Dunia Kayra Hana Nur Pramudya dalam satu malam membuat hidupnya jungkir balik. ketika dirinya mendapat pelecehan seksual di malam reuni sekolahnya oleh seorang pria merupankan cinta dalam diam Kayra yang tak lain mantan sahabatnya.
Karena trauma dan sakit hati yang di alami oleh Kayra, Setelah kejadian naas tersebut membuat kedua orang tua nya memutuskan membawa Kayra kembali ke Amerika.
Tiga tahun berlalu Kayra kembali di pertemukan dengan Arjuna mantan sahabat sewaktu SMA dulu. Arjuna sangat terkejut melihat seorang bocah kecil yang sangat begitu mirip dengan wajahnya, bersama dengan Kayra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Tikus dan Kucing kembali
Agi Hari....
Seperti pagi - pagi biasanya sebelum Ayah Rama berangkat bekerja ia akan menyempatkan diri untuk bermain dengan cucu Samata wayangnya.
" Akung Ava mau itut, Akung kelja dong " ucap Dhava dengan polosnya dengan tatapan mata memohon.
Setiap pagi dia selalu akan berkata seperti itu pada Ayah Rama. Ketika melihat Kakek nya yang sudah rapih dengan pakean kantornya.
" Tidak bisa sayang. Kalo Dhava ikut nanti Akung di marahin sama Bos Akung. Nanti kalo Akung di marahin Bos Akung. Akung ngga bisa beliin Dhava mainan " jawab Ayah Rama sambil mengangkat Dhava ke pangkuannya.
" Yah, padahal Ava mau itut. Mau liat tempat kelja Akung. "
" Tapi tak apa, Ava enda itut Akung kelja. Nanti Akung enda bisa beliin mainan ke sukaan Ava lagi " ucap bocah kecil itu dengan polosnya.
" Good boy cucu Akung ini " ucap Ayah Rama lalu memberikan sebuah kecupan bertubi tubi pada pipi tembam Dhava.
" Ah, Akung. Jangan cium - cium Ava. Nanti ganteng Ava ilang " ucap Dhava dengan wajah memberengut kesal. Mendapatkan serangan ciuman bertubi - tubi dari kakeknya itu.
" Pelit banget sih, di cium Akung aja ngga boleh " ucap Ayah Rama kesal melihat cucunya protes.
" Kan Ava cudah mandi jadi enda mau di cium - cium. Tatut nanti ganteng nya Ava luntur, Akung " ucap Bocah kecil itu dengan Narsis.
" Akung juga sudah mandi dan ganteng loh. Kalo di cium banyak - banyak sama Akung, nanti gantengnya Dhava bertambah berkali lipat "
" Benalan Akung, bisa tambah ganteng aku tuh "
" Bener, coba tanya Uti kalo angga percaya "
Bocah kecil berusia 3 tahun itu langsung turun dari pangkuan kakeknya lalu berlari ke arah sang nenek yang sedang menata sarapan pagi mereka di ruang makan.
" Uti, Uti apa benel kalo Ava di cium banyak - banyak cama Akung bisa tambah ganteng ? " tanya bocah kecil itu dengan polos.
Mama Rika terdiam lalu menatap sang suami yang sedang berjalan ke arahnya. Mendapat kode dari suaminya membuat wanita paruh baya langsung mengerti lalu tersenyum kecil pada cucu semata wayangnya tersebut.
" Bener dong sayang. Nanti keganteng nya bertambah dua kali lipat, kalo mau di cium banyak - banyak sama nenek juga " jawab Mama Rika dengan suara meyakinkan.
" Kalo gitu Ava mau di cium banyak - banyak cama Akung cama Uti mulai becok " ucap bocah kecil dengan semangat menggebu - gebu.
Padahalan bocah kecil itu sedang di bohongi oleh Kakek dan Neneknya. Supaya dia mau terus menerus di cium oleh Kakek dan Nenek nya.
Ayah Rama dan Mama Rika tertawa terbahak mendengar perkataan polos daru cucu nya tersebut. Rasa mereka berdua di buat gemas mendengar ucapan Dhava barusan.
☘☘☘
Pukul 15.00 WIB
Kayra sedang sibuk berkutak di dapur membuat beragam masak untuk menyambut bestie nya yang akan datang ku rumahnya nanti setelah mereka semua pulang bekerja.
Karena hari minggu kemarin mereka semua tidak bisa datang berkunjung ke kediaman Kayra. Maka dari itu sepulang bekerja mereka akan datang berkunjung ke rumah baru milik ayah Rama.
" Bi, tolong lihatkan brownies lumer saya ya. Kalo sudah matang angkat saja " ucap Kayra pada asisten rumah tangga nya. Tangan nya masih sibuk mengaduk sambel goreng kentang yang berada di atas kompor.
" Baik, mbak Kay " ucap Asih, asisten rumah tangga baru yang di pekerjaan oleh mama Rika.
Kayra yang sedang sibuk memasak di dapur tiba - tiba saja. Bocah kecil kesayangan datang mencari ke beradaan nya.
" Una, endong " ucap Dhava ketika melihat sang Bunda di dapur, sambil merentangkan tangan nya minta untuk di gendong.
