NovelToon NovelToon
Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Keluarga & Kasih Sayang / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:507.7k
Nilai: 4.5
Nama Author: Yuli Valentina Tampubolon

Dira Tampubolon (17) terpaksa harus mengikuti perjodohan keluarga dengan paribannya, Defan Sinaga (27) yang lebih tua sepuluh tahun darinya. Perjodohan itu diikrarkan saat usia Dira masih dini dan masih duduk dibangku SMA.

Terpaksa Dira mengikuti keinginan bapaknya, Sahat Tambolon yang sudah berjanji pada kakak kandungnya untuk menikahkan boru panggoarannya karena memiliki hutang yang banyak pada keluarga paribannya.

Dira boru panggoaran sekaligus boru sasada dalam keluarga itu tak bisa menolak perintah bapaknya. Ia akan menikahi lelaki yang menurutnya sudah tua karena jarak usia mereka terpaut jauh.

Sifat Dira yang masih kekanak-kanakan menolak keras perjodohan itu. Tapi apa boleh buat, pesta martumpol telah digelar oleh kedua kelurga dan ia akan segera bertunangan dengan paribannya yang tua tapi juga tampan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Valentina Tampubolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tidak bisa masuk

Defan terduduk diatas kasurnya karena sudah tak bisa tidur lagi. Suara berdehem darinya juga tak digubris oleh Dira, ia malah memilih untuk pura-pura tertidur.

"Jalan-jalan malam yuk Dir," ajak Defan karena bingung mau melakukan apalagi. Tidurnya terlalu cepat, menyesal kini Defan menolak ajakan supir travelnya untuk langsung liburan setelah sampai di Hotel.

Dira pura-pura tak mendengar ajakan Defan, malah melanjutkan tidurnya. Dan akhirnya Dira benar-benar terlelap dalam tidurnya karena rasa kantuk yang menderanya. Akibat tadi dia tidak bisa tertidur, terganggu dengan suara ngorok paribannya itu.

Karena Dira tak merespon, Defan mengecek kondisinya apakah benar tertidur atau tidak. Ia terperanjat melihat wajah Dira yang tertidur pulas disamping gawainya.

"Kok tiba-tiba dia tertidur?" lirihnya seraya memindahkan ponsel itu diatas nakas.

Defan menyalakan tv yang ada didepannya, tetapi tidak ada satupun siaran yang menarik perhatiannya. Lalu mengecek ponselnya, sesekali ia membuka obrolan grup watsapp miliknya yang terdiri dari rekan kantornya. Tapi tetap saja tidak ada yang menarik perhatiannya.

Kemudian Defan mondar-mandir di ruangan, merasa bosan sendiri. Mencicipi makanan yang belum tersentuh diatas meja makan untuk mengisi perutnya.

Mau keluar pun ia bingung, khawatir meninggalkan Dira seorang diri didalam kamarnya.

"Huft!" suara helaan nafas kasar Defan yang bingung mau melakukan apalagi karena bosan mondar-mandir seorang diri.

Ia melirik jam ditangannya, sialnya masih terasa dini baginya untuk tidur lagi. Baru jam tujuh malam, pikirnya.

Dengan terpaksa untuk mengatasi rasa bosannya, ia pergi ke lounge Hotel. Defan mengganti baju tidurnya, memakai pakaian formal miliknya.

Kemudian keluar dari kamarnya tidurnya, tanpa membawa kunci kamarnya. Ia membiarkan Dira tertidur nyenyak seorang diri.

Defan melewati koridor Hotel, menuju lounge Hotel. Disana banyak pengunjung para penyewa kamar Hotel yang berpakaian rapi.

Defan memanggil waitters dan memesan wine untuk ia nikmati. Sayang ia tak bisa mengajak Dira yang sudah masuk ke alam mimpinya.

Sambil menikmati pemandangan didalam lounge, ia juga memeriksa ponselnya. Ada pesan dari Dania disana. Tapi Defan mengabaikannya.

"Silahkan tuan," ucap waitters yang telah menuangkan wine ke dalam gelas bening mewah, botol wine itu kemudian dia letakkan didalam ember kecil estetik berisikan batu es.

"Thankyou," balas Defan seraya menghirup aromanya lalu menyesap wine dari gelas miliknya.

Perlahan-lahan ia menyesap wine, menghirup aroma wine yang sedap. Red wine adalah favorit Defan. Selain rasanya yang mewah dan berkelas, ia lebih suka menikmatinya walau hanya satu gelas agar tidak membuatnya pusing dan mabuk.

Biasanya satu gelas itu akan ia habiskan dengan waktu yang lama. Baru tiga puluh menit Defan berada di Lounge, ponselnya berbunyi.

