Wrenny Saragih, wanita berusia 30 tahun yang mewujudkan ambisinya menjadi pengacara di hadapkan pada kisah masa lalu yang mengganggu Hidupnya.
Dominic Sinatria, lelaki bodoh yang menganggap istrinya juga mencintainya.
Alur maju mundur. Diharapkan jika membaca harus teliti di setiap narasi.
Enjoy it ! Thanks....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOEASY (NOISY)
Dengan perasaan lega bercampur syukur, pengacara yang kini berusia 30 tahun itu keluar dari kantor Mapolresta. Setelah beberapa jam menemui kliennya yang menjadi tersangka pembunuhan yang mayatnya di temukan di pinggir jalan tol dengan kondisi yang mengenaskan.
Wren membeberkan beberapa bukti yang menunjukkan jika si tersangka yang berprofesi sebagai sopir truk antar propinsi ini tidak bersalah.
Beberapa waktu yang lalu, Wren pernah berpesan pada kliennya jika penyidik memaksanya untuk mengaku, dengan tegas tersangka harus menolak. Memang ada asas praduga tak bersalah, namun si klien juga berhak membela dirinya sendiri dan terbukti tidak bersalah.
Di bantu Bianca Dan Glenn, Wren berhasil lebih dulu mengungkap identitas korban melalui jaringan media sosial. Mencari anggota keluarga yang mungkin kehilangan seseorang beberapa minggu belakangan ini. Dengan ciri-ciri lelaki, berusia sekitar 25 tahun. Korban mempunyai ciri fisik tinggi sekitar 170cm, badan proporsional, rambut cepak, kulit kuning langsat, hidung mancung, ada tahi lalat di pundak sebelah kanan.
Tiga hari kemudian, ada beberapa keluarga yang datang ke kantor James & co untuk mengkonfirmasi perihal penemuan mayat yang mungkin adalah anggota keluarga mereka. Setelah Wren menunjukkan foto yang di ambilnya secara sembunyi-sembunyi di ruang otopsi, barulah terungkap identitas korban. Dia adalah Benny Prasetyo, seorang Pegawai Negeri Sipil di sebuah instansi Kabupaten di Jawa Barat.
Titik terang mengenai identitas korban akan membuka tabir misteri kasus ini selanjutnya. Wren datang bersama Glenn ke Mapolres beserta keluarga korban untuk memberikan keterangan. Kakak perempuan korban bercerita, adiknya yang bernama Benny ini ijin keluar rumah untuk menemui pacarnya. Dan setelahnya, Benny tidak pernah nampak lagi hingga di temukan sudah menjadi mayat.
Polisi yang menyelidiki, sedikit geram dengan tindakan Wren yang bergerak Sendiri tanpa melibatkan polisi. Namun jawaban menohok Wren mampu membungkam mereka.
"Saya tahu bapak-bapak ini dapat tekanan dari publik untuk segera menangkap pelaku. Dan saya juga berhak membela orang yang sebenarnya bukan pelaku pembunuhan ini. Bahkan saya juga tidak boleh melihat mayat atau hasil otopsinya saja. Maaf jika tindakan saya gegabah. Saya tidak mungkin membiarkan klien saya di tuduh dengan perbuatan yang sama sekali tidak pernah beliau lakukan. Andai saja, ada gigi klien saya yang hilang saat penyidikan, saya bisa tuntut balik anda"
Polisi memang mempunyai dalih asas praduga tak bersalah. Namun , mereka tidak boleh semena-mena melakukan kekerasan agar tersangka mengakui perbuatannya. Terduga pelaku yang di bebaskan, sujud syukur di depan halaman Mapolres. Beliau menangis berterima kasih kepada pengacara James & co yang sungguh-sungguh membantu.
"Terima kasih Bu, sudah membela saya. Ibu sudah percaya kalau bukan saya yang membunuh. Demi Allah Bu, niat saya cuma mau nolong. Bukan pelaku pembunuhan."
"Sama-sama Pak, jika di jalan Bapak menemui kejadian kriminal serupa, Bapak harus di dampingi saksi atau warga sekitar." Wren menjabat tangan klien yang kini menghirup udara bebas dengan status hukum yang jelas.
Jaman sekarang banyak sekali terjadi. Orang yang berniat menolong malah di tuduh pelaku. Membuat empati mereka seakan terkikis oleh rasa takut. Akhirnya, mereka membiarkan korban yang sebenarnya masih bisa di tolong malah meregang nyawa karena tidak punya keberanian untuk menolong.
