NovelToon NovelToon
Diratukan Oleh Raja Vampir

Diratukan Oleh Raja Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.

Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.

Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.

Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang

Hari mulai menjelang pagi.

Cahaya matahari perlahan masuk melalui sela-sela jendela kayu gubuk kecil itu. Suasana hutan kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi sesuatu mengerikan tadi malam.

Namun tiba-tiba.

Evelyn langsung terbangun dari tidurnya.

Mata gadis itu membulat panik saat melihat cahaya matahari yang sudah cukup terang.

“Astaga… aku kesiangan!” ucapnya buru-buru sambil bangkit dari tempat tidur.

Rambutnya terlihat berantakan, sementara selimut tipisnya hampir jatuh ke lantai karena gerakannya yang tergesa-gesa.

“Aku harus menjual jamurku…” gumam Evelyn panik.

Hari ini adalah hari pasar dibuka.

Jika terlambat, harga jamur-jamur langka yang ia dapatkan semalam bisa turun karena terlalu banyak pedagang datang.

Evelyn segera turun dari tempat tidurnya lalu berjalan cepat ke arah luar gubuk. Namun langkahnya perlahan terhenti.

Sunyi.

Gubuk itu terasa sangat sepi. Tatapan Evelyn menyapu seluruh ruangan kecil tersebut.

Tidak ada siapa-siapa.

“Evander…?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Evelyn sedikit mengernyit bingung.

Aneh.

Entah kenapa kepalanya terasa sedikit berat pagi ini. Seperti ada sesuatu yang terlupakan. Namun semakin dia mencoba mengingatnya.

Semuanya terasa samar.

Yang dia ingat hanyalah dirinya harus pergi ke pasar hari ini. Tatapan Evelyn lalu berhenti pada meja kecil dekat perapian.

Di sana masih ada beberapa apel merah langka dan buah-buahan yang kemarin dibawa Evander.

Evelyn sedikit terdiam melihatnya.

“Dia pergi pagi-pagi sekali…?” gumamnya pelan.

Walaupun merasa aneh, Evelyn akhirnya menggeleng kecil lalu mulai sibuk menyiapkan kedua keranjang jamurnya.

Hari ini dia harus pergi ke kota.

Tanpa Evelyn sadari.

Dari atas pohon besar tidak jauh dari gubuknya, sepasang mata merah sedang memperhatikannya dalam diam.

Evelyn sudah selesai bersiap-siap.

Dia mengenakan jubah cokelat lusuh miliknya lalu mengikat rambut panjangnya secara sederhana agar tidak mengganggu saat berjalan.

Sebelum pergi, Evelyn menoleh sebentar ke arah dalam gubuknya yang kecil.

Sunyi.

Tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Evander.

Entah kenapa, ada perasaan aneh dalam dirinya karena pria itu pergi tanpa mengatakan apa pun.

“Dia pasti sudah pergi jauh…” gumam Evelyn pelan.

Walaupun begitu, Evelyn tetap mengunci pintu gubuknya sebelum akhirnya menggendong dua keranjang besar yang dipenuhi berbagai jenis jamur langka.

Tubuhnya sedikit oleng karena berat, tetapi wajahnya justru terlihat sangat bahagia.

“Kalau semuanya laku… aku bisa membeli banyak persediaan,” ucapnya kecil dengan semangat.

Setelah itu, Evelyn mulai menuruni gunung kecil tempat gubuknya berada. Langkahnya perlahan memasuki jalur hutan yang menuju perbatasan kota.

Cahaya matahari pagi menyelinap di antara pepohonan, sementara suara burung terdengar samar di sekitar hutan.

Namun Evelyn tidak menyadari sesuatu.

Sejak tadi. Sepasang mata merah terus mengawasinya dari kejauhan.

Sosok itu bergerak diam-diam mengikuti langkah Evelyn di antara bayangan pepohonan.

Tatapannya tidak pernah lepas dari gadis itu.

Sementara itu.

Di gubuk kecil Evelyn.

