Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Perintah
Di kamar Violet...
Saat ini, Violet tengah mendudukkan dirinya di atas ranjang. Mengingat kejadian-kejadian yang terjadi di sekolah tadi membuat dia merasa senang. Dengan pandangan yang tajam, Violet menarik sudut bibirnya.
“Akhirnya, aku bisa membalaskan dendammu, Violet. Kamu yang tenang di sana. Tinggal sedikit lagi, balas dendammu akan aku tuntaskan,” gumamnya.
Violet pun berjalan ke arah balkon, cahaya senja langsung menerpa wajahnya.
“Aerin,” ucapnya dalam hati.
Sedangkan Aerin yang berada dalam ruang dimensi segera keluar setelah mendengar suara Violet. Ia pun langsung berdiri di samping Violet.
“Ya, Vio. Ada apa?” tanya Aerin.
“Aku ada tugas untukmu.”
“Aerin siap menerima perintah.”
Sorot mata Violet berubah semakin serius.
“Apa kamu masih ada serbuk gatal?”
“Masih ada Vio. Untuk apa serbuk gatal itu?”
“Aku ingin kamu sebarkan serbuk gatal itu pada Agnes, Riany, Frenda dan juga Grace.”
“Baik. Tapi, aku tidak tahu tempat mereka sekarang.”
“Aku tahu. Kamu ikuti mobil Xavier, karena aku yakin, dia akan pergi ke tempat mereka di bawa tadi.”
“Baik, Vio. Apa ada lagi perintah?”
“Tidak, itu saja dulu.”
Aerin pun mengangguk, lalu masuk kembali ke dalam ruang dimensi.
Setelah berbicara dengan Aerin, Violet menghembuskan napas pelan.
Tanpa membuang waktu lagi, Violet mengambil bathrobe dan handuk, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Suara gemericik air segera memenuhi ruangan.
Beberapa menit kemudian, Violet telah menyelesaikan acara mandinya. Ia keluar dengan menggunakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya dan membungkus rambutnya yang baru saja dikeramas dengan handuk.
Violet berjalan ke arah meja rias, lalu mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Setelah terasa kering, Violet berjalan ke arah walk in closet.
Setelah menggunakan gaun tidur berwarna krem yang ia pilih, ia pun segera keluar dari ruangan itu.
Sambil menunggu waktu makan malam, Violet menghubungi Daddy Axel.
“Halo, sayang,” ucap Daddy Axel di seberang sana.
“Halo, daddy. Daddy apa kabar?” tanya Violet sebelum ke intinya.
“Kabar daddy baik, sayang. Kamu baik-baik saja kan di sana?”
“Aku juga baik, daddy. Oh iya, apa daddy sudah melihat berita hari ini?”
“Sudah sayang. Berita itu sangat memukul daddy sayang, bagaimana bisa mereka melakukan kejahatan seperti padamu sayang. Rasanya daddy ingin sekali memberikan mereka pelajaran.”
Violet tersenyum mendengar ucapan daddy nya. Tapi kemudian, ia menormalkan kembali ekspresinya.
“Iya daddy. Tapi aku sudah membalas perbuatan mereka, dengan mematahkan tangan mereka, dan membuat mereka mungkin lemas karena menjerit kesakitan.”
“Hahaha... itu lah kamu, selalu membalas seperti itu. Tapi, apa kamu tidak ingin meminta bantuan daddy?”
Daddy nya ini peka sekali pada dirinya. Padahal dia belum berbicara, tapi daddy nya sudah bisa menebak. Ini yang Irene suka pada daddy nya. Daddy nya itu tidak mau melihat putrinya terluka.
“Daddy selalu tahu apa yang ku inginkan. Daddy masih ingat dengan pembicaraan kita waktu lalu?”
“Yang mengatakan kamu selalu disiksa oleh keluarga Alexander?”
“Iya, daddy. Aku ingin mereka merasakan apa yang kurasakan. Penderitaan yang menyiksa sehingga mereka tidak tahan dengan penderitaan itu. Oh iya, kapan daddy akan bertemu dengan Tuan Darius itu?”
“Secepatnya sayang, menunggu perintahmu.”
“Kalau begitu, daddy bisa melakukan pertemuan dengan mereka besok. Karena aku yakin, setelah mereka terkena lemparan kotoran oleh putri mereka, mereka pasti merasa tertekan. Dan saat itulah, daddy datang untuk memutuskan hubungan kerja itu.”
