NovelToon NovelToon
Dari Putri Terbuang Jadi Permaisuri

Dari Putri Terbuang Jadi Permaisuri

Status: tamat
Genre:Ruang Ajaib / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Konflik etika / Obsesi / Tamat
Popularitas:603.1k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Ketika Ling Xi menjadi putri yang tak dianggap di keluarga, lalu tersakiti dengan laki-laki yang dicintai, apalagi yang harus dia perbuat kalau bukan bangkit? Terlebih Ling mendapatkan ruang ajaib sebagai balas budi dari seekor ular yang pernah dia tolong sewaktu kecil. Dia pergunakan itu untuk membalas dan juga melindungi dirinya.

Pada suatu moment dimana Ling sudah bisa membuang rasa cintanya pada Jian Li, Ling Xi terpaksa mengikuti sayembara menikahi Kaisar kejam tidak kenal ampun. Salah sedikit, habislah nyawa. Dan ketika Ling Xi mengambil sayembara itu, justru Jian Li datang lagi kepadanya membawa segenap penyesalan.

Apakah Ling akan terus bersama Kaisar, atau malah kembali ke pelukan laki-laki yang sudah banyak menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Ke Pesta Rakyat

Langkah Ling Xi diiringi oleh bisikan-bisikan kalimat menyakitkan Jian Li yang terus bergema di benaknya. Pengakuan bahwa Jian Li tidak mungkin mencintainya, bahwa menjadikannya kekasih hanyalah siasat agar bisa menyusup ke dalam keluarga Ling tanpa dicurigai, semua demi mendekati sang kakak.

Bersama dengan itu, berbagai ucapan lain yang menusuk hati Ling Xi ikut terngiang. Namun Ling Xi tidak pernah memasukkan ke dalam hati saat Jian Li menyebutnya bodoh. Ia tahu itu benar adanya. Meski telah belajar dengan tekun, ia tetap tidak mampu memahami pelajaran akademik, apalagi seluk-beluk tata kerajaan, ilmu cendekiawan, atau alkimia.

Kemampuannya hanya sebatas melukis, memainkan alat musik tradisional, dan berinteraksi dengan hewan. Hobinya adalah berkelana di lingkungan sekitar, sebuah hal yang kurang diminati oleh sang ayah. Padahal setiap manusia pasti dianugerahi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hanya saja kelebihan Ling Xi kurang sreg dengan kemauan sang ayah.

Sesampainya di kediaman Jian Li, Ling Xi segera mengetuk pintu. Dari dalam,Jian Li mengerutkan dahi, bertanya-tanya siapa gerangan yang bertamu. Para pengawalnya sudah pergi sejak tadi, bukan?

Jian Li bangkit dan membuka pintu. Ia cukup terkejut melihat Ling Xi berdiri di hadapannya.

"Ling Xi? Ada urusan apa kau datang kemari? Aku bahkan sedang bersiap-siap untuk pergi," ujar Jian Li, seolah kehadiran Ling Xi adalah penghambat urusannya karena harus menjamu wanita itu.

"Jian Li, tidak perlu cemas. Aku hanya ingin menitipkan buah tangan untuk kedua orang tuamu. Aku tidak akan berlama-lama di sini, karena sepertinya kau sedang terburu-buru."

Ling Xi memberi isyarat kepada para pelayan dan pengawalnya untuk menyerahkan buah tangan yang telah ia persiapkan.

Pandangan Jian Li tertuju pada barang-barang bawaan itu. Ketegangan di wajahnya perlahan memudar. Ia menerima buah tangan itu dengan tangan terbuka, mengucapkan terima kasih, lalu tersenyum. Ling Xi membalas dengan senyum yang sangat tipis, cenderung enggan untuk tersenyum.

Bukan Ling Xi bodoh sudah tahu Jian Li hanya memanfaatkannya, dan melukai hatinya masih tetap saja bersikap santai, biasa saja sekaan tidak terjadi apa-apa. Ia hanya ingin tahu sejauh mana drama ini akan berlanjut. Ling Xi bertekad menjadikan semua ini sebuah kenangan yang tidak terlupakan, sebagai pengingat bila kelak Jian Li menyesal. Karena, Ling Xi takkan pernah menerimanya kembali.

