“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”
“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."
genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY
tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE
[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?
"We get dirty so the world stays clean."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Silly
"Bukankah tidak sopan meninggalkan tunanganmu bersama perempuan lain?"
Suara itu lembut, dalam, dan rendah, bertiup dari belakang dan mendengungkan telinga kirinya dengan sensasi menggelitik yang sulit diungkapkan.
Zeze menoleh ke sumbernya dan membeku, terkejut kala mendapati betapa dekat wajah Kion dengan wajahnya.
Mereka kesulitan berpaling. Zeze terbungkam pada gagasan bahwa tidak pernah ia berada sedekat itu di hadapan mata seseorang, hingga ia dapat melihat cincin berwarna coklat keemasan di dalam iris hijau samudra. Perpaduan unik yang membuat warnanya menjadi hazel.
Suara yang menghidupkan ruangan telah lenyap dari telinga mereka, membuat keduanya merasa seperti sedang terjebak di dalam sebuah dunia baru berwujud kotak putih, tanpa ada seorang pun.
Tak seorang pun, sampai suara Froura meluruhkan dunia putih itu.
"Yang Mulia, ruangan istirahat telah siap. Apa Anda ingin ke sana sekarang?" Tanyanya polos.
Sepertinya gadis itu perlu belajar lagi dalam membaca situasi. Bahkan waktu Saga, Juni, dan Obi memberinya isyarat melalui gelengan kepala, Froura tetap mengalirkan kalimatnya.
Kion dan Zeze tersentak dan menoleh kilat ke belakang. Froura hanya memberi mereka tatapan datar. Karena tak kunjung dijawab, ia pun mengulang, "Yang Mulia?" Ditatapnya Kion dan Zeze bergantian.
Zeze berdeham canggung dan menjauhkan diri dari kehangatan yang membakar satu sisi tubuhnya, "Ayo... berangkat."
Semua rombongan sepakat menuju ruang istirahat bersama-sama. Setibanya di lorong penuh pintu dengan bingkai-bingkai kaca berisi pedang ditempatkan disepanjang tembok, Zeze mengusir lengan Kion dari pinggangnya dan berderap mendahuluinya.
Juni mendekat pada Zeze dan berbisik di kupingnya sambil menyeringai, "Apakah dia setampan itu, Ze? Kau bahkan sampai berhenti berfungsi. Kukira kau rusak."
"Berhenti bicara omong kosong."
"Aku cukup menyukainya, pangeran itu," kini giliran Rhea, "Pembawaannya sopan dan santun, selalu menanggapi ucapanku dengan sungguh-sungguh ketika aku mengajaknya bicara."
"Benar," timpal Juni, mengangguk, "Selama ini aku mengira dia adalah orang yang berjarak."
"Mungkin karena karakternya yang pendiam."
Zeze akhirnya bisa menemukan ketenangan setelah tiba di sebuah ruangan berdinding kuning berisi tiga set sofa emas yang disusun membentuk huruf U, dan dua buah single sofa di masing-masing ujungnya.
Kion duduk di sebuah single sofa diikuti Saga yang menempati single sofa satunya, sehingga keduanya duduk berhadap-hadapan. Luna, Volta, dan Airo menempati sofa yang terletak di seberang Zeze, Obi, Juni, dan Rhea. Sementara Froura dan Driko mengambil sofa yang tersisa, yakni sofa tengah yang menghadap ke pintu masuk.
Pesta masih akan berlangsung hingga satu setengah jam ke depan, Zeze telah memutuskan bahwa ia akan tidur paling tidak sepuluh menit sebelum kembali ke aula utama di saat yang lain sibuk mengobrol dan bermain game. Namun bunyi bantingan pintu menggagalkan rencananya.
Mereka semua serempak menoleh ke pintu, tampaklah visual sang tokoh utama pesta yang menyeringai lebar hingga memamerkan deretan gigi putihnya.
"Halo semuanya!"
Semua orang langsung berdiri menyambutnya, terkecuali Zeze, Kion, dan Obi, yang kembali pada kegiatan mereka sebelumnya. Hal yang menahan Obi adalah online game—ia sibuk melawan musuh-musuh sendirian sebab Airo dan Saga melimpahkan semua urusan kepadanya begitu saja.
Tanpa memedulikan orang-orang yang tengah membungkuk kepadanya, Silian langsung menyerbu leher Kion dari belakang. "Kiooon!"
