Warning ++ (Banyak sekali)
Melisa terpaksa menjalani kehidupan yang penuh dosa, demi tujuannya untuk membalaskan dendam kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danira16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Bergabung
Malam itu Edward ber c!n t4 dengan Sandra karena terlalu banyak minum wine, sehingga ia melihat isterinya seakan Melisa.
Saat itu Sandra memang sengaja menggod4 Edward dengan memakai pakaian terawang serta memberikan wine dengan konsentrat tinggi pada suaminya.
Sandra yang merasa senang itu pun kini terlelap tidur, bahkan wanita itu telah mencapai gelombang itu beberapa kali. Keduanya jarang bercoxok tanam karena Edward cenderung memilih main dengan wanita lain di luaran sana untuk memenuhi batinnya.
Bayangan Edward saat menyatu dengan Sandra saat itu adalah Melisa, wanita muda yang baru bertemu dengannya di sebuah club malam saat ia merayakan ulang tahun nya yang genap 50 tahun itu.
"Lisa, kamu di mana....?" Lirih Edward dalam tidurnya.
Untungnya saja sang isteri tidak mendengar suaminya itu menyebutkan nama wanita lain dalam tidurnya, jika sampai Sandra mendengarnya akan ada perang dunia yang entah ke berapa kali.
Pasalnya semenjak kematian Maura, mantan kekasih Edward yang tidak bukan adalah ibu kandung Melisa itu membuat Edward tidak ada harapan lagi dan menjadi sosok yang kian dingin pada isterinya.
Terlebih sandra juga pernah melakukan kesalahan dengan berselingkuh dengan rekan bisnis Edward saat itu, sehingga membuat Edward marah dan jarang pulang ke rumah.
Edward begitu mencari keberadaan Melisa, namun sampai sekarang ia belum tahu dimana wanita yang telah menjeratnya itu berada. Wanita yang begitu halus dan lembut, kulitnya begitu bersinar, d354 han nya begitu merdu ketika berada dalam pelukan nya.
Edward masih tak bisa melepaskan ingatan tentang Melisa, wanita yang lemah lembut dengan gerakan tarian yang menawan, yang selalu membuat hatinya berdebar.
Kenangan yang terpahat dalam benaknya, membangkitkan rasa kagum yang mendalam. Namun, tanpa sepengetahuan Edward, situasi yang sebenarnya sangat berbeda.
Melisa, wanita yang tak pernah lepas dari pikirannya, kini terjebak dalam situasi yang penuh dominasi oleh Budi, tetangga yang sekaligus teman baik Edward. Namun begitu Melisa terlihat senang karena rencananya berhasil.
Malam itu, sehabis makan malam yang disiapkan dengan tenang, Budi dengan cepat membawa Melisa ke kamar yang dulu ditempati bersama mendiang istri Budi.
Kini, ruangan itu berubah fungsi menjadi saksi bisu atas permainan kekuasaan yang mutlak dilakukan oleh Budi. Melisa, dengan raut muka yang penuh ga1rah, mencoba untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang saat ini, sementara Budi dengan sigap mengatur setiap gerakan tanpa membiarkan Melisa memiliki ruang untuk bergerak banyak.
Budi seolah melupakan tempat kenangannya bersama isterinya dulu, atau mungkin karena Budi menganggap Melisa yang nantinya pantas menggantikan tahta mendiang isterinya kelak.
Melisa menggigit bibirnya, menahan rasa sakit dan kesenangan yang bercampur menjadi satu. Kamar tidur Budi yang luas seolah menyaksikan adegan yang penuh gairah tersebut. Ukiran pada bahu ranjang menggambarkan adegan mitologi, yang seakan bergoyang mengikuti irama yang ditetapkan oleh Budi.
Setiap dorongan yang kuat membuat rangka kayu berderit, serasa menyetujui permainan yang sedang berlangsung. Melisa menutup matanya, mencoba merasakan setiap senti yang Budi berikan, sementara suara derit ranjang beradu dengan des*han mereka yang semakin tidak terkendali.
Pagi itu, cahaya matahari perlahan menerobos masuk melalui celah jendela, menerangi wajah Melisa yang lelap dalam tidurnya. Budi yang sudah bangun dari tadi terpaku memandang lembut pada kontur wajah Melisa yang damai.
Senyum tipis menghiasi bibirnya saat ia mengamati betapa cantiknya Melisa dengan rambutnya yang terurai membingkai wajah dan selimut yang menutupi tubuhnya hanya meninggalkan sedikit imajinasi tentang keindahan yang tersembunyi di baliknya.
Budi dengan hati-hati mengusap wajah Melisa yang lembut, tak ingin membangunkannya dari mimpi indahnya. Kulitnya yang halus bagaikan sutra, membuat Budi semakin takjub dan membenamkan rasa sayangnya lebih dalam. Tiba-tiba, Melisa bergerak pelan, matanya terbuka menatap Budi yang sudah duduk di sampingnya.
"Om, sudah bangun?" tanyanya, mencoba mengusir kegelisahan dengan nada yang ceria. Budi, yang sudah terjaga dari tadi, menoleh kepadanya sambil tersenyum. "Sudah dari tadi sayang," sahutnya lembut.
Dia menggenggam tangan Melisa dan membimbingnya menyentuh sesuatu yang lunak. Melisa terkejut, timun yang semalam ia pegang, kini telah berubah wujud. "Kok udah besar lagi om?" tanya Melisa dengan rasa ingin tahu yang murni. "Itu karena dia pingin lagi," bisik Budi seraya menatapnya dengan pandangan yang menggoda.
