Cinta itu bukan hanya rumit, tapi juga sakit.
Itulah yang Bianca Putri Bramantya rasakan karena mencintai lelaki yang berstatus saudara sepupunya sendiri. Parahnya lagi sang saudara sepupu sudah memiliki tunangan yang cantik dan seksi.
Menahan perasaannya bertahun-tahun, hingga di suatu titik secara spontan Bianca mengungkapkan cintanya pada Keenan Bramantya.
Keenan adalah sosok kakak yang paling dekat dengan Bianca meskipun Bianca memiliki dua Kakak kandung yang kembar namun tidak identik, yaitu Bhima dan Bhumi.
Ujian keluarga yang bertubi-tubi datang di masa lalu, membuat kedua orang tua Bianca mempercayakan Bianca pada sang Oma juga Keenan, anak lelaki tertua di keluarga Bramantya.
Hingga waktu terus berjalan, Bhima dan Bhumi harus menempuh pendidikan ke luar negeri karena satu dan lain hal.
Semua itu membuat Keenan semakin dekat dengan Bianca.
Keenan yang selalu perhatian dan overprotektif pada Bianca hingga membuat Bianca baper, kini semuanya berubah. Keenan bagaikan orang asing untuknya.
iya, Bianca memutuskan menjauh dan melepaskan perasaanya untuk kebaikan bersama.
-
Ada yang lebih susah dari menahan perasaan cinta yaitu menahan benda tumpul yang bergejolak karena kepolosan Bianca! Itulah yang Keenan rasakan, lelaki minim akhlak yang hatinya seakan berada di persimpangan jalan.
Apapun bisa Bianca beli dan dapatkan karena di merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga konglomerat BRAMANTYA,
Tapi apakah Bianca bisa mendapatkan cinta Keenan? Kalau tidak bisa.. lalu siapakah jodoh seorang Bianca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kanjeng_galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan kakak dan Adik
Makan malam keluarga yang sudah di rencanakan itupun menguap begitu saja sebab sore tadi Oma Rani dan Oma Intan langsung terbang ke luar negeri setelah mendapat kabar dari Papi Gema jika kondisi mami Naya memburuk dan mereka harus segera membawa mami Naya ke Jerman.
Papi Gema sengaja tidak memberitahu kondisi Mami Naya saat ini pada anak-anaknya sebelum mereka sampai ke Jerman. Dan Papi Gema juga menyerahkan segala urusannya pada Papa Genta dan Mama Bela.
Sedangkan kondisi di apartemen sudah cukup kondusif setelah Keenan keluar dari apartemen Bianca. Tidak ada air mata patah hati lagi dari Bianca, dan justru Bianca tersenyum melihat Bhumi dan Geva ada disampingnya setelah Raya berpamitan pulang karena ada janji dengan Jordi.
"Eh kok gak jadi makan malam ya?" Tanya Geva membaca pesan yang dikirimkan mama Bela.
"Katanya Oma lagi pergi ke luar negeri mendadak." Jawab Bhumi.
"Duo oma ku emang luar biasa." Bianca terkekeh. Ah untung Oma nya pergi jadi gak perlu rempong kalau nanti ada yang lapor bahwa Bianca pingsan di lobby apartemen. Dan lagi, Bianca gak perlu pura-pura tersenyum lagi jika makan malam bertemu dengan Keenan dan Alona.
ah Alona, wanita itu meskipun sakit dan membuat Bianca prihatin, ternyata sangat menyebalkan.
"Bagaimana perutmu kak? apa masih perih? masih pusing? atau bagaimana?" Tanya Geva.
"Sudah jauh lebih baik setelah minum obat dan vitamin Ge, makasih ya.."
"Syukurlah."
" Jangan berlaku bodoh lagi.. kakak gak mau kamu seperti ini lagi hanya karena cinta, karena menurutku semua orang di muka bumi ini pasti pernah merasakan yang namanya patah hati, jadi jangan merasa menjadi orang paling sedih di dunia ini." Kata Bhumi menatap adiknya dengan intens.
" Maafkan aku kak.. aku salah. Harusnya aku gak menyiksa diriku seperti ini. Dulu kakak udah berkorban banyak untuk menyelamatkan aku, tapi sekarang hanya karena cinta aku menyia-nyiakan waktuku dan hidupku. Oh bodohnya aku." Bhumi tersenyum dan mengusap rambut Bianca dengan lembut.
