Seorang penulis novel bernama Bagas sedang bertemu dengan titik jenuh nya. Kehidupan nyata terasa sangat membosankan bagi nya, sehingga hanya dunia imajinasi lah yang bisa membuat nya bahagia. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan sebuah masalah yang membuat nya sulit untuk kembali ke dunia imajinasi. Novel pun terpaksa berhenti di tengah jalan. Hingga pada suatu hari, sebelum tidur ia berdoa pada tuhan.
"Semoga mimpi malam ini, lebih indah dari kehidupan nyata" kata Bagas.
Semenjak saat itu, ia masuk kesebuah dunia yang asing bagi nya. Setiap ia tertidur di dunia nyata, ia terbangun di dunia tersebut, begitu juga sebaliknya. Hingga semua itu menjadi mimpi yang nyata bagi nya.
Apakah yang ia temukan di dunia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Banda Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang rahasia
Bagas dan Alvin beranjak kembali ke rumah Alvin. Sesampainya di sana, Alvin langsung mengajak Bagas ke sebuah ruang bawah tanah.
"Sejak kapan rumah lo ada ruang bawah tanah?" tanya Bagas sambil menuruni tangga.
"Gue juga baru tau belum lama ini." Alvin menghidupkan lampu, "Coba lo liat," lanjut Alvin.
Ada banyak buku-buku, peta sebuah pulau, dan terdapat sebuah brankas.
"Gue mau ngasih tau lo waktu hari itu. Tapi keburu ada bunga hantu, jadi gue lupa," jelas Alvin.
"Terus kenapa sama ruangan ini?"
"Gue curiga ... ayah menyembunyikan sesuatu di situ." Alvin menunjuk ke arah brankas yang besar.
"Paling itu tempat nyimpen uang," kata Bagas.
"Ah gak mungkin, uang kan di simpen di bank semua. Dan emas pun juga udah ada brankas nya," jelas nya.
"Widih, tajir melintir," canda Bagas.
"Gue kan cuma jelasin." Alvin berjalan mendekati brankas tersebut, "Bantu gue Gas," pinta Alvin.
Bagas bersiap dengan cincin mustika nya, ia berhasil membuka brankas dengan mudah.
"Serba guna tuh mustika," kata Alvin.
"Vin, coba liat," pinta Bagas.
Di dalam brankas tersebut, terdapat kotak persegi panjang yang lumayan panjang.
"Ini apa ya?" Bagas mengambil kotak tersebut.
"Coba buka," pinta Alvin.
Bagas membuka kotak tersebut perlahan-lahan. Ternyata di dalam nya terdapat sebilah pedang.
"Pedang Vin," kata Bagas.
"Ngapain ayah nyimpen pedang ini?" Alvin kebingungan.
"Gue ambil aja lah," lanjut Alvin.
"Eh, jangan ...." Bagas melarang Alvin mengambil nya.
"Kenapa Gas? Gapapa kali, bokap gue juga lagi di luar negeri. Gak bakalan tau dia." Alvin mengambil pedang tersebut, "Lagian gue juga pengen kali punya pusaka," lanjut Alvin.
"Pusaka? Bentar-bentar, coba lo keluarin pedang itu dari tempat nya."
Alvin mengeluarkan pedang tersebut dari tempat nya. Ia merasakan energi yang sangat besar masuk ke dalam tubuh nya.
"Gas, gue ngerasa ada energi yang masuk ke dalam tubuh gue."
"Vin ... Jangan-jangan lo ...."
"Eheemmm!" Ayah Alvin datang.
"Eh, ayah? Sejak kapan di sini? Bukan nya masih di ...." Ayah Alvin mengambil pedang tersebut.
"Sejak tadi," potong Ayah Alvin, ia melihat ke arah pedang tersebut, "Kau sudah siap?" tanya ayah Alvin.
"Siap untuk apa?"
"Ikut ayah," ajak ayah Alvin. Alvin pun mengikuti nya sedangkan Bagas masih diam di sana. Ayah Alvin berbalik badan, kemudian berkata.
