NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Jelas

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah tirai tipis berenda emas di kamar utama vila mewah yang letaknya di atas tebing Uluwatu. Cahaya terang itu membiaskan garis-garis siluet di atas permukaan seprai sutra abu-abu yang mengkilap, menciptakan kontras yang tajam dengan keheningan mencekam yang menyelimuti seluruh ruangan.

​Kayna perlahan membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat karena ia baru bisa tertidur pukul 3 pagi. Dan sekarang, ia terbangun sendirian.

​Permukaan kasur di sebelah kirinya terasa dingin, rapi, dan tidak berpenghuni, menandakan bahwa pria itu telah lama meninggalkannya sendirian. Kayna menghela napas panjang. Sebuah kelegaan samar terpancar dari dalam dadanya, meskipun kecemasan yang jauh lebih besar masih terus menggantung berat di pikirannya.

​Ia bangkit memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang. Jemari tangannya meremas gaun piyama yang dipakainya. Kayna melangkah pelan menuju pintu utama kamar bernuansa kayu mahoni tebal tersebut. Saat tangannya menyentuh gagang pintu logam yang dingin dan menekannya ke bawah.

​Klek.

​Suara mekanisme kunci otomatis berbunyi halus. Pintu itu terbuka sedikit. Kayna menghela napas lega. Pintu kamar utama tersebut kini sudah tidak lagi dikunci dari luar. Sistem keamanan elektronik yang semalam mengurungnya telah dimatikan oleh Mara sebelum pria itu pergi.

​Tanpa membuang waktu lebih lama, Kayna bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama. Ia membasuh tubuhnya di bawah pancuran air hangat.

Setelah mengeringkan tubuh, Kayna mengganti pakaiannya dengan setelan gaun kasual berbahan lembut berwarna biru yang tergantung rapi di dalam lemari pakaian.

​Usai bersiap, Kayna melangkah keluar dari kamar.

​Atmosfer vila pagi itu terasa begitu sepi. Koridor mewah bermaterialkan marmer hitam tampak lengang dari aktivitas para pelayan. Kayna menyusuri lorong berarsitektur modern-gothic tersebut, menuruni anak tangga melingkar menuju ruang tengah lantai utama untuk mencari keberadaan Mara.

​Namun, alih-alih menemukan Mara, pandangan Kayna justru menemukan sosok James.

​Pria bertubuh tegap tinggi dengan setelan jas hitam elegan itu sedang berdiri kaku di dekat pintu kaca raksasa yang menghadap langsung ke lautan lepas.

James tampak sangat fokus mengamati sesuatu di layar ponsel pintar di tangannya. Begitu mendengar gesekan halus dari langkah kaki Kayna di atas lantai marmer, insting tajamnya langsung membuatnya mematikan layar ponsel dan memutar tubuhnya.

​James membungkukkan badannya dengan sangat sopan dan formal.

​"Selamat pagi, Nona Kayna... maaf, maksud saya, Nyonya Veldens," sapa James dengan nada suara yang tenang, tajam, dan sangat terkontrol.

​Kayna menghentikan langkahnya beberapa meter di depan James. Panggilan baru 'Nyonya Veldens' yang meluncur dari bibir pengawal itu terasa bagaikan sengatan dingin yang asing dan mengerikan di telinganya. Ia mengabaikan sapaan itu dan langsung melemparkan tatapan menuntut.

​"Di mana Mara, James?" tanya Kayna tanpa basa-basi, suaranya terdengar serak dan penuh kecurigaan.

​"Tuan Mara sudah meninggalkan vila sejak pagi buta tadi, Nyonya," jawab James lugas tanpa kedipan mata.

​"Pergi?" Dahi Kayna mengerut dalam, nada suaranya seketika naik satu oktav oleh rasa tidak percaya. "Bagaimana bisa dia pergi?! Dia baru saja mendapat dua luka tembakan parah! Bagaimana mungkin pria yang terluka separah itu langsung kelayapan di luar?!" Tentu saja kepanikan itu hanya sandiwaranya saja.

​"Tuan Mara memiliki beberapa urusan bisnis yang sangat penting dan tidak dapat ditunda lagi, Nyonya," jelas James. "Beliau pergi didampingi oleh Carlos. Tuan Mara juga berpesan agar Anda tetap berada di dalam vila ini, beristirahat dengan tenang hingga beliau kembali."

​Kayna memandangi wajah James sebentar. Kemarin, telah terjadi pertumpahan darah. Dan sekarang mereka bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.

​Kayna menyilangkan kedua tangannya di dada, melangkah dua titik lebih dekat ke arah James dengan tatapan mata yang menyipit tajam.

​"Urusan bisnis?" ulang Kayna dengan nada sarkastik yang amat getir. "Apa urusan bisnis itu juga penyebab peluru melayang dan menghancurkan altar pernikahan kami kemarin, James?"

​James tetap mempertahankan posisi berdirinya yang tegap bagaikan patung batu. Tidak ada sedikit pun riak kepanikan atau keterkejutan di dalam sepasang manik mata hitamnya. "Itu hanyalah bentuk gangguan keamanan yang biasa terjadi pada kalangan pengusaha kelas atas seperti Tuan Mara, Nyonya."

​"Masalah keamanan biasa? Katakan padaku yang sebenarnya, James. Jangan terus membodohiku dengan kebohongan manis ini! Siapa Mara yang sesungguhnya? Mengapa hidupnya selalu dikelilingi oleh senjata api, pengawal bersenjata rahasia, serta bahaya pertumpahan darah yang mengintai setiap detik?"

