Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Perkelahian kecil
"Maaf," ucapku kemudian berdiri dan hendak pergi.
"Duduk."
Tapi aku tidak jadi pergi dan kembali duduk sesuai perintahnya.
"Xin."
"Ya Tuan," balas Xin.
"Ambilkan aku peralatan makan yang baru," balas Guan Yu.
"Baik Tuan."
Tak butuh waktu lama Xin datang membawakan beberapa alat makan yang baru untuk Guan Yu, lalu pria itu diam menatapku seakan menginginkan sesuatu.
"Apa?" tanyaku polos karena tidak mengerti.
Xin mendekatkan wajahnya dibelakang telingaku "Tuan memintamu untuk melayaninya," bisik Xin membuatku seketika sadar.
"Oh baiklah ... "
Aku mengambil beberapa lauk dan memasukkan lauk tersebut ke dalam mangkuknya dengan sumpitku, akan tetapi Guan Yu meletakkan sumpitnya lalu meminta Xin mengambil alat makan yang baru lagi.
"Apa yang salah?" batinku tidak mengerti.
"Nona, pakai sumpit yang baru saat mengambil lauk untuk Tuan muda," ucap Xin membisikkan kembali dan mengajari.
"Oh ... " seketika aku mengerti dan mulai melayani Guan Yu menyajikan makanan sesuai arahan Xin.
Setelah selesai makan, Guan Yu menatapku kembali. "Karena kau telah melanggar larangan yang ku berikan, maka hari ini aku akan menghukummu."
Aku menghela nafas pasrah dan mengangguk patuh agar tidak terkena masalah lebih panjang lagi.
"Dan hukumanmu yaitu, mulai sekarang kaulah yang akan melayaniku di meja makan dan juga melayaniku di dalam kamar."
"Apa? Melayani anda di kamar?" ucapku tidak setuju.
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau pikir aku seperti pria hidung belang diluaran sana?"
"B-bukan begitu Tuan," balasku.
"Karena aku melihatmu sudah membaik dengan berani berjalan keluar hingga sejauh ini, maka malam ini aku ingin melihatmu sudah berada di dalam kamarku dan melayaniku nanti malam," ucap Guan Yu kemudian bangun dan pergi bersama Xin yang tersenyum senang karena dirinya tidak perlu begadang malam ini.
Aku terpaku menatap kepergian Guan Yu, "Melayaninya di kamar? Aku tidak mau."
...***...
Malam harinya.
Kamar pribadi Guan Yu.
Aku duduk dibawah sambil menatap jam pasir dengan mata mengantuk, sesekali menggerutu karena sudah hampir tengah malam aku menunggu namun Guan Yu belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Kemana dia?" ucapku lalu menaruh daguku diatas meja.
Tak kuat menunggu lama dan rasa kantuk semakin menjalar dikedua mataku ini, akhirnya aku memutuskan untuk meletakan kepalaku diatas meja dan memejamkan mataku sejenak.
Namun belum ada semenit aku memejamkan mata, tiba-tiba sebuah hantaman kecil mengenai kepalaku hingga aku tersentak dan bangun.
"Tuan," ucapku sesekali menguap.
Guan Yu tak menjawab, ia duduk di depan meja dan memintaku untuk menghampirinya. "Kemarilah," titahnya.
"Ya Tuan," jawabku setia menunggunya memberi perintah.
"Tuangkan aku teh!"
"Ya, baik." Aku menuangkan teh hangat untuk Guan Yu sesekali menguap karena rasa kantuk.
"Apa kau mengantuk?" tanya Guan Yu dan aku mengangguk kecil.
"Kalau begitu ambilkan aku tinta dan kuas," titah Guan Yu kemudian.
"Baik," balasku patuh dan mencari-cari disekitaran kamar itu. Lalu, setelah menemukan barang yang di cari aku segera meletakkannya diatas meja dimana sudah ada kertas putih tergelar disana. "Ini tinta dan kuasnya Tuan," ucapku kemudan.
Namun Guan Yu hanya terdiam dan tidak menulis apapun.
Aku terdiam pula, sambil berusaha memahami apa yang ia inginkan. Lalu aku mengerti saat ia menatap wadah tinta yang mengering.
Dengan cepat aku mengambil batang tinta, sebuah tinta padat yang terbuat dari campuran jelaga (asap hitam hasil pembakaran kayu atau minyak) dan perekat organik (seperti lem kulit hewan atau getah pohon). Campuran ini kemudian dicetak dalam berbagai bentuk dan dikeringkan.
Kemudian menggosokkannya secara lembut diwadah tinta dengan sedikit air agar batang tinta mencair dan berubah bentuk menjadi cairan hitam pekat.
Sementara itu Guan Yu menatapi wajahku saat memutarkan batang tinta padat itu dan segera memalingkan wajahnya saat kedua mataku memergokinya.