Mata Kion terbuka paksa, lalu menyendu. "Lian," gumamnya dengan suara yang terdengar letih.
"Aku belum puas mengobrol denganmu," Silian terkekeh manja.
"Mohon maafkan ketidaksopanan saya Tuan Putri, tapi seharusnya Anda sudah tahu bahwa Pangeran Kion telah bertunangan. Sebaiknya Anda menghentikan tindakan semacam ini untuk ke depannya demi kebaikan bersama."
Waktu mendengar suara Luna, Zeze refleks membuka matanya, terkejut dan tidak menyangka Luna berani melayangkan teguran kepada seorang keturunan kerajaan. Zeze agak menyukai tindakannya itu.
Bibir Silian mencebik, nyaris mengomeli Luna saat matanya tak sengaja menangkap sosok Zeze yang bergerak di ujung sofa seberang. Ia mengangkat dagunya ke arah Zeze dengan sikap menantang, namun Zeze sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia peduli, perhatiannya tercurah penuh pada ponsel.
Silian yang merasa diabaikan tentunya tidak terima. Ia melepaskan pelukan dari leher Kion dan dengan angkuh bertitah, "Kalian semua boleh duduk."
Mereka pun kembali duduk dengan benak waspada. Desah lega lolos dari mulut Obi setelah Airo dan Saga kembali bergabung dengannya.
"Lama tidak bertemu, ya? Rozeale Ankhatia," sapa Putri Silian, menekankan 'Ankhatia' dengan sinis.
Zeze hanya mengangguk sekali tanpa berpaling dari pesan-pesan kocak penghilang stres yang dikirimkan oleh Zafth, sehingga deretan gigi Silian menggertak dengan kesal.
"Aku masih tidak menyangka darah kotor sepertimu akhirnya muncul sebagai seorang Ankhatia. Sampai sekarang aku masih penasaran siapa ayahmu. Mungkinkah seorang kriminal?" Silian menebak asal-asalan sambil terkekeh kering.
"Tidak perlu khawatir, yang kutahu dia selalu berhasil lolos dari balik jeruji," Zeze bergumam santai. Para anak bangsawan itu terperanjat, tak terkecuali Silian yang wajahnya menjadi pasi. Mereka tak bisa menentukan apakah ucapan itu serius atau tidak.
Silian menolak diperdaya oleh sihirnya. Sudah cukup sewaktu kecil ia sering dipermainkan oleh gadis itu. Kali ini ia tidak akan jatuh ke dalam perangkap lagi! Kini saatnya pembalasan!
Dengan penuh percaya diri, Silian berderap ke belakang sofa yang diduduki Zeze, menjejakkan kedua sikunya pada sandaran sofa di dekat kepala Zeze, lalu menopang kedua pipi chubby-nya dengan telapak tangan. Rambut merah panjangnya jatuh di pundak kanan Zeze saat dia menunduk untuk berbisik.
"Bagaimana kabar anak laki-laki itu? Aku tahu kau masih menyukainya."
Zeze mengangkat wajah, menatap kosong ke depan, tapi telinganya tetap berpusat pada omong kosong yang akan dimuntahkan oleh nenek sihir di belakangnya itu.
"Kau tahu, aku bisa menawarimu bantuan," Silian tersenyum meremehkan, seolah ia punya seluruh kuasa di dunia. "Aku bisa membantumu membatalkan pertunangan dengan Kion dan—"
Ucapan Silian terputus digantikan dengan erangan dan rintihan.
Alasannya cuma satu: Zeze sedang menjambak rambutnya!
Rambut merah itu dia tarik tanpa menoleh ke belakang, walaupun ia yakin akan sangat mengasyikan bila bisa melihat wajahnya yang sedang berkerut-kerut merasakan sakit.
"Hei, hei! Henti—kan... aw! Ini sakit sekali! Roze!" Silian mengerang sambil berjuang menguraikan jemari Zeze dari rambutnya. Bahkan cubitan pun tak digubris olehnya.
"Putri Silian!"
Dua orang wanita bersetelan hitam menyerbu masuk setelah mendengar jeritan Silian. Mereka membatu saat menemukan putri yang mereka layani tengah dianiaya oleh seorang Ankhatia. Tentu saja mereka segan. "Ya—Yang Mulia, to—tolong lepaskan," bujuk salah satunya.
Zeze menoleh dan mereka berdua berjengit. Mata safir itu adalah mata seekor singa yang kelaparan. Silian mencari gara-gara pada orang yang salah.
