Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Caesare perlahan melonggarkan tekanan Auranya, namun tangannya masih mencengkeram pundak Liu dengan erat, seolah takut pria itu akan lenyap sekaligus. Udara di ruangan itu terasa berat, menyesakkan, seolah oksigen pun ikut terhisap oleh kekuatan yang memancar dari sosok yang berada di hadapannya.
"Uhuk… uhuk…!"
"Hosh… hosh…!"
Liu terbatuk hebat, dadanya naik turun berusaha menangkap napas yang sempat terampas paksa. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
I’m sorry…! I...!
"Maaf…! Saya...!"
"Uhuk…!"
Cengkeraman tangan kanan Caesare menguat kembali, meremas pundak Liu hingga pria itu meringis kesakitan. Tulang-tulangnya terasa seakan akan remuk dalam genggaman yang begitu kuat.
“Arrggghhhh!!!”
Kesadaran menyusup perlahan ke benak Liu—ia sedang berhadapan dengan salah satu Penguasa Aura Tertinggi. Aura ganas yang menyelimuti ruangan ini adalah bukti nyata bahwa nyawanya kini tergantung di ujung jari orang ini. Tanpa pikir panjang, lututnya yang lemas tak berdaya menjatuhkan dirinya bersujud di lantai yang dingin dan keras.
Ugh… My Lord!
"Ugh… Tuan!"
Dari posisi itu, Liu mulai menceritakan segala hal yang ia saksikan—tentang Rael, Matteo, Vano, dan Eren. Ia tak berani menyembunyikan sehelai benang pun, takut nyawanya tak terselamatkan jika ia berbohong.
Cerita itu bermula saat Liu baru saja mengantar keempat pemuda itu pergi. Hari itu ia mengetahui rahasia yang tersembunyi jauh di bawah gedung pencakar langit milik perusahaannya sendiri: sebuah lorong rahasia yang menurun dalam, menuju tujuh kamar brankas di bawah tanah. Tempat yang bahkan sebagai pemilik gedung, ia tak pernah tahu keberadaannya—dan Rael-lah yang pertama kali menunjukkannya.
Namun, di ambang pintu menuju ruang-ruang itu, perhatian Rael teralihkan pada satu benda kecil di jari Vano: sebuah cincin. Dengan rasa ingin tahu yang besar, ia meminta Vano menerangi lorong gelap tersebut. Konon, hanya para Penguasa Inti yang mampu melakukannya.
Vano maju selangkah. Ia membiarkan Aura di dalam tubuhnya mengalir bersamaan dengan kekuatan yang tersimpan di cincin itu. Saat cahayanya memancar terang, wajah Rael berubah pucat seketika. Itu bukan sembarang cahaya. Itu adalah Aura Arbella—Aura adik bungsunya yang telah lama hilang dan dianggap telah tiada. Dunia seakan berhenti berputar bagi Rael. Ia mendesak ingin segera menemui pemilik cincin itu, berharap harapan yang sempat padam kembali menyala di dalam dadanya.
Ketujuh kamar brankas itu menyimpan harta yang tak ternilai harganya, tumpukan kekayaan yang terkumpul dari masa ke masa. Setiap pintu terbuat dari logam kuno yang dilapisi sihir, sehingga hanya bisa dibuka dengan kunci Aura Suci tingkat tinggi milik para penguasa. Namun, di sana tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta apa pun.
Di setiap gedung perwakilan perusahaan SGroup—mulai dari gedung perwakilan pertama milik Matteo di Jerman hingga gedung perwakilan ketiga belas milik Vano di Singapura yang tersebar di seluruh dunia—di tiap ruangan khusus Direktur Utama, terselip sebuah brankas kecil tua seukuran buku tulis, yang sudah menyatu dengan tembok. Dijaga turun-temurun, tak pernah bisa dibuka oleh siapa pun. Di dalamnya tersimpan salinan kunci—kunci menuju lorong ketujuh kamar brankas para penguasa.
