Namanya Nur Hayati artinya cahaya kehidupanku. Tatapi hidupnya tidaklah seterang namanya. Hidupnya justru jatuh dalam kegelapan.
Semua bermula ketika Hayati menemukan buku mantra milik mantan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Khaifa Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
"Apa ini, kenapa mie gorengnya jadi begini, apa aku salah lihat, tidak mungkinkan aku bermimpi lagi," gumam Nur Hayati sambil terus mengucek-ngucek matanya.
Nur Hayati kemudian mencoba membuka matanya lebar-lebar, tapi yang dilihatnya masih tetap cacing tanah.
Seketika itu juga Nur Hayati merasa perutnya terasa mual. Sontak saat itu juga Nur Hayati rasanya ingin mengeluarkan semua yang sudah ia makan.
"Huuekk."
Nur Hayati langsung bangun dari tempat duduk dan berlari kekamar mandi. Nur Hayati benar-benar memuntahkan semua isi diperutnya.
"Huueekk huueekk."
Nur Hayati masih terus muntah dikamar mandi mengeluarkan isi perutnya. Nur Hayati kemudian berdiri dan bersandar dipintu kamar mandi. Badannya terasa sangat lemas sekali. Tiba-tiba dari luar terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Tok tok tok."
Meskipun masih sedikit mual Nur Hayati segera keluar dari kamar mandi dan berjalan kepintu.
"Tunggu sebentar," teriak Nur Hayati dari dalam.
"Ali?" ucap Nur Hayati setelah membukakan pintu.
"Hai mbak Hayati," ucap Ali sambil memperlihatkan senyum lebar dari bibirnya.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Nur Hayati lagi.
"Taaraa, aku bawa ini buat mbak Hayati," ucap Ali memperlihat bungkusan plastik yang ditenteng ditangannya.
"Apa ini?" tanya Nur Hayati saat Ali memperlihatkan bungkusan plastik berwarna putih ditangannya.
"Lumpia mbak," jawab Ali kemudian memberikannya pada Nur Hayati.
"Ya sudah masuk dulu tidak enak berdiri dipintu," ucap Nur Hayati mempersilahkan Ali masuk.
"Duduk dulu biar aku buatkan minum, oh ya mau minum apa?" tanya Nur Hayati.
"Teh saja mbak," jawab Ali.
"Baiklah, aku tinggal dulu ya sebentar," ucap Nur hayati.
Nur Hayati kemudian berjalan kedapur meninggalkan Ali diruang tamu. Sampai didapur Nur Hayati mengambil panci kecil berisi air kemudian meletakkannya diatas kompor.
Tiba-tiba Nur Hayati teringat lagi soal mie goreng tadi yang belum habis dia makan. Sambil menunggu air mendidih Nur Hayati kemudian berjalan kemeja makan. Terlihat disana mie goreng tadi masih ada dalam piring diatas meja. Yang aneh mie goreng tersebut kembali terlihat seperti mie goreng pada umumnya, bukan cacing yang meliuk-liuk dalam piring seperti pada saat ia sedang makan tadi. Nur Hayati bahkan sampai mengambil mie gareng tersebut dengan tangan untuk memastikan bahwa itu bukan cacing tanah seperti yang ia lihat tadi.
Lalu yang tadi Nur Hayati lihat saat sedang makan sebenarnya apa. Apa benar semua yang terjadi padanya selama ini memang berhubungan dengan hal mistis, atau mungkin saja justru Nur Hayati salah lihat, bisa jadi mungkin selama ini Nur Hayati mengalami halusinasi, jadi karena itu ia jadi sering mendengar suara-suara aneh atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada.
Saat Nur Hayati tengah memikirkan kejadian yang tadi baru saja dialami tiba-tiba ia terkejut saat mendengar bunyi seperti siulan membuyarkan lamunan Nur Hayati. Sontak Nur Hayati langsung melihat kearah kompor, rupanya bunyi air dalam panci sudah mendidih. Nur Hayati segera mematikan kompor kemudian memasukkan air yang sudah mendidih tersebut kedalam gelas berisi teh dan gula.
Sebelum membawakan minuman tersebut kedepan, Nur Hayati sisa mie goreng tadi lalu memasukkannya kedalam keranjang sampah.
***
"Minum dulu," ucap Nur Hayati pada Ali saat meletakkan gelas berisi teh hangat diatas meja.
