NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : PENGKHIANATAN DI BALIK KAMERA

...BAB 7...

...PENGKHIANATAN DI BALIK KAMERA...

Sudah beberapa hari Nita tidak berada di rumah.

Seperti biasa, pekerjaannya membuat perempuan itu harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Pagi pemotretan, siangnya menghadiri acara, malamnya harus syuting iklan. Kemudian beberapa hari berikutnya pergi ke luar kota.

Rian sebenarnya sudah terbiasa dengan kesibukan istrinya. Namun belakangan ini, kesabarannya semakin menipis. Bukan hanya karena Nita jarang berada di rumah.

Melainkan karena sekarang ia semakin menyadari betapa banyak waktu yang telah hilang bersama putrinya.

Pagi tadi, Rana kembali bertanya.

“Papa, Mama kapan pulang?” tanya gadis kecil yang masih polos itu. Suaranya belum terlalu jelas, usianya belum sampai tiga.

Rian yang sedang membantu putrinya sarapan hanya terdiam. “Sebentar lagi,” jawabnya akhirnya.

“Kemarin Papa bilang begitu.”

Rian tersenyum pahit. “Iya.”

“Kalau Mama pulang, Rana mau tidur sama Mama.” celotehnya.

Rian mengusap kepala putrinya. “Tentu.”

Namun dalam hati, Rian sendiri tidak yakin. Ia sudah terlalu sering mendengar pertanyaan yang sama. Dan terlalu sering memberikan jawaban yang tidak pasti.

Setelah mengantar Rana bermain, Rian kembali ke ruang kerja. Tetapi pekerjaannya tidak kunjung selesai. Pikirannya terus berputar.

Ia ingin Nita berhenti dari pekerjaannya. Bukan karena ia tidak menghargai karier istrinya. Rian tahu pekerjaan Nita adalah bagian penting dari hidup perempuan itu.

Tetapi rumah tangga mereka semakin terasa seperti hubungan antara dua orang asing.

Yang satu sibuk mengejar karier, sedangkan yang satu menunggu di rumah. Dan di tengah semua itu ada seorang anak kecil yang hanya menginginkan kedua orangtuanya.

Namun ada satu alasan lain yang tidak pernah Rian akui kepada siapa pun.

Wulan.

Sejak perempuan itu datang, Rian semakin tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Bukan karena Wulan melakukan sesuatu. Justru sebaliknya. Wulan selalu menjaga batas. Dia tidak pernah mencari perhatian dan tidak pernah bersikap manja, apalagi berniat untuk mendekatinya.

Bahkan setelah Rian beberapa kali berusaha berbicara tentang masa lalu, Wulan selalu mengalihkan pembicaraan.

Sikap dingin itu justru membuat Rian semakin sering memperhatikannya. Ia melihat Wulan bekerja sejak pagi.

Mengurus Rana. Memastikan Delon dan Astrid tidak kekurangan apa pun. Membersihkan rumah dan memasak. Dan ketika tubuhnya terlihat lelah, perempuan itu tetap memaksakan diri.

Ada rasa simpati yang tumbuh dalam hati Rian. Simpati kepada perempuan yang dahulu pernah menyukainya. Namun Rian tidak ingin perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang salah.

Ia masih status suami Nita. Ia tidak ingin mengkhianati istrinya. Karena itulah, satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan adalah membuat Nita berhenti dari pekerjaannya.

Bukan demi Wulan. Tetapi demi rumah tangganya. Setidaknya, itulah yang terus ia yakini.

Malam itu, ponsel Rian berdering.

Nita.

Rian segera mengangkatnya. “Halo.”

[“Malam ini aku belum bisa pulang.”]

Rian memejamkan mata. “Sekarang kamu dk mana?”

[“Masih ada syuting.”]

“Besok pulang?”

[“Mungkin.”]

“Mungkin?” Rian mengernyit.

[“Iya, Mas... Aku belum tahu.”]

Rian menarik napas panjang. “Apa kamu bisa pulang sebentar saja? Rana terus mencarimu.”

[“Mas, aku sedang bekerja.”]

“Aku tahu.”

[“Kalau aku pulang sekarang, bagaimana dengan kontrak pekerjaanku?”]

Rian terdiam. Kemudian suaranya terdengar lebih tegas. “Nita, kita perlu bicara.”

[“Besok saja.”]

“Kapan kamu punya waktu untuk bicara denganku?”

Nita tidak menjawab. [“Aku tutup dulu. Di sini terlalu ramai.”]

Sambungan pun terputus. Rian menatap layar ponselnya. Dadanya terasa sesak sekali. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar lelah.

