Bagaimana rasanya saling mencintai tapi tidak bisa bersama?
Padahal sudah di jodohkan dan di sayangi kedua belah pihak keluarga, tapi tetap perjodohan yang sudah di rancang itu tidak bisa di teruskan.
Apa alasannya? Padahal pernikahan itu adalah impian dari keduanya.
Kenapa tiba-tiba Fatih melepaskan perempuan yang telah di carinya selama belasan tahun lalu?
Mungkinkah mereka bisa bersama lagi setelah melalui banyak hal?
Perjalanan mereka untuk bisa bersatu kembali tidak mudah, mengalami banyak konflik dan drama kehidupan sehari-hari yang menguras air mata dan menyakitkan dada karena terlalu banyak tertawa.
Ya benar, kalian bisa merasakan salah satunya atau kedua-duanya secara bersamaan.
Kalau belum tahu rasanya tertawa dengan meminum air mata, kalian bisa coba baca novel ini, semoga kalian suka😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
si Montok
Rumi mengumpulkan informasi dari beberapa guru tentang apa yang disukai Rena dulu ketika pertama ia masuk Sekolah, dan sesuai dengan info itu Rumi menyiapkan hadiah untuk Rena.
Pagi ini seperti biasa Rumi sudah berada di Sekolah untuk menyambut anak-anak yang datang, tak lama Rena pun terlihat memasuki gerbang, Rumi segera menghampirinya.
“Rena sayang, ibu punya hadiah,” Rumi menyodorkan sebuah paket berwarna pink.
Rena hanya meliriknya, dan tidak terpengaruh.
“Yakin Rena tidak mau? ini adalah buku stiker Frozen keluaran terbaru,” Rumi berkata lebih keras karena Rena sudah berjalan meninggalkannya.
Seketika Rena terhenti, itu adalah mainan kesukaannya, ia mengoleksi banyak stiker Frozen di rumahnya.
Rumi tahu Rena sudah mulai tertarik, “Mau buka sama-sama di ruangan ibu?” ajak Rumi.
Rena diam.
Rumi kemudian menuntun Rena keruangan guru, Rena mengikuti tanpa melawan terlihat jika ia pun menginginkannya.
Rumi mulai membuka satu persatu dari hadiah yang diberikannya kepada Rena. Ia sengaja membelinya di Mall yang cukup besar.
Rumi mengeluarkan album berwarna pink untuk menempatkan stiker nanti nya.
Ada 5 lembar stiker bertabur kristal dengan bentuk yang yang sesuai tema, tentunya membuat Rena senang, ia menyumbingkan bibirnya, Rumi sangat senang melihat nya.
“Rena tahu gak? Rena manisss banget kalau lagi senyum, ibu sangat suka melihatnya,” Rumi memandang Rena dengan penuh kasih.
Rena menempelkan satu persatu stiker itu kedalam album dengan tema yang ia suka, ia menyusun gambar sesuai dengan perjalan mereka di filmnya.
“Rena sangat pintar dan berbakat ya?”
Rena memandang Rumi sebentar dan tersenyum.
“Kalau Rena suka nanti ibu belikan lagi, ya” elus Rumi pada kepala Rena.
“Terimakasih,” kata itu terucap pelan tapi begitu sejuk di hati.
Rumi sangat bahagia, “Sama-sama sayang, mulai sekarang boleh gak ibu jadi teman Rena?” pinta Rumi.
Rena mengangguk.
“Kalau teman harus mau bercerita dan bermain bersama ya?” pinta Rumi lagi.
Rena kembali menganggukkan kepalanya.
Akhirnya Rumi berhasil menaklukan Rena ia berharap semoga bisa menggali informasi dari Rena mengenai pola asuhnya di rumah.
Bel sudah berbunyi, Rena masuk ke kelas begitu juga Rumi ia hampir selalu mendapat jam awal saat mengajar.
