Carla, gadis berusia 20 tahun harus menerima kenyataan kalau kehidupannya harus berubah 180 derajat setelah kematian kedua orang tuanya. Perusahaan yang bangkrut, sahabat yang menjauh, kerabat yang tak mau menampungnya, juga kekasih yang meninggalkan dirinya di kala jatuh, semakin membuat kehidupan Carla makin terpuruk. Saat itulah hanya Aska Rafasya yang mau berteman dengannya, orang yang selama ini dia rendahkan.
Mampukah Carla menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya?
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang lima-nya.
Follow akun medsos otor.
fb : Samudra Lee
ig : Samudra_Lee_19
Salam sayang Otor ter--KECEH
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JBDC #33
Tepat di depan rumah kontrakan Carla, Aska menghentikan mobilnya. Dia membantu Carla melepaskan seatbelt yang dia pakai kemudian turun dari mobilnya terlebih dulu untuk membukakan pintu mobil.
"Silahkan, Tuan Putri!" Aska mempersilahkan kekasihnya.
"Kamu mau mampir masuk dulu atau mau langsung pulang?" tanya Carla.
"Aku langsung pulang, besok aku akan datang lagi untuk mengantarmu berangkat kerja," jawab Aska.
"Terimakasih ya As," ucap Carla.
"Kamu masuklah! Aku akan pergi setelah kamu masuk ke dalam rumah," seru Aska.
"Kamu hati-hati ya As, jangan lupa hubungi aku saat kamu tiba di rumah."
Aska masuk ke dalam mobil yang dia kendarai setelah memastikan Carla sudah berada di dalam rumah. Dan saat dia hendak menyalakan mesin mobilnya, terdengar dering telepon dari dari gawainya.
"As, kamu dimana?" tanya seseorong dari ujung sana.
"Ada apa kakak menelponku?" jawab Aska yang justru bertanya.
"Apa ini cara seorang adik menjawab telepon dari kakaknya?" tanya orang itu yang berpura-pura marah.
Aska menghela napasnya, "Maafkan aku, Kak!" ucap Aska kemudian.
"Temui aku sekarang! Aku tunggu di tempat biasa!" seru orang yang di panggil Kak itu, dia langsung menutup sambungan telponnya.
"Kebiasaan," omel Aska, dia kembali menaruh gawainya. Aska segera menyalakan mesin mobil yang dia kendari untuk menuju tempat yang di maksud oleh orang yang di panggil Kak olehnya.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya dia sampai di tempat yang di maksud. Dia turun dari mobilnya dan berdiri di samping orang yang dia panggil Kak.
"Sudah sampai?" tanya orang itu tanpa melihat Aska.
"Ada apa Kakak menemuiku? Apa ini soal rapat pemegang saham yang akan di adakan RA Grup minggu depan? Atau Kakak ingin membicaran soal perjodohanku?" tanya Aska.
Orang itu menatap Aska, "Aku menemuimu karena aku merindukan adikku. Sudah 6 bulan lebih dia dan ibunya kabur dari rumah."
Aska tersenyum kecut.
"Tapi aku bukan adik kandung Kakak. Bahkan Tante Liza saja selalu membenciku, dia menganggap aku dan ibu adalah ancaman terbesar untuk Kakak."
"Kamu harus memaklumi mama soal itu. Selama belasan tahun, mama tidak pernah tahu kalau papa sudah menikah lagi dengan ibumu. Jadi wajar kalau dia belum bisa menerima keberadaan kalian di keluarga besar kami," ucap orang yang di panggil Kak itu beralasan.
"Tapi seharusnya, kalau Tante Liza ingin menyalahkan, orang yang patut di salahkan adalah papa dan kakek. Karena ibu bisa menikah dengan papa juga karena persetujuan kakek, walau setelah ibu tahu ternyata papa sudah memiliki istri dan anak. Ibu memilih pergi meninggalkan papa. Dan selama 13 tahun aku dan ibu terlunta-lunta di jalan. Untunglah waktu itu kami bertemu dengan Pak Hadijaya. Itulah hal yang aku syukuri. Aku bisa bertemu dengan Carla, gadis yang berhasil mencuri hatiku hingga saat ini."
Orang itu menepuk punggung Aska, "As, walau kita terlahir dari rahim yang berbeda. Kamu tetaplah adikku. Adik yang aku sayangi sejak pertama kali papa membawamu pulang ke keluarga besar Rafasya. Kita terlahir dari benih yang sama dan kamu tidak bisa mengingkari itu. Jadi lupakan soal sikap mamaku, kita harus saling bahu-membahu mengembangkan perusahaan RA Grup."
Aska mengangguk.
"Kamu tidak ingin mengenalkan gadis yang kamu cintai pada Kakakmu ini?" tanya Kakak Aska.
"Kapan-kapan aku pasti mengenalkannya pada Kak Refan," jawab Aska kepada Kakaknya bernama Refan.
"Tapi bagaimana dengan jodoh yang disiapkan oleh kakek untukku?"
"Biar aku yang berbicara pada Kakek," jawab Refan.
"Terimakasih ya, Kak," ucap Aska.
Malam itu, Refan dan Aska menghabiskan waktu mereka bersama.
karena aku lope lope sama karyamu kak..
sukaa banget..
walopun konflik datang silih berganti, tapi penyelesaian g bertele-tele, langsung to the point..
good job kakak.. 🥰
tetap semangat menulis karya2 lainnya ya kak.. 💪🏻
semoga sehat selalu.. 😘