Ia berdiri dari kursinya. Malam itu Rian mengambil keputusan. Ia akan mendatangi tempat Nita syuting. Bukan untuk mengganggu. Ia hanya ingin melihat sendiri kesibukan istrinya.

Mungkin setelah melihatnya bekerja, ia akan lebih memahami.

Namun jauh di dalam hati, ada rasa tidak nyaman yang tidak bisa ia jelaskan.

Dengan cepat Rian memakai jaketnya, lalu mengambil kunci mobil.

Hingga beberapa jam kemudian, Rian tiba di sebuah gedung studio. Ia memarkir mobil agak jauh dari pintu masuk.

Rian tidak memberitahu siapa pun bahwa dirinya datang. Ia bahkan tidak ingin Nita mengetahui keberadaannya.

Ketika memasuki area studio, Rian melihat beberapa kru sedang sibuk.

Lampu besar terpasang. Kamera berdiri di tengah ruangan. Lalu beberapa orang mondar-mandir membawa peralatan.

Rian berdiri agak jauh. Kemudian matanya menemukan Nita. Istrinya sedang mengenakan pakaian untuk kebutuhan adegan.

Rian tersenyum tipis. Setidaknya Nita memang bekerja.

Ia hampir berbalik. Namun tiba-tiba seseorang mendekati Nita.

Seorang pria. Pria itu adalah sutradara film yang menangani proyek Nita.

Rian memperhatikan dari kejauhan. Pria itu berbicara sesuatu kepada Nita. Kemudian tertawa. Nita pun ikut tertawa.

Rian mengernyit. Awalnya ia tidak memikirkan apa pun. Interaksi seperti itu memang wajar dalam pekerjaan. Namun beberapa detik kemudian, pria itu tiba-tiba menyentuh tangan Nita.

Nita tidak menjauh atau menghindarinya. Rian membeku. Ia memperhatikan lebih saksama.

Pria itu semakin mendekat. Namun Nita justru tersenyum. Hingga sesuatu yang tak pantas dilakukan, pria tersebut merangkul pinggang Nita.

Jantung Rian seperti berhenti. “Apa-apaan mereka!” Ia cepat melangkah maju.

Tetapi langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Nita mencium pipi pria itu dengan mesra. Itu bukanlah bagian dari adegan. Tidak ada kamera yang mengarah kepada mereka.

Tidak ada sutradara yang meneriakkan kata mulai dan tidak ada kru yang memperhatikan.

Tapi mereka melakukannya diam-diam.

Rian mengepalkan tangan. Wajahnya berubah. Selama ini ia merasa Nita hanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih buruk.

Ia berdiri beberapa saat, mencoba menahan amarah. Kemudian melangkah cepat.

“Nita!” Suara Rian menggema.

Nita langsung terkejut. Pria di sampingnya ikut menoleh.

Wajah Nita seketika pucat. “Mas Rian?!”

Rian berdiri beberapa meter di depan mereka.

Tatapannya tajam. “Apa yang sedang kamu lakukan dengan pria ini?”

Nita tidak bisa menjawab.

“Jawab aku!” rahang Rian mengeras tegas. Rasanya ingin menampar Nita saat itu juga namun, pria yang bersama Nita itu lebih dulu maju untuk menghalanginya.

“Tenang, Mas. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

Rian menatapnya. “Jangan ikut campur.”

“Mas...” Nita mencoba mendekat.

“Jangan sentuh aku!” Rian menepis tangan Nita, seolah jijik melihat istrinya sendiri.

Nita berhenti.

Rian menatap istrinya dengan tatapan penuh luka. “Aku datang ke sini karena ingin melihat kamu bekerja.”

Nita menunduk.

“Aku tidak menyangka yang akan kulihat justru seperti ini.”

“Mas, dengarkan aku dulu”

“Apa yang harus aku dengarkan?”

“Ini bukan—”

“Bukan apa?”

Nita terdiam.

Rian menunjuk pria di sampingnya.

“Dia siapa hah?!”

“Dia Pak sutradara yang menawariku film. Hubungan kami hanya—”

“Jangan bohong!” Suara Rian membuat beberapa kru mulai memperhatikan.

Nita semakin panik. “Kita bicara di tempat lain.” bisiknya, ia ingin menarik lengan Rian menjauh dari sana. Tapi Rian justru berontak.

“Tidak.” Rian menggeleng. “Aku ingin kamu menjelaskannya di sini sekarang juga!”

Pria itu mencoba berbicara lagi. “Mas, sebenarnya—”

“Diam kau!” Rian menatapnya tajam. “Kamu tahu dia sudah menikah?”

Pria itu terdiam.