"Apa yang kalian lakukan!? Cepat bantu lepask—aw!"
Silian menatap ngeri rambutnya yang rontok satu persatu dan jatuh melanda lengan baju Zeze.
Aku pasti akan botak, begitu pikirnya, sebelum sepasang tangan gentle membebaskan rambutnya dengan sangat lembut. Bahkan tak perlu mengerahkan usaha lebih seperti yang dilakukannya tadi.
"Yang Mulia, sebaiknya Anda kembali ke pesta debutante Anda. Akan sangat disayangkan jika Anda melewatkan setiap momen pesta kedewasaan yang hanya terjadi sekali seumur hidup ini begitu saja." Orang itu tersenyum, "Bukankah begitu?"
Silian mematung, satu tangannya yang memegangi rambut melonggar. Ia terpana oleh senyum dan kelembutan suara itu, lantas mengangguk kaku tanpa berpikir, seolah tersihir.
"Nama... siapa namamu?" Dagu dinaikkan, Silian bertanya dengan lagak angkuh. Jawabannya sudah tercantum di kepala, pertanyaan itu hanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah orang.
Semoga benar.
Apakah ini mimpi? Apa aku bermimpi? Mengapa dia di sini?
Senyum manis itu semakin manis, "Nama saya Robian Barier. Lama tidak bertemu, Putri Silian."
Pipi Silian merona. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang telah menyerupai kepiting rebus dari mata Obi. Tak pernah ia sangka laki-laki dari masa kecilnya itu telah tumbuh dengan sangat baik sampai-sampai membuatnya pangling.
Dibuntuti kedua pengawalnya, Putri Silian berjalan begitu saja melewati Obi ke arah pintu.
Setelah pintu tertutup, barulah Zeze menyudahi akting bodo-amat-nya dan melepaskan tawa yang ditahan mati-matian. "Demi para dewa, tadi itu pertunjukan yang luar biasa!" Ia bertepuk tangan, kebiasaan hebohnya saat sedang tertawa. "Dapat videonya?" Tanyanya kepada Juni yang langsung mengangguk girang. "Segera sebarkan ke group chat!"
"Sialan. Kau tadi keren sekali, Bi," Airo berdecak kagum, setengah tidak percaya. "Jarang sekali ada yang mampu menaklukkan Tuan Putri satu itu selain Yang Mulia Pangeran."
"Hanya keberuntungan," Obi tertawa canggung sambil menggaruk tengkuk. Ia berjalan kembali ke sofa. "Aku hanya merasa aku perlu turun tangan karena situasi akan jauh lebih rumit jika tidak ada orang dewasa yang mau mengalah." Saat mengatakan itu, matanya mendelik kepada Zeze.
Zeze mengangkat bahu, “Dia yang pertama cari gara-gara. Dan aku bukan orang dewasa.”
Setelah beristirahat kurang lebih setengah jam, mereka bertolak dari ruang istirahat kembali ke aula utama melalui lorong penuh pintu.
"Saat aku membaca 'Asteri' di undangan, aku tidak menyangka bahwa yang kau maksud adalah si Silly," kata Zeze ke Kion yang berjalan di sampingnya.
Juni terkikik, "Silly?" (Silly \= bodoh)
Zeze mengangkat bahu, "Setelah melihat kelakuannya tadi, tidakkah kau berpikir itu adalah fakta?"
"Kau tidak boleh berbicara seperti itu di depannya," Luna yang berjalan di belakang memperingatkan.
"Aku yakin dia sudah cukup terbiasa kupanggil begitu."
"Kalian saling kenal?" Tanya Juni.
"Dia adalah nyamuk, setiap kali—" Zeze menghentikan kalimatnya saat menyadari kehadiran Kion. Nyaris saja ia mengungkit suatu hal yang berhubungan dengan masa kecilnya.
"Apa?" Juni memiringkan kepala ke satu sisi."
"Lupakan saja."
"Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, ya?" tukas Juni; Zeze mengabaikannya, merapat ke Kion dan bergelayut di lengannya yang keras dan kuat.
Tamu di aula terlihat lebih ramai dari sebelumnya, dan fakta itu merupakan neraka bagi Zeze karena harus kembali meladeni mereka yang sedang gencar-gencarnya berambisi mendapatkan perhatian seorang Ankhatia yang dikenal jarang memenuhi undangan pesta.
