Proses Revisi.
Sebelum membaca jangan lupa di Favoritin ❤️ dulu ya Kakak.
"Mas. Sebenarnya cinta kamu itu sebanyak apa sih sama aku, sampai sekarang aku belum percaya punya suami sebaik kamu." Puji Kanaya menatap dalam manik mata Rangga penuh gemas.
"Yang jelas selama kamu bernafas, maka selama itu aku candu padamu sayang. Bahkan ketika alam semesta merebut mu paksa, aku akan tetap hanya candu pada satu nama yaitu Kanaya Herazille, kamu adalah Canduku, cinta mati ku, apapun akan ku lakukan demi kebahagian mu sayang. Aku sangat beruntung, sekalinya aku jatuh cinta, cintaku jatuh di orang yang tepat seperti kamu......" ucap Rasa penuh cinta memandangi wajah istrinya.
.
.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Selalu ikuti dan dukung cerita Kamu adalah Canduku ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hertati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-34
“1, 2, 3, 4, 5, 6, 7.” Gumam Rian. Tangannya terus menekan dada Kanaya, memompanya berharap detak jantung Kanaya bisa berpacu dengan baik. Suara monitor terus berbunyi, membuat Rian semakin panik. Alat defibilitator sudah disiapkan oleh salah satu perawat, Rian mengambil alat kejut jantung itu dari tangan perawat dan menggosoknya "90 Joule…shock!” perintah Rian pada salah satu perawat yang berdiri disampingnya.
Drg!
Tubuh Kanaya terhentak. Beberapa detik kemudian mendadak angka pada layar monitor menurun. Wajah Rian memucat, tangannya keringat dingin.
“1000 Joule…shock!” perintah Rian dengan tergesa-gesa.
Drg!
Tubuh mungil itu terhentak kembali. Namun layar monitor tepat berada diangka 0, seluruh penghuni dikamar itu memucat panik. Rian sudah tak tau lagi harus bagaimana, bingung, bingung, hanya itu yang melayang dipikirannya. Rian menyerahkan alat kejut jantung itu pada perawat yang disisinya, kemudian kembali menekan dadanya Kanaya, entah berapa kali ditekannya namun angka pada layar itu tidak juga berubah.
Rangga yang sedari tadi sudah terduduk lemah dilantai, entah sejak kapan air mata itu sudah jatuh membasahi wajahnya, menyaksikan wanita pujaanya sedang diperjuangkan untuk hidup. Rania dan Vino memang menghalangi dia mendekat pada ranjang Kanaya, takut menggangu aktifitas Rian yang sedang menolong Kanaya. Namun karena suara mesin EKG itu tak berhenti dan melihat angka 0 yang sudah terpampang, membuat gemuruh dihatinya meluap, menyaksikan Rian yang terus menekan dada Kanaya. Posesif, ya sifat itu datang pada Rangga. Dia tak rela tubuh Kanaya lecet karena tekanan dari tangan Rian yang semakin memacu cepat. Dia pun berteriak sekuatnya.
“Hentikaannnnnnnn!” teriak Rangga dengan suara yang sangat kuat.
Semua mata teralih padanya. Kecuali Rian, laki-laki itu tetap fokus pada Kanaya, dia tetap memompa jantung Kanaya melalui tekanan dari tangannya. Rangga semakin marah, dia mendekati Rian, namun ditahan oleh Vino dan Rania yang berdiri disisinya. Dengan emosi yang menggebu-gebu didadanya, dihempaskannya dengan sekuat tenaga pegangan dari tangan Vino dan Rania. Dia berlari kecil mendekati Rian dan melayangkan satu tinju kewajah Rian, hingga sudut bibir tampan itu mengeluarkan darah.
Rania terkejut melihat reaksi kakaknya yang menyakiti kekasihnya itu, ia berlari mendekati Rian yang sudah terhempas jatuh dibawah ranjang Kanaya, dengan memegang wajanya.
Suara pintu kamar terbuka, ternyata dr.James yang baru saja tiba ingin mengecek kondisi Kanaya. Ia sangat terkejut mendapati ruangan itu, ia mendekati ranjang Kanaya, dan matanya tertuju pada layar monitor. Sebagai dokter yang professional dia sepertinya mengerti apa yang sedang terjadi, diletakkannya dengan sembarang tas kerja yang sedang dibawanya, lalu merampas alat kejut jantung itu dari tangan perawat yang sedari tadi diam membisu menyaksikan peristiwa antara kedua laki-laki yang sedang emosi itu. Rangga membiarkan dr.James mengambil alih, merasa dr.James pasti bisa menolong Kanaya.
“1000 Joule..shock!” perintah dr.James dengan membentak para perawat membuat mereka segera membantu dr.James
Drg!
Tubuh Kanaya terhentak kembali. Namun tak memberi reaksi.
“2000 Joule..shock!”
Drg!
Tetap saja belum menunjukkan reaksi. dr.James menghela nafas panjang dengan berat dibarengi gelengan kepala.
Rangga dan Rian tak terima dengan apa yang dilihat langsung oleh matanya sendiri. Hingga Rangga mendekati tubuh Kanaya, menggenggam tangan yang pucat itu dan menghujani ciuman lembut dipunggung tangannya.