"Iya mbak terima kasih," ucap Ali.
"Oh ya ini lumpia isinya apa?" tanya Nur Hayati saat membuka bungkus plastik yang berisi lumpia.
"Aku tadi minta yang isi ayam sama rebung mbak," jawab Ali.
"Pasti enak ini," ucap Nur Hayati sambil memasukkan lumpia kemulutnya.
Ali hanya tersenyum melihat tingkah Nur Hayati.
"kamu makan juga dong," ucap Nur Hayati menyodorkan lumpia pada Ali.
"Iya mbak," ucap Ali sambil mengambil lumpia dari tangan Nur Hayati.
"Kamu kenapa jadi rajin bawa makanan kemari, tidak takut ketahuan sama ibumu nanti?" tanya Nur Hayati.
"Tidaklah mbak, ibu tidak tahu kok," jawab Ali sambil mengunyah lumpia dalam mulutnya.
"Bukan apa-apa, aku cuma takut saja kalau sampai ibu kamu tahu, bisa panjang urusannya nanti, bisa habis aku dimaki-maki sama ibu kamu," ucap Nur Hayati.
"Tenang saja mbak, aku jamin kalau ibu tidak akan tahu, jadi mbak Hayati tidak usah takut," ucap Ali.
"Tapi kamu kenapa bisa baik sekali sama aku, padahal ibu kamu tidak suka sama aku," ucap Nur Hayati.
"Karena aku sayang sama mbak," ucap Ali.
"Apa?" ucap Nur Hayati.
Nur Hayati yang tengah mengunyah lumpia sontak langsung berhenti saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Ali.
"Maksud kamu apa kalau kamu sayang sama aku?" tanya Nur Hayati lagi memastikan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya mbak, aku sayang sama mbak, aku sudah anggap mbak Hayati seperti saudara aku sendiri, soalnya mbak Hayati selama ini juga baik sama aku dan mbak Anti, padahal selama ini ibu selalu saja jahat sama mbak," ucap Ali.
"Oh gara-gara itu," ucap Nur Hayati.
"Iya mbak," ucap Ali lagi.
"Apa yang aku harapkan dari anak kecil ini, kenapa aku malah jadi memikirkan yang tidak-tidak," pikir Nur Hayati dalam hati.
"Kenapa melamun mbak?" tanya Ali tiba-tiba membuyarkan lamunan Nur Hayati.
"Tidak ada apa-apa kok," jawab Nur Hayati sambil tersenyum.
Nur Hayati dan Ali melanjutkan memakan lumpia yang ada didepan mereka sambil berbicara berbagai macam hal. Sesekali tampak mereka tertawa saat ada sesuatu yang lucu yang mereka bicarakan.
"Aawww," tiba-tiba Nur Hayati berteriak dan membuang lumpia yang ada ditangannya.
"Kenapa mbak?" tanya Ali heran melihat Nur Hayati yang tiba-tiba membuang lumpia ditangannya.
"Lumpianya," ucap Nur Hayati sambil menunjukkan lumpia yang baru saja ia lempar kelantai.
"Lumpianya kenapa mbak," tanya Ali kebingungan melihat sikap Nur Hayati.
"Lumpianya, lumpianya ada belatung didalamnya," ucap Nur Hayati terbata-bata.
"Masa sih mbak ada belatung," ucap Ali kemudian mengambil potongan lumpia bekas gigitan Nur Hayati yang ada dilantai.
"Inikan ayam mbak bukan belatung," ucap Ali sambil menunjukkan lumpia ditangannya pada Nur Hayati.
Nur hayati memperhatikan lumpia ditangan Ali, memang benar isinya daging ayam. Lalu kenapa Nur Hayati tadi malah melihat belatung. Nur Hayati memperhatikannya sampai berkali-kali, tapi tidak ada belatung sama sekali bahkan satupun.
"Tapi barusan aku lihat ada belatungnya," ucap Nur Hayati lagi.
"Barang kali mbak Hayati cuma salah lihat saja, tidak ada apa-apa kok mbak, ini cuma daging ayam," ucap Ali mencoba menenangkan Nur Hayati yang kelihatan ketakutan.
"Iya mungkin aku yang memang salah lihat," ucap Nur Hayati.
Nur Hayati kemudian menarik nafas dalam-dalam sampai beberapa kali mencoba menenangkan dirinya.
***
Bersambung...