Hanya 30 menit saja Rumi mengajar, ia sudah selesai dan merapihkan mejanya di ruangan guru.
Tiba-tiba hape Rumi berbunyi ‘Tung’
Rumi lihat ada pesan dari Fatih.
“Rum, mas hari ini gak bisa anterin Rumi pulang soalnya mau ke Peternakan.”
“Apa Rumi tidak bisa ikut?” sudah lama Rumi tidak pergi jalan-jalan mungkin pergi ke Peternakan bisa menghilangkan sedikit kejenuhan pikirnya.
“Rumi mau? Tapi Peternakan bau loh,” tanya Fatih
“Tahu, kan udah pernah cium dari wajah mas dulu,” Rumi menyisipkan emoticon nyengir.
“Hahahaha…seperti itulah baunya,” Fatih membalas dengan emoticon ngakak.
“Ok, mas jemput sekarang?”
“Iya.”
Hanya menunggu 20 menit saja Fatih sudah menelpon kalau ia menunggu di depan gerbang. Rumi segera menghampirinya.
Fatih datang dengan dua motor bersama Ahmad. Rumi tersenyum malu-malu kepada Ahmad.
“Neng naik di motor abang aja,” kedip mata Ahmad menggoda.
“Jangan mau Rum, bau nya lebih dari Moh,” tawa Fatih.
“Ah pak Bos begitu, aku udah pake shampoo pak Bos,” jawab Ahmad.
Rumi tersenyum dan kemudian duduk di jok Fatih.
“Yah si eneng, tega nyaaaaa,” Ahmad menarik gas motornya dan melaju kencang.
“Mas, Rumi ga enak sama bang Ahmad,” ia berkata ragu.
“Haha.... dia Cuma bercanda Rum, jangan di ambil hati. Emang Rumi tega biarin mas sendirian?” Fatih mulai menarik gas motornya.
Rumi menggeleng, Fatih melihatnya dari kaca spion dan kemudian melaju kencang.
1 jam perjalanan mereka akhirnya sampai ke Peternakan Sapi yang cukup besar, sumber susu yang di jual oleh Fatih. Ia sengaja datang untuk lebih mendalami usahanya menjadi pedagang susu Sapi murni.
Rumi dan Fatih berjalan melihat-lihat setelah ijin kepada pemiliknya. Fatih pun bertanya mengenai perkembangan usaha susu dari awal hingga kini kepada pemiliknya. Namanya pak Sulaeman ia sudah menekuni usaha ini dari kecil karena pendirinya dahulu adalah ayahnya.
“Bolehkan saya mencoba memeras susu nya, pak?” tanya Fatih.
“Oh boleh silahkan,” pak Sulaeman memanggil pegawainya untuk memperlihatkan caranya pada Fatih.
Fatih masuk ke dalam kandang, Rumi memperhatikannya dari depan.
Sebelum melakukannya Fatih sudah melihat cara-caranya, dan itu terlihat sangat mudah baginya.
“Hati-hati mas,” Rumi memperingatkan Fatih yang sudah siap memeras.
Fatih mengacungkan jempol.
“Bismillahirrahmanirrahim…”
“Sapi yang gemuk aku ijin minta susunya ya?” kata Fatih seraya mencoba memegang susu sapi itu.
“Ko rasanya begini ya, kenyal-kenyal kaya…astagfirullah..hus…hus…buang pikiran mesum mu Fatih malu-maluin aja, masa megang susu Sapi aja inget Rumi,” Fatih bergidik ngeri sama pikirannya sendiri dan tersenyum tipis melihat Rumi.
“Jangan dibayangi yang enggak-enggak ya mas,” celetuk Ahmad dari depan kandang.
Pipi Fatih memerah saat Rumi memandanginya dan tertawa mendengar celetukan Ahmad.
Fatih kembali menata mentalnya saat mencoba lagi.
“Sapi gendut aku peras ya susu nya?”
