wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 04 - Titisan Dewi?
...
Tunggu.
Celestia Lunastella Celesthior...
Bukankah itu namaku?
"Celes." Suara ayah langsung menyadarkanku. Aku segera memperbaiki sikap dan kembali berdiri dengan anggun. "Jadi... surat ini ditujukan kepadaku?" Kak Vian menganggukkan kepala. "Yang Mulia Raja memanggilmu untuk menghadap ke istana."
Dadaku seketika terasa sesak. Keinginan pertama yang muncul di kepalaku adalah menolak. Namun, begitu melihat wajah ayah dan ibu... aku tahu mereka sudah tidak memiliki pilihan. Aku menarik napas panjang. "Baik. Aku akan memenuhi panggilan Yang Mulia."
Begitu mendengar jawabanku, ibu langsung menundukkan kepala. Air mata kembali mengalir di pipinya. Aku tahu beliau sedang berusaha terlihat tegar di hadapanku. Namun sebagai seorang ibu... beliau pasti sangat takut kehilangan putri semata wayangnya.
Aku keluar lebih dulu dari ruang pertemuan. Tak lama kemudian, langkah kaki seseorang terdengar dari belakangku. "Namamu...Celes, bukan?" Aku menoleh. Kak Vian berdiri beberapa langkah di belakangku. Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Nada bicaranya datar. Namun justru karena itulah setiap ucapannya terasa jauh lebih tajam. "Benar." Aku membalas dengan senyum kecil khas anak-anak bangsawan. "Salam kenal, Kak Vian."
Ia menatapku tanpa berkedip. "Aku tidak percaya ada anak sepertimu." "Hm?" "Ikut denganku." Tanpa menjelaskan apa pun, ia berbalik dan mulai berjalan menyusuri lorong rumah. Aku pun mengikutinya.
Selama lima tahun tinggal di kediaman keluarga Celesthior, sebenarnya masih banyak ruangan yang belum pernah kumasuki. Sayap timur kediaman ini merupakan area pribadi milik kakak-kakakku. Para pelayan pun tidak pernah mengizinkanku berkeliaran ke sana. Karena itulah, lorong yang sedang kulewati terasa begitu asing.
Beberapa saat kemudian, Kak Vian membuka sebuah pintu kayu besar. Aku mengikutinya masuk. Begitu pintu tertutup... udara dingin langsung menyelimuti seluruh tubuhku. Aku tetap berdiri tegak demi menjaga martabatku sebagai putri keluarga Celesthior.
Pandanganku mulai mengamati setiap sudut ruangan. Rak buku memenuhi salah satu dinding. Di sisi lain terdapat meja kerja yang dipenuhi dokumen dan peta kerajaan. Beberapa foto serta piagam penghargaan juga terpajang dengan rapi.
Barulah saat itu aku menyadari sesuatu.
Selama lima tahun tinggal di rumah ini... aku sama sekali belum pernah memasuki ruangan ini.
Dan sekarang aku tahu alasannya.
Ruangan ini adalah...
Kamar Kak Vian.
Kak Vian berdiri membelakangiku. Suasana di dalam ruangan begitu sunyi hingga hanya suara napas kami yang terdengar. Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara. "Sekarang, bukalah topeng manismu itu, Celestia."
Aku berusaha tetap tenang. "Apa maksudmu, Kak Vian?" "Kita baru saja bertemu." Perlahan, ia membalikkan badan. Tatapan mata birunya yang dingin langsung tertuju kepadaku. "Di ruang pertemuan tadi, aku sama sekali tidak pernah menyebutkan namaku."
"Lalu..."
"Bagaimana kau bisa memanggilku 'Vian'?"
Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku benar-benar lupa akan hal itu. "Ibunda yang memberitahuku," jawabku cepat. "Itu tidak mungkin." Nada suaranya masih terdengar datar. Namun entah mengapa, justru itulah yang membuatnya semakin menekan. "Ibunda tidak pernah memanggilku 'Vian'. Apalagi di hadapan Ayah."
Aku menggigit bibir bawahku pelan. Aku memang ceroboh. Selama lima tahun hidup di dunia ini, aku terlalu terbiasa mengetahui nama lengkap seluruh anggota keluargaku hingga tanpa sadar memanggilnya dengan nama panggilannya. Kini, kesalahan kecil itu justru membuatku dicurigai.
Aku menundukkan kepala.
Kali ini... aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Jika aku terus berbohong, kemungkinan besar Kak Vian akan segera menyadarinya. Namun jika aku mengatakan yang sebenarnya... mana mungkin ada orang yang akan percaya bahwa aku adalah seseorang yang bereinkarnasi dari dunia lain?
Pilihan terbaikku saat ini hanyalah diam.
Lagipula... orang yang sedang berdiri di hadapanku bukanlah bangsawan biasa. Ia adalah Noctavian Frostmare Celesthior, penasihat termuda dalam sejarah Kerajaan Silveth. Beradu argumen dengannya hanya akan membuatku semakin terpojok.
"Siapakah dirimu sebenarnya?"
"Apakah kau benar-benar adikku?"
Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibir Kak Vian setelah beberapa menit kami terdiam. "Tentu saja aku adikmu," jawabku dengan tenang. Kali ini aku tidak berbohong. Aku memang terlahir kembali sebagai adiknya.
Kak Vian berbalik setelah mendengar jawabanku. Tatapan mata birunya tertuju lurus ke arahku selama beberapa detik, seolah berusaha membaca kebohongan di balik wajahku. "Sepertinya... kali ini kau mengatakan yang sebenarnya."
Ia kemudian membalikkan badan. "Aku akan menunggu kejujuranmu lagi pada pertemuan besok."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia melangkah keluar lebih dulu. Aku pun meninggalkan ruangan yang dipenuhi hawa dingin tersebut.
Aku tahu ucapan Kak Vian tadi bukan sekadar peringatan.
Itu adalah sebuah ancaman.
Dan besok, ia akan membuktikannya.