Rian kembali menatap Nita. “Selama ini aku pikir kamu meninggalkan rumah karena pekerjaan.” Air mukanya berubah. “Ternyata kamu meninggalkan aku dan Rana untuk bertemu dengan lelaki lain.”

Nita mulai menangis. “Maas, aku minta maaf.”

Kalimat itu justru membuat Rian semakin hancur. Karena permintaan maaf tersebut terdengar seperti pengakuan. “Sejak kapan?”

Nita kini terdiam.

“Sejak kapan kamu berselingkuh?” teriak Rian, dia sudah tak lagi peduli dengan sekelilingnya.

Biarkan sekalian orang lain tahu dan melihat, jika seorang model terkenal berselingkuh di belakang suaminya sendiri.

“Aku...”

“Jawab!”

“Beberapa bulan lalu.” gelagap Nita.

Rian memejamkan mata. Beberapa bulan. Berarti selama ini ia tidak pernah tahu.

Saat ia menunggu istrinya pulang. Saat Rana menanyakan ibunya. Saat ia berpikir mungkin dirinya yang terlalu menuntut. Ternyata Nita sudah memiliki lelaki lain.

Rian tertawa kecil, memutar pelan tubuh, lantas berkacak pinggang. Memijat pangkal hidungnya. Bukan karena lucu. Melainkan karena ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.

“Aku benar-benar bodoh.” racaunya.

Nita menangis. “Maaas...”

“Aku bahkan sempat berpikir akulah yang salah.” Rian menatap getir istrinya. “Aku menyalahkan diriku sendiri karena terlalu banyak meminta waktumu.”

“Maafkan aku Mas...” geleng Nita.

“Kau tahu, aku ingin rumah tangga ini bertahan.”

Nita menutup wajahnya.

“Aku ingin Rana punya keluarga yang utuh.” Rian menarik napas dalam-dalam. “Tapi kamu sendirilah yang sudah menghancurkannya.”

Nita menangis semakin keras. “Aku bisa berubah.” lirihnya.

Rian menggeleng. “Sudah terlambat.”

“Mas, tolong, berikan aku kesempatan lagi!" Nita memegang lengan Rian.

Rian menunduk menatap cincin pernikahan di jarinya. Kemudian perlahan melepaskannya.

Ia memegang cincin itu beberapa detik. Setelah itu, ia menatap Nita. “Aku sudah memberikanmu kesempatan.”

Nita menggeleng. “Jangan.”

“Bahkan setelah semua yang terjadi, aku masih berusaha mempertahankan pernikahan ini.” ujar Rian.

“Mas, kumohon jangan lakukan ini padaku...” kini wajah Nita terlihat memelas.

Dia menyesali akan kelakuan gilanya, mengkhianati suami setianya selama tiga tahun pernikahan mereka.

Tetapi Rian sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Dengan suara tegas, ia mengucapkan kalimat yang membuat Nita membeku.

“Nita, saat ini juga, aku ceraikan kamu.”

Sontak, jantung Nita seolah berhenti. "Maas...!" ia menggeleng dan menangis. "Mas, kumohon jangan ceraikan aku..." lirihnya.

Rian tetap menatapnya nanar. “Aku jatuhkan talak kepadamu.”

Nita terduduk lemas. “Jangan...”

Namun Rian tidak berhenti. Dengan kemarahan dan kekecewaan yang sudah mencapai batasnya, ia mengucapkan talak tiga.

“Aku menjatuhkan talak tiga kepadamu.” tegasnya.

Suasana pun mendadak hening. Tidak ada yang berani berbicara. Rian menatap Nita untuk terakhir kalinya.

“Mulai malam ini, rumah tangga kita selesai.”

Rian pun berbalik. Langkahnya terasa berat. Bukan karena ia masih ingin mempertahankan Nita. Melainkan karena rumah tangga yang selama ini ia pikir akan menjadi tempat pulang ternyata telah runtuh di depan matanya sendiri.

Di luar studio, Rian berhenti sejenak. Ia mengusap kasar wajah. Matanya terasa panas. Namun ia tidak menangis. Ia hanya berdiri diam di samping mobil.

Sementara di dalam studio, Nita masih terduduk dengan air mata yang terus mengalir.

Dan tanpa Rian sadari, keputusan yang diambilnya malam itu akan mengubah kehidupan banyak orang.

Termasuk Wulan.

Karena mulai malam itu, status Rian tidak lagi sama.

Dan ketika ia kembali ke rumah nanti, perempuan yang selama ini selalu menjaga jarak darinya akan menjadi orang pertama yang melihat luka besar di wajahnya.

Bersambung...

1
Lisa
Moga dgn berjlnnya waktu..Wulan dpt menerima Rian.
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!