Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Eduard Bakker
Van der Linden tertawa pelan—tawa pertama yang keluar dari mulutnya sejak tiba di kadipaten.
"Anda mengerti kuda, Tuan Adipati?"
‘Lebih dari yang kau tahu, Tuan Residen,’ batin Arjo. ‘Empat belas tahun mengurus kuda sebelum jadi bayangan bupati. Aku tumbuh besar bersama kuda. Pagi, siang, malam, hujan, panas. Tidak ada yang lebih mengerti kuda daripada aku.’
"Sedikit." Arjo menjawab dengan rendah hati. "Kadipaten kami terkenal dengan kuda-kuda penarik kereta yang bagus."
Agnes mendengkus pelan, suara yang jelas menunjukkan ia tidak suka disamakan dengan kuda. Tapi ia tidak membantah.
Gadis itu terus menatap Arjo, jelas akan membuka pertanyaan baru dan Arjo sengaja tak menoleh sama sekali, memutuskan untuk mengalihkan topik sepenuhnya.
"Tuan Residen, berbicara tentang minggu depan, saya dengar akan ada pesta penyambutan resmi untuk Anda di gedung karesidenan?"
Van der Linden mengangguk, tampak lega pembicaraan bergeser ke hal yang lebih aman.
"Benar, Tuan Adipati. Sabtu depan. Semua pejabat tinggi di wilayah ini akan diundang. Termasuk Anda, tentu saja."
"Saya akan hadir dengan senang hati." Arjo mengangguk. "Dan saya juga mendengar ... ada acara khusus yang akan diumumkan?"
Van der Linden berdeham, melirik putrinya.
"Ya. Kami juga akan mengumumkan pertunangan Agnes dengan Letnan Eduard Bakker."
Trang!
Garpu Agnes, untuk kedua kalinya malam itu, jatuh ke piring.
"Tidak."
Satu kata. Tegas.
Van der Linden menghela napas berat. "Agnes, kita sudah membahas ini—"
"Aku tidak mau menikah dengan pria itu." Agnes mengangkat wajah, mata berkilat. "Aku tidak mengenalnya. Aku tidak mencintainya. Dan aku tidak akan menjadi istri perwira militer yang kerjanya hanya membunuh orang."
"Letnan Bakker adalah pria terhormat dari keluarga baik-baik—"
"Terhormat?" Agnes tertawa sinis. "Dia ikut menumpas pemberontakan di Sumatera. Berapa ratus orang yang dia bunuh? Berapa ribu yang dia kirim ke Digul?"
"Itu tugasnya sebagai prajurit!"
"Itu pembantaian!"
Suara mereka naik, memenuhi ruang jamuan. Para abdi di sepanjang dinding tampak tidak nyaman, mata tertunduk, pura-pura tidak mendengar.
Arjo mengangkat tangan.
"Tuan Residen. Nona."
Keduanya menoleh.
"Mungkin," Arjo berbicara dengan suara tenang yang berhasil memotong ketegangan, "ini bukan pembicaraan yang tepat untuk meja makan?"
Van der Linden menutup mata sesaat, memijat pelipisnya.
"Anda benar, Tuan Adipati. Maafkan kami." Ia menghela napas panjang. "Saya terlalu banyak membawa masalah keluarga ke hadapan Anda."
"Tidak perlu minta maaf." Arjo menuangkan anggur ke gelas van der Linden yang sudah kosong. "Saya memahami. Membesarkan anak memang tidak mudah. Apalagi anak gadis."
Van der Linden menerima gelas itu dengan anggukan lelah.
"Anda tidak tahu betapa lelahnya, Tuan Adipati." Ia meneguk anggur dalam satu tegukan besar. "Agnes sudah berusia dua puluh tiga tahun. Di usia itu, gadis-gadis Eropa lain sudah menikah dan punya anak. Tapi dia ...."
Ia melirik putrinya yang duduk dengan tangan terlipat di dada, wajah keras.
"Dia menolak setiap perjodohan. Setiap pria yang saya kenalkan." Van der Linden menggeleng. "Saya sudah hampir putus asa. Saya pikir, kalau ada suami yang tegas, mungkin dia akan ... lebih tenang. Lebih terkendali."
Agnes mendengkus. "Jadi menurut Papa aku perlu dikendalikan? Seperti kuda liar?"
"Kau perlu seseorang yang bisa menjagamu, Agnes! Aku tidak akan bisa menjagamu sepanjang waktu. Aku mulai menua, tidak segesit dulu, dan kenakalanmu, tidak berkurang sama sekali!"
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Jelas tidak bisa, kalau melihat apa yang terjadi hari—"
Van der Linden berhenti mendadak, menyadari ia hampir membocorkan sesuatu.