"Akhirnya, aku lega banget deh Mbak. Kasus yang kita tangani udah selesai. Meskipun pelaku yang sebenarnya belum tertangkap tapi kita bisa membebaskan klien. Kan emang dia enggak salah" Glenn tersenyum lega berjalan beriringan bersama seniornya menuju tempat parkir.
"Laporan firma udah di kirim by email belum?" Alih-alih menanggapi kelegaan juniornya, Wren malah melempar pertanyaan. Dia teringat, Sir James mengiriminya email untuk segera mengirimkan laporan perkembangan kasus di firma. Jika ada kasus yang sangat sulit di tangani dan belum ada titik temu, Sir James akan menambahkan beberapa junior associate untuk memberikan bantuan.
"Siang ini mungkin udah di kirim sama Bianca."
"Kan biasanya Anita yang ngirim?" Dahi Wren berkerut, karena laporan firma biasanya di handle sendiri oleh Anita. Mungkin, Anita memberikan kesempatan untuk Bianca.
"Mbak Anita itu sibuk sama perceraian Pak Dominic yang ribet itu Mbak. Kasusnya aja jalan di tempat. Dan pengacara Bu Kalinda juga meminta sidang berikutnya di tunda. Entah alasannya apa. Padahal Bu Kalinda itu yang pengen banget minta Cerai. Secara lah Bu, siapa sih yang pengen cerai dari Pak Domi yang ganteng, dan tajir??"
Glenn memang laki-laki tulen. Tapi dalam hal ghibah dia tak mau ketinggalan dengan kaum Hawa. Wren juga tahu kalau dia memfollow akun Lambe dan Dispatch. Kelihatan sekali kalau lelaki ini suka bergosip. Apalagi, dia bekerja di kelilingi wanita. Dia akrab dengan Bianca, Sasmita, bahkan Mbak Sulis, office girl kantor yang ngefans banget sama Saskia Gotix. Kesetaraan gender memang membuat semua ini terlihat wajar. Wanita bekerja setara dengan pria, dan pria juga tidak sungkan bergosip layaknya wanita.
"Masa Sih? Mungkin yang bikin kasusnya rumit dan enggak selesai karena rebutan harta gono gini kali ya?" Wren paham, Kalinda pasti bingung menentukan sikap. Mereka seharusnya bicara dari hati ke hati, kemana pernikahan mereka akan dibawa? Dan harta gono gini, memang menjadi incaran Kalinda.
"Bu Kalinda katanya masih butuh waktu untuk menenangkan diri" Tukas Glenn seraya membuka pintu mobil sebelah kanan karena tak terasa mereka sudah sampai di tempat parkir.
Wren berdiri mematung dengan tangan memegang tuas pintu mobil. Apa sebenarnya yang ingin di cari Kalinda? Kalau wanita itu masih berat untuk bercerai, seharusnya dia langsung memberitahu suaminya dan mereka berdua harus introspeksi diri. Masalah itu harus segera di selesaikan agar tidak berlarut-larut. Bukan malah kabur untuk menenangkan diri.
"Kamu Wrenny kan?" Seorang laki-laki berusia sekitar 50 an tahun menyentak lamunan Wrenny tentang Kalinda. Wren reflek menoleh ke arah ke sumber suara. Wajahnya meneleng untuk memandang lekat Bapak yang menyapanya. Sekelebat bayangan masa lalu menyapa. Wren teringat dengan senyum ramah Bapak ini di kantor Dominic.
"Masa kamu lupa sama Om?" Bapak itu terkekeh menepuk bahu Wren. Gadis itu ingin menepuk jidat, bagaimana dia bisa lupa dengan Om Darmawan. Beliau adalah adik kandung Ayah mertuanya. Yang berarti beliau adalah paman dari mantan suaminya. Om Darmawan juga adalah salah satu dewan direksi di perusahaan Dominic. Beliau juga saksi pernikahan di pihaknya.
"Maaf Om. Saya....."
"Udah lama banget kita enggak ketemu ya?" Om Darmawan tertawa melihat tingkah kikuk Wren jika berhadapan dengan dewan direksi yang rata-rata berwajah sangar.
Glenn yang sedianya akan mengemudikan mobil meninggalkan Mapolsekta, membuka kembali pintu mobil. Melihat seniornya tak kunjung masuk ke kabin.
