Sequel Menikahi Sopir Kaya
Namanya Cantika, tetapi tak seperti penampilannya yang jauh dari kata cantik.
Keseharian Cantika bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga yang memiliki dua orang Tuan Muda, yaitu Mr. Culun dan Mr. Perfect.
Akankah di masa depan Cantika mengalami keberuntungan yang tak pernah ia mimpikan sebelumnya? Atau kehidupannya tak akan pernah lepas dari hinaan orang-orang kepada dirinya yang jelek, miskin dan culun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Sukendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Tiba-tiba
Thoriq yang sedang melakukan sesi pemotretan berhenti sejenak ketika Ricardo memberitahu ada panggilan masuk dari Mentari di ponselnya.
"Thor, Ibu mu menelpon, apa kau ingin menjawabnya?"
Thoriq mengangguk dan meminta ponselnya dari Ricardo.
"Ada apa Bu?" Thoriq bertanya tujuan Mentari meneleponnya.
"Ibu mengirim pesan singkat tadi, tetapi kau belum membaca apalagi menjawabnya." Sahut Mentari.
"Aku sedang bekerja bu. Ibu kan tau, aku tidak suka di ganggu jika sedang bekerja. Jika saja bukan Ibu yang menelpon, aku tidak akan menjawabnya."
Begitulah Mr. Perfect, ia harus memastikan semuanya sempurna dan tanpa gangguan. Meski demikian, Thoriq tetap menghormati kedua orangtuanya dan selalu menjawab panggilan dari Argha atau Mentari dalam kondisi apapun.
"Iya sayang, Ibu tau. Maafkan Ibu, Nak. Ibu hanya ingin memberitahu, malam ini Ibu dan Ayah akan makan malam di luar. Kau bisa makan malam bersama Kakak mu dan Luna. Ibu sudah mengirim pesan juga kepada Aidan."
Ya Tuhan, Ibu selalu memperlakukan kami seperti anak kecil!
"Baiklah, Bu. Aku tidak akan melewatkan makan malam ku. Sampai nanti!" Thoriq segera mematikan ponselnya dan menyerahkannya kembali kepada Ricardo.
"Jika ada telepon dari Kakak ku, suruh dia makan malam duluan saja. Aku tidak akan makan malam bersamanya." Thoriq menebak Aidan akan menghubungi nya, karena memang begitulah biasanya.
Tak lama kemudian, dugaan Thoriq benar, Aidan menghubungi ponselnya. Ricardo menjawab panggilan dari Aidan dan menjawab sesuai arahan dari Thoriq.
.
.
.
.
.
"Seperti biasa, anak itu menolak ajakan ku." Gumam Aidan.
"Apa dia tidak mau makan malam disini bersama kita?" Luna bertanya kepada Aidan dan Aidan hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah menghabiskan makan malam nya, Aidan dan Luna berniat untuk pulang.
Aidan berniat menunggu Thoriq hingga selesai dan mereka bisa pulang bersama. Tetapi, melihat Luna yang sudah tampak lelah, Aidan merasa kasihan dan akhirnya memutuskan untuk langsung pulang.
Di perjalanan menuju parkiran, kejadian mengejutkan terjadi tiba-tiba. Seseorang berlari cepat menghampiri Aidan dengan sebuah pisau di tangannya dan hendak menusuk bagian perut Aidan.
Untunglah Luna cukup siaga dan sempat menepis tangan yang tengah memegang pisau itu, meskipun sempat menggores sedikit tangan Luna hingga mengeluarkan darah.
Aidan yang memang kondisi fisiknya cukup lemah dan sama sekali tidak memiliki keahlian bela diri, terjatuh lemas dan tak sanggup membantu Luna yang saat ini tengah menghajar seorang pria yang perawakan nya lebih besar dari Luna sendiri.
Luna menendang perut pria yang mencoba menusuk Aidan, kemudian menghampirinya dengan gagah berani. Pria itu bangkit untuk melakukan perlawanan. Terjadi baku hantam antara Luna dan pria tersebut hingga Luna berhasil membuat lawannya tumbang.
Luna mencengkram kerah pria itu, "Siapa yang menyuruh mu?" Tanya Luna disertai dengan nafsu membunuh.
Pria yang wajah nya sudah dipenuhi lebam karena pukulan Luna, sama sekali tak menyangka, dirinya dapat dikalahkan dan di hajar habis-habisan oleh seorang perempuan yang berbadan jauh lebih kecil dari nya.
"Tak ada yang menyuruhku!" Jawab Pria itu masih tak mau menyerah dan mengaku.