"Perlahan saja, jangan paksakan. Nanti kamu juga akan melupakannya." Bianca mengangguk.
"Ya.. kita memang gak bisa memilih jatuh cinta pada siapa, tapi kita bisa memilih untuk mengambil keputusan dan bagaimana bersikap. Dan ini adalah proses awal pendewasaan ku kak. Aku akan menikmatinya, aku gak mau jadi anak manja lagi!"
"Jadilah wanita kuat yang tidak mudah lemah pada perasaan seperti Gevania yang akhirnya bisa buat kakak bertekuk lutut padanya." Bhumi mengecup kening Bianca sambil melirik Geva yang berkaca-kaca melihat momen romantis antara kakak dan adik itu. Momen itu mengingatkan Geva akan kebersamaannya dengan Deon, kakak kandungnya yang sudah di usir dari rumah oleh orang tuanya.
"Kak.. aku keluar dulu ya, butuh udara segar." Ucap Geva tiba-tiba.
Bianca mengernyit menatap wajah Geva yang sendu. Apakah Geva cemburu karena Bhumi memperhatikan dirinya saat ini?
Ah entahlah, karena perhatian Keenan padanya yang membuat Alona cemburu hingga bipolar membuat Bianca lebih peka untuk menjaga perasaan orang lain.
"Mau kemana sayang?" Tanya Bhumi.
"Aku mau ke tempat favorit aku saat disini sambil lihat bintang dan menikmati udara malam dari lantai 33 juga sambil merindukan seseorang." Jawab Geva, Bhumi mengangguk mengerti siapa orang yang Geva rindukan saat ini.
"Kakak temani Gege aja." kata Bianca merasa tidak enak pada Geva saat Bhumi justru lebih memilih menemaninya saat ini.
"No.. no.. no.. nikmati waktu kalian, aku mau me time dengan banyak makanan di kulkas kak Caca, aku mau habiskan makanan di kulkas kak Caca, jangan ganggu aku ya." Ucap Geva tersenyum lalu berlalu begitu saja.
"Anak itu, harusnya sudah tidak memanggil kamu dengan sebutan kakak lagi, meskipun usianya dibawah kamu tapi dia kan kakak ipar kamu." Gerutu Bhumi membuat Bianca terkekeh, kakak ipar Bianca satu itu emang suka-sukanya sendiri, gak mau diatur.
"Kak Bhum temani Gege gih!" Perintah Bianca.
"Biarkan saja, dia sedang ingin me time karena merindukan si pengecut Gedeon." Jawab Bhumi dengan santainya karena tahu Geva paling betah duduk di pinggir kolam renang yang berada di lantai 33 sebagai penghubung unit-unit apartemen yang ada di lantai itu.
"Oh syukurlah." Kata Bianca.
"Apa rencana kamu kedepannya?" Tanya Bhumi tiba-tiba dengan wajah serius. Bianca menengok menatap wajah kakaknya yang paling cuek dan dingin itu.
" Aku mau segera menyelesaikan pendidikan aku disini dan aku mau melanjutkannya di luar negeri. Aku mau mencari jati diri aku kak, aku mau suasana baru dan lingkungan yang baru. Kedengarannya sih terlambat ya, mencari jati diri di usia hampir 22 tahun." Bianca seperti ragu dengan rencananya takut Bhumi akan melarangnya.
"Pilihan yang bagus.. kakak akan mendukung kamu, tapi jangan larang kakak untuk selalu menjaga kamu dimana pun kamu berada. Kakak janji gak akan mengekang kamu lagi!" Bianca tidak percaya dengan apa yang Bhumi ucapakan.
"Be.. benarkah kakak setuju dengan rencana ku?" Senyum Bianca semakin lebar, jika Bhumi setuju maka dengan mudah Bhumi membujuk Papi Gema juga menyetujuinya.
"Kenapa nggak? Kita semua sudah salah memperlakukan kamu selama ini, dengan alasan sayang dan ingin menjaga kamu justru kita membuat kamu seperti terpenjara. Kamu gak bisa menjadi diri kamu sendiri. Dan kamu kehilangan masa-masa remaja kamu yang harusnya sangat berkesan." Kata Bhumi mengingat ocehan demi ocehan sang istri kemarin.