‘Duk’
satu tendangan mendarat di dahi Fatih.
“Mas!” Rumi berteriak kaget, Ahmad dan pegawainya menghampiri ke dalam kendang.
Baru juga tangan Fatih mau memeras susu Sapi itu, Fatih malah kena tendangan kaki belakangnya.
“Enak aja bilang aku gendut, yang begini itu Montok wahai manusia tidak tahu menyenangkan hati wanita,” kata Sapi itu di dalam hatinya seraya mendengus kesal, “MOoooooh.”
“Mas Fatih bilang apa sampai kena tendangan si Montok begitu?” kata pegawai itu.
“Oh namanya si Montok, pantesan dia marah, saya bilang dia gendut,” Fatih berkata pelan Semua orang tertawa mendengarnya.
Fatih menyerah, ia pun keluar kandang dan tak henti berkata, “Aduuuh, sakit banget.”
“Dah mas itu artinya tanda cinta si Montok buat mas Fatih. Bukannya mas suka sama yang montok-montok,” Ahmad tak berhenti tertawa saat melihat dahi Fatih berwarna merah.
“Emang mas Fatih suka sama yang montok?" goda Rumi pada Fatih saat mengobati lukanya.
Fatih hanya mengangkat kedua alisnya, “Apa sebenarnya tujuan dari ucapan itu,” pikir Fatih dalam hati.
“Ya…kalau gak ada yang biasa juga gak apa-apa?” jawab Fatih ragu.
“Oh, jadi mas suka nya sama yang montok!” Rumi berkata lebih keras.
“Bukan begitu, maksud mas….,”
“Ya gak apa-apa kalau mas suka, itu hak mas Fatih,” Rumi cemberut dan kesal tentunya karena ia memiliki badan yang sedang dan kecil. Meskipun begitu ia masih berusaha membantu Fatih memasang plester di dahinya.
“Ko Rumi jadi begitu nanggepinnya,” Fatih bingung menjelaskannya, bahwa sebenarnya ia ingin katakana adalah kalau ia menyukai apa adanya Rumi, tapi mana mungkin ia mengatakan itu.
“Ya sudahlah!” Rumi beranjak dari duduknya dan berjalan menjauhi Fatih.
Fatih semakin bingung dengan sikap Rumi, ia pun berdiri dan berjalan mengikutinya.
“Jangan ikuti, Rumi mau sendiri!” Rumi berkata ketus.
Fatih terdiam dan menghentikan langkahnya, ia garuk-garuk kepala apa yang salah dengan ucapannya.
“Aaawwwww……,” Rumi berjingkrak-jingkrak ketakutan.
“Ada apa Rum?” Fatih berlari menghampiri Rumi.
“Ulaaaat mas!” Rumi membentak Fatih.
“Oh ulat,” jawab Fatih tenang.
“Hisss semua gara-gara mas?” Rumi berbalik dan tambah cemberut.
“Lah ko gara-gara mas?”
“Iya karena mas biarin Rumi sendirian!” jawab Rumi tegas.
Fatih hanya bisa menggeleng, “Apa sebenarnya yang diinginkan perempuan, bukannya tadi….ah sudahlah.”
“Ini gara-gara bang Ahmad pasti awalnya karena pembahasan si Montok,” umpat Fatih dalam hati.
Rumi tidak mau berbicara hingga ia duduk di motor untuk pulang, bibir Fatih kering karena bernapas aja jadi susah, ia hanya melihat Rumi yang mematung, bahkan megang aja gak mau.
Fatih hanya bisa garuk-garuk kepala nanggepinnya, “Marah perempuan ko serem amat,” Fatih baru tahu sisi lain dari Rumi.
Sampai turun dari motor pun Rumi tidak mengucapkan apa-apa, Fatih juga hanya diam saja tak mencoba membahas, takut masalah tambah runyam.
Rumi berlalu meninggalkan Fatih dengan berdengus kesal.