​Atmosfer di dalam ruangan seketika membeku. James menatap Kayna secara langsung. Ia tahu betul batasan informasi rahasia mengenai jaringan Mafia Lexans yang tidak boleh menyentuh telinga wanita di hadapannya ini.

​"Siapa dia sebenarnya, James?" desak Kayna lagi. "Apakah dia benar-benar hanya seorang pengusaha seperti yang dia katakan padaku selama ini?"

​James menghela napas pelan, merapikan posisi kancing jas hitamnya sebelum menjawab dengan intonasi suara yang sangat meyakinkan, tenang, dan tidak tergoyahkan.

​"Tuan Damara Lexander Veldens hanyalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses, Nyonya Kayna," tegas James mantap. "Beliau memegang takhta tertinggi di Veldens Management, menguasai agensi model internasional, serta mengelola puluhan aset investasi raksasa milik keluarga besar Veldens di Eropa dan Asia."

​"Lalu kenapa ada orang yang nekat menembaknya di hadapan puluhan tamu undangan penting? " potong Kayna cepat, menolak mentah-mentah penjelasan tersebut.

​"Di puncak tertinggi dunia bisnis internasional, persaingan tidak pernah berjalan secara bersih dan beretika," jawab James lancar, bagaikan deretan kalimat skenario yang telah ia hafalkan di luar kepala. "Keberhasilan pesat Tuan Mara dalam mengambil alih berbagai sektor industri memicu rasa iri dan dendam yang amat besar dari para pesaing bisnisnya. Sehingga mereka menghalalkan segala cara, termasuk menyewa pembunuh bayaran kotor untuk menjatuhkan Tuan Mara."

​Kayna menggelengkan kepalanya lambat. Sebuah tawa kecil yang terdengar sangat miris keluar dari celah bibirnya.

​"Kau pikir aku begitu mudah dibodohi, James?" bisik Kayna, matanya membelalak menatap tepat ke arah manik mata pengawal tegap itu.

​Mata James menyipit tipis untuk sepersekian detik, menandakan bahwa ia juga mencurigai Kayna yang mulai bertanya banyak hal. Namun, dengan pengalaman bertahun-tahun di dunia bawah tanah, James dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya kembali.

​"Tugas saya dan Carlos adalah memastikan Tuan Mara serta Anda tetap aman dari bahaya kotor di luar sana. Dan semuanya sudah saya jelaskan. Lalu tugas Anda sekarang hanyalah mempercayai suami Anda."

​"Mempercayainya?" Kayna mengepalkan jemari tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya memutih.

​Belum sempat Kayna melontarkan kalimatnya lagi, ponsel milik James yang tersimpan di balik saku jasnya bergetar. James dengan cepat merogoh sakunya dan memandang layar ponsel tersebut.

​Dari sudut berdiri Kayna, wanita itu samar-samar sempat menangkap kilatan tulisan merah yang berkedip di layar ponsel James, Code Red Lexans.

​Ketenangan yang menyelimuti wajah James seketika runtuh total dalam sekejap mata. Ekspresi pria itu mendadak berubah menjadi sangat tegang. Ia buru-buru memalingkan layar ponselnya dari jangkauan pandangan Kayna. Berjalan menjauh dari Kayna sebelum akhirnya menekan tombol panggil.

​"Bicara!" desis James tajam dan penuh tekanan.

​Dari balik speaker telepon yang bocor halus di keheningan ruangan, indra pendengaran Kayna yang tajam samar-samar menangkap suara deru mesin, teriakan terengah-engah, serta suara rentetan ledakan yang sangat bising di latar belakang panggilan.

​"... Tuan Mara tertembak lagi di...!" suara dari balik saluran telepon itu mendadak terputus-putus sebelum akhirnya benar-benar terputus total.

James memutar tubuhnya kembali menatap Kayna. Kali ini, tidak ada lagi topeng pengawal sopan di wajahnya. Sebaliknya, aura dingin telah menguar kuat dari tubuh James.

​"Nyonya Veldens, tolong tetap berada di dalam vila dan jangan coba-coba keluar," kata James dengan suara yang berat, dalam, dan tidak menerima bantahan apa pun.

​"James! Apa yang sebenarnya terjadi pada Mara?!" jerit Kayna penuh panik, langkah kakinya maju mendekati James.

​Namun James sama sekali tidak berniat memberikan jawaban lagi. Tanpa memedulikan jeritan dan pertanyaan histeris dari Kayna, ia justru berlari cepat menuju pintu utama vila.

​Brak!

​Pintu utama mahoni tebal itu terbanting rapat. Hanya dalam hitungan detik, suara bip-bip nyaring berdering dari panel luar saat sistem pengunci otomatis kembali mengunci seluruh pintu dan jendela vila, mengurung Kayna sendirian di dalam bangunan megah yang bernuansa mencekam tersebut.

​Kayna berdiri membeku di tengah ruang tengah yang luas. Tubuhnya gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rasa takut, kepanikan, dan kenyataan mengerikan yang baru saja terungkap menghantam mentalnya secara bertubi-tubi.

​Semuanya, sekarang ia sudah yakin bahwa Mara benar-benar orang yang berbahaya, sangat berbahaya. Dan ia sudah terjebak dalam ikatan pernikahan bersama Mara.

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!