Baru sepuluh menit di aula, ia sudah tidak tahan dan akhirnya memutuskan mengundurkan diri.
"Aku ingin buang air," Zeze memindahkan tangan Kion dari pinggangnya.
"Aku akan menemanimu."
"Buang air besar," Zeze memaksakan senyum. Kion mengangkat alis, jelas tidak tertipu. Zeze pun meneguk liur. "Aku memiliki sembelit! Kau tidak akan senang menungguku."
Kion mengalihkan pandangan dari Zeze untuk melihat sekitar, ia menemukan Luna dan Rhea sedang dalam perjalanan menuju pintu keluar yang terhubung dengan koridor panjang. "Ikuti mereka," ditepuknya pelan punggung Zeze. "Kau sudah tidak bisa lagi berkeliaran seorang diri."
Zeze pun menyusul Luna dan Rhea yang kebetulan sedang membutuhkan tempat privasi untuk mengobrol, atau bergosip ria. Kedua gadis itu menjadi semakin dekat dari waktu ke waktu, terbukti dari cara mereka mengabaikan Zeze yang padahal duduk tepat di hadapan mereka.
Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam. Setengah jam lagi dan semua akan berakhir. Zeze mendesah lega dan memejamkan mata sampai suara percakapan dua orang di hadapannya tenggelam.
Tidur nyenyak selama satu jam adalah ekspektasinya, namun realita menolak untuk berkerja sama, ketika sebuah guncangan membuat mereka bertiga tersentak berdiri dari sofa yang mereka duduki.
Zeze bertukar pandang dengan Rhea, berharap Rhea punya jawaban. Namun hanya gelengan kepala yang diterimanya.
Bukan gempa, Zeze meyakinkan dirinya. Karena alarm darurat tidak terdengar, begitu pula dengan teriakan panik orang-orang.
"Kita keluar?" Usul Luna, cemas.
Zeze menilai pintu kembar itu. Ada yang janggal. Mengapa guncangan hanya terjadi sekali? Apakah itu trik untuk memancing kami keluar?
"Ini pancingan," gumam Rhea, yang dihadiahi anggukan oleh Zeze. Ia merasa dipermudah karena Rhea sepemikiran dengannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Rhea. Di situasi genting ia tidak boleh mengambil langkah sendiri. Zeze adalah tempat yang tepat untuk bertanya.
Zeze merenung sementara Rhea menunggu dengan sabar, karena ia tahu Zeze tengah menyusun langkah-langkah terbaik di otaknya.
Zeze mengangguk mantap, "Kita keluar."
Rhea tidak membantah dan segera menggenggam tangan Luna. "Jangan jauh-jauh dariku," bisiknya. Luna semakin panik, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tenang dengan teknik pernapasan yang pernah diajarkan mentornya.
Zeze melenggang ke pintu, auranya merambat ke lantai dan tembok untuk merasakan getaran dari makhluk hidup terdekat. Nihil, bahkan setelah pintu terbuka. "Ayo kembali ke aula."
Kejanggalan mulai terlihat; telah lebih dari sepuluh menit mereka berjalan kaki, tempat yang dituju masih tak kunjung tercapai. Padahal mereka yakin telah melewati jalan yang benar.
"Sepertinya percuma," gumam Zeze, lesu. "Lihat, kita selalu berakhir di tempat yang sama." Disentuhnya tanda cakaran yang beberapa menit lalu sengaja ia ukir pada dinding bercat putih di sebelah kirinya.
"Ilusi?" Tebak Rhea.
Masuk akal, tapi Zeze membayangkan hal lain berdasarkan pengalamannya, "Apa mungkin... Ruang Misner?"
"Mengapa kau berpikir ini Ruang Misner? Kita bahkan tidak dapat menembus dinding," ujar Rhea seraya mengetukkan punggung tangannya ke dinding.
“Siapa yang mampu menjadikan Ruang Misner sebagai kekuatan spiritualnya?” Luna mengernyit, “Menghubungkan dýnami dengan dimensi ruang dan waktu terlalu sulit, bahkan hampir mustahil. Ruang Misner hanya dapat dimasuki melalui alat yang ditemukan para ilmuan.”
Pandangan Zeze luntur, "Hanya saja..." ia menggeleng, "Aku rasa kita telah terjebak semenjak kita keluar dari ruang duduk. Keluar adalah langkah yang salah."
