Novel ini adalah sequel dari Terjebak Gairah Monster Tampan
Jeremy Suryawijaya adalah adik kandung dari Cintyara Alona Suryawijaya dengan bersuamikan Pria hebat yaitu kakak ipar Jeremy yang memberi Jeremy fasilitas penuh untuk memulai bisnisnya di usia yang begitu muda setelah kakaknya Alona menikah dan membina biduk Rumah tangga dengan Johan Rahadiningrat.
Pertemuan pertamanya dengan Kimberly Tejakusuma gadis cantik di Dreamy Internasional Highschool yakni adalah junior di sekolah yang sama dengannya. Gadis cantik itu seringkali mencuri pandang dan melihatnya dari kejauhan tingkah lucunya yang akhirnya membuat Jeremy juga jatuh hati padanya. Namun sayang seribu sayang ternyata Kimberly sudah di jodohkan dengan Arsen yang notabene berasal dari keluarga konglomerat yang orang tuanya bersahabat baik dengan Kimberly dan menjodohkan keduanya sedari bayi. Bagaimana cara Kimberly lepas dari belenggu perjodohan itu saat cintanya dengan Jeremy akhirnya bersambut?
Yuk mampir zeyeng ditunggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ippiiieee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namia and Arsen Part 2
POV Namia
Setiap jam istirahat sekolah, aku selalu pergi ke perpustakaan. Tempat itu adalah satu-satunya tempat di sekolah ini yang membuatku merasa tenang. Tidak ada yang menggangguku, tidak ada yang menertawakanku, tidak ada yang membicarakan tas lusuh atau sepatuku yang sudah lama. Di perpustakaan, semua orang terlihat sama—sama-sama membaca, sama-sama belajar, sama-sama diam.
Dan di situlah aku sering melihat Jeremy.
Jeremy Surya Wijaya.
Sepertinya dia juga siswa berprestasi. Dia sering berada di meja yang sama, dekat jendela, dengan tumpukan buku dan laptop di depannya. Wajahnya selalu terlihat serius saat membaca atau mengetik. Kadang dia menulis di buku catatan, kadang menatap jauh ke luar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
Aku sering mencuri pandang ke arahnya, lalu cepat-cepat menunduk lagi pura-pura membaca buku.
Aku pernah mendengar dari beberapa siswa kalau Jeremy bukan berasal dari keluarga konglomerat seperti kebanyakan siswa di sekolah ini. Katanya orang tuanya bercerai sejak dia masih SMP. Kakaknya kemudian menjadi selebritas terkenal dan sejak saat itu kehidupan mereka berubah.
Nama kakaknya, Cynthiara Alona, sangat terkenal. Wajahnya sering muncul di billboard, iklan, dan televisi. Hampir semua orang tahu siapa dia. Mungkin karena itu Jeremy juga cukup dikenal di sekolah, walaupun dia tidak pernah mencari perhatian.
Jeremy berbeda dengan Arsen.
Jeremy tidak pernah dikerumuni banyak orang. Dia juga tidak pernah terlihat menggoda perempuan atau pamer kekayaan. Dia lebih sering sendirian, fokus belajar, atau latihan olahraga.
Aku mulai menyukainya sejak pertama kali melihatnya di perpustakaan.
Awalnya aku hanya kagum karena dia pintar. Tapi lama-lama, setiap melihatnya, jantungku selalu berdetak lebih cepat. Aku sering kehilangan fokus belajar karena tanpa sadar memperhatikannya terlalu lama.
Dia tampan, tapi bukan tipe yang suka pamer. Dia dingin, pendiam, dan terlihat punya pendirian yang kuat.
Aku suka laki-laki seperti itu.
Laki-laki yang tidak banyak bicara, tapi serius dengan masa depannya.
Namun Jeremy tidak pernah melihat ke arahku. Bahkan mungkin dia tidak tahu kalau aku ada di sekolah yang sama dengannya.
Aku hanya gadis beasiswa yang sering dibully dan dijauhi orang-orang.
Sedangkan dia adalah siswa teladan yang dikagumi banyak orang.
Setelah jam istirahat selesai, kadang Jeremy tetap berada di perpustakaan jika dia tidak ingin mengikuti pelajaran berikutnya. Dia selalu mendapatkan izin khusus karena prestasinya yang sangat bagus. Dia pernah mewakili sekolah dalam olimpiade matematika dan menang tingkat provinsi.
Semua guru menyukainya.
Semua siswa menghormatinya.
Aku sering berpikir, pasti orang tuanya sangat bangga memiliki anak seperti Jeremy.
Walaupun keluarganya tidak utuh, dia tetap bisa menjadi orang yang hebat.
Aku ingin seperti dia.
Aku ingin kuat seperti dia.
Aku ingin suatu hari nanti bisa berdiri sejajar dengannya, bukan sebagai gadis miskin yang sering dibully, tapi sebagai seseorang yang berhasil dengan usahanya sendiri.
