selesai memberi pengarahan Dinda meminta Luna duduk disalah satu kursi yang memang ada bangku kosong untuk Luna.
"Luna duduk dibelakang Nia" kata Dinda sambil menunjuk bangku kosong,Luna pun langsung menuju tempat diarahkan Dinda.
"hai namaku Nia"senyum Nia sambil mengulurkan tangannya.kemudian dijawab Luna sambil menerima uluran tangan Nia.
"namaku Luna senang berkenalan dengan mu Nia"jawabLuna dengan tersenyum manis kepada Nia.
"nanti mohon bantuannya pinjam catatan karena banyak pelajaran yang tertinggal"kata Luna kepada nia."siiip..." jawab Nia.
"baiklah anak-anak ibu tinggal dulu karena pelajaran akan segera dimulai" perintah Dinda sambil keluar dari kelas karena Dinda akan masuk kekelas lain.
"iya buk" jawab anak-anak serentak.
semua siswa sibuk berkenalan dengan Luna karena guru belum masuk kekelas.akhirnya Luna bisa mengatasi rasa ketakutan karena tidak ada yang mau berteman ternyata tidak seburuk yang dikiranya.
tak lama kemudian guru jam pertama masuk kedalam kelas.seluruh siswa sudah kembali kebangku masing-masing setelah perkenalan dengan Luna.
begitu juga dengan Dinda yang sudah masuk kekelas untuk mengajar setelah jam istirahat nanti Luna baru masuk kekelas 7a.
akhirnya bel istirahat yang ditunggu-tunggu pun berbunyi.seluruh siswa berhamburan keluar kelas termasuk Dinda dan beberapa teman baru nya.
"lun mau pesan apa biar aku pesankan sekalian"kata nia kepada Luna"aku pesan bakso aja Nia" jawab Luna. "oke lun" langsung Nia menuju tempat bakso kebetulan Nia dan Luna beserta dua orang temannya sudah mendapatkan tempat duduk.
"lun boleh gak kami main kermh kalo weekend"kata Sarah salah satu teman baru Luna .
"boleh dong malah aku suka habis dirumah cuma ada bik Iyah dan aku kadang ayah juga ada keperluan" jawabLuna
"lho...emangnya ibu mu kemana?..." jawab Arum salah satu teman baru Luna.
"ibuku sudah meninggal rum 5 tahun yang pas aku SD" terdengar lirih suara Luna menahan tangis.
"maaf kan aku lun aku gak tahu" dengan wajah Arum yang penuh penyesalan.
"gak apa lagipun kita baru kenal jadi wajar kita gak tahu masalah keluarga kita masing-masing"Luna tersenyum memandang Sarah