"Ada apa Mbak?" Tanya Glenn dengan heran melihat seniornya tengah berinteraksi dengan Bapak-bapak usia paruh baya.
"Sebentar ya Glenn" Tanpa mengenalkan lebih lanjut identitas Om Darmawan, Wren melambaikan tangan untuk meminta sedikit waktu menyapa kenalan seniornya.
"its okay Mbak" Meskipun Glenn memberikan sedikit waktu, tapi juniornya itu tidak langsung menunggu di dalam mobil dan malah sengaja ingin menguping pembicaraan mereka berdua.
"Bagaimana kabarnya Om?" Wren buru-buru mengulurkan tangan untuk bersalaman dan mencium punggung tangan mantan Om nya. Bagamanapun juga mereka dulu satu keluarga sebelum Dominic dan Wren bercerai.
"Kabar Om baik. Tapi ya gitu, sekarang Om sering bolak balik rumah sakit untuk chek kesehatan. Om takut seperti mendiang Papa kamu"
Wren hanya menanggapi dengan senyuman lalu menunduk.
"Kamu kesini ngapain?" Tanya Om Darmawan melihat keponakannya mendatangi Mapolsekta.
"Saya..."
"Ah, kamu kan sekarang pengacara. Kesini pasti berkaitan sama klien kamu kan?"
Wren merespon dengan anggukan kepala, dan hanya bisa tersenyum ragu. Sejujurnya, Wren belum siap jika harus bertemu dengan orang-orang di masa lalu. Orang-orang baik yang Wren bohongi demi uang dan beasiswa.
"Sudah lama banget kita enggak ketemu. Terakhir kali, kita ketemu di acara family gathering perusahaan Kan? Tapi Om keburu pulang dan enggak sempat ngobrol lagi sama Kamu."
Wren mendesah dalam hati, kenapa harus mengungkit-ungkit kejadian saat di Salatiga? Wren, bersusah payah menghapus memori itu. Bahkan rasanya pun masih melekat dengan jelas di ingatan. Bagaimana para orang-orang tua yang menduduki jabatan direksi sangat ingin tahu kehidupan rumah Tangganya. Mereka mengendus aroma konspirasi dan ingin membuktikan dengan mata mereka sendiri.
Wren ingin mengalihkan pembicaraan. Namun Om Darmawan memang di takdirkan untuk membuat Wren sedikit terkena serangan jantung dadakan.
"Om sebenernya kecewa kamu sama Dominic bercerai dan Dominic menikah sama Kalinda. Padahal kalian itu pasangan yang serasi, saling dukung satu sama lain. Yah, mungkin jodoh kalian cuma sampai situ"
Glenn yang berjiwa penggibah sejati dan sedang meneguk air mineral kemasan botol langsung tersedak mendengar sebuah rahasia besar.
❌❌❌❌❌❌
Salatiga, 8 tahun yang lalu.....
.
.
.
.
"Pindah depan !" Dominic menepikan mobil yang di kendarainya, menoleh ke jok belakang. Menyuruh Wren yang duduk di jok belakang untuk pindah ke depan.
"Enakan disini" Tolak Wren sinis. Gadis itu sudah tahu akal-akalan Dominic. Tempat tujuan sudah semakin dekat. Dominic pasti akan memerintah Wren untuk pindah duduk di jok depan. Agar mereka terlihat seperti pasangan suami istri sungguhan. Apalagi mereka datang ke acara yang tidak biasa.
Dominic hanya mendengkus geram karena penolakan Wren. Dua bulan lalu, Wren masih bisa di atur. Tapi sekarang, sifat pembangkangnya kian terlihat nyata.
"Kalau kamu enggak mau, aku enggak segan-segan ngurangin bayaran kamu ya! Dan Kalinda enggak akan memaklumi atau belain kamu lagi. Kamu udah langgar peraturan !"
Dominic memang punya senjata ampuh untuk membuat Wren Menyerah. Wren membangkang karena Dominic juga memancing emosinya saat di rumah. Dia ingin Dominic tahu, posisi Wren tidaklah Mudah.
Tanpa menjawab, Wren langsung pindah ke depan dengan seringai malas di wajahnya. Membawa ponsel dan perangkat jemala yang menjadi teman perjalanannya.