" Aduh Dhava sama Uti dulu ya di ruang tengah. Bunda masih masak ini, nanti kalo gendong Dhava bahaya " ucap Kayra dengan lembut pada putra tampannya itu.
" Enda mau, mau di endong Una " rajuk Dhava yang matanya sudah mulai berkaca - kaca siap untuk menangis.
" Huft " Kayra menghela nafas kasar melihat putranya sudah merajuk seperti ini. Mau tidak mau ia menggendong Dhava sambil memasak.
Kayra angkat tubuh gempal bocah kecil masuk ke dalam gendongannya. Ia kini kembali mengaduk masakannya sambil menggendong Dhava dengan satu tanganya.
Kini perkerjaan semakin berang karena satu tangan nya harus menggendong sang putra.
Pekerjaan yang harus nya yang ia kerjakan sat set cepat selesai. Kini harus labat takut putra kecil itu tak terkena cipratan minyak goreng yang Kayra gunakan untuk menggoreng ayam.
" Dhava sama Uti dulu ya. Bunda ribet nih, kalo goreng ayam sambil gendong kamu " ucap Kayra pada Dhava.
Bocah bertubuh gempal itu menggeleng cepat. Ia malah semakin mengeratkan tubuhnya di gendongan sang bunda.
" Kalo Dhava ngga nurut, Bunda ngga mau belikan Dhava mainan lagi loh " ancam Kayra pada bocah kecil itu.
Kayra tau Dhava ini sedang mencari perhatiannya saja. Karena biasanya ia selalu menemani putranya itu bermain bersama.
Tapi sejak tadi ia sibuk memasak di dapur tak bisa menemani Dhava bermain sejak tadi.
" Enda mau Dhava enda mau " seru bocah itu sambil menggoyangkan kaki dan badannya ke sana kemari.
Huff
Rasanya Kayra ingin menangis sambil guling saja kali melihat Dhava mulai tantrum seperti ini.
" Biyar Bibi saja mbak yang goreng ayam sama tahu, tempe nya. Mungkin Den Dhava kangen du temenin Bundanya main " ucap Bi Asih yang sejak tadi melihat nona mudanya kerepotan memasak sambil menggendong Dhava.
" Terimakasih Bi. Kalo begitu Kay, ke ruang tengah dulu ya " ucap Kayra dengan tidak enak hati pada Bi Asih. Padahal Bi Asih juga masih banyak pekerjan di belakang.
" Sama - sama Mbak. Bibi terusin dulu masaknya biyar cepat selesai " ucap Bi Asih langsung mengambil alih tempat Kayra di depan kompor.
Kayra membawa Dhava ke ruang tengah untuk menemani bocah kecil itu bermain di sana.
Sesampai disana Kayra langsung menurunkan Dhava dari gendongannya, lalu mendudukannya di atas karpet yang ada di ruang tengah.
***
Ting Tong
Mendengar suara bel membuat Kayra dan Dhava langsung menghentikan bermainnya. Membuat ibu dan anak itu saling tatap satu sama lain dengan wajah bingung.
Ini baru jam 15.30 WIB mana mungkin bestie - bestie nya sudah pulang bekerja. Dari pada ia mati penasaran mending di bukan saja pintunya.
Kayra bangkit dari duduknya menuju pintu utama. Tanpa Kayra ketahu di belakang dirinya di ikuti oleh bocah kecil yang selalu mengintilanya kemana pun dia pergi.
Ckelek
Pintu terbuka menampakan sosok Maya yang sedang menyengir ketika pintu terbuka.
" Assalamualaikum, bestie " ucap Maya sambil menyengir lalu menujukan sebuah kota kecil bertuliskan sebuah toko kue yang sangat terkenal.
" Gua kira siapa yang dateng ternyata lo " ucap Kayra sambil memukul pundak Maya pelan.
" Ye lo pikir siapa kalo bukan gua. Kalo yang lain ngga mungkin udah pulang jam segini "
" Siapa tau gitu. Ayo masuk " ajak Kayra sambil menggandeng tangan Maya masuk kedalam.
Ketika mereka berdua masuk betapa terkejut nya Kayra dan Maya melihat Dhava sedang mengintip di balik pintu utama.
" Ayam loncat Ayam loncat" latah Maya sambil bernyikat kaget.
" Astaga Dhava ngapain kamu di situ, sini salim dulu sama tante Maya " ucap Kayra setelah menetralkan daru keterkejutan nya.
Bocah kecil nan lucu itu keluar dari persembunyiannya lalu berjalan ke arah Kayra dan juga Maya.
Tangan kecil Dhava terulur ke arah Maya yang akan menyalami punggung tangan Maya.
Maya yang melihat itu langsung memberikan tangan nya. Sebuah kecupan singkat di punggung tangannya membuat dia tersenyum kecil.
" Kalo kaya gini manis banget deh " ucap Maya sambil mengusap pucuk kepala Dhava.
" Ava enda manis. Soalnya Ava bukan gula " ucap bocah kecil itu dengan jutek sambil melipat kedua tangannya di atas perut buncitnya.
" Yee emang gula doang yang manis. Orang juga bisa manis tahu. Buktinya tante Maya manis kaya gulali " ucap Maya sambil bersikap genit di depan Dhava.
" Ante enda manis tahu, tapi pahit "
Bersambung.....