Ah Jeremy… seandainya aku punya kesempatan untuk berbicara denganmu, mungkin aku akan sangat gugup sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Aku masih mengagumimu sampai sekarang.
Mengagumimu dari jauh.
Setiap kali kamu lewat di depanku, dadaku terasa sesak dan aku tidak berani menatapmu lama-lama.
Aku tahu aku tidak boleh berharap terlalu jauh.
Tapi setidaknya, melihatmu dari jauh saja sudah cukup membuatku semangat belajar setiap hari.
Aku ingin sukses.
Aku ingin membuktikan bahwa orang miskin juga bisa berhasil.
Aku ingin suatu hari nanti tidak ada lagi orang yang meremehkanku.
Lamunanku tiba-tiba buyar saat sebuah suara membuyarkan pikiranku.
“Hei, naiklah. Aku akan mengantarmu pulang.”
Aku terkejut dan menoleh.
Arsen.
Lagi-lagi penguasa sekolah itu berdiri di depanku.
Aku masih duduk di halte dengan kaki yang terasa sangat sakit. Sepertinya lukanya lebih parah dari yang kukira.
Aku menatap Arsen ragu-ragu.
Kenapa dia terus menolongku?
Padahal kami tidak dekat.
Padahal semua orang tahu dia populer dan punya banyak teman, sedangkan aku selalu sendirian.
Setelah dekat dengannya, apakah aku akan terhindar dari masalah atau justru menambah masalah baru?
Aku tidak tahu.
Tapi sekarang aku benar-benar tidak kuat berjalan.
“Bisakah kamu membantuku berdiri? Kakiku sangat sakit,” kataku pelan.
Arsen mengangguk.
“Sebentar, aku parkir motorku dulu.”
Dia menurunkan standar motor sportnya lalu berjalan mendekat ke arahku.
“Pelan-pelan saja,” katanya sambil membantuku berdiri.
Aku mencoba berdiri, tapi kakiku langsung terasa nyeri dan aku hampir jatuh. Arsen langsung menahan bahuku agar aku tidak terjatuh lagi.
“Kakimu harus diobati dulu. Kita berhenti di apotek,” katanya.
Aku hanya mengangguk. Aku tidak punya tenaga untuk berdebat.
Kami pun naik ke motornya. Aku duduk di belakang dengan canggung. Aku tidak terbiasa naik motor dengan orang yang tidak terlalu dekat denganku.
Arsen belum menyalakan motornya.
“Pegangan, nanti aku jalan,” katanya.
Aku bingung harus berpegangan di mana.
Aku tidak berani memegangnya sembarangan, tapi aku juga takut jatuh kalau tidak berpegangan.
“Aku… harus berpegangan di mana?” tanyaku pelan.
“Pegangan saja di jaketku. Yang penting kamu tidak jatuh,” jawabnya.
Aku pun memegang bagian belakang jaketnya pelan.
Motor mulai berjalan keluar dari halte. Angin sore menerpa wajahku. Aku berusaha menjaga keseimbangan agar tidak terlalu condong ke depan atau ke belakang.
Beberapa menit kemudian kami berhenti di sebuah apotek.
Arsen turun duluan lalu membantuku turun perlahan.
“Duduk dulu di sini,” katanya sambil menunjuk kursi di depan apotek.
Aku duduk dan melihat lututku yang ternyata cukup parah lukanya.
Arsen masuk ke dalam apotek dan beberapa menit kemudian keluar membawa obat dan perban.
“Lukanya harus dibersihkan dulu,” katanya.
Dia memberikan kapas dan antiseptik kepadaku.
“Kamu bisa bersihkan sendiri?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Aku membersihkan lukaku pelan-pelan walaupun terasa perih. Setelah itu aku menutupnya dengan perban.
Arsen duduk di sebelahku dengan diam. Untuk pertama kalinya aku melihat dia tidak dikerumuni siapa pun. Dia terlihat seperti siswa biasa, bukan penguasa sekolah yang ditakuti semua orang.
“Besok kamu bisa jalan ke sekolah?” tanyanya.
“Aku tidak tahu,” jawabku jujur.
“Kalau masih sakit, sebaiknya periksa ke dokter,” katanya.
Aku langsung panik.
Rumah sakit berarti uang.
Aku tidak punya uang untuk berobat di rumah sakit.
“Tidak usah… sepertinya ini tidak terlalu parah,” kataku cepat.
Arsen menatapku beberapa detik, lalu menghela napas pelan.
“Ya sudah. Tapi kalau besok kamu tidak bisa jalan, bilang padaku.”
Aku menatapnya bingung.
Kenapa dia baik sekali padaku?
Padahal kami tidak punya hubungan apa-apa.
Dan aku tidak tahu apakah kebaikannya ini akan membawa masalah baru atau justru mengubah hidupku di sekolah ini.
Aku benar-benar tidak tahu.
Yang aku tahu, hari ini hidupku terasa sedikit berbeda dari biasanya.