Karena geram, Luna kembali memberi pukulan yang jauh lebih mematikan. Kali ini pukulan Luna tepat di hidung pria itu, hingga terdengar suara retakan tulang dan hidung pria itu mengeluarkan cukup banyak darah.
"Masih tak mau mengaku atau kau akan..." Tangan Luna sudah siap meninju kembali dengan mata pria itu sebagai sasaran berikutnya, akan tetapi suara langkah beberapa orang terdengar menghampiri mereka.
Ada tiga orang yang siap mengeroyok Luna dan menyelamatkan pria yang saat ini dalam cengkraman Luna.
Luna bangkit dan tanpa rasa takut sedikitpun ia siap melawan mereka semua.
"Hentikan!!"
Thoriq yang baru saja tiba di parkiran dan hendak pulang, melihat Luna hendak di keroyok segera berlari dan berteriak.
Thoriq melihat Aidan yang tengah duduk di lantai dengan wajah pucat, "Ric, bawa Kakak ku kedalam mobil! Thoriq meminta Ricardo terlebih dahulu mengamankan Aidan yang tampak syok.
"Dasar kalian tidak tahu malu! Apa kalian tidak punya nyali, sampai harus mengeroyok seorang perempuan?" Thoriq mengejek para penjahat itu.
"Mr Perfect, Jangan ikut campur dan masuklah kedalam mobil bersama Kakak mu!" Luna melarang Thoriq membantunya dan menyuruhnya pergi bersama Aidan.
Thoriq hanya tersenyum tipis dan tak menghiraukan ucapan Luna.
"Maju kalian! Lawan aku jika kalian memang laki-laki!"
"Bos, itu Mr. Perfect, adik dari si culun tadi. Kita akan mendapatkan hadiah besar jika bisa menghabisi keduanya." Bisik salah satu penjahat kepada atasnya.
"Kau benar! Habisi dia!" Seru pemimpin penjahat kepada ketiga anak buahnya.
Para penjahat itu melupakan Luna dan hendak menyerang Thoriq, akan tetapi, Luna tak tinggal diam dan kembali menghajar dua orang dari mereka.
Thoriq yang melawan dua orang lainnya menunjukkan keahlian bela dirinya. Berbeda dengan Aidan yang hanya memikirkan bisnis di kepalanya, selama ini Thoriq rutin berolahraga dan berlatih bela diri, sehingga ia tidak merasa kesulitan ketika menghadapi para penjahat itu.
Luna dan Thoriq berhasil melumpuhkan para penjahat itu, tetapi sayangnya keempat penjahat itu masih mampu melarikan diri.
Luna hendak mengejarnya karena belum mendapatkan informasi mengenai dalang dari penyerangan itu, akan tetapi Thoriq menghentikannya.
"Luna! Biarkan saja mereka! Lebih baik kau pikirkan nasib Kak Aidan! Dia tampak syok dan asisten ku membawanya kedalam mobil." Seru Thoriq.
Luna berpikir Thoriq benar. Keadaan Aidan yang harus menjadi prioritas nya saat ini.
Sebelum menemui Aidan, Luna memastikan kondisi Thoriq terlebih dahulu, "Kau tidak apa-apa?" Tanya Luna sambil memutar tubuh Thoriq.
Thoriq menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan Luna yang masih sempat memikirkan orang lain ketika dia baru saja terlepas dari bahaya besar. Pandangan Thoriq jatuh pada tangan Luna yang saat ini masih mengeluarkan darah. "Luna, tangan mu berdarah?"
"Ah ini, hanya sedikit tergores saja, ini tidak sakit." Jawab Luna menyembunyikan rasa perih yang sebetulnya mulai terasa di tangannya.
Thoriq menggelengkan kepalanya lagi, ia tahu Luna sedang berbohong dan berusaha terlihat kuat di depannya.
"Tinggalkan saja mobil mu! Kalian ikut pulang bersamaku!" Thoriq tak membiarkan Luna menyetir dalam kondisi tangannya yang sedang terluka.
Luna mengangguk setuju menerima ajakan Thoriq.
.
.
.
.
Aidan mulai mendapatkan ketenangannya ketika ia sudah cukup lama berada di dalam mobil. Ia teringat akan Luna yang tengah berkelahi tadi, "Tolong buka pintunya! Luna sedang dalam bahaya." Aidan berniat untuk keluar dan menyelamatkan Luna, akan tetapi Ricardo menahanya. Tak lama kemudian, tampak Luna dan Thoriqoh berjalan kearah mobil.
"Kak Aidan baik-baik saja?" Luna bertanya sesaat ia masuk kedalam mobil dan duduk di sebelah Aidan.
semangat author nulisy 🌹🌹🌹🌹