Perjalanan yang teramat panjang dari Jakarta menuju Kragilan Salatiga. Memakan waktu berjam-jam bahkan macet di gerbang tol. Liburan panjang semester membuat jalanan ramai menuju tempat wisata yang ada di Jawa Tengah Dan Yogyakarta.
Sebenarnya, Dominic sangat malas memenuhi undangan Dewan Direksi untuk acara Family Gathering Top Management kantor. Hanya karena haknya sebagai pewaris perusahaan Papa lah yang membuat pria itu rela menyetir dari Jakarta ke Salatiga.
Sambutan hangat diterima pasangan yang sempat membuat seisi gedung perkantoran Shock karena mendadak menikah. Wren yang masih kikuk harus berusaha tegar meyakinkan diri, bahwa tidak ada yang salah dengan acara ini.
Cuma family gathering, pasti tidak jauh dari pesta, makan-makan, obrolan santai. Mereka kemari untuk berlibur, bukan rapat penting.
Barang bawaan Dominic dan Wren yang terdiri dari dua tas jinjing berukuran sedang, di antar oleh seorang asisten ke kamar paviliun yang telah di sediakan. Sedangkan Wren dan Dominic harus berakting seolah mereka pengantin baru yang sempurna.
"Gimana perjalanan dari Jakarta ke Salatiga? Lancar kan Jeng?" Setelah keakraban saling terjalin di antara istri para petinggi perusahaan yang rata-rata berusia di atas Wren, mereka memutuskan untuk mencari tempat yang nyaman untuk saling mengobrol tanpa ada bapak-bapak. Mereka tidak leluasa mengobrol jika ada suami di sekitar mereka.
"Alhamdulillah lancar Bu. Cuma macet saja tadi di Gerbang tol" Wren masih saja minder berdekatan dengan para ibu-ibu dengan penampilan mirip sosialita. Mereka baru saja kenal, Wren canggung harus memanggil mereka dengan sapaan Jeng.
"Wah, aura pengantin baru. Masih kelihatan moncer ya?" Seloroh Bu Niken, istri Pak Abdul, salah satu dewan direksi.
"Iya lah Jeng. Biarpun nikahnya cepet tanpa pacaran kan malah lebih seru." Bu Sita tak kalah seru menimpali dengan mata mengerling.
"Saya dulu sama suami juga di jodohin. Tapi kita bisa mesra. Malah enak pacaran setelah nikah"
Wren hanya bisa menggaruk tengkuk yang mendadak meremang dan melempar cengiran bodoh. Tidak ada rona merah di wajahnya ketika teman-teman barunya ini mulai menggoda.
"Jeng, kalau boleh tau, seminggu bisa berapa kali?" Bu Niken menowel lengan Wren. Seketika gadis itu sediikit berjengit.
"Maksudnya apa ya Bu?" Wren tersenyum paksa. Apanya yang berapa kali?
"Alah, pengantin baru kalau di tanya pasti malu-malu."
Mereka kompak menertawakan Wren yang menurutnya masih malu membicarakan soal ranjang. Bukan malu yang Wren rasakan, mereka tidak pernah melakukan hubungan intim. Wren dan Dominic tidak benar-benar menikah.
"Pak Dominic juga kelihatan tambah ganteng lho Jeng. Beda sama yang dulu"
"Apalagi masih sama si siapa itu namanya...."
"Kalinda..."
"Iya, bener itu namanya. Kalau sama dia kelihatan kusut terus Jeng. Suami saya sampai kesel sama Pak Dominic, waktunya rapat eh malah nganterin pacarnya itu belanja"
"Kenapa ngomongin orang yang udah jadi masa lalu sih Jeng. Ada Jeng Wrenny, enggak perasaan banget"
Wren hanya bisa menimpali obrolan mereka dengan senyum hambar. Sebelum menikah dan sesudah menikah, Dominic dan Kalinda tidak pernah berubah.
Mereka berdua masih sering bertemu diam-diam. Saat Kalinda sakit, Dominic akan menjaganya semalaman di apartemen Kalinda. Tentu saja, Wren tidak peduli dengan apa yang mereka perbuat. Tugasnya hanya sebagai istri di atas kertas. Tidak berhak cemburu, ataupun menuntut lebih. Wren hanya berharap pernikahan ini segera berakhir.
259 hari itu adalah perjuangan yang panjang, melelahkan, mengusik emosi jiwa dan Raga. Tidak seharusnya Wren menangis, karena cinta Kalinda dan Dominic adalah cinta sejati.
