Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Salah Tingkah Di Rumah
Langkah kaki Arka terasa sedikit lebih berat dari biasanya saat ia mendorong pintu unit apartemennya malam itu.
Biasanya, setelah seharian berkutat dengan angka-angka dingin di kantor dan rapat korporat yang melelahkan, kepulangannya hanya disambut oleh kesunyian absolut, tempat dimana ia bisa melepas penat tanpa perlu memikirkan interaksi sosial tambahan.
Namun malam ini, suasana itu terasa berbeda.
Begitu ia melangkah masuk ke area foyer, aroma harum masakan rumahan langsung menguar menyambut indra penciumannya. Disertai suara ketukan tombol kibor laptop yang berderit konstan terdengar dari arah ruang tengah, berpadu dengan alunan musik instrumental lembut yang mengalir pelan dari pemutar suara di sudut ruangan.
Arka melepas sepatu kulitnya dan menaruh kunci mobil di atas meja konsol dengan gerakan kaku yang sengaja ia pelankan. Bayangan insiden di ruang kerjanya bersama Doni siang tadi mendadak kembali berkelebat di kepala.
Kejadian di mana ia tanpa sadar memanggil asistennya itu dengan nama Naya masih menyisakan sisa-sisa rasa salah tingkah yang membuat tenggorokannya mendadak kering.
“Sial, kenapa juga gue bisa refleks ngomong gitu di depan si Doni kampret,” rutuk Arka dalam hati sambil melonggarkan simpul dasinya. Dengan napas yang sedikit tertahan, ia melangkah menuju ruang tengah.
Di sana, di atas sofa abu-abu kesayangannya, Naya tampak duduk bersila dengan rambut dicepol seadanya. Cahaya kebiruan dari layar laptop memantul di wajah perempuan itu, yang terlihat serius menatap rentetan dokumen digital sambil sesekali mengetik cepat. Di sampingnya, tumpukan brosur cetak dan map proposal berwarna biru tampak berserakan rapi.
Mendengar suara langkah kaki, kepala Naya langsung menoleh ke arah pintu.
“Selamat malam, Pak Arka,” sapa Naya dengan nada tenang namun sopan, menutup sedikit layar laptopnya agar bisa fokus melihat sang suami kontrak.
“Pak Arka baru pulang? Tadi saya dengar dari pesan kantor kalau rapatnya selesai agak sore.”
Deg.
Jantung Arka mendadak melompat kecil. Suara tenang dan tutur kata yang teratur itu, yang biasanya ia dengar sebagai rutinitas biasa, malam ini mendadak terasa memiliki efek kejut yang luar biasa.
Ingatan tentang bagaimana ia sempat melamunkan senyuman perempuan ini di hadapan Doni membuat Arka merasa seolah-olah sedang tertangkap basah melakukan kesalahan besar.
Pria itu berdehem pelan, buru-buru memasang ekspresi sedingin dan sedatar mungkin, sebuah topeng andalannya saat menghadapi situasi yang tidak bisa ia kuasai.
“Ya. Pekerjaan di kantor tadi cukup menumpuk,” jawabnya singkat, suaranya terdengar sedikit lebih kaku dari yang ia maksudkan.
Ia lantas berjalan melewati sofa tanpa menoleh lebih lama, berniat langsung menuju kamar tidur untuk menghindari tatapan mata Naya yang terasa menembus pertahanannya.
Namun, baru dua langkah ia berjalan, suara Naya kembali menghentikannya dengan sopan.
“Maaf mengganggu sebentar, Pak Arka. Apakah Pak Arka punya waktu luang sebentar? Panitia charity auction baru saja mengirimkan revisi tata letak ruangan, dan saya membutuhkan pendapat Pak Arka mengenai posisi meja VIP untuk para donatur utama,” ujar Naya sambil mengangkat selembar cetakan denah ruangan ke udara.
Arka tertegun di tempat. Badannya mematung. Panggilan nama tanpa sebutan emosional atau nada bercanda itu justru membuat otaknya berputar dua kali lebih lambat karena ia menyadari betapa profesional dan wajarnya sikap Naya saat ini, berbanding terbalik dengan isi kepalanya yang tengah kacau.
Di kepalanya, kalimat Doni siang tadi kembali bergema.
Makin ditolak makin mendalam tuh rasanya...
“Pak Arka?” ulang Naya dengan nada heran yang tertata rapi, menyadari pria itu hanya diam mematung membelakanginya.
“Kalau Pak Arka lelah, kita bisa memeriksanya besok pagi sebelum jam kerja.”
Mendengar nada suara Naya yang terdengar penuh pengertian dan profesional, pertahanan Arka perlahan kembali terikat pada logika.
Pria itu perlahan membalikkan badan, menatap Naya yang kini sudah berdiri dari sofa dan melangkah mendekat dengan ekspresi formal. Jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa langkah saja, membuat aroma wangi sabun mandi beraroma lavender dari tubuh perempuan itu menguar lembut ke indra penciumannya.
