Apa salahnya dengan tubuh Aku yang gendut ini?
Apakah Aku pernah mengambil makanan kalian?
TIDAK PERNAH
Lantas Mengapa Kalian membully Aku?
Bahkan Kalian sampai memberikan nama julukan kepada Aku DinDut yang artinya Dinda Gendut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-Gara Helem
"Kalau boleh jujur aku juga kepingin kayak orang-orang, yang sedih dipeduliin, kalau terpuruk dikuatin.Kalau pengen cerita di dengerin, aku ini luarnya doang independent, padahal aslinya butuh someone."
Dinda keluar dari kamar sambil membawa tas ransel di bahunya.Dinda melangkah menuju dapur, saat melewati kamar mandi pintu kamar mandi terbuka.Dino keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang.
"Kak mau kemana?""Dino melihat Dinda sudah memakai pakaian seragam sekolah dengan tas yang berada di punggung nya.
Dinda sudah berada di dapur
"Mau berangkat sekolah."
"Kak tunggu, aku mau berpakaian dulu."
"Maka kalau mandi itu jangan lama, aku pergi dulu."Dinda melangkah pergi meninggalkan Dino yang masih berada di depan pintu kamar mandi.
Setibanya Dinda di dapur, dia melihat ayah sudah duduk di kursi yang berada di depan meja makan.
"Selamat pagi ayah ibu." Sapaan Dinda sambil melangkah mendekati kedua orang tuanya.
"Selamat pagi juga Putri ayah, sini duduk dekat ayah." Ayah membalas sapaan Dinda lalu dia menepuk kursi yang berada di sampingnya.
"Tidak ayah."Dinda menolak untuk duduk di kursi yang berada di samping ayah.
"Kenapa?"
"Aku pergi dulu, yah."Dinda berpamitan kepada ayah.
"Tunggu kamu berangkat sekolah bareng ayah saja."
"Aku piket hari ini jadi buru-buru yah."
"Aku pergi dulu, ayah."Dinda menyalim punggung tangan ayah setelah itu Dinda menyalim punggung ibu.
Dinda sedang duduk di kursi yang berada di teras rumah, Dinda sedang memakai sepatu.Dinda mengikat tali sepatu, bersamaan dengan itu sebuah motor bebek berhenti di depan pintu pagar rumah Dinda yang tertutup.
Tiiinn Tiiinn
Terdengar bunyi klakson dari motor, Dinda sudah selesai ngikat tali sepatu nya lalu dia beranjak dari tempat duduk.Dinda melangkah menuju pintu pagar, Dinda membuka pintu pagar rumah.
"Apa benar ini rumah mbak Dinda?"Si pria melihat ke arah Dinda yang sudah berdiri di depan motor.
"Benar Pak."Dinda berbicara sambil menganggukan kepalanya.
"Apa mbak Dinda mau berangkat sekarang?"
"Iya pak."
"Ini helemnya mbak Dinda." Si pria itu menyerahkan helem kepada Dinda.
"Iya Pak."Dinda mengambil helem dari tangan si pria itu setelah itu Dinda memasang helem di kepalanya. Dinda naik ke atas motor itu lalu dia duduk di belakang si pria itu
"Kita berangkat sekarang mbak Dinda."Si pria itu menarik gas motornya sehingga motor yang dia kendarai melaju ke arah jalanan komplek perumahan itu.
Si pria itu mengendarai motor dengan kecepatan standar, dia mengutamakan ke selamatan penumpang berserta dirinya sehingga dia tidak berani mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
Tidak butuh waktu yang lama dari biasanya, motor di tumpangi oleh Dinda sudah berhenti di depan gerbang sekolah. Dinda turun dari motor tersebut.
"Pak ongkosnya sudah saya bayar lewat aplikasi."Dinda mengeluarkan ponsel dari saku baju nya, lalu dia membayar ongkos Ojol (Ojek Online) melalui aplikasi.
Saat si Pria yang merupakan tukang Ojol hendak angkat bicara Dinda kembali berbicara.
"Saya sudah kasih rate bintang lima, saya masuk dulu pak.Terimakasih."Dinda menunjukkan layar ponsel pada si pria itu setelah itu dia melangkah terburu-buru meninggalkan tempat tersebut.
Setelah memikirkan motornya si Kang Ojol menyusul Dinda yang sudah melewati pagar sekolah.Saat Kang Ojol hendak melangkah kaki melewati pintu gerbang sekolah.