Ada telepon dari Dira rupanya. "Kenapa bangun anak ini," batinnya sembari menekan layar ponselnya menerima panggilan dari Dira.

Belum juga ia menjawab, terdengar suara teriakan Dira dari seberang telepon yang memekakkan telinga Defan.

"Abang dimana sih? Kok ninggalin Dira di kamar sendirian," ketusnya karena ia terbangun saat bermimpi buruk, mendengar omelan Dira, Defan agak menjauhkan ponsel dari daun telinganya.

"Di Lounge Hotel!" jawab Defan datar seraya mengambil wine miliknya dan meneguknya, masih tersisa seperempat didalam gelas wine tersebut. Butuh waktu yang sangat lama untuk menghabiskannya.

"Kok nggak ngajak-ngajak sih," keluh Dira.

"Tadi abang ajak keluar, tapi kau sudah tertidur," jawabnya jujur. Memang benar tadinya ia sudah mengajak Dira, tapi tak ada respon sama sekali darinya.

"Oh itu aku ketiduran. Aku kesana sekarang," tutup Dira seraya mematikan panggilannya.

Anehnya Dira masih berpakaian piyama saat keluar kamar. Dia tidak mengetahui aturan untuk masuk ke dalam Lounge harus berpakaian rapi.

"Lounge di lantai berapa?" tanyanya pada seorang housekeeper yang baru saja keluar dari kamar sebelahnya.

"Ada di lantai 2 bu," jawabnya sopan menampilkan senyum yang polos.

"Terimakasih," balas Dira meninggalkan housekeeper tersebut, ia bergegas menekan tombol lift dan masuk ke dalamnya. Setelah sampai didepan Lounge, tiba-tiba Dira dihadang oleh salah satu pelayan yang ada didepan pintu.

"Mohon maaf ibu tidak bisa masuk," ucap pelayan tersebut membuat Dira kebingungan sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian ia menjawab dengan santai perkataan pelayannya.

"Kenapa?"

"Sesuai dengan peraturan kami disini, tamu tidak diperbolehkan masuk jika tidak berpakaian rapih. Mohon maaf sekali.

Astagaa!! Kenapa dia nggak bilang saat ditelepon tadi.

Dira menjadi kesal kepada Defan, ia mengambil ponselnya, berdiri didepan pintu masuk lounge.

"Abang! Kok nggak bilang kalau kesini harus pakai baju formal?" sinisnya berjalan meninggalkan koridor lounge tersebut.

Defan baru ingat kalau Dira tak pernah menginjakkan kakinya ke Lounge Hotel. Tentu saja ia bingung saat mendengar keluhan Dira dari seberang teleponnya.

"Sorry saya lupa, tadi kan kau sendiri yang mematikan teleponnya! lebih baik tunggu saja di kamar," titah Defan dingin tanpa memerdulikan Dira yang sedang merengek kesal.

"Ish," decak Dira sebal pada paribannya seraya masuk ke dalam lift, mematikan ponselnya, lalu ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

Sembari menunggu kedatangan Defan, ia menyalakan tv. Satu siaran cukup menarik perhatiannya. Film bioskop yang disiarkan ulang pada channel siaran digital yang ada di Hotel.

"Lumayan seru nih! Romantis lagi," batinnya.

Ia sampai melupakan Defan serta ponselnya karena sibuk menonton film.

Ting

Suara notifikasi ponselnya berbunyi, tapi ia tetap cuek tak perduli. Sedangkan Defan masih menikmati winenya disisa titik terakhir gelasnya.

Ia bingung mengapa Dira tak membalas pesan yang baru saja ia kirimkan.

Apa dia sudah tidur lagi?

Defan berguman seorang diri menunggu jawaban Dira. Ia baru saja mengirimkan pesan watsapp pada Dira, menawarkan apakah perlu dibawakan sesuatu.

Namun karena wine yang diminumnya dari satu gelas telah habis tak tersisa, sementara Dira belum membalas pesannya. Akhirnya ia memilih untuk pergi dari Lounge Hotel.

"Bill," ucap Defan seraya mengangkat telapak tangannya saat memanggil seorang waitters.

Waitters tersebut mengerti, langsung membawakan satu bill yang ditutup dengan cover buku panjang yang elegan.

Defan mengecek tagihannya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, memasukkannya ke dalam buku bill tersebut.

Tak lupa ia sematkan tips untuk pelayan Lounge Hotel sebagai tanda terimakasih. Ia langsung memberikan buku itu pada waitters seraya beranjak dari kursinya.

"Apa ada yang perlu dipesan lagi tuan? Take away?" tawar waitters tersebut sebelum Defan berjalan.

"No! Thanks," balas Defan melangkahkan kakinya dengan lebar.