Mata Luna melebar. "Bila sejak awal kau sudah tahu itu salah, mengapa tetap melakukannya!?"
"Lalu apa solusi terbaik? Diam saja seperti orang idiot tanpa melakukan apa pun? Menunggu seorang 'pangeran' datang menyelamatkan?"
Luna melongo tak percaya dan bertanya-tanya apakah Zeze sudah kehilangan akal.
"Yang terjadi biarlah terjadi. Tak berguna mempermasalahkannya sekarang karena itu hanya akan membuang waktu dan tenaga," Rhea menengahi.
"Ngomong-ngomong, Lady Luna, kau mempelajari cara mengendalikan dýnami, bukan?"
"Semua siswa Exousia sudah dibimbing sejak kelas Tahun Pertama." Keraguan menyelimuti jawaban Luna. "Tapi, kalau kau memintaku untuk mengaplikasikannya dalam sebuah pertarungan... aku... perlu kau tahu, sebelum pindah ke istana tiga tahun lalu, aku terbiasa dilindungi pengawal suruhan Ayah."
Tidak mengherankan bagi seorang putri bangsawan, pikir Zeze. Meski begitu, ia bisa menangkap secercah dusta pada ucapannya. Entah apa itu, tapi ia merasa Luna tidak sepenuhnya jujur. Ada hal yang ditutupinya.
"Aku memang belajar sedikit seni pertahanan diri—tuntutan dasar setiap keturunan marquess—tapi aku tidak begitu yakin apakah aku akan cukup membantu..."
"Tapi ketika seseorang berniat menyerangmu, kau bisa merasakannya, bukan?"
Luna mengerjap, "Se—serangan seperti apa tepatnya?" Tanyanya, bingung dan kalut.
Mendadak Zeze mengulurkan tangan kanan kepadanya. Luna menatap ragu tangan ramping yang tampak lemah lembut itu, lalu entah mengapa Luna meraihnya. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dilakukannya, serta apa maksud dari uluran tangan itu. Hanya saja, melihat dan menggenggamnya membuatnya merasa nyaman.
Zeze terkekeh kecil, "Keputusan yang bagus, Lady."
Tak salah lagi Luna mendengar Zeze memujinya, sebelum Zeze menarik kuat-kuat tangannya dan memaksa Luna bersembunyi di belakang tubuhnya.
Adegan selanjutnya terlihat kabur bagi Luna, tapi ia yakin Zeze baru saja menghancurkan salah satu bingkai kaca berisi pedang rapier bergagang perak yang digantung di sepanjang dinding. Kemudian terdengarlah bunyi benturan dua bilah pedang. Dentingannya mendengungkan kuping Luna hingga membuatnya meringis dan memekik.
Dengan mata kepalanya sendiri, Luna melihat tangan kiri Zeze berupaya menahan sabre milik sesosok pria berjubah hitam dengan rapier itu, sementara tangan kanan Zeze terjulur ke belakang tubuh, masih bertaut dengan tangannya.
Zeze benar, keputusan bagus bagi Luna karena telah meraih tangannya. Luna menebak, sepertinya itu adalah cara Zeze dalam mengetes sensibilitas dan keyakinannya—Zeze menawarkan tangan sebagai metafora dari kehidupan. "Jika ingin hidup, maka raihlah tanganku", semacam itu. Jika Luna menunjukkan sedikit saja keraguan terhadap Zeze, tubuhnya pasti telah terbelah dua. Luna yakin, pasti itulah penyebabnya merasakan kenyamanan saat tangan mereka saling menggenggam.
"Halo, Tuan-tuan. Bukankah sia-sia mengusik para gadis secantik kami hanya untuk bermain permainan murahan?" Zeze bertanya dengan senyuman licik di bibir.
'Tuan-tuan'... Apakah itu artinya masih ada yang lainnya? Luna mulai gemetar.
Melepaskan tangan Luna, Zeze menendang k*lamin pria itu menggunakan bagian runcing heels-nya. Saat pria itu membungkuk dan mengaduh kesakitan, Zeze menancapkan rapier tepat di tengah kepalanya. Dia roboh seketika, tengkurap di dekat kaki Zeze dengan tubuh kejang-kejang. Karena tulang tengkorak menelan pedang itu terlalu kuat, Zeze harus menginjak pundaknya sebagai bantuan untuk menariknya.