"Kau juga Bagas."
"Oh, aku juga." Bagas bergegas mengikuti mereka.
Di sebuah ruangan sudah ada seorang yang menunggu.
"Reza?"
"Hey bro ... Apa kabar?"
"Lo ngapain di sini?" tanya Alvin.
"Alvin ... duduk," perintah ayahnya. Alvin dan Bagas pun duduk.
"Siapa Vin?"
"Reza, sepupu gue. Rusuh orang nya, sering ngejailin gue dulu," jelas Alvin.
"Jadi ... sebenarnya, ada yang mau ayah sampai kan."
"Tapi sebelum itu, ayah mau tanya." Melihat ke arah Alvin, "Kamu sudah masuk ke dunia itu?"
"Sudah, ayah tau dari mana?" Alvin dan Bagas kebingungan.
"Ayah sudah tau semua nya. Bagas, dia adalah keturunan Ksatria Bagaskara. Keluarga nya menitipkan nya pada ayah, maka dari itu ayah tidak melarang mu untuk bermain dengan nya sejak kecil," jelas ayah Alvin.
"Sekarang situasi sedang genting. Kalian juga pasti tau rencana dari Adilaga,"
"Sebentar yah, aku bingung. Jadi kita juga dari dunia itu?"
"Iya nak, kita keturunan Ksatria Lasmana."
Bagas dan Alvin pun terkejut mendengarnya.
"Pedang itu, adalah pusaka warisan. Awal nya ayah ragu untuk memberikan nya padamu. Tapi sekarang ayah yakin, kalo kamu sudah bisa memegang sebuah tanggung jawab." Ayah Alvin memberikan pedang pusaka tersebut.
"Terimakasih kasih yah," jawab Alvin sambil menerima pedang pusaka.
"Berterimakasih lah pada Reza, dia yang memberi tahu jika kamu sudah pantas menerima pusaka itu," kata ayah Alvin.
"Gue tau tentang pembantaian prajurit kerajaan yang lo lakuin," kata Reza.
"Oh iya, gimana sang penyelamat? Udah dapet pusaka nya."
"Jadi lo itu yang ...."
"Iya gue, gue yang nyelametin lo dari siluman waktu di perjalanan," potong Reza.
"Ooo begitu," jawab Bagas.
"Ayah bangga sama kamu Vin, sebenarnya ayah tidak keluar negeri. Ayah hanya bolak-balik ke dunia itu untuk bersemedi,"
"Syukur lah, aku pikir ayah itu ...."
"Bangsa siluman," potong Ayah Alvin.
Mereka semua tertawa, kemudian Alvin berkata.
"Ya ... aku curiga, karena kekayaan kita ini. Takut nya ayah itu salah satu dari mereka."
"Tidak lah, kalo masalah kekayaan. Siluman itu saja yang tidak bisa mengganggu bisnis ayah,"
"Kenapa ayah tidak memberikan ku lebih awal?"
"Setelah kehidupan ibumu, ayah juga tidak mau kehilangan anak satu-satunya. Ayah tidak mau kamu ikut berurusan dengan dunia itu."
"Namun, sekarang situasi sedang genting. Ayah percaya kamu bisa. Pulang lah dengan selamat dan jangan kecewakan ayah," lanjut nya.
"Baik yah, aku tidak akan mengecewakan ayah."
"Kalo begitu, secepatnya kita harus kembali kedunia itu. Ki Sanjaya pasti butuh bantuan kita," kata Bagas.
"Reza, lo juga ikut," pinta Alvin.
"Pasti dong ... Berarti sudah lengkap yaa."
"Iya, pewaris pusaka ksatria wirabadra sudah lengkap."
"Kalian tidak perlu tidur untuk kedunia itu," kata ayah Alvin.
Ayah Alvin mengajak mereka kembali ke ruang bawah tanah. Ia membacakan mantra yang ada di dalam buku. Tak lama kemudian portal pun terbuka.
"Portal sudah di buka, semoga berhasil."