Brak.

Pintu kayu terbuka pelan.

Evander akhirnya kembali bersama keempat bawahannya. Aura dingin mereka langsung memenuhi area sekitar gubuk.

Pakaian hitam milik mereka masih dipenuhi sedikit bercak darah hasil perburuan malam tadi.

Mereka memang pergi berburu untuk memperkuat kekuatan vampir mereka selama malam bulan purnama.

Namun saat Evander memasuki gubuk. Tatapan matanya langsung berubah tajam.

Sunyi.

Tidak ada Evelyn di dalam. Salah satu bawahannya terlihat bingung.

“Yang Mulia… manusia itu tidak ada.”

Tatapan merah Evander perlahan menyapu ruangan kosong tersebut. Lalu matanya berhenti pada tempat keranjang jamur yang sudah tidak ada.

“Dia pergi ke kota,” gumamnya pelan.

Namun entah kenapa.

Perasaan tidak tenang tiba-tiba muncul dalam diri Evander. Karena sejak tadi. Dia juga bisa mencium aroma vampir lain di sekitar jalur hutan yang dilewati Evelyn.

Sementara keberadaan Evelyn.

Dia sudah berhasil melewati jalan hutan pertama.

Langkahnya terasa sedikit lebih ringan walaupun harus membawa dua keranjang besar penuh jamur di punggungnya.

“Sedikit lagi…” gumam Evelyn pelan.

Masih ada beberapa jalur hutan lagi sebelum akhirnya tiba di perbatasan kota tempat pasar berlangsung.

Udara pagi terasa cukup sejuk. Cahaya matahari menembus sela pepohonan, membuat jalan setapak di depannya terlihat samar.

Namun saat Evelyn melangkahkan kakinya memasuki jalan hutan kedua.

Brak!

“Tch!”

Seseorang tiba-tiba menarik tubuh Evelyn dengan kasar ke balik pepohonan.

“A-ah!”

Keranjang jamurnya hampir terjatuh. Tubuh Evelyn membentur batang pohon cukup keras hingga membuatnya meringis kesakitan.

Burung-burung gagak di sekitar hutan langsung berteriak gaduh dan terbang ke udara.

“K-kamu siapa?!” teriak Evelyn panik sambil berusaha melepaskan diri.

Namun pria asing yang menahannya justru mencium aroma tubuh Evelyn dengan tatapan menyeramkan.

“Manusia…” gumamnya pelan.

Mata merah milik pria itu menyala tajam.

Seketika wajah Evelyn memucat.

Mata merah.

Lagi.

Dan saat itu juga.

Jauh dari sana. Langkah Evander mendadak terhenti. Tatapan merah gelapnya berubah tajam.

Dia mencium aroma Evelyn. Bercampur dengan aroma vampir asing.

“…Evelyn.”

Suara Evander terdengar rendah dan mengerikan.

Dalam sekejap.

Tubuhnya langsung menghilang dari tempatnya berdiri. Keempat bawahannya langsung terkejut melihat perubahan aura Raja Vampir mereka.

“Yang Mulia!”

Mereka segera mengikuti Evander dengan cepat memasuki hutan.

Sementara itu.

Evelyn mulai gemetar ketakutan saat melihat taring tajam pria asing di depannya.

“Kau berbau sangat manis…” bisik vampir itu sambil mencengkeram bahu Evelyn lebih kuat.

Air mata mulai menggenang di mata Evelyn.

Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun satu hal yang pasti. Pria ini bukan manusia biasa.

Seketika pria itu mencium aroma asing yang sangat kuat.

Aura mengerikan itu mendekat dengan cepat.

Wajah vampir tersebut langsung berubah panik.

“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.

Dia mengenali aroma itu.

Raja Vampir.

Dan lebih buruknya lagi.

Itu adalah aroma milik Evander Nocturne. Tanpa berpikir panjang, vampir itu langsung membawa Evelyn pergi dari sana.

