NovelToon NovelToon
Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Angst / Aliansi Pernikahan / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:408k
Nilai: 4.8
Nama Author: Kirana Pramudya

Untuk menikahi gadis yang dia cintai justru membuat Evan Agastya terjerat dalam sebuah hubungan pelik dan menyakitkan. Pernikahan kontrak yang mau tidak mau harus Evan lakukan untuk menikah gadis pilihan hatinya.

Dapatkah Evan menjalani pernikahan kontrak tanpa melibatkan hatinya?

"Menikah bukan kontrak perjanjian, melainkan persembahan diri tanpa syarat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perseteruan

"Kecentilan banget sih diantar suami orang," ucap Arine yang menatap tajam kepada Andin.

Andin memilih sama sekali tidak menghiraukan Arine. Gadis itu memilih berlalu dan menjauh dari Arine. Bagaimana pun dia adalah kakaknya, jadi Andin lebih baik untuk menjauhi Arine saja. Andin juga tidak ingin membalas ucapan pedas kakaknya itu. Bukankah aneh? Semula Arine berbicara bahwa dia menginginkan pernikahan ini, tetapi kenapa sekarang Arine berubah sikap? Kenapa sekarang Arine mengatakan bahwa seolah-olah Evan adalah suaminya? Sedari awal Andin yang terlebih dahulu mengenal Evan, tetapi kenapa Kakaknya itu justru melakukan hal yang sebaliknya.

"Hei, kalau diajak bicara itu direspons, jangan diam saja," balas Arine lagi.

Kini Andin menghela nafas, dan akhirnya dia berbalik dan melihat kakaknya yang beberapa langkah jaraknya di belakangnya. Andin kemudian menatap wajah kakaknya itu.

"Kak, sebaiknya tidak usah berpura-pura. Bagaimana pun kamu hanya istrinya kontrak. Ingat Kak ... kontrak," balas Andin.

Seakan Andin memperjelas posisi Arine di dalam hidup Evan. Hanya sekadar istri kontrak dan tidak lebih. Namun, apa yang disampaikan Andin agaknya menyulut emosi Arine. Wanita itu terlihat geram dan menatap tajam kepada Andin.

"Tutup mulutmu itu, Ndin ... bagaimana pun kami menikah, dan kamu tidak seharusnya berada di antara kami," balas Arine.

"Bukankah kakak yang terlebih dahulu ada di antara kami?" tanya Andin. "Perlu aku ingatkan sekali lagi ya Kak ... Pak Evan hanya suka kepadaku, dia yang datang dan ingin menikah denganku. Namun, apa Kak ... Kakak yang mengaku hamil entah itu anak dari siapa dan kemudian melakukan pernikahan kontrak ini? Kenapa sih Kak, Kakak selalu mengambil apa yang aku miliki? Kenapa sih Kak, Kakak selalu merebut apa yang sebenarnya menjadi milikku? Belum cukup dengan semuanya yang sudah Kakak ambil mulai dari baju, boneka, pita, dan sekarang Pak Evan. Belum cukup Kak?"

Andin sudah tak mampu menahan lagi. Hubungan yang semula hanya kontrak, nyatanya memang pelik. Kini bahkan perubahan sikap Arine yang begitu drastis membuat Andin terpojokkan. Dia yang kali pertama mengenal Evan. Dia yang kali pertama menerima Evan untuk serius dengannya, tetapi semua berakhir dengan petaka.

Rupanya pertengkaran Andin dan Arine didengar juga oleh Papa Miko yang saat itu pulang juga dari kantor. Papa Miko segera bergabung dengan kedua putranya yang sedang berseteruan itu.

"Kalian ini kenapa sih?" tanya Papa Miko.

"Dia itu Pa ... kecentilan waktu diantar suami Arine pulang. Ini tidak benar, Pa ... walaupun kami menikah kontrak, tidak seharus Andin berada di antara kami berdua. Untuk 12 bulan ini Evan adalah suami Arine," balasnya.

"Kak, aku yang terlebih dahulu mengenalnya. Aku yang seharusnya mendampinginya sekarang ini," sahut Andin.

"Diam Andin ... yang diucapkan Arine benar. Hargai pernikahan ini untuk 12 bulan ke depan. Jangan bermain hati dengan Evan," ucap Papa Miko.

Makin tersudutlah posisi Arine sekarang. Bahkan Papanya sendiri terlihat jelas memihak kepada Arine. Dirinya layaknya seorang anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Papanya. Mencoba mendapatkan perhatian pun yang ada juga hanya Arine yang selalu disayangi oleh Papanya itu.

"Papa tidak pernah bisa bersikap adil kepada Andin dan Kak Arine. Selalu dan selalu saja yang Papa sayangi dan Papa bela hanyalah Kak Arine. Sebenarnya Andin ini apakah bukan anak Papa? Hingga Papa selalu memperlakukan Andin dengan tidak adil," ucapnya.