Dengan bersikap santai seperti ini, tanpa amarah, tangisan, atau kekecewaan yang meluap-luap, ia membuat Jian Li seolah tidak memiliki arti baginya. Meskipun sejujurnya hati Ling Xi hancur, ia memilih untuk tetap mengikuti alur drama yang dimainkan oleh Jian Li.

Setelah semua barang diletakkan di kereta kuda yang akan digunakan Jian Li, Ling Xi bersiap untuk pamit. Namun sebelumnya ia mengutarakan sesuatu.

"Jian Li, pekan depan ada pesta rakyat di alun-alun dekat istana Nanshu. Aku akan pergi ke sana, apakah kau mau ikut?"

"Perkiraanku, pekan depan aku masih belum bisa kembali dari urusanku. Jadi sepertinya aku tidak bisa ikut," jawab Jian Li.

"Sayang sekali. Keluargaku akan ikut. Kak Xiu Ying juga akan pergi kesana karena ada beberapa barang yang ia cari," ujar Ling Xi.

Mendengar nama Xiu Ying, Jian Li tiba-tiba mengubah keputusannya. "Terkadang perkiraan bisa meleset. Aku akan usahakan agar urusanku cepat selesai dan bisa ikut bersamamu."

Tangan Ling Xi mengepal, namun ia tetap mempertahankan raut wajah datarnya.

"Baiklah."

Aku pasti datang kesana untuk memastikan Xiu Ying mendapatkan apa yang dia mau. Jika ia telah berani menyelamatkan ku sewaktu kecil dari seekor ular, maka ijinkan aku untuk jadi pelindungmu, Xiu Ying ku. Batin Jian Li.

Jian Li pergi dengan kereta kudanya, Ling Xi pun kembali ke kediamannya. Di sepanjang perjalanan, ia terlibat percakapan dengan pelayannya, A Mei.

"Mohon maaf, Nona. Bolehkah bawahan ini menanyakan sesuatu?"

"Tanyakan saja."

"Apakah bawahan ini tidak salah dengar, Nona? Tuan Muda Jian Li apakah benar beliau seorang putra mahkota?"

Ling Xi menghela napas panjang. "Iya, kau tidak salah dengar. Tapi mereka tidak menyebut dari kerajaan mana. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana kalau ia menjadi Kaisar nanti, sedangkan sebagai putra mahkota saja sudah sanggup melukai hatiku. Pasti dia banyak melukai hati rakyat. Lupakan saja soal ini, A Mei. Anggap saja kau tidak pernah tahu. Ini bukan urusan kita."

"Baik, Nona."

...*****...

Kerajaan Donghai

Putra mahkota Jian Li disambut oleh kasim begitu ia menginjakkan kaki di istana. Sebuah pesan singkat nan penting disampaikan, "Tuan Muda Mahkota, Yang Mulia Kaisar menanti kedatangan Anda."

Jian Li mengangguk. Ia segera menuju tempat dimana ayah dan ibunya telah menunggu.

Ia memberi hormat kepada kedua orang tuanya, dan di balik punggungnya para pelayan dan pengawal maju.

 "Ayah, Ibu," ucapnya. "Ada buah tangan dari seseorang untuk kalian."

Mereka memeriksa hadiah itu dengan saksama. setelah aman barulah diberikan kepada Kaisar dan Permaisuri. Buah persik dewa dari Kebun Utara, teh bunga seribu tahun dari Gunung Langit, acar plum, dan sebuah lukisan anggrek yang entah kenapa dimata Kaisar terlihat unik.

Hadiah itu aman dan indah. Kaisar terkesima, "Lukisan anggrek ini sangat unik. Pemberinya pasti bukan orang sembarangan. Apakah mereka dari kalangan bangsawan?"

"Mereka memang berasal dari kalangan bangsawan, Ayah."

"Semoga saja kamu berjodoh dengan pemberi hadiah ini," celetuk Kaisar, memancing senyum di wajah Jian Li. "Bagaimana kalau Ayah membicarakan ini dengan orang tuanya agar kamu menikah dengannya?"