Pedang itu tercabut bersamaan dengan terdengarnya bunyi napas tercekat. Zeze menoleh ke belakang dan tersadar bahwa Luna juga menyaksikan kekejiannya barusan.
Zeze berdecak, "Kak Rhea."
"Aku tahu," gumam Rhea. Ia menarik tangan Luna dan membawa gadis itu menghadapnya.
"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja." Suara lembut Rhea begitu menenangkan jiwa. Ia menempatkan kedua tangannya di pundak Luna dan memberinya usapan. "Kita harus percaya pada Zeze. Energi yang dipancarkan dari rasa percaya itu sangat besar, apa kau tahu itu? Saat kau berpikir positif dan bergantung pada satu hal, tanpa kau sendiri sadari, auramu akan melekat pada hal tersebut dan memberinya dukungan, memberinya kekuatan lebih. Karenanya berpikirlah positif agar hal-hal di sekitarmu juga merasakan dampaknya!"
Mata kelabu Luna kembali cerah. Ia mengangguk dan mencoba percaya pada Zeze dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Bagus," Rhea mengangguk, "Ingat. Yang paling utama dalam suatu hubungan adalah kepercayaan. Jika ada satu pihak saja yang meragukan pihak yang lain, maka hubungan itu akan hancur."
"Baiklah, Ladies, cukup dramanya," Zeze membungkuk dan memungut sabre milik musuhnya. "Saatnya kita lari. Ah, benar, jangan lupa lepas sepatu. Kita tidak ingin kaki cantik kita lecet."
Mereka pun mencampakkan sepatu mahal mereka begitu saja dan berlari dengan Luna dan Rhea yang memimpin di depan, sementara Zeze mengawasi dari belakang.
Luna melebarkan matanya ketika lima orang berpakaian serba hitam menghadang di depan jalan. Ia hendak menghentikan pelarian dan berbalik arah, jika saja Rhea tidak mempererat genggaman pada tangannya.
"Percaya!" Tekan Rhea. Luna pun mengangguk dan terus berlari.
Lewat ekor matanya, Luna melihat Zeze melompat ke dinding kanan sebagai batu loncatan untuk mendahului Luna dan Rhea, lalu mendarat sempurna di depan keduanya. Bergerak kelewat cepat, mata Luna bahkan tak sanggup mengikutinya. Zeze terlihat seperti coretan tinta hitam-putih yang menggores udara ke sana kemari. Tak lama kemudian tinta berwarna merah bergabung mencoret udara.
Sesuatu terbang ke arah Luna. Luna hampir menjerit sesaat sebelum sebuah bayangan hitam melompat ke atas dan merenggut benda apa pun itu.
Setelah bayangan itu mendarat, barulah Luna menyadari bahwa itu Zeze. Kecepatannya sungguh di luar nalar. "Maaf, tidak sengaja," ucapnya sambil melambai-lambaikan benda yang baru saja ditangkapnya.
Potongan tangan.
"Zeze!" Tegur Rhea. Kadang-kadang seorang Artemis pun bisa bertingkah kekanakan.
Zeze menatap Luna, mengawasi wajahnya yang tetap tegar meski warnanya sudah nyaris seputih kertas. "Mengesankan," gumamnya, nadanya puas dan memuji. Seperti yang diharapkan dari keturunan marquess. Orang biasa pasti sudah pingsan. Ia menjatuhkan potongan tangan itu dan memutar badan, berjalan memimpin di depan.
Sekarang, Luna dan Rhea dapat melihat dengan jelas kubangan darah serta tubuh yang menanti di depan. Namun, dengan santainya Zeze melewati semua itu. Bahkan karena malas melangkah lebar, kakinya pun menginjak mereka.
Luna menahan napas dan memejamkan matanya saat ia melewati mimpi buruk itu. Gemericik air dan bau anyir menodai indranya. Tangan Rhea adalah satu-satunya motivasi Luna untuk tetap mempertahankan pijakannya.
Kepalanya terus memutar perkataan Rhea. Percaya. Benar, percaya kepada seseorang yang sempat diragukannya dalam banyak hal, termasuk soal menjadi pendamping orang yang dicintainya. Namun kali ini, tidak ada lagi keraguan.
\=\=\=\=\=\=\=\=
.
Kira-kira Zeze dan yang lain bisa keluar dengan selamat gak ya? 🤔
Yok scroll setelah beri hadiah like dan komen untuk kedua jempolku yang udah bengkak ini 😄
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
brasa bca novel trjemahan