Arka menelan ludah susah payah, berusaha keras menjaga agar suaranya tetap stabil dan tidak terdengar gugup.
“Tidak apa-apa. Mana dokumennya? Biar saya lihat sebentar,” ucap Arka kaku, buru-buru mengulurkan tangan untuk mengambil selembar kertas dari tangan Naya seraya menghindari kontak mata langsung yang bisa saja membongkar isi kepalanya yang tengah kacau balau.
Sentuhan ujung jari mereka sempat bersentuhan sekilas saat kertas denah itu berpindah tangan.
Satu gesekan kulit yang sangat sederhana, namun sukses membuat aliran listrik mini menjalar cepat dari telapak tangan Arka hingga naik ke tengkuknya.
Pria itu spontan menarik jarinya sedikit lebih cepat dari yang seharusnya, berharap Naya tidak menyadari gerakan refleknya yang kaku.
Naya, di sisi lain, tampak sama sekali tidak terganggu. Ia hanya menunjuk titik-titik tertentu di atas denah dengan ujung bolpoinnya sembari menjelaskan dengan nada profesional yang tenang.
“Panitia awalnya menempatkan meja utama di sisi timur dekat jendela kaca besar, Pak. Tapi setelah dikalkulasi ulang dengan jumlah tamu VIP yang hadir, sirkulasi jalurnya terlalu sempit. Jadi, saya memindahkannya agak ke tengah, dekat area tunggu, agar akses keluar-masuk lebih longgar.”
Arka memaksakan matanya fokus pada garis-garis biru di atas kertas, meskipun otaknya sama sekali tidak sedang mencerna soal denah ruangan ataupun sirkulasi tamu. Yang kini memenuhi kepalanya justru aroma lavender yang lembut, serta jarak berdiri mereka yang terasa begitu dekat.
“Sial. Sejak kapan anak ini jadi begitu mengganggu kewarasan gue?” batin Arka merutuk dalam hati.
“Hm.” Arka berdehem singkat, mencoba terdengar senatural mungkin.
“Keputusan yang masuk akal. Posisi tengah memberikan keleluasaan akses yang lebih baik bagi para donatur utama.”
Naya mengangguk-angguk kecil sambil mencatat sesuatu di buku kecil yang dibawanya. “Baik, kalau begitu saya akan konfirmasikan perubahan ini ke pihak panitia malam ini juga.”
Setelah urusan denah selesai, keheningan kembali merayap di antara mereka. Naya merapikan kembali lembaran-lembaran dokumen di atas meja, sementara Arka masih berdiri kaku di tempatnya, terjebak di antara keinginan untuk segera melarikan diri ke kamar dan rasa enggan untuk beranjak.
Naya lantas mendongak, menatap Arka dengan sorot mata yang menyiratkan perhatian wajar seorang rekan serumah.
“Ah, iya. Di meja makan ada sup sayur hangat dan ayam panggang sisa masakan saya tadi sore. Kalau Pak Arka lapar, tinggal dipanaskan sebentar di microwave. Saya sudah buatkan porsinya,” ujar Naya ramah sebelum berbalik dan membereskan laptopnya ke dalam tas.
Kata-kata sederhana itu telak menghantam pertahanan terakhir Arka.
Selama bertahun-tahun hidup sendiri, kepulangannya tidak pernah disambut oleh aroma masakan hangat, apalagi perhatian sekecil pengingat makan malam.
Dan sialnya, fakta bahwa semua itu datang dari Naya, perempuan yang akhir-akhir ini sukses membuat detak jantungnya berantakan, membuat Arka merasa dadanya menghangat dengan cara yang sangat asing.
Tanpa sadar, sudut bibir Arka berkedut tipis, membentuk garis samar yang hampir menjadi senyuman sebelum ia buru-buru menariknya kembali agar tetap terlihat dingin.
“Terima kasih,” ucap Arka lirih, hampir sepelan bisikan, namun masih cukup jelas tertangkap pendengaran Naya.
Naya yang sedang merapikan kabel charger laptop sempat tertegun sejenak, menoleh dengan alis terangkat samar, seolah tidak percaya pria sedingin Arka baru saja mengucapkan terima kasih dengan nada yang begitu tulus.
Namun perempuan itu tidak banyak bertanya. Ia hanya tersenyum tipis, senyuman manis yang justru kembali membuat jantung Arka melompat tak karuan.
“Sama-sama, Pak Arka. Kalau begitu, saya bereskan meja ini dulu, lalu saya pamit ke kamar,” kata Naya sopan.
Arka mengangguk kaku, buru-buru berbalik dan melangkah cepat menuju kamar tidurnya, meninggalkan ruang tengah tempat aroma lavender dan debar jantungnya yang tidak karuan tertinggal di udara malam.
–tbc–
lanjut kak
lanjut