WARNING!!
MENGANDUNG UNSUR DEWASA DAN PELAJARAN HIDUP LAINNYA. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.. 🙏🙏
Hai Pencinta Pelangi Setelah Hujan (PSH) season 1.. Allhamdulillah akhirnya di awal Ramadhan Tahun ini release..
*
Aku adalah Rizkiya.. mereka menyapaku Kiya, sedari kecil aku sudah harus berjuang untuk kehidupanku, orang tua dan keluarga juga ikut memberi dukungan hingga support yang luar biasa untukku..
Aku Menjalani hari-hariku penuh perjuangan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk 'Berubah' .. Namun ternyata perubahan pada diriku mengarahkan diri ini Kalam kemelut cinta yang begitu membuat hatiku hancur...
🌷🌷
Aku Adalah Rizky, Kehidupanku sangat sempurna, tak ada yang tidak bisa aku raih di dunia ini.. Orang tuaku dan keluargaku selalu bangga padaku meski di belakang mereka aku banyak melakukan hal bodoh.. Hingga ketika jalan hidupku membawaku dalam sebuah pelajaran hidup yang kemudian merubahku..
⭐⭐⭐⭐
Apakah Cobaan yang akan kami hadapi?
Mari Beri dukungan kalian yaa 🙏😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mynamei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 30
Kiya terlelap, tanpa ia sadari dengan nyaman merebahkan kepalanya di bahu kanan Deon.. Deon pun terlelap dalam tidurnya, ia juga menyandarkan kepalanya sebagian di atas kepala Kiya yang berada di bahunya. Perjalanan yang mereka tempuh cukup panjang, membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di pusat kota Bandung.
Deon tebangun saat merasakan getar yang ia rasakan di area tangannya, yang berasal saku dari jaket yang masih Kiya kenakan.
Deon tersenyum menatap sebagian wajah Kiya yang tengah terlelap tidur..
Deon melihat ke arah jalan, Lima belas menit lagi mereka akan tiba di pusat kota,maka itu adalah waktu yang tepat untuk Deon membangunkan Kiya.
Dengan lembut dan sedikit sentuhan pada pipi Kiya, Deon nampaknya sedikit menyadari bahwa ia sudah sedikit melampaui batas.
Kiya pun terbangun saat sentuhan memberi rasa pada tubuhnya.
Namun Deon bersikap seolah tak terjadi apapun, sedikit salah tingkah memang, namun sudahlah Deon nampaknya enggan menunjukan daya tariknya.
"Astaga... maaf pak, saya ngantuk" kata Kiya sambil bergeser sedikit dari posisinya.
"Tak apa, ponselmu terus bergetar, Kiya.. nampaknya penting" kata Deon membuat Kiya melihat jam tangannya yang menerima notifikasi dari ponselnya.
"Hemm pantas aja, low jam aku ini" kata Kiya sambil merogoh saku jaketnya, meraih ponsel nya yang berada disana.
"Waw banyak banget, Ichal, mama" kata Kiya kemudian menghela nafasnya.
"Selalu mereka yang meramaikan pesan singkatku" kata Kiya terkekeh emembuat Deon tak bosan memandang senyum Kiya.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu pada Zhiva?" kata Deon membuat Kiya menatap Deon sejenak.
Waw.. ternyata pak Deon perhatian juga ya ke Zhiva.. Batin kiya kemudian ia kembali fokus pada ponselnya.
"Oh.. ini, Ichal hanya meminta beberapa potong baju salin..."Kata Kiya memberlihatkan sekilas layar ponselnya yang tengah membuka percakapan singkat Kiya dan Ichal.
"Lalu mama kamu??" tanya Deon lagi, membuat Kiya tersenyum.
"Mama itu setiap hari pasti chat, pak.. tidak akan berhenti sebelum saya membalas atau menerima panggilannya...
"Waw, anak mami ya?" ledek Deon.
"Begitu sebenarnya, tapi saya berusaha lari dari image itu, dengan beradanya saya dalam Masalah ini bisa kan merubah sedikit image itu???" kata Kiya dengan penuh harapannya sambil memasang wajah tersenyumnya.
"Hemm yaa.. kalo saya tidak tahu sebesar itu posesif nya mama kamu, saya ga menyangka kamu anak mami" kata Deon sambil terkekeh, seketika wajah Kiya memerah, entah apa penyebabnya.. Kiya merasa tersipu malu saat Deon menampakkan senyum lebar di wajahnya yang tampan..
"Oh iya" Deon berusaha keluar dari pembahasan.
"Ini kamu mau ke rumah sakit? apartemen? atau ke Jakarta?" kata Deon di akhiri dengan candanya.
"Gak lah kalo kejakarta...." kata Kiya terkekeh.
"Pengen beli baju kali ya untuk Ichal, yang benar aja dia minta aku bawakan baju, nyatanya aku gapunya akses masuk ke kostnya" kata Kiya menjelaskan..