"Tintanya sudah siap Tuan."
"Hmm ... " ucapnya lalu mulai menulis beberapa huruf sastra diatas kertas.
Selama menunggu tuanku menulis, aku memandangi kasur dan berpikir apa aku akan melayaninya disitu juga?
Aku lantas menggeleng. "Aku tidak mau," gumamku dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Guan Yu tanpa menoleh. Seakan mengerti kekhawatiranku.
"Tuan, kapan anda tidur?" tanyaku ingin tahu.
"Setelah aku selesai menulis ini, mungkin dua jam lagi."
Aku terbelalak. Dua jam lagi? Itu tandanya jam tiga ia baru selesai menulis, lalu kapan aku bisa tidur?
Mau tidak mau aku akhirnya menunggu Guan Yu menyelesaikan tulisannya, sesekali terjaga agar tidak ketiduran. Dan aku mengerti arti dari senyuman Xin waktu itu, karena selama ini dialah yang melayani Guan Yu di kamarnya setiap malam. Mungkin saat ia Xin sudah terlelap dan mimpi indah karena tidak perlu berjaga seperti yang ku lakukan saat ini.
Dua jam telah berlalu, begitu pula Guan Yu telah menyelesaikan tulisannya. Namun ada hal yang membuatnya mendesaah kesal, dimana aku telah tertidur pulas diatas meja.
Tidak ingin membangunkanku, Guan Yu malah menggendongku dan membaringkan tubuhku diatas kasur miliknya. Aku sempat terbangun, namun rasa kantuk menahan rasa penasaranku. Hingga akhirnya aku tertidur kembali dan terbangun dikeesokan paginya.
...***...
Aku mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku saat merasa hari sudah pagi, aku berbalik dan tersentak bangun ketika melihat seorang pria tertidur disampingku.
WUAHHH!!!
Pekikku histeris, sesekali memeriksa seluruh badanku yang masih tertutup pakaian kebesaran. "Ah syukurlah, tidak terjadi apa-apa?" ucapku menghela nafas lega saat melihat pakaianku masih sama dengan sebelumnya.
Namun teriakkanku tadi telah membangunkan Guan Yu.
"Berisik sekali," ucapnya lalu duduk. "Ada apa?" tanyanya tanpa dosa. "Apa lukamu masih sakit, sini biar ku periksa," ucapnya kemudian ingin melihat luka dibahuku.
Namun aku refleks menahan tangan Guan Yu agar tidak menyentuhnya.
"Kau berani melawan?" ucapnya memicingkan kedua mata dan menepis tanganku agar membiarkan dirinya melihat luka dibahuku.
Namun lagi-lagi aku refleks menghindar dan menjauh darinya.
Merasa kesal karena aku tidak menurut dan selalu menghindarinya, Guan Yu semakin gencar ingin melihat lukaku. Sehingga terjadi perkelahian kecil diatas kasur, bantal dan selimut berterbangan kemana-mana.
Hingga pada puncaknya kakiku turut menahan dada Guan Yu agar tidak mendekat.
Eh tunggu! Kenapa kakiku yang malah bergerak dan menendang dada bidangnya?
Guan Yu melototiku karena merasa aku ini kurang ajar padanya, lalu menangkap kakiku dan menarikku agar mendekat padanya. Sehingga aku kini telah terduduk diatas pangkuannya dan ia segera mengunci pergerakanku agar aku tidak menghindarinya lagi.
Sementara itu Xin berlari masuk setelah mendengar keributan didalam kamar tuannya, dan segera undur diri ketika melihat posisiku yang sedang terkunci diatas pangkuan Guan Yu.
Namun Guan Yu memanggil Xin agar mendekat. "Xin, ambilkan salep luka."
"Baik Tuan," balas Xin patuh dan menyerahkan salep luka pada Guan Yu. Lalu ia keluar dari kamar dengan senyuman yang sulit untuk diartikan. "Akhirnya tuan menjadi pria normal," batin Xin menepis dugaannya selama ini bila tuannya itu tidak peduli pada wanita dan sempat berpikir tuannya itu akan menjadi biksu dihari tua.
...***...
Setelah mendapatkan salep luka dari Xin, Guan Yu menyibak rambutku dan membuka sedikit baju atasku agar bisa mengoleskan salep pada luka dibahuku ini.
Aku sedikit meringis, namun Guan Yu segera meniup lembut kearah lukaku sehingga aku merasa nyaman. Dan setelah semua itu selesai, Guan Yu membuka kunciannya dan aku segera bangun dan menjauh darinya.
"Terima kasih Tuan," balasku berterima kasih.
"Hmm ... " balasnya memberikan salep luka padaku agar menaruhnya kembali. "Bawakan aku baju ganti dan bersihkan kekacauan dikamar ini!" titahnya kemudian.
"Baik Tuan," patuhku lalu menjalankan perintahnya.
...Bersambung....