Mendengar itu, Jian Li langsung meralat. "Aku memang ingin membicarakan ini kepada ayah. Namun yang ingin aku lamar putri tertua keluarga Ling, namanya Xiu Ying. Sedangkan yang memberikan hadiah ini adalah Ling Xi, adiknya."

Mata Kaisar memancarkan kekecewaan, tapi ia tetap mendengarkan putranya.

"Aku sengaja menyembunyikan identitasku, dan mereka tidak tahu bahwa aku adalah putra mahkota Kerajaan Donghai."

Kaisar mengerutkan kening. Dalam hatinya, ia membayangkan sosok yang mengirimkan hadiah-hadiah istimewa itu, berharap putranya memilih wanita itu, bukan Xiu Ying.

"Padahal aku tertarik sama yang memberikan lukisan ini." Bisik Kaisar kepada permaisurinya, yang dijawab dengan senyuman.

"Jadi menantu, bukan ku jadikan selir." Lanjut Kaisar karena senyuman permaisurinya menakutkan.

"Nah, ini kan lebih jelas. Aku pun setuju denganmu."

Seharusnya tidak aku sampaikan buah tangan ini kepada ayah dan ibu. Lebih baik buang saja jika pada akhirnya menimbulkan perbandingan. Ah ya, ini pasti sengaja dilakukan Ling Xi agar dia mendapatkan simpatik. Benar-benar manipulatif. Ayah belum tahu saja bagaimana manipulatifnya Ling Xi. Batin Jian Li yang kesal karena ayahnya jadi lebih condong ke wanita itu.

.

.

Bersambung.

1
Endang Sulistia
pret..
Nay Galcite Nay Galcite
😊😊
Ari Peny
sptnya yg ngutuk lin feng ini org
Musliha yunos
👍
Ari Peny
bagus lin xi aq suka cewek tegas gitu
Ari Peny
kok yg ngantuk hanya ayah ibu tirinya kok gk ngefek
Ari Peny
coba baca sptnya bagus
Moertini
terimakasih Author sudah tamat mantap seruuu dan asyiiik berakhir bahagia semua memang banyak pelajaran hidup perlu direnungkan dan diambil manfaat hidup disitu dilanjutin Author selau berkarya semangat
Zenun: Terimakasih sudah mampir baca kak
total 1 replies
Moertini
Ibu Suri yang memang berhati baik mengajak putra Li Feng untuk memastikan kebenaran siapa sebenarnya Hua apakah Hua akan diketahui identitasnya asyiiik Author dilanjutin selalu sehat
Moertini
Kaisar Li Feng dan Permaisuri yang berhati lembut yang punya ide untuk rakyat Dong selalu sejahtera telah melahirkan putera mahkota Kaisar Dong kebahagiaan meliputi Kaisar Li Fang dan permaisuri sekeluarga bersama seluruh rakyat Dong permaisuri berhati baik suka menolong pasti mendapatkan kebahagiaan yang hakiki mantap Author dilanjutin semangat
Moertini
Kaisar Li Feng dan permaisuri Xin Li hidup bahagia dan harmonis setelah kutukan Kaisar Li Feng disembuhkan permaisuri cinta mereka tambah kuat dan Kaisar Li Feng jadi bijaksana tidak kejam lagi maka dengan diam-diam melindungi ayah permaisuri seruuu Author dilanjutin semangat
Moertini
Jia Li apakah akan berbalik hati meninggalkan Lin Xi dilanjutin Author semangat
Retno Palupi
mungkin itu anak Jian li?
Oi Min
Hua ini anak Jian Li y??
Oi Min
seperti itu.....
Oi Min
podo
Oi Min
sdah menduga sech klo A-mei g akan baik2 saja..... tp knp hrs sampai meningsoy???
Oi Min
astaga.... ada ya manusia se tampan itu??? 😍😍😍😍😘
Oi Min
cih.... pede gila
Oi Min
wkwkwkwkkk...... aq bahagia liat Jian Li menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!