Bhumi menghembuskan nafasnya kasar,
"Papi dan Mami juga demikian, mereka memang mencurahkan segala kasih sayangnya sama kamu tapi mereka lupa mendidik kamu untuk menjadi kuat agar bisa bertahan ketika ujian kehidupan itu datang. Karena sejatinya manusia tidak bisa menghindari ujian yang sudah Tuhan berikan. Apalagi ujian setelah pernikahan."
"Gak ada orang tua yang sempurna kak, gak ada juga kakak atau adik yang sempurna. Tapi aku sangat bersyukur memiliki keluarga seperti kalian, aku gak pernah menyesal dilahirkan diantara kalian meskipun sering kesal karena gak boleh ini itu hehehe...."
"Adik aku ternyata sudah bisa berpikir sedikit dewasa, sudah gak manja lagi ya? tapi sayang, patah hati sampai pingsan gara-gara gak ***** makan dan gak bisa tidur!" ejek Bhumi pada adiknya.
"Kakak...! " Rengek Bianca yang langsung dipeluk Bhumi.
"Maafkan kakak yang kurang perhatian sama kamu ya... kakak gak pernah tahu bagaimana perasaan kamu, apalagi sejak kejadian itu, dan Papi Mami maksa kakak dan Bhima kuliah dan tinggal di luar negeri. mulai sekarang kakak akan dukung apapun yang kamu pilih asal itu terbaik."
Bianca tersenyum,
"Tidak masalah kak, sekarang prioritas kakak adalah Gege. Kakak harus percaya sama aku kalau aku bisa jaga diri aku sendiri, dan aku bisa segera move on!"
Kakak dan adik itu terus saja mengobrol menikmati momen yang sangat jarang mereka dapatkan karena kesibukan masing-masing.
"Kapan target kamu menikah?" Tanya Bhumi.
"Belum kepikiran, aku mau menikmati kesendirian aku dulu, mau menikmati hidup aku dulu tanpa terikat pada sebuah status sampai ada seseorang yang bisa membuatku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku dengannya."
"Dari mana kamu belajar kalimat semanis itu? Hem?" Tanya Bhumi.
"Dari kak Alex."
"Masih kamu berhubungan sama Alex?" Tanya Bhumi yang tahu jika salah satu sahabatnya itu menyukai Bianca sejak lama.
"Sesekali chatting sih.."
"Kamu nyaman sama dia?"
"Biasa aja sih kak.." Entahlah Bhumi merasa lega mendengar jawaban adiknya, Alex memang baik, tapi dia Cassanova.
"Kalau sama si Fahmi Fahmi itu yang tadi Raya ceritakan?"
"Aku baru mengenalnya kak, aku gak mau berpikir terlalu jauh, prioritas aku saat ini segera menyelesaikan pendidikan aku."
"Biar bisa segera kabur ke luar negeri gak ketemu kak Keen yang akan menikah dengan Alona?" Tanya Bhumi tanpa filter membuat Bianca mendengus kesal.
"Kenapa sih sebut-sebut nama itu?" Bukan menjawab Bhumi justru tertawa terbahak-bahak melihat wajah adiknya yang salah tingkah bercampur jengkel.
"Kakak prediksi, sepertinya si manja ini bakal cukup sulit move on dari sosok Keenan Bramantya!"
"Nggak! Akan aku buktikan ya, nanti pas hari pernikahan mereka aku udah move on meskipun tanpa gandengan dan yang pasti akan di ejek sama kak Alona!"
"Ya semoga saja, kakak pegang ucapan kamu ya."
BERSAMBUNG..
LIKE
KOMENTAR
VOTE
HADIAH
untuk yg sudah dapat semoga bisa menjaganya dengan sebaik-baiknya seperti
1. Papi Gema + Mami Naya
2. Papa Genta + Mama Bela
3. Papa Arsa + Mama Rachel
4. Bhima + Flower
5. Bhumi + Gevania
6. Revan + Alona
kurang srek sama bianca...terlalu cinta ama sepupu sendiri..gk masuk diakal...maaf iy thor
semangat berkarya🙏🙏