“Ide bagus sayang. Daddy juga sudah dari sebelumnya ingin sekali membatalkan kontrak itu, karena mereka selalu mengkorupsi dana untuk pembangunan. Dan daddy sudah menyiapkan semuanya untuk pertemuan besok dengan pihak mereka.”
Violet mengangguk, walaupun tidak terlihat oleh daddynya.
“Itu bagus daddy, daripada perusahaan daddy terus dirugikan oleh mereka. Aku tunggu hasilnya dari daddy ya.”
“Baik, sayang. Setelah pertemuan besok, daddy akan menghubungimu lagi.”
“Oke, daddy. Oh iya, sebentar lagi jam makan malam. Aku harus segera ke ruang makan. Daddy juga jangan lupa untuk makan malam ya.”
“Iya, sayang. Kalau begitu, daddy tutup teleponnya ya. Selamat malam, sayang.”
“Oke daddy. Selamat malam juga.”
Setelah itu, Violet kembali menyimpan ponselnya di meja nakas. Lalu keluar kamar dan menuju ruang makan.
Setibanya di ruang makan, ternyata Xavier sudah ada di sana, tengah duduk di kursi sambil memegangi sebuah ponsel dengan di temani secangkir kopi, walaupun wajahnya masih ditutupi oleh topeng, tetapi aura yang dipancarkan sungguh berhasil membuat Violet ingin terus menatap dirinya.
Xavier yang merasakan itu, segera mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung menatap Violet yang berdiri di sana.
“Duduklah, Vio.”
Violet langsung kembali tersadar dari lamunannya, dan segera ia berjalan mendekati arah kursi di sebelah kiri Xavier.
Para pelayan satu persatu mulai menyajikan makanan di atas meja makan. Dari Beef Wellington hingga Seafood Pasta, selain itu terdapat juga beberapa dessert berupa salad dan tiramisu. Untuk minumnya Sparkling juice dan Mocktail buah.
“Silakan makan, Tuan, Nona,” ucap salah satu pelayan sambil membungkukkan badan.
Xavier mengangguk pelan.
Mereka pun menikmati makan malam dalam suasana yang relatif tenang. Sesekali hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Tak lama kemudian, makan malam pun selesai.
Para pelayan segera membersihkan meja, sementara Xavier dan Violet masih tetap duduk di kursi masing-masing.
Xavier menyandarkan tubuhnya sejenak sebelum menatap Violet.
“Vio, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”
Violet mengangkat pandangannya.
“Apa itu?”
“Malam ini saya harus keluar untuk mengurus pekerjaan.”
“Haruskah malam ini?”
“Iya, karena ini harus segera diselesaikan malam ini juga.”
Violet mengangguk pelan, seolah ia mengerti.
“Baiklah. Berhati-hatilah, karena ini sudah malam. Jangan mengebut bawa kendaraannya.”
Xavier yang mendapatkan perhatian seperti itu, merasa hatinya sedikit menghangat.
“Iya. Mungkin saya akan pulang larut malam. Jadi, jika sudah mengantuk langsung tidur, jangan menunggu saya.”
“Eummm... iya...”
“Kalau begitu, masuklah ke kamar lebih awal dan jangan tidur terlalu larut.”
Violet tersenyum tipis.
“Baik. Aku akan beristirahat lebih awal.”
Xavier menganggukkan kepalanya.
“Bagus.”
Beberapa saat kemudian, ia berdiri dari kursinya.
“Saya berangkat sekarang.”
“Semoga pekerjaanmu berjalan lancar.”
Xavier hanya memberikan anggukan singkat sebelum melangkah meninggalkan ruang makan.
Tatapan Violet mengikuti kepergiannya hingga sosok pria itu menghilang di balik lorong mansion.
Perlahan, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.
“Kalau begitu... waktunya dimulai.”
“Aerin,” ucapnya dalam hati.
“Iya Vio,” jawab Aerin.
“Pergilah bersama Xavier. Jangan lupa setelah sampai, persiapkan serbuk gatal tingkat tinggi untuk mereka. Jika Xavier hendak menginterogasi mereka, kamu tahan dulu sampai Xavier selesai. Baru, setelah Xavier keluar, kamu sebarkan serbuk itu pada mereka.”
“Siap, Vio. Kalau begitu, Aerin pergi dulu.”
Setelah tidak merasakan keberadaan Aerin, Violet pun pergi meninggalkan ruang makan.
...To be continued.......