Sebelum wafat, Arbella sendiri yang membuatnya. Ia menciptakan kunci dan brankas tersebut menggunakan darahnya sendiri, agar brankas itu hanya bisa dibuka oleh dirinya sendiri menggunakan darah dan Auranya, dan tidak bisa dibuka sembarangan oleh orang lain. Menggunakan darah Sang Kaisar Pengendali Aura, keturunan langsung Vinesha, yang sifatnya abadi, memudahkan akses ke setiap gedung perusahaan. Sebuah jaminan: jika suatu hari ia benar-benar kembali, darah dan Auranya sendiri yang akan membuktikan siapa dirinya, membuka kembali brankas itu dan mengambil kuncinya. Sebuah warisan yang terjalin erat dengan kutukan yang menimpa dirinya dan keenam kakaknya.
Kembali ke ruangan yang masih pekat oleh bau ketakutan. Liu baru saja menyampaikan penjelasannya, namun diam-diam ia menyembunyikan satu hal—bahwa Matteo juga ikut pergi bersama mereka.
Tiba-tiba…
Grepp!
Braakkk!!!
Suara gebrakan keras menggema ke seluruh penjuru ruangan. Caesare meledak. Matanya melotot hampir loncat keluar, wajahnya memerah padam seperti bara api yang baru saja dipancing. Tangan kanannya mencengkeram leher Liu, mengangkatnya sedikit dari lantai hingga kedua kakinya menggantung di udara.
What nonsense are you talking about! Are you insulting me!
"Omong kosong apa yang kau bicarakan! Kau menghinaku!"
Liu meringis kesakitan, kakinya menendang-nendang di udara berusaha melepaskan cengkeraman yang semakin kuat.
Arghhh! My… My Lord! Forgive me! Cough… cough…! Panting… panting…!
"Arghhh! Tu… Tuan! Maafkan saya! Uhuk… uhuk…! Hosh… hosh…!"
I am telling everything I saw, My Lord…! I have no intention to insult you…!
"Saya menceritakan semua yang saya lihat, Tuan…! Saya tidak bermaksud menghina…!"
Please forgive me if I was too bold! Panting… Panting…!
"Tolong maafkan saya kalau saya lancang! Hosh… Hosh…!"
Caesare mencekalnya erat, napasnya memburu tak beraturan. Namun perlahan, kalimat-kalimat Liu meresap ke dalam kesadarannya. Ia terdiam. Kabar tentang Arbella—adiknya yang telah lama hilang—terlalu mustahil untuk diterima begitu saja, namun jika benar adanya, bahaya apa yang sedang mengancam adiknya itu? Ia menyadari ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya menanti jika mereka tidak segera bertindak.
Perlahan, tangannya terlepas. Liu jatuh berlutut, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang terasa perih.
Very well…!
"Baiklah…!"
Caesare berbalik sedikit, menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan badai yang mengamuk di dadanya.
Alright, Liu… I need your help. Can you take me to meet Rael and Vano?
"Baiklah, Liu… Aku membutuhkan bantuanmu. Kau bisa mengantarku menemui Rael dan Vano?"
Liu mengangguk cepat, tubuhnya masih terlihat gemetar hebat.
My Lord… Lord Rael has departed together with Lord Matteo to Singapore!
"Tuan… Tuan Rael berangkat bersama Tuan Matteo ke Singapura!"
Caesare menoleh cepat, matanya menyipit tajam seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Why didn’t you say so earlier?!
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!"
Ia meraih pergelangan tangan Liu, tatapannya tajam dan mendesak.
Come closer. We’ll take the shortcut…
"Mendekatlah. Kita ambil jalan cepat saja…"
Wuuunggg…
Wuuunggg…
Suara berdengung memenuhi ruangan, semakin lama semakin nyaring di telinga. Cahaya keperakan mulai melingkupi tubuh mereka, berputar kencang seperti angin puyuh kecil. Caesare memiliki jejak Aura milik Matteo—cukup untuk menghubungkan dua titik di benua yang berbeda dalam sekejap mata.
Whooooshhhhh…
Dalam sekejap, ruangan itu kembali sunyi senyap. Yang tersisa hanya sisa getaran udara yang perlahan mereda. Jauh di seberang lautan, di atas landasan pacu Singapura, pesawat pribadi baru saja menyentuh tanah. Dan di udara sekitarnya, dua siluet perlahan terbentuk dari kabut tipis, melintasi ruang dan waktu untuk menyambut siapa pun yang baru saja turun.
^^^Bersambung...^^^
belom tau sih mereka jahat atau baik 🥴
udah cincon hilang, seharian gak bisa dihubungi.
hari ini kamu kenapa sih rien?
apa jangan2 dia juga golongan dari mereka?