Ia keluar dari Lounge Hotel, masuk ke dalam lift menuju lantai dimana kamarnya berada.

"Anak ini ngapain sih? Dari tadi pesanku tidak dibalasnya," kesalnya saat melirik jam tangannya ternyata sudah jam 9 malam. Lumayan lama dirinya berada di Lounge Hotel.

Tok

Tok

Tok

Berulang kali Defan mengetok pintu kamar agar dibukakan oleh Dira. Namun tak ada jawaban. Defan tidak bisa masuk lantaran ia sengaja meninggalkan kartu kunci Hotel untuk Dira.

Sedangkan Dira larut dalam tontonannya, volume tv sengaja ia besarkan suaranya tadi, membuatnya tak mendengar suara ketukan pintu dari luar.

Jangan lupa supportnya ya syaang!!

bantu

Vote

Vote

*agar novel ini semakin banyak yang baca**😍😍*

1
May-chann
sumpah ya, Devan tuh type gue bgt😋 bukan manggil pake kata aku, tapi pake kata abang🫠
May-chann: eh sorry namanya typo dikit
total 1 replies
May-chann
duh kak, walaupun aku Batak, tapi gak ngerti pulak aku yang kayak gini/Awkward/
yuli.vt: berarti km bukan termasuk org miskin hehe
total 1 replies
lidia aritonang
Kecewa
Duwie Sartika
hehhhh,, pak,, pak,, miskin kok di bwt sendiri... mana ada orang berjudi jd kaya...
Charlotte
lae nya kak bukan laek
Buthet Bnd
sala kenal author.. saya nikah sama pariban kandung,tp puji Tuhan keluarga kami TDK memandang kaya dan miskin...ttp aja balik pola didik dlm keluarga . .. .puji Tuhan iparku semua mau d arahkan ke hal Baek tanpa pandang status seseorang dabah .
Sondang Sartika Lumbanraja
ngeri kali kok parumaen pula yg marhobas bukan nya boru tapi yah gitu lah yg kaya biasa distimewakan. awak kalau pulang ke rumah mamak di kampung jadi hatoban lah semua awak kerjakan krn menantu mamak kami tidak ada yg bisa masak.
Buthet Bnd: udah hal lumrah eda seperti itu...dmna mana pasti ada keluarga yg seperti mereka....tp puji Tuhan d keluarga kami slg menolong klo ada pesta kecil maupun pesta besar,ngga ada istilah yg kaya dan yg miskin..sama aja semua,itu tergantung pola pikir pribadi keluarga seseorang eda
total 1 replies
Suryavajra
Bagus sekali ini ceritanya, saya mendapat edukasi budaya pernikahan Tapanuli. Terima kasih banyak atas tulisannya.
Suryavajra
hanya di Jakarta dan sekitarnya kue terang bulan disebut "martabak" juga. padahal yang pakai telur adalah snack dari semenanjung Arab, yang manis adalah snack dari Tiongkok Selatan. Jauh kali asalnya tapi di Jabodetabek namanya jadi sama hahahahahaha 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Flora Sigalingging
sangatttt bagusss dan rekomended untukkk dibacaaa.penulisan sangat jelas dan tidak berbelit",mantappppp
Hotmin Hotmin sianipar
sikap defan g tegas sama sahabatnya, benar kata dira sahabat beda gender tdk ada yg murni. klo aku jd dira g maulah
Suryavajra
akhirnya dapat juga novel yang bagus di noveltoon ini.
Marulak Siagian
dekat rmhku, itu di MARELAN 😂🤣😂😂
itin
baru baca sepenggal penggal tapi kayaknya seru
itin
tertarik untuk bacanya nih. kata² nya tersusun apik
antha mom
sahat,,,sahat kamu itu jual Boru mu atau menikah kan anak mu sama pariban nya,,🤦‍♀️🤦‍♀️
antha mom
seperti itulah realita kehidupan Dira siapa yang kaya tempatnya tetap di depan tak akan ada yang mau menyuruh marhobas,, sabar lah ya Dira akan indah pada waktunya nak 😘😘
antha mom
horas thor seru ceritanya nich 👍👍👍
Kurnianingsih Sa'ud
maaf thor...tolong jelaskan arti indonesianya, bahasa2 batak yg dipakai...maklumlah, sy tidak paham...
tapi baru baca bab 1, sepertinya menarik ceritanya...
difa birink dewi birink
thor seharus nya tu si defan yg lebih mengalah karena dia lebih dewasa ini malah si dira aja yg mengalah seakan" terlihat x perbedaan kehidupan mereka udah tau paribannya masih muda dan labil tpi tetap aja diketusin..engga ada romantisnya yg bikin dira merasa di hargai..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!