“Dokter tolong sekali lagi.” Ucap Rian memohon dengan mengatupkan kedua tangannya pada dr.James.
dr.James memandangi Rian dan Rania bergantian, kemudian memandangi Rangga yang sedang memeluk tubuh Kanaya. Tak tega itu yang dirasakan olehnya.
Rangga berbisik ditelinga Kanaya. “Kanaya kumohon, bertahanlah, segera bangunlah, aku mencintaimu Kanaya, ku mohon, beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu, melindungimu, menyanyangimu, memberikanmu kebahagian, ku mohon jangan tinggalkan aku seperti ini. Ku mohon Kanaya sayang, bangunlah.” Rangga meneteskan air matanya, dan membasahi wajah manis yang sedang pucat itu.
Rangga menatap dr.James dengan sendu, “Dokter tolong, sekali lagi usahakan” ucap Rangga memohon namun tanggannya masih tetap meremas jemari Kanaya dengan erat.
dr.James menganggukan kepala, mencoba kembali sejenak matanya tertutup berdoa dalam hati, "Semoga berhasil " ucapnya. kemudian memerintah kembali.
“3000 Joule..shock!”
Drg!
Tubuh itu tersentak kembali dengan sangat kuat. Hingga Rangga bisa merasakannya.
Layar monitor menunjukkan kemajuan, angka pada monitor itu naik mendekati detak jantung normal.
“Pufttthh!!” helaan nafas lega dari dr.James. "Thank You God" batin dr.James.
Rian dan Rania saling memeluk. Rian menangis dalam pelukan Rania. Rania bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kekasihnya itu. Sedangkan Rangga, dia memeluk tubuh Kanaya dengan erat, memberi ciuman pada kening Kanaya dan kedua pipinya.
“Terimakasih karena sudah memberiku kesempatan” ucapnya dalam hati. Dibelainya rambut Kanaya dengan lembut penuh kasih sayang.
dr.James memandangi Rangga dengan senyuman bahagia. “Muzizat terjadi didepan mataku” ucapnya dalam hati.
Buliran air mata kecil terlihat menetes dari sudut mata wajah wanita yang memucat itu, salah satu perawat melihatnya dan berbisik pada dr.James. Hingga membuat dr.James tersenyum lega.
“Sepertinya pasien akan segera pulih.” ucap dr.James sambil menepuk pundak Rangga yang masih memeluk tubuh Kanaya. Semua mata menoleh pada dr.James.
“Apa maksudnya dokter” ucap Rangga yang sudah melepaskan pelukannya namun tangannya masih menggengam erat tangan Kanaya.
“Pasien terlihat memberikan reaksi” jawab dr.James.
“Reaksi? Reaksi seperti apa dok?” tanya Rania yang sambil mengajak tubuh Rian untuk berdiri.
“Pasien meneteskan air matanya, lihatlah sudut matanya basah karena menangis.” Ucap dr.James sambil menunjukkan sudut mata Kanaya.
Semua melihatnya, ada rasa bahagia dan lega didalam diri mereka. Segala ucapan syukur terucap dalam hati mereka.
“Dokter, apa yang terjadi ? Kenapa dia tiba-tiba seperti itu tadi?” tanya Rangga yang masih penasaran.
“Hal itu biasa terjadi pada pasien yang koma Pak Rangga, bisa jadi kurangnya oksigen pada otak atau sirkulasi pada pembulu darahnya tidak berjalan dengan baik. Sehingga mengakibatkan gangguan pada irama jantung pasien.” jelas dr.James.
dr.James memeriksa kembali keseluruhan tubuh Kanaya, setelah mendapati semua organ vitalnya baik-baik saja. dr.James memberikan suntikan vitamin pada tubuh Kanaya. Selesai memeriksa, dr.James pamit undur diri dan Vino mengantarkannya sampai keparkiran.
Setelah kepergian dr.James dan Vino dari ruangan itu, suasana mendadak hening. Rangga memerintahkan kedua perawat itu untuk beristirahat karena hari sudah mau menjelang malam. Rangga ingin malam ini dia yang menjaga Kanaya.
Tinggalah mereka bertiga didalam ruangan itu, Rangga mengabaikan Rian dan Rania yang diam saja. Dia memilih menarik kursi yang sudah tergeser karena emosinya yang menghantam Rian, merebahkan kepalanya disamping tubuh Kanaya sambil terus menggengam dan mencium punggung tangan itu kembali.
Rian menatap bingung dengan apa yang dilihatnya. Dan memberanikan dirinya untuk memecahkan keheningan diantara mereka.
“Rangga, bolehkah aku bertanya?” ucap Rian
Namun Rangga tak mengabaikannya, dia memilih diam dan berusaha memejamkan matanya.
Rania menatap kasihan pada kekasihnya yang diabaikan oleh kakaknya. Ia pun mengusap lembut lengan Rian, memberi semangat.
“Rangga, aku sadar, aku ini bukan kakak kandung Kanaya, tapi semenjak aku memutuskan mengangkatnya menjadi adikku, aku menyanyanginya dengan sepenuh hatiku. Aku hanya ingin tau sedekat apa hubunganmu dengan Kanaya? Apa yang sudah kau katakan sehingga bisa menolong hidupnya kembali ?” ucap Rian panjang lebar, berharap Rangga memberikannya jawaban.
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