"Tutup mulutmu Andin ... jelas-jelas di sini kamulah yang bersalah. Seharusnya kamu bisa bilang kepada atasanmu itu tidak usah repot-repot mengantarkanmu. Lagipula, kamu sendiri membawa mobil bukan? Untuk apa membiarkan atasanmu itu untuk mengantarmu?" Papa Miko membalas dan mempertanyakan bahwa Andin bukannya membawa mobil.

Air mata Andin pun tak bisa ditahan lagi. Jikalau dulu, dia berada di rumah, tetapi seolah hilang karena tak mendapatkan kasih sayang secara utuh dan penuh. Sekarang, Andin justru tersudutkan. Dekat dengan Evan, justru kini Papa dan Kakaknya menyudutkannya. Memintanya untuk menghargai pernikahan yang terjadi. Ya Tuhan, Andin benar-benar tidak tahu dengan skenario apa yang sebenarnya sudah disusun oleh Papanya itu. Kenapa dirinya yang selalu disudutkan? Kenapa dirinya yang tak pernah menjadi pembelaan dari Papanya sendiri?

"Lain kali, bilang kepada atasanmu itu untuk menghargai pernikahan. Walau kontrak, tetapi harus ada yang dihargai di sini. Tahan untuk dua belas bulan. Tahan untuk tidak ganjen dan kecentilan dengan Evan," ucap Papa Miko lagi.

Andin yang sudah begitu dongkol memilih meninggalkan Papa dan Kakaknya. Gadis itu berlalu begitu saja dan masuk ke dalam kamarnya. Andin memilih langsung tengkurap di atas ranjangnya, membenamkan wajah yang penuh dengan air mata di sana.

"Aku ini sebenarnya anak kandung atau tidak? Kenapa Papa selalu memperlakukanku dengan tidak adil. Kenapa rasanya aku tertolak sejak kecil oleh Papaku sendiri. Sekarang, aku pun harus menjaga jarak darimu, Pak Evan. Bungaku yang nyaris bermekaran, kini aku sendiri yang harus mencabutnya dan membuangnya. Maafkan aku Pak Evan, mulai besok aku akan menjauh darimu. Peraturan apa ini, untuk dua belas bulan ke depan aku tidak boleh ganjen dan kecentilan denganmu," ucapnya disertai dengan isakan.

Cukup lama Andin berdiam di dalam kamar, hingga terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.

"Andin ... buka Sayang ... ini Mama," panggil Mama Tika yang kali itu datang.

Namun, Andin merasa tidak perlu membukakan pintu untuk Mamanya itu karena memang pasti Mamanya hanya mengatakan supaya dia bersabar. Dalam 21 tahun, Andin bukannya selalu bersabar. Tidak mendapatkan kasih sayang secara penuh dari orang tua, waktu 21 tahun bukankah waktu yang lama?

"Andin ... Mama masuk yah," ucap Mama Tika lagi.

Merasa tidak ada tanda-tanda pintu dibuka, Mama Tika membuka pintu kamar Andin dan mencari di mana putri bungsunya itu berada. Mama Tika menghela nafas saat mengetahui Andin yang tengkurap di atas tempat tidurnya, menyembunyikan wajahnya di antara tumpukan bantal di sana.

"Andin, sabar Nak ...."

Mama Tika datang untuk menenangkan putrinya itu. Tangan sang Mama terulur dan segera memberikan usapan di kepala Andin dengan begitu lembut. Namun, Andin masih menyembunyikan wajahnya di sana.

"Sabar ... turuti saja apa yang diucapkan Papamu," ucap Mama Tika lagi.

"Sampai kapan Andin harus menuruti semuanya ini Ma?" balasnya dengan terisak.

"Sampai Papamu terketuk hatinya ... sampai kamu menikah nanti ada pria yang bertanggung jawab secara penuh dalam hidupmu," balas Mama Tika.

"Andin ini sebenarnya anak Papa tidak sih Ma? Kenapa Papa memperlakukan Andin dan Kakak sangat berbeda. Sedari kecil, kenapa yang disayang hanya Kak Arine saja, dan Andin selalu tak mendapatkan kasih sayang dari Papa? Kenapa kadang Andin merasa bahwa Andin bukan bagian dari keluarga ini," ucapnya dengan tergugu pilu dalam tangisannya.

"Jangan berbicara seperti itu, Din ... kami keluargamu," balas Mama Tika.

"Keluarga seperti apa Ma? Keluarga yang tidak bisa memberikan kasih sayang yang adil untuk kedua anaknya? Atau keluarga yang hanya memprioritaskan anak yang sulung. Ini keluarga yang seperti apa Ma?" balas Andin.