Melisa, yang merasa tak nyaman segera menggeleng cepat. "Gak bisa om, Lisa harus mandi dan pulang ke kost, ada yang harus aku kerjakan mengenai pekerjaan," tolaknya tegas, mencoba memutus situasi yang semakin tidak ia inginkan.
Raut wajah Budi berubah, seolah-olah kecewa dengan penolakan Melisa, namun ia hanya mengangguk mengerti. "Baiklah, jika itu yang kamu mau," ucapnya, membiarkan Melisa beranjak dari tempat tidur dan bersiap untuk hari yang harus dihadapinya.
Melisa melepas selimutnya yang tadi membingkai tvbuh indahnya lalu pergi ke dalam kamar mandi, Budi pun ikut masuk ke dalam.
Dengan kucuran air itu Melisa membersihkan badannya dari jejak semalam yang ditinggalkan oleh Budi.
Budi akhirnya mengajak mandi bersama dan ia pun mengantar Melisa untuk pulang ke kostnya.
"Lebih baik om pulang saja."
"Kamu mengusirku sayang?"
"Bukan begitu om, tahu sendiri om itu kan orang terkenal. Nanti kalo semua penghuni kost tahu bagaimana?"
"Tidak apa, kan kita juga sebentar lagi akan menikah."
"Terserah om saja deh, aku mau masuk. Kalo mau masuk cepet sini nanti keburu orang liat." Ajak Melisa dan Budi pun akhirnya masuk ke dalam kost Melisa.
Pria itu menatap ruangan kecil yang hanya berisikan kasur yang ukurannya sedang dan kamar mandi dalam, lalu terdapat ruangan sempit di mana Melisa kadang suka memasak.
"Kamu tinggal di kost kecil seperti ini?" Tanya Budi yang menatap ruangan yang menurutnya sangat kecil tu.
Terlebih tembok di dalam kamar Melisa terlihat telah usang cat nya, bahkan terkelupas pada bagian dapurnya.
Sungguh Budi yang melihatnya merasa miris, terlebih kini wanita di hadapannya kini telah ia akui sebagai kekasihnya.
"Om.....!! Koq diem?"
Budi tersentak saat Melisa bertanya sembari menepuk bahunya.
"Mulai besok tinggalah bersamaku."
"Tapi untuk apa....??"
"Kamu kan kekasihku, itu berarti kamu akan menjadi istriku nantinya."
Melisa langsung tertawa saat itu juga. Lalu tangannya bersedekap didepan Budi.
"Sejak kapan Lisa mengiyakan om jadi pacar bahkan calon isteri?" Cicit Melisa memutar bola matanya.
"Sejak kemaren kita sudah menyatu, kamu lupa hal itu?"
Melisa pun hanya tersenyum, ia melupakan kejadian saat keduanya bermain beberapa kali dirumah Budi, lebih tepatnya dikamar luas itu dan diatas peraduan dengan begitu bersemangatnya.
"Tawaran om tidak bisa Lisa terima, karena aku belum siap." Ungkap Melisa yang memilih duduk diatas kasurnya sembari menyilangkan kakinya.
Budi pun tidak menginginkan Melisa tinggal ditempat yang menurutnya kumuh, bahkan wanita secantik Melisa pantas mendapatkan yang lebih baik.
"Aku akan menyuruh asisten saya untuk mencari apartemen untukmu, bagaimana? Kamu bisa memilikinya. Asal......" Ucapan Budi berhenti dengan menatap dalam Melisa.
Melisa memicing pada Budi yang kini ikut duduk disampingnya.
"Asal apa om?"
"Jadilah kekasihku, dan penuhi kebutuhan batin saya. Dan saya akan memberikan apa pun untukmu." Ucap Budi yang seakan ia membujuk Melisa agar mau dengan tawarannya.
"Benarkah? Om serius?"
"Itu benar, saya serius Lisa "
"Baik aku mau jadi kekasih om, asal om manjakan Lisa dan menuruti semua keinginanku." Jawab Melisa yang terlihat senang.
"Oke deal."
##
Sedangkan Rudy kini membawa putera nya ke kota yang sama dengan Melisa tinggali, namun pria itu tidak tahu bahwa Melisa tinggal di kota itu.
Bahkan nomer Melisa telah ganti dengan nomer baru, sehingga Rudy kesusahan menghubungi mantan isteri siri nya.
Ponselnya berdering dan ternyata sekretaris tempat ia bekerja menelponnya. Ternyata sekretaris itu menyuruhnya untuk menghadap atasannya.
Rudy pergi menuju kantor, dan ia pun kini telah berada di sebuah ruang kerja pemilik perusahaan yang baru saja ia lamar.
Seorang pria masuk dan kini berada di hadapan Rudy.
"Silahkan duduk. Kamu Rudy bukan?"
"Benar pak."
"Saya lihat kamu banyak pengalaman dan relasi saya mengatakan bahwa anda juga sangat loyal."
"Terima kasih pak."
"Saya Edward pemilik perusahaan ini, dan saya akan memperkerjakan kamu sebagai manager di perusahaan saya." Ucap Edward.
"Terima kasih atas jabatannya. Saya akan berusaha untuk bekerja keras dan memajukan perusahaan bapak."
"Selamat bergabung Rudy."
Keduanya pun saling berjabat tangan, tanpa Edward tahu bahwa pria di hadapannya itu adalah mantan suami siri dari wanita yang ia cari-cari keberadaan nya.
aku tunggu part selanjutnya thor,tmbh seru ini aku penasaran kelanjutan ceritanya,,,,
Apa karna Melisa tahu fakta ini makanya mau didekati Ayah angkatnya?? dan anggaplah sebagai balas dendam atau murni Melisa menyukai Rudy???