"Jeng, jangan di pikirin gosip-gosip yang dibilang sama Jeng Sita dan Jeng Niken. Pak Dominic itu setia kok."
Kesetiaan Dominic memang tidak di ragukan lagi. Dia benar-benar mencintai Kalinda. Bahkan, buku nikah milik Wren tidak bisa memisahkan keduanya.
"Biar makin sayang cepet-cepet punya momongan Jeng. Lagian, Saya denger dari orang-orang Kantor kalau mereka sebenarnya masih curiga sama hubungan pernikahan kalian yang mendadak itu. Ada yang bilang Pak Dominic takut haknya di ambil sama Jantaka"
"Huss ! Ngomong opo to Jeng?" Bu Niken menghardik Bu Sita yang nyerocos tanpa rem. Bu Sita buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan. Menyadari jika dirinya terlampau jauh bicara.
"Ah, ibu-ibu jangan khawatir. Saya sama suami udah planning program kehamilan kok Bu. Makanya, dia ngotot banget pindah rumah. Biar enggak ada yang gangguin. Kita bisa itu sehari lima kali. Masa nggak jadi-jadi" Wren langsung tertawa menimpali obrolan seputar rumah tangga dan gosip panas yang di lancarkan orang dalam kantor. Teman-teman baru Wren hanya melongo jika istri bosnya itu bisa juga berbicara urusan ranjang.
Wren rasa, dia harus terlihat seperti terbawa arus atau akting yang kian terasah ini di endus oleh mereka. Bukan tidak mungkin rencana yang telah di susun rapi bisa gagal di tengah jalan. Jangankan harta, bahkan kepercayaan dari keluargapun akan sirna. Dan Wren lah yang paling menderita. Dia hanya di cap wanita bayaran. Harga dirinya hancur seketika itu juga.
"Ehem, sayang. Kita istirahat yuk" Entah sejak kapan Dominic berdiri di belakang kawanan ibu-ibu yang sedang asyik mengobrol. Mungkinkah dia menguping? Rasa takut seketika menggelayuti wajah Wren yang sedikit pucat.
"Bu, maaf. Saya istirahat dulu ya..."
Setelah berpamitan, sepasang suami istri palsu itu berjalan ke arah paviliun. Kaki jenjang Dominic melangkah lebar tanpa memperdulikan Wrenny yang mengikutinya di belakang. Terlihat, suaminya itu kesal akan sesuatu.
"Perlu banget ngobrolin masalah ranjang di depan ibu-ibu temen baru kamu? Kamu kesenengan ya nikah sama aku?" Bisiknya dengan intonasi geram seraya membuka pintu yang masih terkunci.
"Mereka mancing-mancing, jadi aku rasa aku harus akting ! Lagian mereka curiga kalau kita hanya..." Bibir Wren mengatup. Dominic pasti mendengar apa yang di bicarakan Wren soal ranjang.
"Kamu harus tau, mereka semua Sama !" Pintu berhasil di buka.
Suasana hening di dalam. Dominic memeriksa barang bawaannya di tas jinjing. Sepasang mata milik Wren menyapu kamar berukuran luas ini dengan teliti. Dinding di cat warna putih dan lantainya dari kayu jati dengan permukaan halus. Ranjang yang di sediakan berukuran besar dengan empat tiang penyangga dihiasi kelambu berwarna putih.
Sekilas, kamar ini adalah kamar yang istimewa. Namun ada sesuatu yang janggal dirasakan Wren sejak masuk ke kamar ini. Bukan karena kamar ini mencekam seperti rumah Dominic sebelum di renovasi. Hanya saja, Wren dapat merasakan hal yang tidak wajar namun gadis itu belum mengetahuinya dengan pasti. Mungkin karena dirinya sering kesepian di rumah dan rumah dalam keadaan hening membuat inderanya terasah dengan suara-suara halus dan rendah.
Mata Wren menyipit ketika ada suara berdenging sangat kecil yang bersumber di atas meja rias. Wren harus mendengarkan dalam kondisi gelap agar suara itu bisa terdengar jelas. Perempuan itu langsung menutup gorden dan mengisyaratkan Dominic yang terkejut karena mendadak kamar berubah gelap dan akan memprotes dengan desisan.
"Sssttt" Wren menutup mulut dengan telunjuk. Sedangkan Dominic berkecak pinggang seraya memutar bola mata. Istrinya tiba-tiba berubah aneh.
