Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Lelaki yang Berbeda dari Dulu
Pagi itu…
Alya terbangun lebih awal dari biasanya.
Udara masih terasa dingin, sementara suasana rumah masih sangat tenang.
Setelah merapikan tempat tidurnya, Alya keluar kamar perlahan untuk mengambil air wudhu.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
Dari ruang tengah…
terdengar suara pelan seseorang sedang membaca Al-Qur’an.
Alya sedikit terdiam, sekaligus terkejut
Karena suara itu… adalah suara Zidan.
Pelan.
Masih terbata di beberapa bagian.
Namun tetap dibaca dengan hati-hati.
Alya perlahan berjalan mendekat.
Dan di sana…
Zidan duduk sendiri dengan mushaf di tangannya.
Lampu ruang tengah yang redup membuat suasana subuh itu terasa begitu tenang.
Alya memandangnya diam-diam dari jauh.
Entah kenapa…
dadanya terasa hangat melihat pemandangan sederhana itu.
Karena dulu…
ia tidak pernah membayangkan laki-laki seperti Zidan akan bangun sebelum subuh hanya untuk belajar mengaji.
Mungkin karena merasa diperhatikan, Zidan perlahan mengangkat pandangannya.
Dan seketika mata mereka bertemu.
Zidan langsung sedikit salah tingkah.
“Oh…”
Ia buru-buru menutup mushafnya sedikit malu.
“ Aku… ganggu tidur kamu ya ? ” tanyanya pelan.
Alya langsung menggeleng cepat.
“ Enggak, aku kebetulan udah mau bangun juga ”
Malah Alya tersenyum kecil.
“ Alhamdulillah, itu bagus. ”
Untuk beberapa detik, Zidan hanya diam menatap Alya.
Dan lagi-lagi…
senyum kecil dari Alya selalu berhasil membuat isi dadanya terasa aneh.
Hangat.
Tenang.
Namun juga membuat jantungnya tidak pernah berdetak lambat.
Setelah sholat subuh berjamaah bersama Abi dan Umi, suasana rumah kembali tenang.
Abi berangkat ke pesantren lebih awal pagi itu.
Sedangkan Faris masih tertidur karena semalam membantu kegiatan santri sampai larut malam.
Di dapur, Alya sedang menyiapkan sarapan sederhana ketika tiba-tiba seseorang berdiri di sampingnya.
“ Aku bantu ya ”
Alya menoleh.
Zidan sudah berdiri sambil melipat lengan bajunya.
Alya sedikit bingung.
“ Kamu bisa masak ? ”
Zidan langsung terdiam beberapa detik.
“ …nggak. ”
Jawaban jujur itu membuat Alya tertawa kecil tanpa sadar.
“ Terus mau bantu apa ? ”
Zidan menggaruk tengkuknya canggung.
“ Ya… minimal aku nggak cuma diam aja, bisa bantu kamu dikit dikit ”
Alya kembali tersenyum tipis.
“ Kalau begitu aku minta tolong ambilkan minyak di lemari atas ya. ”
“Oke.”
Beberapa menit kemudian, dapur kecil itu dipenuhi obrolan sederhana.
Bukan percakapan besar.
Bukan kata-kata romantis.
Namun justru hal kecil seperti itulah yang perlahan mendekatkan mereka.
Sampai tiba-tiba,
“ Aw ! ”
Zidan refleks menarik tangannya cepat.
Alya langsung menoleh panik.
“ Kenapa ? ”
“Tangan aku kena minyak panas…”
Alya langsung mendekat cepat.
“ Mana lihat. ”
Refleks itu begitu natural sampai keduanya sama-sama terdiam sesaat.
Alya memegang tangan Zidan pelan untuk melihat bagian yang terkena minyak panas.
Dan lagi-lagi…
jantung Zidan langsung berdetak tidak karuan.
Karena setiap kali Alya menyentuhnya dengan perhatian seperti ini…
rasanya selalu berbeda.
Alya langsung mengambil salep kecil lalu mengoleskannya perlahan.
“ Kamu harus lebih hati-hati lagi…” Ucap Zidan.
Nada suaranya lembut sekali.
Dan entah kenapa…
kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menenangkan dibanding apa pun yang pernah didengar Alya sebelumnya.
Dari arah pintu dapur, ternyata Umi memperhatikan mereka diam-diam sejak tadi.
Senyum kecil langsung muncul di wajahnya.
“ MasyaAllah… ” gumamnya pelan.
Ia tidak jadi masuk.
Karena untuk pertama kalinya…
ia melihat Alya benar-benar mulai menerima Zidan bukan hanya sebagai suami di atas akad.
Tapi sebagai seseorang yang mulai hadir di hatinya.
Siang harinya…
Zidan sedang duduk di teras rumah ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Nama “ Raka ” muncul di layar.
Zidan langsung diam beberapa detik.
Sudah lama ia memblokir semua teman-teman lamanya.
Sudah lama ia mencoba meninggalkan kehidupannya yang dulu.
Namun entah bagaimana…
Raka kembali menghubunginya dengan nomor baru.
Pesan itu masuk singkat.
“ Lo berubah gara-gara cewek alim itu? ”
Zidan membaca pesan itu lama.
Kalau dulu…
mungkin ia akan langsung emosi atau membalas seenaknya.
Namun sekarang…
ia hanya menatap layar itu tenang.
Lalu perlahan…
ia menghapus pesannya tanpa membalas apa pun.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
ada seseorang yang membuatnya ingin menjadi lelaki yang lebih baik.
Dan seseorang itu…
adalah istrinya, Alya.