Bagas dan Reza masuk kedalam portal tersebut. Sedangkan Alvin berbalik badan kemudian memeluk ayahnya.
"Maafkan Alvin ... Alvin janji tidak akan mengecewakan ayah," ucap Alvin berjanji pada ayah nya.
"Pergilah nak, bantu teman-teman mu. Kamu sekarang adalah seorang ksatria," kata ayah nya tersenyum.
Alvin pun menganggukkan kepala, kemudian masuk juga ke portal tersebut.
***
Bagas dan Alvin terbangun, hari sudah pagi. Jaka dan Brata sedang memadamkan api unggun.
"Kau sudah sadar?" tanya Ki Sanjaya.
"Iya Ki," jawab Bagas.
"Reza mana ya?" tanya Alvin pada Bagas sambil memegang pedang nya.
Bagas menghampiri Ki Sanjaya dan membisikkan sesuatu, Ki Sanjaya pun melihat ke arah Alvin. Tiara dan Anna datang membawa buah-buahan.
Dharma pun sudah sadar dan berikan ramuan penyembuhan.
"Terimakasih Ki," kata Dharma.
"Sama-sama," jawab Ki Sanjaya.
Setelah sarapan, mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat yang aman. Ki Sanjaya, Bagas dan Dharma memimpin depan, Tiara dan Anna di tengah, sedangkan Alvin, Jaka dan Brata di belakang.
"Pedang siapa itu?" tanya Brata.
"Punya ku, pemberian ayahku," jawab Alvin.
"Ooo begitu ... Bagus pedang nya,"
"Tentu saja ...." jawab Alvin sombong.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka memutuskan untuk beristirahat. Mereka duduk melingkar sambil memakan buah-buahan yang mereka bawa.
"Semuanya ...." kata Ki Sanjaya.
"Saya punya sebuah pengumuman," lanjut Ki Sanjaya.
"Pengumuman apa Ki?" Bersamaan.
"Selamat untuk nak Alvin, sebagai pewaris pusaka ksatria Lasmana."
Mereka terkejut mendengar nya.
"Alvin, sudah ku duga," kata Jaka.
"Selamat Vin." Dharma memberikan ucapan selamat.
"Alvin, Alvin. Pantas saja ide kau cemerlang, ternyata kau bukan orang biasa," kata Brata.
"Hehehe, terimakasih teman-teman," jawab Alvin.
"Traktir lah Vin," canda Tiara.
"Aman ... Nonton bareng aja yuk."
"Eheemmm," kode Bagas.
"Eh, sorry Gas."
"Eheemmm," kode Anna.
"Ini kenapa pada ehem-ehem?" tanya Ki Sanjaya.
Mereka pun tertawa, Ki Sanjaya berkata.
"Saya ucapkan selamat untuk Alvin. Berarti kita hanya tinggal mencari pewaris pusaka ksatria Jang ...."
Panah melesat mengenai Ki Sanjaya.
"Ki ...." Bersamaan.
Mereka memasang kuda-kuda, mengelilingi Ki Sanjaya dan Tiara.
"Keluar kalian!!!!" teriak Bagas.
***
jangan lupa mampir.../Coffee//Coffee/
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih
Agak bingung ngembacanya karena terlalu rapat.
...dan next up date 👍👍👍
btw, Ki Candra kok bingung 😅 sebelumnya tanya dulu Ki.. di pimpin siapa ✌️
ayam bakarnya satu ya Thor 😂😂✌️✌️
Bara! kenapa kamu jadi anak durhaka 😳 gara-gara pusaka sampe nusuk jantung Ki Candra😳
astaghfirullah 😥 cerita si Alvin ternyata 😭
next like mantap👍🏻 sambungan jejak Penduduk bunian..
saling mendukung thor
Mampir dicerita ku kak "Bunga Magnolia"
Semangat 💪💪up lagi thor
Aku mendukungmu 👍👍
Lagi seru"nya.
Tapi asli Thor, kata"nya keren habis....
terus ikuti karya aku ya thor
makasih😊