Andin benar-benar tidak mengerti di mana konsep keluarga di dalamnya para anggota keluarga bisa hidup berdampingan dan membagi kasih. Kasih sayang yang adil bukan menuntut sama besar. Jika si Sulung 50, maka si Bungsu juga harus 50. Bukan seperti itu, tetapi adil membagi kasih sayang, adil memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anak. Anak satu dan lainnya memiliki kebutuhannya sendiri, dan orang tuanya yang harus peka dan melihat apa yang menjadi kebutuhan utama anak.

"Di rumah besar ini, Andin tak hayal hanya menjadi kuman di pelupuk mata Papa. Tak terlihat, tetapi mengganggu. Katakan Ma ... mungkinkah Andin ini bukan anak Papa?" tanya Andin lagi.

Dengan cepat Mama Tika menggelengkan kepalanya, "Sssttts, jangan bicara seperti itu Ndin ... kamu adalah anak kami, kamu adalah putri Sukmajaya," balas Mama Tika.

"Kenapa Andin merasa kasih sayang yang Papa berikan selalu untuk Kak Arine saja, dan Andin tidak. Bahkan sekarang Papa meminta Andin untuk menghargai pernikahan Kak Arine dan Pak Evan. Kenapa semua yang harusnya menjadi milik Andin harus Andin lepaskan dan dipindah alihkan menjadi milik Kak Arine," ucapnya dengan dada yang begitu sesak.

Jika tersakiti dan tidak dicintai secara penuh sudah menjadi hal yang biasa bagi Andin. Akan tetapi, kala dirinya diminta untuk menghargai pernikahan Kakaknya apakah itu benar? Berdiri di antara cinta dan ikatan persaudaraan membuat Andin merasa sesak, pedih, dan hanya luka yang menggores hatinya secara dalam.

1
Nurul Qomariyah
apa ini dah tamat ? kok nanggung.....
Nur Inuhan
waah,,,, ada Revendra Kho AQ seneng yaa Ravendra nongol dicerita ini.semangat Othor sukses selalu
Nur Inuhan
oh ini toh kisahnya Evan Agastya & Andini, yg ada ceritanya di " Istri tak tergapai" berarti Ravendra Jaya Wardhana sdh kerja di Agastya Property yaa, dan Andini kuliah dosennya Arsyilla. nanti Ravendra n Evan tetanggaan yaa. ok deh sukses selalu Othor AQ dah baca sebagian karyamu.
Erny
Selamat ya Andin perjuangan kamu akhirnya berhasil, semoga kamu dan dede baby sehat selalu sampai persalinan
Erny
Lanjut dong up nya
Erny
Alhamdulillah selamat ya Andin & Evan semoga sehat selalu
Erny
Semoga saja kabar baik Andin, biasanya sih gejala seperti itu tandanya ada kehidupan baru di dlm rahim 😘
Erny
Selamat ya mama Arine dan papa Rendra, tapi setelah melahirkan harus nikah kembali
Erny
Bener banget tuh dlm rumah tangga komunikasi itu penting sekali
Erny
Katanya pengen cepat punya baby tapi kok gak peka sih Andin, ikuti dong anjuran dokter biar mas Evan juga gak uring-uringan
Erny
Kamu masih beruntung Andin di saat kamu kehilangan ibu ada mama Tika yg menyayangi mu dgn tulus meskipun kamu bukan anak kandung nya, Tuhan itu maha adil
Erny
seharusnya Andini disayang pak Miko karena dia buah cinta kalian bukannya malah di benci, itu adalah takdir bukan karena Andini penyebabnya
Erny
Alur ceritanya bagus bisa di jadikan sebagai contoh dlm kehidupan kita karena banyak pelajaran yg bisa di ambil. Dari segi kehidupan rumah tangga, mendidi anak agar berwawasan luas dan memiliki kepribadian yg baik, mengajarkan hidup sederhana dan banyak lagi yang bisa di contoh.
Erny
Ada ya orang tua seperti itu yg memikirkan harta saja tanpa mau memikirkan kebahagiaan anak nya, padahal kebahagiaan seseorang tidak bisa di ukur dgn harta yang berlimpah tp dgn hidup sederhana & saling mencintai itu yg utama
Erny
Gak usah sok suci papa Miko semua orang punya masa lalu, manusia kan gak ada yg sempurna
Erny
Semangat Evan sekarang ada yg akan menyambut kepulangan mu di rumah dan capek nya pasti hilang begitu disambut dengan senyuman istrinya
Erny
Kesabaran yg berbuah manis
Erny
Jangan - janga papa Miko punya rencana terselubung dan sepertinya
ada perbedaan kasih sayang antara Andini dan kakak nya atau mungkin Andini bukan anak kandung
Erny
Semoga berhasil Evan 💪💪💪
Erny
Lanjut thor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!