Dengan kondisi gelap suara dengingan makin terdengar jelas. Mata Wren memicing menunjuk ke atas meja rias. Dan ada setitik cahaya merah di sana.
Gadis itu hanya bisa menelan ludah dengan apa yang dia temukan. Apa begitu penting mengetahui seluk beluk pernikahan Dominic hingga hal pribadi seperti ini menjadi konsumsi pribadi mereka.
"Kamu harus percaya sama aku. Kamu lihat enggak disana ada cahaya merah?" Wren berbisik memberikan informasi yang baru dia temukan.
"Cahaya apa?" Dominic turut berbisik.
"Itu loh. Pasti ada yang sengaja naruh kamera di dalam sini. Aku denger gosip kalau mereka enggak percaya kalau kita bener-bener nikah" Wren pernah dua kali di sorot kamera saat mendampingi Dominic di acara penting perusahaan. Wren adalah perempuan jeli yang tidak melupakan detail apapun perjalanan hidupnya.
Dominic memicingkan mata, membuktikan sendiri dan benar jika ada yang memasang kamera inframerah tersembunyi untuk mengintai gerak gerik pasangan pengantin baru ini.
"Apa sih yang mereka pengen?" Dominic mendadak geram jika mereka punya cara kotor untuk membuktikan kalau pernikahan ini palsu.
"Aku enggak tahu. Yang aku denger katanya kamu takut posisimu di geser sama Jantaka" Gadis itu mengedikkan bahu
Wren mendengar nama Jantaka hanya sekedar nama. Belum pernah sekalipun bertemu, karena Jantaka sedang mengambil kuliah di Singapura. Saat pernikahannya Jantaka harus pergi karena perkuliahan harus segera di mulai. Dan Wren juga mendengar dari Nadia , Jantaka itu susah sekali menurut dalam hal akademik.
"Dewan direksi juga curiga. Asisten ku pernah denger kalau mereka bakalan cari bukti kalau kita...." Dominic menghela nafas berat. "Menikah" Helaan nafas terdengar seraya jari miliknya membentuk tanda kutip. Bahkan, saat hanya berdua pun, berat rasanya mengakui kalau ada pernikahan di antara mereka.
"Trus gimana?" Bisik Wren kembali untuk menemukan solusi. Membanting kamera pengintai itu? Jelas itu adalah kesalahan fatal. Mereka akan tahu dan drama ini akan selesai sebelum 259hari. Uang kompensasi hangus dan beasiswa S2 lenyap.
"Kali ini kamu harus nurut, jangan membangkang. Jangan pernah teriak. Kita kasih apa yang mereka mau !"
Wren tidak bisa apa-apa selain hanya mengangguk setuju. Di dalam ranah pribadi, mereka tak luput harus berakting kembali selayaknya perniakahan sempurna.
Kedua tangan Dominic menarik pinggang Wren dalam dekapan. Dengus nafas liarnya terdengar naik turun dengan teratur di sekitar telinga milik Wren. Remasan di pinggang memberi tanda jika Wren harus bisa bekerja sama dan tidak mengeluarkan suara teriakan.
Bibir basah milik Dominic yang biasanya sering di gunakan untuk berkomentar nyinyir, kini menyapu bibir yang di poles lip tint merah jambu tipis milik Wrenny. Gadis itu hanya memejamkan mata, dengan bibir tertutup rapat.
Dia tidak mungkin berteriak dengan mendorong tubuh Dominic yang merengkuhnya karena mereka dalam posisi sulit. Bibir yang di jaga Wren hanya untuk lelaki yang dicintainya harus menyerah dengan sapuan lembut bibir lelaki yang menjadi kekasih sahabatnya.
Haruskah Wren mendesah saat bibirnya kian terbuka, menikmati ciuman yang juga pernah di rasakan sahabatnya? Tangan yang mengelus pipi Wren yang kini merona, turun untuk membuka kancing kemeja, menelusupkan tangan yang makin liar itu di balik pakaian dalamnya. Remasan yang kuat membuat Wren lupa jika ini hanya sandiwara.
❌❌❌❌❌❌
Setan kau Domi !!!!
makasih masih inget wreni belum beres ini, penasaran sampe novel mu yang lain aku baca ulang🤣👍
masih menunggu thor,,,miss uuuuuu😍😘
kak akan dilajut kah