Arjo berpura-pura tidak menangkap keanehan itu.
"Tuan Residen." Suaranya lembut. "Seperti yang saya bilang tadi, kuda muda butuh kesabaran. Semakin dipaksa, semakin memberontak."
Van der Linden memandangnya dengan tatapan lelah.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Tuan Adipati? Membiarkan dia berlari liar sampai ...."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tak ingin semakin banyak membeberkan kegilaan putrinya.
‘Sampai dia tertangkap polisi,’ tebak Arjo dalam hati. ‘Sampai dia masuk penjara. Sampai dia berakhir di Digul dan mempermalukannya?’
Arjo terdiam sejenak, berpura-pura berpikir.
"Mungkin," ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, "yang dibutuhkan bukan kendali paksa. Tapi alasan untuk tinggal."
Van der Linden mengangkat alis. "Maksud Anda?"
"Kuda liar kabur karena tidak ada yang membuatnya ingin tinggal." Arjo mengedikkan bahu. "Tapi kalau dia menemukan sesuatu yang membuatnya memilih untuk tinggal ... maka tidak perlu ada kandang. Tidak perlu ada rantai."
Agnes menatapnya.
Untuk sesaat, mata amber itu tidak berkilat dengan kemarahan atau tantangan. Ada sesuatu yang lain di sana.
‘Ketertarikan? Keingintahuan?’
‘Atau hanya imajinasimu, Arjo?’
Van der Linden menghela napas.
"Kata-kata yang bijak, Tuan Adipati. Tapi lebih mudah diucapkan daripada dilakukan." Ia meletakkan gelasnya, mengusap wajah dengan telapak tangan. "Maafkan saya. Saya terlalu banyak bercerita tentang masalah keluarga. Ini tidak pantas untuk jamuan seperti ini."
"Tidak perlu meminta maaf, Tuan Residen." Arjo tersenyum ramah. "Kita semua punya beban masing-masing. Berbagi kadang meringankan."
Ia mengangkat gelasnya.
"Mari kita bersulang saja. Untuk kerja sama yang baik antara kadipaten dan karesidenan. Dan untuk ... masa depan yang lebih baik."
Van der Linden mengangkat gelasnya, membalas senyum dengan anggukan.
Agnes tidak mengangkat gelasnya. Tapi mata kucing yang sejak tadi penuh permusuhan kini memandang Arjo dengan sesuatu yang berbeda.
‘Penasaran.’
‘Dia ingin tahu lebih banyak tentang "cara lain" yang kusebutkan tadi. Dia ingin tahu siapa sebenarnya bupati ini. Kenapa pintar dan sabar sekali?’
Arjo menyesap anggurnya, menyembunyikan senyum tipis di balik bibir gelas.
‘Bagus. Biarkan dia penasaran. Karena aku juga sangat penasaran denganmu, Nona bermata kucing.’
Makanan penutup tiba—speculaas dan vlaai yang manis, disajikan dengan teh panas dan kopi Jawa.
Para abdi membereskan sisa-sisa makan malam dengan gerakan yang terlatih dan tanpa suara. Piring-piring kotor menghilang, digantikan cangkir-cangkir porselen cantik yang mengepulkan uap harum.
Arjo mengangkat cangkir kopinya ketika seorang pria berseragam militer muncul di ambang pintu ruang jamuan.
"Tuan Residen." Pria itu membungkuk. "Maaf mengganggu, tapi ada laporan mendesak dari Batavia."
Van der Linden mengerutkan dahi, tampak terkejut.
"Dari Batavia? Sekarang?"
"Ya, Tuan. Kurir baru tiba. Mereka bilang tidak bisa menunggu, dan harus disampaikan langsung, tanpa perantara."
Van der Linden meletakkan cangkirnya dengan helaan napas.
"Tuan Adipati, maafkan saya. Keadaan sekarang sedang … genting. Pemberontakan di mana-mana. Sepertinya saya harus meninggalkan Anda sebentar." Ia bangkit dari kursi, melirik putrinya. "Agnes, bersikaplah baik. Tuan Adipati sudah cukup sabar menghadapimu malam ini."
Agnes tidak menjawab. Hanya mengangkat cangkir tehnya dengan gerakan yang terlalu malas.
Van der Linden mengangguk pada Arjo.
"Saya tidak akan lama, Anda tidak keberatan menemani putri saya?"
ora salah masmu ngangkat kowe💪💪💪
jodoh takkan kemana... sama" berjuang😍
yaaaa dan skrg gmn ya arjo bisa mengatasi itu
pandai merangkai kata
bisa lasih flash back nya ndoro 🤭🤣🤣
aq kok penasaran deh