"Kang mau kemana?" Pak Satpam yang melihat hal itu pun bertanya kepada Kang Ojol.
"Kedalam." Ucapan Kang Ojol.
"Peraturan di sekolah ini orang luar tidak boleh masuk ke dalam lingkungan sekolah."Ucapan Pak Satpam.
"Helem saya di bawak ke dalam sama penumpang tadi, jadi saya mau minta kembali helem saya."Ucapan Kang Ojol.
"Siapa nama penumpang Kang?"
"Mbak Dinda."
"Kang tunggu di sini biar saya minta sama Dinda."
Sebuah motor sport berwarna hitam melaju ke arah pintu gerbang sekolah.
"Selamat pagi pak Satpam."Motor sport berwarna hitam berhenti pas di pintu gerbang sekolah, Si pengendara motor menaikan kaca helemnya.
"Selamat pagi juga nak Arlan."Pak Satpam membalas sapaan Arlan.
"Ini ada apa?"Arlan melihat Kang Ojol dan Pak Satpam berdiri di depan pintu gerbang sekolah.
"Ini helem Kang Ojol di bawa sama penumpang, jadi dia mau kedalam ngambil helemnya.Tidak saya bolehkan Kang Ojolnya kedalam karena speraturan sekolah tidak memperolehkan orang luar masuk kedalam lingkungan sekolah." Jelas Pak Satpam.
"Biar saya yang ngasih tahu penumpang Kang untuk mengembalikan helemnya, siapa namanya?"
"Mbak Dinda."Jawab Kang Ojol.
"Kang tunggu saja di sini."Setelah mengatakan itu Arlan melajukan motornya.
Arlan melajukan motornya jauh di depan Arlan terlihat seorang Siswi yang memakai helem dengan berjalan kaki.
Pasti Itu Dia
Arlan menambah kecepatan motor sehingga motor yang di kendarai oleh Arlan sudah berada di belakang Si Siswi tersebut.Arlan menekan tombol klakson pada motor nya.
Tiiinn Tiiinn Tiiinn
Terdengar bunyi klakson motor Arlan, Si Siswi itu mengeserkan tubuhnya lalu dia terus melangkah.Arlan sudah berkali-kali membunyikan klakson motornya tetapi si Siswi itu tidak menoleh.Arlan menarik gas motor sehingga motor yang di kendarai olehnya melewati si Siswi itu.
Arlan sengaja membelokan motornya, motor itu berhenti tepat di hadapan Si Siswi itu.
"Dinda." Sapaan Arlan.
Mendengar namanya di sebut oleh Arlan, Dinda pun berhenti melangkah lalu Dinda pun bengong.
Ini aku gak salah dengarkan
Kak Arlan nyebut nama Aku
"Hei kamukan yang namanya Dinda?"tanya Arlan.
"Iiiya kak."Dinda terbata-bata saat berbicara.
"Kamu tadi kenapa bengong saja?"
"Hm, itu___." Dinda bingung mau ngomong apa sama Arlan sehingga dia memegang tengkuk kepalanya.
"Itu apa?"
"Bukan apa-apa, kak motornya bisa di geser aku mau lewat."
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu."
"Kak Arlan mau bicara apa?"
Kira-kira kak Arlan mau bicara apa sama aku?"
Jangan-jangan kak Arlan mau nembak aku
Seandainya itu terjadi maka aku dengan senang mau menjadi pacaran kak Arlan
Dinda yang sibuk berbicara di dalam hati sehingga dia tidak menyimak ucapan kak Arlan.
"Apa kamu dengar yang aku ucapkan tadi?"
"Memang kak Arlan ngomong apa?"Dinda tidak mendengar ucapan Arlan tadi sehingga dia bertanya.
"Capek-capek aku ngomong sampai tenggorokan aku kering ternyata kamu malah gak dengarin yang aku omongin."Ketus Arlan.
"Maaf kak."Dinda meminta maaf kepada Arlan.
"Pasang telinga baik-baik, karena tidak ada siaran ulang."
"Baiklah kak."
"Kang Ojol nyariin kamu, sekarang dia nunggu kamu di pintu gerbang sekolah."
"Kan ongkos udah aku bayar lewat aplikasi terus ngapain dia nyariin aku lagi?"
"Tuh coba lihat di kepala kamu."
"Astaga-naga, helem." Dinda memegang kepalanya barulah dia sadar masih memakai helem Kang Ojol.
~ Bersambung~