"Oh boleh, lewat pertigaan depan banyak distro gitu kan? mampir aja ya" kata Deon membuat Kiya mengangguk setuju..
*
"Kamu beli itu untuk ichal?" kata Deon melihat Kiya membawa satu baju berwarna pink..
"Haha engga pak, ini untuk saya... saya putuskan untuk menginap semalam di rumah sakit.. ini untuk Ichal" kata Kiya kemudian sambil memperlihatkan pakaian untuk Ichal.
"Oh gitu.. tapi besok kalian ada kelas kan?" tanya Deon membuat Kiya menghembuskan nafasnya kasar.
"oh iya yaa.. bapak gamau cuti? sehari? hehehe yaa itung-itung bapak besok istirahat, relax" kata Kiya dengan gaya konyol nya.
"Tidak.. saya akan tetap masuk!" kata Deon cuek dan tegas.
"Baiklah..." kata Kiya yang sudah cukup malas meladeni Deon jika sudah bersikap tegas, tegas nya sudah menujukan sikap keras kepalanya.
Deon kemudian mengantar Kiya hingga persis berada di depan kamar perawatan Zhiva.. sebenarnya Kiya mengajak Deon untuk sejenak makan malam, namun Deon menolaknya dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggunya.
Kiya masuk seorang diri, ia kemudian menceritakan kejadian yang baru ia alami bersama Deon, mulai dari jebakkan sandiwara Kiya hingga tertangkapnya Bima oleh pihak berwajib.
Dua jam berlalu... Kiya, Ichal dan Zhiva tengah berbincang seru.. Kiya dan Ichal berusaha melepas traumatik yang menimpah Zhiva, berbincang sambil canda tawa adalah hal yang paling tepat untuk menghibur Zhiva saat ini.
"Yesss besok liburr kelas pak Deon" Ichal mengejutkan Kiya dan Zhiva karena sorak kegirangannya saat membaca pesan singkat pada ponselnya.
"Masa si??" kata Kiya tak percaya.
"Bener... buka grup chat kelas deh" kata Ichal emmbuat Kiya mengeceknya sendiri.
Pak Deon benar ga masuk? kenapa ya?? apa karena aku yang bicara seperti tadi? hemm ataukah dia benar-benar sakit?? Batin Kiya saat membaca pesan singkat di grupnya, salah satu mahasiswa yang memiliki tanggung jawab mengatakan bahwa Deon tidak dapat hadir karena sedang tidak enak badan..
Kiya sedikit gelisah, salah satu cara adalah menghubungi Deon.. namun Kiya merasa tak enak jika harus menghubungi nya lewat panggilan telfon, Kiya memilih untuk menannyakan perihal tersebut lewat pesan singkat..
Dalam malam Kiya menanti balasan pesan singkat dari Deon, hampir tengah malam Kiya masih terjaga dan belum juga mendapatkan pesan singkat dari Deon..
Ini gue kenapa berharap banget pak Deon balas ya? lucu! padahal dia hanya dosen yang akhirnya terlibat dalam Masalah ini... please Tuhan, jangan buat aku memiliki rasa dulu terhadap pria-pria disana, tumbuhkan aja rasa percaya dan kirim saja pria terakhir untukku... aku malas Tuhan merasakan sakit hati.. bahkan saat aku menyukai Bima dengan hati pun masih terasa sakit saat aku tahu dia begitu bejat! Batin Kiya memunajatkan harapannya..
*
Pagi ini, Kiya mengurus segala administrasi untuk kepulangan Zhiva dari rumah sakit, Kiya meminta Zhiva untuk tinggal bersamanya di apartemen Kiya untuk beberapa waktu, mengingat kiya belum tahu pasti bagaimana kasus yang menyangkut sahabatnya itu..
Apa aku tanya pak Deon?? tapi pesanku semalam aja belum di balasnya...
Kiya sedikit melupakan hal tersebut, ia begitu senang saat Zhiva sudah jauh membaik dan dapat kembali kerumah..
Tiba di apartemen Kiya, siang hari..
Kiya dan dua sahabatnya tengah menyantap nikmat masakan rumahan bibi yang selalu mereka rindukan, terlebih Zhiva yang sudah sangat bosan dengan makanan rumah sakit.
Di tengah makan siangnya, terdengar bunyi bel tanda kedatangan tamu, bergegas bibi membukanya...
"Kediaman sodari, Rizkya?? " suara tegas dan lantang membuat bibi terdiam sejenak, wajah bibi pucat melihat sosok pria dengan postur tubuh tinggi tegap berseragam ...
Astagfirullahhaladzim... apa lagi ini...!!
Batin bibi penuh dengan kekhawatiran..
*
*
*
oh.. oww siapa diaaa yang datang?? heheheh
😘❤️
Like
komen
gift jika aja rejeki
vote jika layak
❤️❤️❤️❤️
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN, LOVE!
malas baca lebih suka dengan in
buntu ya kehabisan