“A-ah! Lepaskan aku!” teriak Evelyn ketakutan sambil berusaha memberontak.

Namun cengkeraman vampir itu terlalu kuat.

Bruk!

Dua keranjang besar yang dibawa Evelyn jatuh ke tanah. Jamur-jamur yang sudah ia kumpulkan semalaman berhamburan di sepanjang jalan hutan.

Beberapa bahkan hancur terinjak.

“Tidak…!” lirih Evelyn panik saat melihatnya.

Namun vampir itu tidak peduli. Dia bergerak sangat cepat membawa Evelyn menghilang lebih dalam ke tengah hutan.

Selang beberapa menit kemudian.

Brak!

Evander tiba di tempat itu bersama keempat bawahannya. Aura dingin mereka langsung membuat suasana hutan terasa mencekam.

“Evelyn!” teriak Evander.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara angin yang berembus di antara pepohonan.

Tatapan merah Evander perlahan menyapu sekitar jalan hutan itu. Lalu matanya berhenti pada dua keranjang yang jatuh di tanah.

Jamur-jamur berserakan di mana-mana. Dan aroma Evelyn masih tertinggal jelas di tempat itu.

Tatapan Evander langsung berubah gelap.

Sangat gelap. Salah satu bawahannya perlahan berlutut memeriksa tanah.

“Yang Mulia…” ucapnya pelan. “Ada vampir lain yang membawa manusia itu.”

Aura membunuh langsung keluar dari tubuh Evander. Pepohonan di sekitar mereka mulai bergetar pelan karena tekanan kekuatannya.

“Mereka menyentuhnya…” suara Evander terdengar sangat rendah.

Keempat bawahannya langsung menegang.

Mereka tahu. Seseorang baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Sementara itu, Evelyn terus mencoba memberontak.

“Akh… lepaskan aku!” teriaknya panik sambil berusaha melepaskan cengkeraman pria tersebut.

Namun kekuatan vampir itu terlalu besar dibanding dirinya.

Tubuh Evelyn bahkan terasa ringan saat pria itu membawanya bergerak cepat melewati hutan.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena ketakutan.

Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pria-pria bermata merah itu terus muncul?

Dan siapa sebenarnya Evander?

Tak lama kemudian. Mereka akhirnya berhasil melewati perbatasan menuju kota.

Evelyn langsung membelalakkan mata saat melihat jalanan batu yang cukup familiar di depannya. Namun yang membuatnya semakin terkejut adalah.

Pria itu justru berbelok ke arah kiri. Wajah Evelyn langsung memucat.

Dia sangat mengenali jalan tersebut. Itu adalah jalan menuju desa perdagangan manusia.

Tempat mengerikan yang sering menjadi bahan bisik-bisik para pedagang pasar. Banyak orang berkata: siapa pun yang dibawa ke sana.

Jarang bisa kembali lagi.

“Tidak…” lirih Evelyn mulai panik.

Dia kembali berusaha memberontak lebih kuat.

“Lepaskan aku sekarang juga!” teriak Evelyn dengan suara penuh ketakutan.

Namun vampir itu justru mencengkeram tangannya lebih erat.

“Diam!” bentaknya kasar. “Kalau bukan karena perintah, aku sudah menghisap darahmu sekarang.”

Tubuh Evelyn langsung gemetar hebat mendengar ucapan itu.

Darah?

Tatapan matanya mulai dipenuhi ketakutan. Sementara itu, di belakang mereka. Sepasang mata merah gelap sedang mengawasi dari kejauhan.

Aura dingin yang mengerikan perlahan menyelimuti seluruh area jalan. Evander akhirnya menemukan keberadaan Evelyn.

1
Asra
Next kak
Anonim
semangat thor, lanjut lagi ....
Musicart Channel
best. cerita sang teratur Dan mendebarkan untuk setiap apisode. please update lagi🥺
Anonim
up lg donk thor...
Yayuk Yuhanah
lanjut donk
Yayuk Yuhanah
masih penasaran.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!